“Gal, Gue mau ngomong sama Lo.” Sanadia mengembuskan napas berat. Gadis itu menegakan tulang punggungnya, lantas menatap Galaksi. Galaksi hanya diam dengan wajah berkecamuk. Melirik Sanadia dengan wajah malas, kemudian bergumam pelan. “Kenapa?” tanya Galaksi. “Bisa lo hargai gue sebagai seorang wanita?” tanya Sanadia. Malam ini cukup sunyi. Hanya ada mereka berdua di dalam mobil, di parkiran rumah Sanadia yang cukup luas. Setelah kejadian di dalam mall tadi, Galaksi mendadak tidak banyak bicara. Nadia tahu bahwa Damara adalah biang dari semua perubahan sikap Galaksi. “Lo tahu perjodohan ini terlalu berat buat gue, kan?” tanya Galaksi dengan pandangan lurus. “Lo pikir cuma lo yang punya masalah?” Nadia menggertakan gigi. Air mata menggenang di pelupuknya. Nadia tak ingin mengemis cinta

