CHAPTER 4: PERTANDA

1237 Words
Cahaya mentari kian perlahan meredup, semua orang mulai menutup pintu dan jendela mereka, menyambut indahnya rembulan malam. Tak lupa nyamuk-nyamuk yang sedang kelaparan mulai mencari sesuap makan juga binatang ternak yang sudah masuk istananya. Nyanyian burung hantu melengkapi indahnya suasana pertengahan bulan waktu ini, dimana bulan berbentuk bulat sempurna mengawasi semua yang ada di bumi. Ibunya Amin sedang sibuk mempersiapkan tempat dan peralatan sholat di lantai kedua. Suara candaan masih terdengar keras, menghiasi keharmonisan pertemanan yang penuh dengan perbedaan. Ibunya Amin turun menghampiri mereka. "Min! Ajak mereka sholat Maghrib, nanti keburu qadha." "Iya mbok." Amin mengajak teman-temanya menuju kamar yang khusus untuk sholat. Kamarnya berada di lantai 3, yang membuat mereka merelakan sedikit tenaga agar sampai. "Kalian wudhu di bawah aja, dan sholatnya di atas." "Di sebelah kamar mandi min?" Sahut Fatur. "Iya, karena di atas ngga ada air, karena khusus buat sholat aja. "Siap min." Amin menoleh ke belakang menatap Mayang yang sedang melepas Hoodienya. "Kalian masih inget sholat kan?" Jangki tersindir ucapan Amin, begitu juga yang lain, karena menganggap mereka cuma bisa berbuat maksiat. "Gini-gini kita juga sebenarnya kita mau benget tobat min." "Entah tu Amin, mungkin dianya menganggap kita cuma bisa berdosa doang." Tegas Mayang. "Bukan gitu maksudnya bro, maksudnya kan cewe itu kan setiap bulan datang bulan, nah kalo datang bulan kan ngga boleh sholat, kalo sholat malah dapet dosa, kalo dosa kan masuk neraka kalo ngga percaya tanya aja sama pak haji." Semua lega mendengar penjelasan Amin, ternyata mereka suudzan terhadap Amin. Pertikaian seperti itu langsung hilang ketika Amin mengeluarkan ilmu manteknya. Semua naik keatas untuk menunaikan sholat maghrib di penghujung waktu, guna sekalian sholat isya'. Setelah sholat mereka berkumpul kembali guna membahas persiapan besok. Fatur mendekati Mayang berbisik-bisik di telinganya. "Besok ngga bawa minum?" "Ya bawa lah, makannya nanti mampir dulu di barku, sekalian jalan-jalan beli sepatu biar perjalanan semakin lama gitu." "Ok, sip lah." Malam mulai semakin larut, Mayang menguap dengan aduhainya, menandakan bahwa dia sudah mulai saatnya tidur. "Eh eh, aku kesedot guys." "Haah." Awas lho Min. Yang lain pun sama, matanya sudah memerah, pandangannya pun sudah meredup, sudah saatnya mereka beristirahat. Mereka pun pergi keatas ke kamarnya masing-masing yang sudah ditentukan Amin, cewek dan cowok dipisah, awalnya Mayang memaksa untuk tidur bareng Jangki, namun Amin menolaknya, kalau dianya tidak apa, namun Amin malu kalau nanti ketahuan hal tidak senonoh dirumahnya, Amin juga malu dengan tetangga kalau hal itu sampai terjadi. Mayang pun menuruti nasihat Amin, karena juga dirinya hanya seorang tamu, harus menghormati tuan rumah. Mereka pun tidur dengan lelapnya, dibawah terangnya rembulan dan bintang yang menghiasi angkasa. Rembulan dikelilingi kalangan yang sangat indah bercampur awan putih tipis tertiup angin malam yang lembut. *** "Tolong!" Mayang berlari dengan kencangnya, entah apa sebabnya dia dikejar kejar sosok misterius yang sangat besar. Sampai saat Mayang berhenti di salah satu gapura, dia merasa sudah Aman, tapi apa yang terjadi, disebelah gapura yang persis di sebelah ya, dia melihat nenek tua yang sudah kusut pakaiannya, serta rambut yang sangat panjang sampai sedengkul sedang menatap tajam dirinya. Sontak Mayang pun terkejut dan berlari sekuat tenaga, sambil minta tolong berkali- kali tapi tidak ada artinya, tidak ada seorang pun kecuali dirinya dan semua sosok yang mengikutinya. Mayang tidak berhenti berlari, menghindari kejaran sosok itu, akhirnya Mayang kelelahan dan capek, nafasnya terengah-engah, kedua kakinya sudah mulai pegal, Mayang pun berhenti dan bersandar di sebuah tiang listrik, sudah lumayan lama dia bersandar, dia merasa ini sudah berakhir. Mayang hampir jantungan lagi, dia ada merasa ada sesuatu dibelakangnya, dan benar saja, bahunya dipegang tangan hitam gosong seperti sudah terbakar, tanpa pikir panjang Mayang terpaksa lari kembali, capek luar biasa dirasakan seluruh tubuhnya, Mayang merasa sudah tidak kuat, namun kalau berhenti dia pasti akan ditangkap oleh sosok-sosok itu, Mayang terus berlari-lari meski kecepatan terus menurun. Sampai saat dia bertemu rumah tua, keringatnya sudah tidak karuan, membasahi sekujur tubuhnya, dia pun beristirahat dan duduk di kursi depan rumah itu, Mayang takut dia melihat sosok-sosok itu lagi kalau di luar, akhirnya Mayang masuk kedalam rumah, namun kaget luar biasa dirasakan Mayang, ternyata didalam rumah tua itu ada seseorang dan ternyata dia adalah Dimas yang sedang tidur, Mayang pun merasa sangat lega, akhirnya dia menemukan seseorang dan rupanya adalah Dimas. Mayang pun mendekati Dimas dan mencoba duduk di sebelah Dimas, namun semua itu berbeda dengan kenyataannya, tubuhnya Dimas tiba-tiba bergetar dan keringat panas luar biasa membasahi sekujur tubuh Dimas, matanya tiba-tiba terbuka lebar dan perlahan memutih, Mayang mencoba membangunkan Dimas, namun apa daya, Mayang malah ketakutan mendapati mukanya Dimas menghitam dan mengkerut. Mayang kembali berlari keluar menuju luar rumah tua, dan kembali minta tolong, namun apa daya suaranya tidak bisa keluar dari mulutnya, dia tidak bisa berteriak, seakan-akan suaranya berhenti di tenggorokan. Mayang pun melihat semua sosok-sosok itu tepat di semua penjuru tempat mulai mendekati dirinya, tak kuasa berlari, dia sudah dikepung segerombolan hantu yang tidak jelas asal-usulnya, Mayang pun jongkok menundukkan kepalanya dan menutup matanya, Mayang menangis meratapi nasibnya, namun tiba-tiba Mayang mendengar suara yang dia kenal, rupanya dia adalah Imel yang datang dari ujung jalan sedang melambaikan tangannya. "May bangun May, ada apa kamu ha....? Teriak-teriak pagi-pagi buta kaya gini, ayo bangun." Mayang pun terbangun dan langsung duduk, kaget tidak percaya, ternyata semua itu hanya mimpi, Mayang meludah ke kiri tiga kali dan memegang kepalanya sambil tidak percaya. "Dari tadi kamu teriak-teriak May, seperti sedang ketakutan, saat aku membangunkanmu pun tubuhmu sangat kaku, emang kamu mimpi buruk ya...?" Tidak ada respon dari Mayang, Imel pun menyuruhnya ke kamar mandi untuk membasuh mukanya sekalian wudhu dan sholat. Mayang pun menuruti perintah Imel tanpa pikir panjang dia langsung berangkat menuju kamar mandi. Pagi pun semakin cerah dengan terangnya, semua sudah bersiap untuk sarapan pagi. Menu pagi ini begitu spesial, ibunya Amin memasak makanan yang sangat istimewa yaitu rendang ayam. Semua tidak percaya kalau menginap di rumahnya Amin serasa menginap di hotel. "Wah Buk, masa setiap hari kami makannya enak terus begini, seperti makan di hotel, saya jadi tidak enak Buk." "Iya, masa setiap hari begini buk, saya juga merasa tidak enak, jadi ngerepotin." Imel dan Rizki basa-basi, merasa tidak enak dengan ibunya Amin. "Omong-omong kalian berangkat jam berapa? Biar ibu persiapkan bekalnya." "Sekitaran jam 9 mbok, kami juga perlu siap-siap sedikit." Sahut Amin. "Oh ya, baytheway nanti kita pergi ke barnya Mayang dulu, sekalian aku mau beli sepatu di toko sepatu cendana, kan deket gimana?" "Jadi muter dong Mas?" "Ya ngga papa Min sekalian jalan-jalan biar tambah lama gitu, menikmati perjalanan." "Ya udah,aku ngikut aja, kalo yang lain bagaimana?' Semua menjawab dengan serentak untuk pergi mampir ke bar tempat Mayang bekerja, serta pergi ke toko sepatu. Setelah persiapan benar-benar matang, tak lama kemudian mereka berpamitan agar selamat sampai tujuan. Mereka segera memasukkan barang-barang ke bagasi mobil, dan satu persatu mulai masuk, namun secara tidak terduga salah satu mobil mereka tidak bisa menyala, sudah berusaha berkali-kali dicoba namun percuma saja, mobil milik Jangki pun digeret mobil yang satunya milik Dimas menuju service mobil. Mereka berangkat dengan sedikit kendala, namun tidak menghalangi acara mereka pergi berlibur. "Dimana Min tempat service mobilnya?" "Udah deket kok, toh pertigaan maju terus belok kiri sampai Mas." "Emang mobilnya gak pernah di service apa sama Wakne wo, jadi mendadak begini, ya minimal dicek lah setiap hari." Teman-temannya Jangki memang selalu memanggil namanya menjadi wakne wo, ya memang dari kecil sudah dipanggil Wakne wo, maklum orang Jawa kalo manggil suka aneh-aneh. "Entahlah, mungkin dia tidak punya waktu buat periksa mobil, positif thinking aja lah." "Udah sampai nih, ayo turun."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD