Chika mengambil ponsel dan kartu sim card barunya yang tergeletak dimeja kecil, lalu berjalan keranjang. Ia berniat menyalakan ponselnya terlebih dahulu untuk mengecek nomor lamanya. Tapi, Chika mengurungkan niatnya, ia yakin setelah kejadian malam itu pasti Sandi sudah berkali kali atau mungkin berpuluh puluhan kali menelepon dan mengirim pesan.
Chika tidak ingin hatinya bertambah rapuh saat melihat pesan dari Sandi, ia sudah yakin keputusannya untuk menginggalkan semua kisah antara dirinya dan juga Sandi. Chika langsung melepas sim card lamanya dan mengganti dengan yang baru. Ia mematahkan sim card lamanya dan membuang ketong sampah bersama dengan masa lalunya.
Setelah mengecas ponselnya yang kehabisan daya. Chika memutuskan untuk segera tidur, mengistirahatkan tubuhnya karena besok Chika harus bangun pagi untuk melakukan perjalanan kekota. Memulai awal baru ditempat yang baru tanpa bayangan masa lalu.
* * *
Chika dalam perjalanan bersama Anton menuju terminal bus. Pagi pagi sekali ia berangkat dan berpamitan dengan mbok Darmi. Pelukan perpisahan yang dibanjiri air mata Mbok Darmi. Chika meminta pada si mbok agar merahasiakan keberadaanya, terutama dari Sandi dan keluarganya.
Setelah 4 jam perjalanan akhirnya Anton memarkirkan motornya. Anton mengantar Chika kebus yang harus ia naikin dan memastikan agar Chika sampai tujuan dengan selamat, sebelum Anton berpamitan pulang. Anton juga berpesan agar Chika berhati hati menjaga barang berharganya saat dalam perjalanan, apa lagi saat ia tertidur karena sangat rawan pencopet. Anton juga berpesan agar Chika tidak percaya begitu saja pada orang yang baru ia kenal saat sampai dikota.
Chika memilih duduk didekat jendela, sambil menunggu bus yang ia naiki menuju kota Jakarta berangkat. Ia melihat keluar jendela, melihat banyak orang yang berlalu lalang sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
Bus mulai menyala, menandakan bus akan segera berangkat. Setelah menunggu 30 menit akhirnya bus sudah meninggalkan terminal dan melaju membelah jalanan kota yang ramai. Chika sempat tertidur dibus karena lelah harus duduk berjam jam di dalam bus. Setelah menempuh 6 jam perjalanan, akhirnya Chika sudah turun disalah satu halte bus yang ada dikota Jakarta.
Chika duduk sebentar dihalte, merenggangkan tubuhnya yang sedikit kaku karena perjalanan panjangnya. Ia melihat kesekeliling dan merasa takjub saat melihat bangunan bangunan yang mengjulang tinggi kelangit, pemandangan yang indah. Tapi satu yang ia tidak suka, polusi kendaraan yang bertebaran dimana mana karena saking banyaknya kendaraan yang berlalu lalang. Tidak seperti dikampungnya yang sejuk, segar, dan bebas dari polusi.
Chika melihat jam ditangannya, sudah jam 3 sore pantas saja perutnya merasa sangat lapar karena sejak pagi tidak ada nasi yang masuk kedalam perutnya. Saat perjalanan dibus ia hanya makan roti yang si mbok berikan padanya tadi pagi, karena si mbok khawatir Chika tiba-tiba merasa lapar dijalan. Dan benar saja karena Chika malas turun dari bus saat jam istirahat tadi ia memilih memakan roti dari mbok Darmi untuk mengganjal perutnya. Padahal bus yang ia naiki tadi sengaja berhenti dijam istirahat, agar penumpang lainnya bisa istirahat sejenak dan makan siang. Tapi, Chika malas beranjak dari duduknya dan memilih menunggu didalam bus saja.
Chika melihat kesekelilingnya mencari sesuatu dan ia melihat warung makan dipinggir jalan yang ada diseberang jalan. Chika langsung berdiri sambil menenteng tas yang berisi pakaiannya dan tas selempangnya yang berisi barang berharganya yang alhamdulillah masih aman sampai sekarang. Ia menoleh kekanan kiri, dan merasa cukup aman ia langsung menyeberangi jalan. Namun belum sampai ia keseberang jalan tiba-tiba saja ada motor yang baru keluar dari gang dan melaju kearahnya, membuat Chika panik.
"Aaahhhggt...". teriak Chika, yang sempat menghindar tapi tetap saja ia terserempet motor karena motor itu yang muncul dengan tiba-tiba. Chika terpental sampai tas yang ia bawa terjatuh begitu saja dan ia tersungkur kesamping membuat kaki, lutut, dan lengannya sakit.
"Aduuhhh...". rintih Chika yang merasa sakit dikaki dan perih dilengan tangannya.
"Sini biar saya bantu, maaf saya tidak sengaja menabrakmu nak, karena tadi saya sedang buru-buru". pinta wanita payuh baya itu sambil membantu Chika duduk ditepi jalan.
"Iya tidak papa". sahut Chika lirih menahan sakit dan perih dilengannya.
"Bagaimana kalau saya antar kerumah sakit". tanya wanita paruh baya itu karena melihat Chika menahan rasa sakit.
"Tidak, tidak perlu, saya baik baik saja hanya sedikit sakit dikaki dan lengan saya karena lecet". tolak Chika dengan cepat.
"Kalau begitu berikan alamatmu, biar saya antar anda pulang". minta wanita itu, karena merasa bersalah.
Chika diam karena ia bingung harus jawab apa, ia baru saja datang dari kampung dan belum punya tempat tinggal. Melihat kebingungan Chika, wanita itupun bisa tau kalau Chika baru pertama kali datang kekota ini, apa lagi dengan tas cukup besar yang ia bawa.
"Apa kamu baru datang kekota ini nak?". tanya wanita itu, Chika mengangguk.
"Iya, saya dari kampung dan baru pertama kali datang kekota ini. Saya ingin mencari tempat tinggal dan perkerjaan disini". jelas Chika.
"Bagaimana kalau nak...". jeda wanita itu karena bingung harus memanggil apa.
"Chika Putriana.. panggil saja Chika". lanjut Chika yang melihat kebingungan wanita paruh baya itu.
"Ah iya Chika, nama yang cantik seperti orangnya". puji wanita itu.
"Tante bisa saja". ucap Chika dengan malu.
"Jangan panggil tante, aku sudah berusia 50 tahun lebih dan itu sudah cukup tua bagiku bahkan anakku sudah seumuran dirimu. Namaku Maria Amelia, nak Chika boleh memanggilku dengan sebutan ibu Amel". jelas Amel
"Saolnya ibu terlihat lebih muda, dari usia ibu". puji Chika karena memang Amel terlihat lebih muda, mungkin karena ia suka perawatan.
"Terima kasih pujiannya, itu bisa membuat kepalaku besar". ucap Amel membuat kami tertawa.
"Ah aku sampai lupa bilang pada nak Chika, bagaimana untuk sementara waktu nak Chika tinggal dirumah ibu, kebetulan ibu juga punya toko roti dan ibu sedang membutuhkan kariyawan ditoko roti ibu. Kalau nak Chika bersedia dan merasa nyaman nak Chika bisa kerja ditoko roti ibu. Tapi, kalau tidak merasa nyaman, nanti ibu bisa membantu mencarikan tempat tinggal. Bagaimana?". jelas Amel panjang lebar dengan tawaran.
Chika terdiam berpikir sejenak, apa lagi Chika baru mengenalnya. Ia teringat pesan Anton untuk tidak percaya begitu saja pada orang yang baru ia kenal, karena wajah yang terlihat baik belum tentu hatinya baik juga. Belum sempat Chika menjawab, Amel lebih dulu lanjut bicara.
"Anggap saja ini penebusan rasa bersalah ibu, karena sudah menabrak nak Chika". ucap Amel dengan muka memohon. Membuat Chika tidak bisa menolak.
"Baiklah.. aku tak bisa menolak ibu, apa lagi dengan keadaanku yang seperti ini". sahut Chika dengan pasrah.
"Syukurlah kalau begitu ibu bantu kemotor ibu". ucap Amel, mengambil tas Chika dan menaruhnya didepan motor meticnya lalu membantu Chika berdiri.
"Terima kasih". ucap Chika sambil jalan terpincang kemotor.
"Sama sama". sahut Amel, naik lebih dulu kemotor lalu membantu Chika naik.
Motor melaju membelah jalan kota, hingga motor Amel berhenti didepan rumah berlantai dua yang cukup besar dan halaman yang tidak luas hanya beberapa meter saja namun terlihat cantik karena banyak tanaman dan bunga yang tertata rapi. Amel mengambil kunci ditasnya lalu membuka pintu. Hari ini tokonya sedang tutup.
"Ayo masuk, biar ibu bantu". ajak Amel sambil mengambil tas Chika yang ada dimotornya.
Memapah Chika yang jalan terpincang menahan sakit dan membantunya duduk dikursi. Amel pergi membuat teh hangat dan mengambil kotak P3K untuk mengobati lengan Chika yang lecet.
Chika melihat kesekeliling rumah yang cukup besar, terlihat cantik dan indah dengan barang-barang yang tertata rapi. Dilantai bawa ada ruang tamu, ruang makan dekat dengan dapur, bagian depan terdapat toko rotinya dengan beberapa kursi dan meja untuk para pelanggannya yang ingin bersantai. Dan ada satu ruang dengan pintu tertutup, mungkin itu kamar.
Amel kembali dengan secangkir teh dan kotak P3K. Membersihkan luka Chika dengan alkohol dengan pelan dan telaten, sesekali Chika meringis menahan perih dan Amel meniupinya agak tidak terlalu perih.
"Apa nak Chika sudah makan?". tanya Amel yang masih mengobati luka Chika, Chika tak menjawab hanya menggeleng.
"Setelah ini kita makan bersama, selesai makan ibu akan mengantar nak Chika kekamar agar bisa istirahat". jelas Amel.
"Terima kasih banyak bu, maaf merepotkan ibu". ucap Chika.
"Ibu tidak merasa direpotkan dan jangan minta maaf, seharusnya ibu yang harus minta maaf karena sudah menabrakmu". sahut Amel.
Amel sudah selesai mengobati luka Chika dan mengajaknya makan bersama diruang makan. Mereka menikmati makanan sambil berbincang. Selesai makan Amel mengantar Chika kekamar yang ada di lantai atas, karena di lantai bawah hanya ada satu kamar yang sekarang di tempati Amel. Sebenarnya itu kamar tamu dan kamar Amel dilantai atas. Tapi karena ia merasa lelah harus naik turun tangga jadi ia memilih pindah kekamar bawa saja.