Setelah malam kehancuran itu, Inari berhenti menangis. Bukan karena lukanya sembuh atau hatinya tiba-tiba kuat. Ia berhenti menangis karena sadar tangis tidak bisa mengubah apa pun. Inari mencintai Bramasta. Namun, lelaki itu telah membohonginya. Seperti lelucon, pernikahan kedua yang diharapkan bisa membuatnya bahagia, malah membuatnya terjeb4k dalam cerita cinta segitiga. Pagi datang tanpa permisi. Matahari menyelinap lewat celah gorden, jatuh tepat di wajah Inari yang pucat dan lelah. Ia duduk di tepi ranjang sejak subuh, punggungnya tegak tapi bahunya turun, seolah tubuhnya sudah lelah jauh sebelum hari dimulai. Nama Bramasta muncul berkali-kali di layar. Panggilan tak terjawab. Pesan pendek yang hati-hati. Nada yang penuh kekhawatiran dan sekaligus penuh jarak. Biasanya, Inari

