Setelah diterima bekerja di restoran Padang itu, kini Wahyu pun menjadi sangat bersemangat bangun pagi untuk bekerja. Pagi-pagi sekali dia telah bangun dan membersihkan diri. Tak lupa, minyak wangi yang menjadi andalannya disemprotkan ke seluruh badan. Tujuannya ingin membuat dirinya wangi dan bisa memikat banyak pembeli alias cewek-cewek cantik. Tetapi, wangi ini malah membuat Najwa si keponakan cantiknya yang berumur 5 tahun jadi bersin-bersin mencium wangi parfum beraroma sereh itu semerbak kemana-mana.
“Hachiw… hacchin!” Najwa bersin-bersin sembari menggaruk hidungnya yang gatal karena mencium wangi parfum Adang nya itu. Adang adalah panggilan untuk paman lelaki dari pihak Ibu di Minangkabau.
“Hwaaa… Adang! Kok parfum Adang bau!" Jerit Najwa menangis. Dia tidak tahan mencium wangi parfum bau minyak urut tersebut. Lalu menangis karena sekarang dia masih mengantuk dan dipaksa oleh Mamahnya untuk buru-buru mandi pergi ke sekolah.
Baru saja si kecil imut itu keluar kamar, dia malah mendapati si pamannya itu bergaya-gaya di depan cermin, sembari bernyanyi-nyanyi kecil menyemprotkan banyak parfum dari ketek hingga ke punggung.
“Eh, ponakan Adang udah bangun. Tidurnya Najwa nyenyak ngak?" Kata Wahyu, menggosok kepala Najwa yang merengek.
"Bau!" Sahut si kecil Najwa.
"Masa bau sih? Nih, Adang semprot lagi biar tambah wangi. Parfum ini baru Adang beli saat mau ke Jakarta. Di kampung parfum ini paling laku, kok bisa bau sih?” Wahyu jadi penasaran melihat keponakan cantiknya jadi bersin-bersin setelah mencium wangi parfumnya.
Padahal dia telah membayangkan akan sebanyak apa gadis-gadis yang berkunjung jadi klepek- klepek pada pesonanya. Tapi, si keponakan kecilnya ini malah lebih dulu mengomentari parfumnya yang jadul bau minyak urut.
“Pokoknya jangan pakai itu lagi! Bau minya urut Kakek. Aku ngak suka bau ini! Adang kok pagi-pagi udah rapi? Mau kemana?” ujar si cantik Najwa, sambil bermain-main dengan handuknya di lantai. Lihatlah tingkah lucu Najwa, bocah itu selalu membuat repot Mamahnya jika diminta bersiap-siap mandi ke sekolah. Sekarang dia berbaring di lantai sambil kepo menanyakan kemana pamannya itu pagi-pagi begini sudah rapi sekali.
Bahkan dia juga mengomentari gaya rambut Wahyu yang mengkilap seperti diberi minyak kelapa.
“Adang harus bekerja sekarang Najwa. Yok, bangun dan mandi dulu sana. Nanti dimarahi Mamah loh,” kata wahyu pada Najwa.
“Ngak mau. Aku maunya dimandiin sama Adang aja,” Najwa merajuk minta dimandikan.
Wahyu menghela napas pasrah melihat kelakukan keponakan kesayangnnya ini. Memang sejak dia datang ke sini 3 bulan yang lalu, Najwa selalu menempel kepadanya. Bahkan mandipun harus dimandikan olehnya, dan tak boleh ada penolakan. Jika Wahyu pura-pura ngak mau, maka si ponakan kecilnya ini langsung merenggek dan merajuk tidak mau pergi ke sekolah.
Daripada si cantik ini meranjuk, lebih baik mandikan saja, pikir Wahyu. Dia menjadi pasrah, mana baju kerja sudah rapi dan sudah memasang kaus kaki. Sekarang dia kembali menggulung lengan kemeja putihnya dan menggulung ujung celananya sembari membuka kaus kaki agar tidak basah kecipratan air. Sekarang dia harus memandikan si ponakan manjanya ini dengan buru-buru.
“Oke, ya sudah ayok cepat. Nanti Adang terlambat bekerjanya,” kata Wahyu mengangkat Najwa bangun.
Bocah kecil itu langsung tertawa kegirangan karena dimandikan oleh pamannya. Jika dimandikan oleh Wahyu, Najwa pasti bebas bermain sabun sebanyak yang dia sukai di kamar mandi. Karena si paman tampannya ini tidak pernah melarang-larang untuk bermain balon dari sabun.
Namun, setelah mandi, keduanya siap-siap mendengar omelan Intan, mamahnya Najwa yang membahana karena menghabis-habiskan sabun mandi.
“Dang, nanti aku mau main balon dulu ya sebentar. Adang ikatin dulu rambut aku,” kata Najwa bernegosiasi dengan pamannnya.
“Najwa sayang, jangan main balon sekarang ya. Adang harus cepat-cepat pergi bekerja. Nanti sore saja, Najwa boleh main balon sepuasnya. Biar Adang belin balon-balon air juga buat kamu main ya,” ucap Wahyu membuka baju Najwa.
“Yaah Adaaang. Tapi aku mau main sebentar Dang,” rengeknya manja.
“Pokoknya engak boleh. Nanti Adang panggil Mamah, mau?” Kata Wahyu pura-pura mengancam.
“Iya deh, iya,” katanya pasrah.
Akhirnya setelah memandikan keponakan kesayangannya, Wahyu pun sarapan di bawah bersama kakak Iparnya yang juga sudah siap dan rapi untuk berangkat bekerja.
“Hari ini udah mulai bekerja, Wahyu?” tanya Kakak Ipar.
“Iya, Bang. Kemarin dimintanya begitu, harus berangkat pagi,” sahut Wahyu sambil memakan nasi gorengg buatan kakaknya.
Intan mengisi gelas teh Wahyu dan memberikan kepadanya. “Nanti kamu bekerja di sana harus pintar-pintar bergaul sama karyawan lain. Karena kamu masih baru, jangan malu-malu bertanya sama teman. Pokoknya kamu harus betah selama bekerja bersama orang,” nasihat Intan pada adiknya itu.
“Iya Uni,” sahut Wahyu pada kakaknya.
Kemudian dia berangkat menaiki angkot, karena jaraknya restoran itu tidak terlalu jauh dari rumah kakaknya sekarang.
Di tempat kerja, Wahyu berkenalan dengan semua karyawan di sana. Ada Bu Riska sebagai manager khusus bagian nasi kotak, dan Mas Aryo sebagai penanggungjawab minuman, lalu Mas Budi, yang merupakan pelayan biasa menyambut tamu.
Wahyu mangut-mangut menyapa semua orang di sana. Bahkan beberapa di antaranya juga ada orang Padang asli, yang sama seperti dirinya, merantau juga. Mereka menerima Wahyu dengan baik.
Saat ini Wahyu ditempatkan di bagian depan, sebagai penyambut tamu.
Dalam hatinya, Wahyu merasa bangga karena bisa dipilih menempati bagian menyambut tamu. Ini adalah pekerjaan yang tidak membutuhkan banyak otot, hanya perlu tersenyum dan menyapa para tamu dengan ramah tamah.
‘ini sih pekerjaan enteng. Aku hanya diminta jual tampang saja disini. Ngak salah kalau terlahir taman begini,’ batin Wahyu tertawa membanggakan dirinya sendiri.
Tak lama, Alen turun dari lantai atas bersama seorang pria. Jika Wahyu tebak dari tampangnya, sepertinya pria di samping Mbak Alen adalah suaminya.
“Selamat pagi Wahyu, gimana pekerjaannya. Apa kamu suka dengan posisi ini?” tanya Alen kepada Wahyu, yang berdiri di depan pintu masuk.
“Eh, Mbak Alen. Alhamdulillah saya suka sekali Mbak. Jika bekerja begini, saya mah sanggup sampai tengah malam Mbak. Kirain kemarin itu saya akan ditempatkan di bagian belakang sebagai tukang cuci piring,” ucap Wahyu cengengesan.
“Hehehe, kamu bisa aja. Engak lah, saya sengaja menempatkan kamu di posisi ini karena kamu cukup tampan dan tinggi. Mana tau banyak cewek-cewek cantik yang nongkrong di sini karena terpikat pada ketampanan si pelayan nasi Padang satu ini,” canda Alen menggoda Wahyu.
Aih aih, Wahyu dibuat salting brutal karena pujian Mbak Alen pagi-pagi begini. Jarang-jarang loh ada yang memuji diriya dengan terang-terangan begini. Hehe, jadinya Wahyu pengen jingkrak-jingkrak kan. Becanda ya, hehe.
“Mbak jangan begitu…. Saya jadi malu,” sahut Wahyu sembari tersenyum salting.
“Oh iya, ini kenalin suami saya, Mas Johan, dia pemilik restoran ini,” kata Alen memperkenalkan suaminya pada Wahyu.
“Dia juga orang Padang,” tambah Alen lagi.
“Ah,, Iya Mbak. Kenalkan saya Wahyu, Mas. saya juga dari Padang,” kata Wahyu menjabat tangan Johan dengan ramah.
“oh iya. Berarti kita sama-sama urang awak dong ya? Haha kebetulan sekali. Kamu panggil saja aku Uda Johan,” kata Johan ramah.
“Hah, baik Da. Uda Johan,” kata Wahyu.
Mereka pun mulai bekerja pada tempat masing-masing. Johan dan Alen melihat persiapan para karyawan yang sedang menglap piring dan gelas. Lalu Bu Riska sibuk mengatur pesanan nasi kotak 1000 paket. Semuanya sibuk dengan tugas masing-masing.
Hingga saat jam makan siang, para tamu mulai berdatangan untuk makan di sana. Wahyu terpana-pana melihat pelanggan yang datang makan dengan pakaian rapi dan wangi. Rata-rata mereka adalah pegawai pemerintahan. Dari yang berseragam polisi, hingga yang memakai baju dinas cokelat muda.
Karena saking sibuk melayani tamu, pipi Wahyu terasa kaku karena tak berhenti tersenyum lebar menyapa semua orang yang datang. “Aduh! Kok pipiku terasa tegang begini ya. Apa jangan-jangan karena kebanyak senyum sedari tadi ya,” katanya sambil menggosok-gosok pangkal rahangnya yang pengal.
Dan tak lama, seorang wanita cantik baru saja turun dari mobilnya. Dia berjalan masuk ke dalam, namun berhenti sesaat saat berada di depan Wahyu. Dia adalah Celine, yang selalu menjadi langganan makan siang di sini.
“Hoho, bukankan kau pria yang kemarin?” kata Celine membuka kaca mata hitamnya sembari mematut penampilan Wahyu dari atas sampai bawah.
“Iya, saya sendiri Mbak. Ada yang bisa dibantu?” tanya Wahyu.
“Heh! Saya ngak perlu dibantu. Emangnya saya pincang? Buta! Ngapain harus dibantu-bantu,” ucapnya galak. Dan berlalu begitu saja dari hadapan Wahyu.
‘Onde Mandeh, gayanya sok betul ya. Orang mau beramah tamah ingin memberi bantuan, malah dibentak begitu. Apa dia sarap ya?’ batin Wahyu memandangi punggung Celine yang telah masuk ke ruangan VIP.
“Ahhh, biarlah. Mungkin wanita itu sedang kelaparan. Kan biasanya orang lapar lebih sangar dan mudah marah. Bisa-bisa aku juga bisa jadi santapan makan siangnya,” ujar Wahyu mengurut dadanya.
Dia kembali bersiap menerima tamu yang lain. Hari ini memang para pengunjung agak banyak dari biasanya kata Mas Aryo saat Wahyu numpang minum di belakang tadi. Mereka selalu melayani tamu dua kali lipat pada saat hari kerja Senin sampai Jumat.