10

1313 Words
"Nilai ulangan kalian sudah Ibu berikan. Untuk yang remedial, bisa menemui Ibu sepulang sekolah besok di kantor. Brian sekalian ajarin teman-temannya yang lain, ya? Khususnya Randy, dari sepuluh soal hanya satu yang kamu jawab benar. Itu saja caranya juga salah ... nyontek ya pasti kamu! Nanti tanya ke Brian!” Randy tersenyum kecut lalu melempar lembar jawabannya asal. "Iya Ibuk ... siap Ibuk...," ujarnya malas disusul tawa cekikikan dari teman sebangkunya, Kale. "Kenapa, Le? Nilai dua puluh enggak masalah tahu, ini estetik lihat kayak bentuk bebek bertelur. Lagi pula, nilai kita juga enggak jauh beda." "Ih mana ada, gue dapat delapan puluh tahu." "Yaelah, beda enam nomor, doang." "Itu banyak dodol!" Randy mengibaskan tangannya. "Iya ... iya...," katanya. Begitu guru mereka benar-benar meninggalkan kelas, Randy kemudian memutar tubuhnya ke belakang. Menopang dagu dengan tangan kanannya sambil menatap Brian, mengabaikan Kale yang masih tertawa puas di sebelah. "Padahal gue belajar dong dari malam sampai tadi pagi. Tadi juga, sebelum pelajaran dimulai juga belajar. Kenapa bisa benarnya cuma satu, sih!" "Tanya gih, Bri ... anak itu belajar apa?" Kale sungguh tidak habis pikir dengan cara kerja otak Randy. Brian berhenti sejenak dari aktivitasnya memasukkan buku-buku pelajaran miliknya dan ikut bersuara setelah mendengar perdebatan dari dua manusia yang duduk di depannya. "Emang semalam belajar apa, Rand? Katanya begadang tapi nilai lo kok masih aja suram?" "Belajar biologi, dong!" "Somplak!" seru Brian dibarengi dengusan Kale. Kale kemudian terkekeh. "Pintar kan Bri, Randy? Dia nyatat jadwal pelajaran enggak, sih? Jelas-jelas kemarin dibilangnya ulangan matematika, bukan ulangan biologi." "Suka banget sih sama biologi, Rand?" Brian tersenyum geli. Ternyata, tidak sepenuhnya menyedihkan di tempatnya yang baru. "Iyalah gue kan ingin lebih mendalami seluk-beluk bagian tubuh manusia. Eh mau ke mana, Sha?" tanya Randy saat melihat Masha mulai beranjak dari tempat duduknya. Brian dan Kale otomatis mengikuti arah pandang Randy. Namun, Masha yang cuek tidak mau repot-repot membalas tatapan para pria di dekatnya apalagi untuk sekedar menjawab pertanyaan Randy. "Sombong amat!" seru Rendy yang menyadari pertanyaannya tidak mungkin dijawab oleh Masha. "Hush!" Kale memperingatkan. Randy menyipitkan mata lalu menggerakkan tangannya menyuruh dua pria di dekatnya mendekatkan kepala. Sambil melirik Masha yang menjauh pria itu berbisik. "Dia sebel kayaknya, Guys." Kedua pria di hadapannya menaikkan alis secara bersamaan. "Yang dapat nilai seratus dari kemarin kan Brian, bukan dia. Dia pasti bertanya-tanya salahnya dia itu apa dan kenapa Brian si anak baru bisa ngalahin dia," bisik Randy menirukan akting pemeran antagonis di dalam drama yang beberapa kali tidak sengaja ia lihat. "Halah sok tau!" "Ih, dikasi tahu enggak percaya! Gue dulu itu tiga tahun juga satu kelas sama Masha, jadi gue tahu banget gimana dia kalau menyangkut soal nilai." "Ya, kan itu wajar. Namanya juga anak sekolah. Yang nggak wajar itu kamu Rand yang boro-boro bingung soal nilai sama otakmu disebelah mana saja pasti nggak tahu." Randy mendengus. "Eh, ini udah bulan kedua tahu Bri, lo di sini. Bisa nggak kalau ngomong sama gue tuh, nggak aku kamu aku kamu. Kalau gue baper, gimana?" "Najis!" "Cara ngomong lo tuh bikin orang salah paham tahu." "La kan aku cuma pakai bahasa Indonesia yang baik dan benar." Brian mencoba untuk membela diri. Lagi pula dia sudah terlalu nyaman bicara dengan model bahasa seperti ini. Bahkan, kalau bisa dia ingin bicara dengan bahasa Jawa saja. "Dih, terserah lolah! Tadi kita kan ngomongin Masha, ya?" "Bukannya Masha tadi dapat nilai sembilan puluh lima? Dia hanya salah menjawab satu soal tahu Rand dan itu saja diberi nilai setengah soalnya caranya tadi benar." "Lo pasti bingung, ya?" Kale menatap dua temannya secara bergantian sambil menahan tawa melihat ekspresi Randy yang macam ibu-ibu biang gosip di Komplek perumahan. "Soalnya gue sendiri juga bingung anjiiiir, Hahaahha!" pria itu memukul-pukul bahu Kale. "Gue juga heran kenapa ada anak seperti itu. Gue aja nilai dua puluh juga biasa saja." "Garing banget sih, Rand!" Kale melepas tangan Randy yang bertengger pada bahunya. "Dasar lonya aja sih yang geblek!" "Masha emang gitu. Dia ambisius banget tahu, Guys! Nggak ada tuh manusia di bumi yang boleh nyaingi dia." Kale hanya manggut-manggut. Sebab, omongan Randy memang sedikit banyak ada benarnya. Brian menatap kepergian Masha. Berbeda dengan kedua temannya, dirinya mencoba memahami gadis itu. Karena, setiap sesuatu pasti ada alasannya, bukan? Mencoba menjadi yang terbaik, tidak ada yang salah dengan hal itu. "Ngomong-ngomong lo kok pintar, Bri?" celetuk Randy tiba-tiba. "Lo selalu dapat nilai seratus Bro setiap ulangan. Kemarin Fisika dapat seratus, kimia dapat seratus juga. Nggak wajar banget!" Pria itu sedikit tidak terima. Kenapa di dunia ini ada manusia diciptakan sesempurna itu. Yah, pada kenyataannya Randy tahu sendiri, jika dunia memang terkadang tidak seadil itu. "Kayaknya di kelas tadi sewaktu yang lain pada belajar buat ulangan, lo malah asyik main game deh, Bri?" Kali ini giliran Kale yang penasaran. Randy menyenggol Kale. "Kalo gitu waktu mau ulangan kita main game aja kali ya Le, biar dapat nilai seratus?" "Boro-boro dapat nilai seratus! Yang ada dapat kamehame dari guru-guru, soalnya jawaban kita pada ngawur." Keduanya lalu tertawa bersamaan. Brian membuang napas. "Penting banget ya ini dibahas. Gue mau cabut." Lagi pula, kelihatannya saja ia tidak belajar. Sebenarnya, dirinya bermain game juga sembari mengingat apa-apa saja yang kemarin malam ia pelajari di rumah. "Nah gitu dong kalau ngomong! Kalau kayak gini kan gue jadi nggak baper sama lo." Brian memutar kedua bola mata sambil menampilkan ekspresi yang jengah sekali. "Habis ini mau ke mana?" Randy mengangkat satu alisnya. "Pulang." "Ke rumahnya Kale dulu kita ma—" Randy mundur beberapa langkah saat seseorang mendekat ke arah mereka. Pria itu melirik Kale yang baru keluar dari kelasnya. Ada Leo di sana yang berhenti tepat di depan Brian. Aneh, karena pria itu hanya terus menatap Brian tanpa mengeluarkan suara. Hanya beberapa detik lalu berlalu begitu saja. Randy menghela napas panjang sembari mengusap dadanya. "Ngapain itu manusia?" tanyanya gugup. Brian hanya menggelengkan kepala. Jujur, sebetulnya dirinya pun tidak tahu maksud Leo barusan itu apa. Dua bulan ini, seingatnya dia tidak pernah berinteraksi dengan Leo selain bertukar sapa saja. Brian rasa selama ini mereka baik-baik saja. Namun, kenapa tadi Leo terlihat ingin sekali memakannya? "Lo hati-hati Bri sama Leo. Jangan berurusan sama dia. Jangan dekat-dekat sama dia pokoknya," ungkap Randy. "Kenapa sih, memangnya?" Selain tadi, sepertinya Leo tidak terlihat sebagai ancaman buatnya. "Kamu enggak takut? Dia itu biang rusuh di sekolah lo, Bri. Jangan dekat-dekat, deh." "Biang rusuh kayak apa, si?" Randy mengayunkan tangan untuk Brian agar lebih mendekat. Pria itu menoleh sekitar sebelum akhirnya berucap. "Lo tahu, enggak? Rumornya dia itu punya tato sepunggung —" "Emang kenapa sih kalau punya tato?" potong Brian. Kepribadian, tidak bisa dinilai hanya dengan sebuah tato, bukan? Kale geleng-geleng kepala sembari menyenggol lengan Randy. "Enggak ngerti ni anak. Itu tuh sebagai tanda jika Leo adalah salah satu anggota organisasi kriminal yang cukup terkenal di Jakarta. Gak ada yang tahu apa namanya, pokoknya katanya itu rahasia. Yah, pokoknya sebuah perkumpulan orang-orang yang suka bikin kerusuhan, deh. Anak-anak aja merinding kalau papasan sama dia." "Dia juga terkenal dingin, tidak banyak ngomong dan tidak mau bersosialisasi juga. Hanya beberapa orang yang bisa dekat sama dia. Dan mereka juga anak-anak yang terkenal kacau semua," sambung Randy. "Teman-temannya itu pernah bikin wakil kepala sekolah mengundurkan diri," imbuhnya. "Kenapa?" "Enggak tahu juga, rumornya mereka yang ngancam wakil sekolah kita sampai beliau akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri dan semuanya tahu Leo adalah dalang dibalik itu semua." "Masak, sih? Setahu gue dia asyik-asyik aja anaknya. Lagi pula itu semua cuma rumor, kan? kalian enggak tahu kebenarannya seperti apa, kan?" Kale membuang napas. "Jangan deh, pokoknya." Randy melipat kedua tangannya di d**a. "Iya, dibilangin juga, kok. Udahlah kita jadi anak yang normal-normal saja. Sekolah belajar lalu lulus. Kan aman." Brian kemudian menatap Leo yang sedang berkumpul dengan tiga orang yang katanya dekat itu. Tiba-tiba pria yang tengah mereka bicarakan tadi menoleh menatapnya. Ketiganya terpaku. Entah, karena apa yang Kale dan Randy ceritakan tadi atau memang tatapan Leo menyiratkan sesuatu yang berbeda. Brian sedikit terganggu karenanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD