Pesan itu masuk saat Inari sedang duduk sendirian di lorong rumah sakit yang sudah hampir kosong. Langit sore terlihat muram dari balik jendela besar. Kursi tunggu sebagian sebagian kosong, meninggalkan aroma obat yang mulai samar. Inari sebenarnya sudah bersiap hilang, tapi Bramasta jatuh sakit. Demamnya mencapai hampir empat puluh derajat celsius. Dia tidak tega menyuruhnya pergi. Bramasta ambruk di rumahnya dan para tetangga mengetahui pernikahan mereka. Jadi, mau tidak mau, menutup malu, dia akhirnya harus ke rumah sakit, menunggu Bramasta pulih. Inari bisa saja mengabaikannya, tapi hatinya tidak tega. Meskipun dia sudah kecewa, nyatanya, status mereka masih suami dan istri secara agama. Inari sempat berpikir untuk menghubungi Raisa, tapi ponsel Bramasta dikunci. Sekarang, sebuah

