Raisa pertama kali merasa ada yang tidak beres bukan karena pertengkaran. Justru karena suaminya pergi terlalu cepat—dan terlalu sedikit bicara. Pagi itu udara masih dingin, sisa hujan semalam membuat lantai rumah terasa lembap. Raisa masih terbaring setengah sadar ketika mendengar suara lemari dibuka-tutup lebih sering dari biasanya. Langkah kaki Bramasta mondar-mandir, bukan langkah santai orang yang bersiap kerja, melainkan langkah tergesa yang seperti dikejar waktu. Ia membuka mata perlahan. Bramasta sudah berpakaian rapi sejak subuh. Kemeja putih yang disetrika licin, celana hitam, jam tangan perak yang biasa ia pakai hanya kalau ada urusan penting. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras, fokusnya terpecah antara ponsel di tangannya dan dompet yang ia masukkan ke saku. “Mau ke mana?”

