Dimas tidak langsung pulang setelah jam sekolah selesai. Ia duduk di dalam mobilnya cukup lama, mesin sudah mati, jendela setengah terbuka, membiarkan angin sore Malang masuk tanpa benar-benar terasa. Langit mulai meredup, warna jingga menempel di balik awan, tapi Dimas tidak sedang menikmati senja. Kepalanya penuh. Dadanya terasa berat. Satu kalimat terus berputar tanpa henti di benaknya, seperti rekaman rusak yang diputar berulang-ulang: Suami saya. Kalimat itu terdengar sederhana. Bahkan wajar, tapi entah kenapa, dari bibir Inari, kalimat itu terasa seperti sesuatu yang dipaksakan keluar—bukan diperkenalkan dengan bangga. Dimas sudah mengetahuinya kalau Inari sudah memiliki suami. Bahwa perempuan setenang itu pasti menyimpan cerita yang tidak ia umbar sembarangan, tapi tidak pernah

