Author’s Poin of View
Sam terpaku di depan meja kerjanya. Di atas mejanya itu bersebaran beberapa kertas, ada yang masih kosong ada juga yang sudah terisi penuh dan sudah diremas oleh Sam. Tidak hanya kertas, diatas meja itu juga ada cryptex dan lembaran pesan berkode yang sedang berusaha ia pecahkan. Kode pertama sudah bisa ia pecahkan. Ia tahu persis bahwa itu angka biner. Sam sudah mencoba untuk mengkonversi angka angka tersebut sehingga menjadi suatu huruf.
Format biner adalah format di mana informasi file disimpan dalam bentuk satu dan nol, atau dalam urutan biner. Jenis format ini sering digunakan untuk file yang dapat dieksekusi dan informasi numerik dalam pemrograman dan memori komputer. Hal tersebut yang membuat Sam tidak asing dalam memecahkan kode pertama ini
Dalam pengertian matematis, biner mengubah angka multi-digit atau informasi lain menjadi serangkaian angka satu dan nol. Beberapa orang mungkin menyebut ini sebagai format on-off, karena setiap bit data berada di salah satu dari dua status. Secara kolektif, rangkaian satu dan nol ini (atau penunjukan hidup dan mati) dapat membentuk kumpulan data yang jauh lebih canggih.
File yang dalam format biner sering dapat digambarkan seperti yang disajikan dalam bahasa mesin. Komputer mengambil biner dan nol itu, dan menerjemahkannya ke dalam bahasa yang dapat dieksekusi atau jenis kode lainnya.
Jenis format lain termasuk format teks, di mana karakter individu direpresentasikan sebagai kode digital mereka sendiri, atau format heksadesimal, di mana sistem angka basis-16 digunakan untuk mewakili bilangan bulat atau data lainnya.
Sam membuka tabnya untuk melihat konversi persatuan huruf.
Letter Binary (Uppercase Letters)
A 01000001
B 01000010
C 01000011
D 01000100
E 01000101
F 01000110
G 01000111
H 01001000
I 01001001
J 01001010
K 01001011
L 01001100
M 01001101
N 01001110
O 01001111
P 01010000
Q 01010001
R 01010010
S 01010011
T 0101010
U 01010101
V 01010110
W 01010111
X 01011000
Y 01011001
Z 01011010
Alphabet in Binary (lowercase letters)
a 01100001
b 01100010
c 01100011
d 01100100
e 01100101
f 01100110
g 01100111
h 01101000
i 01101001
j 01101010
k 01101011
l 01101100
m 01101101
n 01101110
o 01101111
p 01110000
q 01110001
r 01110010
s 01110011
t 01110100
u 01110101
v 01110110
w 01110111
x 01111000
y 01111001
z 01111010
Sam mebacanya satu persatu untuk menemukan sebuah hasil dari pesan yang ia dapatkan
01000001 01000001 01000110 01000110 01000100 01011000 01000001 01010110 01000001 01010110 01000110 01000111 01000110 01000100 01000001 01000100 01000001 01011000 01000110 01010110 01000111 01000111 01000001 01011000 01010110 01000001 01000111 01000001 01000111 01011000
Keyword: 01001000 01110101 01101101 01100001 01101110
Keybox: 00110111 01100101 01100001 01110010 01110100 01101000 01110011
Menjadi
A A F F D X A V A V F G F D A D A X F V G G A X V A G A G X
Keyword: H U M A N
Keybox: ?earths
Sam masih belum bisa menemukan karakter apa sebelum huruf e. 00110111 bukan merupakan salah satu huruf jika dikonversi.
“00110111? Apakah ini bukan sebuah huruf?”
Sam terus memikirkannya sambil mengepal kedua tangannya. Keempat jarinya menggenggam ibu jari, memukul-mukul meja untuk membantu otaknya tetap berpikir dengan kecepatan paling penuh.
“Apakah itu sebuah angka? Ya! Angka!”
Sam akhinrnya mencari data konversi angka biner menuju pecahan bulat, hal ini cukup menegangkan karena jika ini bukan angka, ia tidak punya opsi lainnya. Dan ia mendapatkan 00110111 sebagai angka 7. Selesailah pemecahan kode tahap pertama menjadi:
A A F F D X A V A V F G F D A D A X F V G G A X V A G A G X
Keyword: H U M A N
Keybox: 7earths
Setelah ini Sam tidak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
---
Di tempat lain, Sitma dan Zlo sedang duduk bersama di sebuah ruangan. Hal yang harus didiskusikan langsung dengan Zlo adalah mengenai posisi Zlo yang akan digantikan oleh Sitma. Sebelum berbicara masalah teknis Sitma memulainya dengan membahas mengenai keputusan yang diambil Zlo. Mungkin Sitma akan menjadi orang ke tiga yang bertanya mengenai ini setelah Mr. Ekuador dan Kare.
Mereka duduk berhadapan dengan beberapa map, kertas, dan tab yang berserakan di meja.
“Ini baru yang namanya transfer data dan informasi” gumam Sitma. Sebelumnya Zlo hanya memberikan harddisk penuh dengan data mentah dan laporan yang ia titipkan pada Kare. Pasti sulit bagi Sitma untuk memahaminya. Bukan berarti Sitma tidak bisa, tapi diperlukan waktu yang cukup lama dalam penyelesaiannya. Zlo hanya membalas gumam itu dengan senyuman.
“Apa kau benar-benar bisa tenang meninggalkan kami dalam misi ini?” Lanjut Sitma tanpa melepas matanya dari selembar kertas yang ia pegang. Zlo tidak mejawab apapun.
“Aku tidak punya pilihan Sitma, aku juga sudah mengatakan ini pada Kare” Zlo menjawabnya dengan pandangan satu arahnya pada Sitma.
“Kenapa kau tidak punya pilihan?” Sitma memandang balik Zlo.
“Kau tidak akan mengerti hingga nanti ada waktu yang tepat, semua akan dijelaskan oleh waktu.”
“Kenapa kedengarannya seperti serius sekali? Apa ada masalah di balik ini Zlo?” Jawaban Zlo seorang membawa pikiran Sitma kemana mana. Kenapa harus menunggu waktu? Jenis alasan apa yang bahkan memerlukan momentum?
“Ah tidak, aku hanya, hanya bingung harus menjawab apa jadi aku mengutip sebuah jawaban dari pertanyaan yang sama dalam sebuah buku…”
Mendengar jawaban itu membuat Sitma cukup kesal dan memutar bola matanya membentuk setengah lingkaran keatas. Sialnya, cara ini berhasil menyihir Sitma untuk melupakan topik mengenai alasan Zlo memilih untuk keluar dari misi ini.
“Baiklah, sekarang tolong jelaskan mengenai data difusi elektron ini? Kenapa difusi relatif rendah? Padahal jumlah elektron hampir maksimal?”
“biasanya memang daerah dimana jumlah elektron lebih banyak disebut daerah konsentrasi lebih tinggi dan daerah dimana jumlah elektron lebih sedikit disebut daerah konsentrasi rendah. Arus yang dihasilkan karena gerakan pembawa muatan dari daerah dengan konsentrasi tinggi ke daerah dengan konsentrasi lebih rendah disebut arus difusi. Nah perhatikan arusnya, pada portal di Iedhla, arus elektron itu kita sebut dengan uncontrol-able variable. Kau bisa memanyakan prediksi-prediksinya pada divisi yang mengurus Portal, biasanya mereka memiliki 10 sampai 100 prediksi.”
“100 prediksi? Lalu bagaimana menentukan perfect timenya?”
“Gunakan feelingmu. Memang ini cukup sulit, kau harus sering-sering mengamati data dan laporan dari divisi yang bekerja di sana.” Zlo menjelasakannya secara jujur. Tapi jawaban yang ia berikan membuat Sitma kembali pada arah pertanyaan awalnya.
“dan hanya kau yang dapat melakukannya Zlo.” Sitma menyelsaikan kalimat Zlo. Sebenarnya lebih pada menambahkan kalimat Zlo agar menjadi suatu kalimat yang sempurna.
Zlo mati gaya mendengar itu.
“Ah, Kare juga dapat melakukannya, kan dia juga memulai semua dari awal sama seperti ku.”
Jawab Zlo mengalihkan.
“Oh iya, mengenai Kare, kenapa aku belum melihatnya seharian ini ya?”
“Apa dia sakit?” Zlo sontak bertanya. Emosinya berubah dari santai menuju khawatir.
“Hmm sepertinya tidak, hari ini aku memantau divisi keamanan dan kesehatan dan tidak ada Kare di sana. Ya, aku kurang tau, bisa saja dia hanya tidak enak badan dan istirahat di kamarnya seharian. Yasudah, ada yang mau ku tanyakan lagi,”
Mendengar ucapan Sitma membuat Zlo terus memikirkan Kare dan merasa khawatir. Hal itu membuatnya sempat melamun dalam beberapa detik.
“Zlo? Zlo!” Sitma memanggil Zlo sambil menarug telapak tangannya di depan mata Zlo yang kosong.
“Ah, iya maaf?” Zlo sadar.
“Mengenai akses menuju Iedhla, pesawat Sam dengan mesin…….”
Mereka melanjutkan diskusi mengenai misi itu. Pembicaran terlihat lebih seperti guru les privat dengan murid unggulan.
Sementara itu ternyata dugaan Sitma benar. Kare memang sedikit kurang enak badan. Karena ini hari libur, semuanya tertutupi. Tidak ada urusan yang harus Kare selesaikan keluar. Tapi dengan mengurung dirinya tanpa memakan apapun, itu juga bukan hal baik.
Tok tok tok
Seseorang mengetuk pintu kamar Kare. Kepalanya yang terasa berat membuat Kare kesulitan untuk membuka pintu itu.
Tok tok tok
Kare memaksakan diri untuk membuka pintu. Ia hanya takut jika ada sesuatu mendesak yang harus ia selesaikan menjadi gagal atau terjadi sesuatu yang fatal jika ia tidak membuka pintunya sekarang. Dengan seluruh tenaga Kare berusaha untuk terlihat sehat, Kare sangat tidak bisa terlihat lemah di depan orang lain.
Kare membuka pintunya. Sesosok pria berdiri membelakangi pintu, mungkin karena sudah menunggu cukup lama. Kare hanya menyelipkan rambut ke belakang telinganya, menunggu orang itu berbalik.
“Sam?” Ternyata bukan hanya Sitma yang sadar dengan ketidakmunculan Kare seharian ini, Sam juga menyadarinya. Sam menyadarinya setelah bertemu dengan Zlo tadi. Rasanya seperti ada yang ganjil.
“Kare? Kemana rambutmu?” Sam mengomentari rambut Kare yang sudah ia potong sendiri seleher, yang tadinya panjang hampir sepinggang.
“Kau buta?” Maksud Kare, pertanyaan Sam itu seolah-olah tidak ada rambut sama sekali di kepala Kare.
“Maksudnya kenapa kau memotong rambutmu? Lalu kenapa kau berkeringat?” Sam kebingungan, apa sebenarnya yang terjadi pada Kare.
“Ah ini, justru karena tadi aku merasa panas, jadi aku melakukannya.” Padahal Kare melakukan itu karena pikirannya yang berantakan dan kebingungan yang ia rasakan. Ia meluapkan itu dengan memotong rambutnya. Lalu keringat yang seukuran kacang polong itu, karena ia sedang mengalami demam.
“Tunggu sepertinya kau sakit,” Sam mencoba untuk menyentuh kening Kare untuk merasakan suhu tubuhnya, namun tangannya langsung dipukul dengan kuat hingga membuat darahnya membeku dan menjadi biru untuk sementara waktu.
Setelah memukul tangan Sam, Kare terjatuh. Sam mengangkatnya ke atas kasur.
“Seperti yang ku sangka, kau akan sakit. Tidak usah mengelak Kare, bahkan aku sangat terpukul dengan semua keputusan Zlo. Ini aku membawakanmu makanan, kau harus memakannya.” Ucap Sam yang lebih mirip seperti petuah seorang nenek saat mengurus cucuknya yang sakit.
“Aku sudah minum obat” Kare tetap mengelak
“Tapi kau belum makan. Cepat duduk dan habiskan” Kali ini Sam memaksa. Kare kembali luluh dan duduk diatas kasurnya untuk memakan bubur yang dibawa Sam.
Tok tok tok
Lagi-lagi ada yang mengetuk pintu Kare. Karena Kare masih sangat lemas, akhirnya Sam yang membukakan pintu.
“Sitma?”
“Sam?”
Kedua orang itu saling kaget. Di dalam pikiran mereka saling tanya, kenapa Sitma datang malam-malam seperti ini ke kamar Kare dan kenapa Sam bisa ada di dalam kamar Kare selarut ini. Ternyata mereka punya insting yang sama dengan keadaan Kare. Setelah rapat dengan Zlo tadi, Sitma berpikir untuk langsung mengunjungi Kare saat mereka selesai. Sitma bahkan sempat menjak Zlo untuk bergabung dengannya. Sedangkan Sam, ia teringat Kare saat memikirkan Zlo. Mereka akhirnya duduk di sofa kamar Kare sambil menunggu pasien selesai makan. Layaknya keluarga pasien yang sedang membesuk.
“Pasti kau melakukannya sendiri.” Sitma menegur potongan rambut Kare yang terlihat sangat berantakan. Kare menjawabnya dengan anggukan. Seolah tidak ada masalah dengan potongan itu.
“Apa kau sudah baikan? Sini aku rapihkan rambutmu” Sitma menawarkan jasanya. Kare hanya mengangguk untuk kedua kalinya.
“Ku kira Kare sengaja memilih potongan asimetris dan menurutku itu sudah keren” Sam mengacungkan kedua jempolnya perlahan dengan wajah yang datar.
Pujian ini dianggap Kare sebagai ejekan, itu yang membuatnya lebih bersemangat menerima jasa yang ditawarkan Sitma. Kare dan Sitma masuk kedalam kamar mandi untuk merapihkan potongan rambut Kare. Mereka berdiri di depan kaca di atas wastafel kamar mandi Kare. Sam sudah pulang lebih dulu saat mereka sibuk mencari gunting dan peralatan lainnya.
“Mungkin agak sedikit lebih pendek dari sekarang, kau tidak masalah?” Sitma bertanya sebeum memulainya.
“Terserah, aku tidak peduli.” Jawab Kare.
“Tadi aku habis bertemu dengan Zlo, sepertinya dia mempunyai suatu alasan yang sulit untuk dijelaskan kenapa dia meninggalkan kita.” Sitma sedikit-sedikit memberi informasi sambil menggunting rambut Kare, tujuannya hanya satu, agar Kare bisa lebih tenang dan dapat menerima ini semua.
“Aku tidak perduli, tolong untuk sementara waktu jangan sebut namanya lagi.” Ucap Kare menutup segala pembahasan malam itu.