The DEATH

2371 Words
"Tolong… tolong …!" Teressa tampak memekik di tengah lapang, namun tak ada seorang pun yang menyahutnya. Gadis itu mengambil ponsel di tasnya. Kemudian, ia berniat untuk menelepon seseorang. "Tolong aku…." *** Di sisi lain, Aryo, Arjun, dan Lydia menghampiri Alina yang tengah kesakitan. "Ibu nggak apa-apa?" tanya Arjun setelah sampai di depan ibunya. "Ah, mataku terasa sakit sekali!" Alina membungkam mata sebelahnya. Sisinya itu memar akibat hantaman batu tadi. "Kalian cepat cari gadis itu. Jangan biarkan dia lari begitu saja, atau rahasia kita akan tamat!" ujarnya memerintah pada mereka. "Ayah, ayah jaga ibu di sini, biar aku yang kejar gadis itu dengan Lydia," ujar Arjun pada Aryo. "Ayo, Lydia!" ajaknya pada Lydia. "Tidak! Kita harus cari bersama-sama. Kalau kita bertiga saja tidak bisa menangkap gadis itu, lalu bagaimana dengan kalian yang hanya berdua. Kita harus menangkapnya bersama-sama!" Aryo menekankan. "But, Dad. Ibu kesakitan …." Arjun tampak menolak. "Ibumu tidak kenapa-kenapa!" bantah Aryo. "Cepat kita segera bergerak sebelum gadis itu berlari terlalu jauh!" kata Aryo kemungkinan ia berjalan meninggalkan mereka. "Arjun, ibu nggak apa-apa. Ayahmu benar, kita harus segera mencari gadis itu!" kata Alina mengalah. "Baiklah kalau begitu!" Lydia mengambil pisau yang tergeletak di tanah itu dan kemudian memberikannya pada Arjun. Akhirnya mereka pun bergerak, mencari ke mana Teressa berlari. Mereka memanfaatkan darah Teresaa yang berjatuhan sebagai penunjuk jalan. *** Menyadari sebentar lagi hujan akan turun, Teressa terus mempercepat larinya. Belakang kampus itu sangat luas halamannya, juga ada banyak pohon-pohon yang sengaja di tanam di pinggiran sana. Terlebih, kawasan itu sangat sepi. "Tolong! Tolong!" sekeras apapun Teressa berteriak namun tidak ada satupun yang meresponnya. Dia juga tidak melihat siapa pun di sana. Hingga akhirnya tampak beberapa siluet yang tidak terlalu jelas. Dengan penglihatannya yang tidak terlalu terang, Teressa berpikir kalau itu mungkin staf-staf kampus yang masih belum pulang atau mungkin para penjaga kampus. Segera gadis itu berlari menghampirinya, meminta tolong pada siluet-siluet orang itu. "Tolong! Tolong aku….!" teriaknya mencoba mengeraskan suara, namun suaranya masih kalah dengan angin kala itu. Meskipun demikian, siluet-siluet itu sepertinya mampu mendengar jeritan gadis malang itu. Mereka bereaksi, ada lima orang jumlahnya. Tiga seperti seorang laki-laki, dan dua lagi seorang perempuan. Semuanya menatap ke arah Teressa. Kemudian salah satu dari mereka berteriak, "Itu gadis yang kita cari!" Setelah mengatakan itu, mereka berlari bersamaan menghampiri Teressa. Teressa melotot. Harusnya ia tidak melakukan itu tadi. Ia telah meminta bantuan dengan orang yang salah. Ternyata mereka tak lain dan tak bukan adalah Michael, Jackie, Valen, Rachel, dan Reyna. Para pemburunya. "Mereka tidak boleh menangkapku!" Teressa berbalik arah. Kembali berlari dengan terseok. Menyadari kalau langkahnya semakin berat, ia berniat untuk sembunyi saja. Gadis itu mendekati pot-pot bunga besar dan berdiam di sana. "Mereka tidak boleh menangkapku, jika sampai menangkapku… dunia tidak akan tahu kebenaran tentang universitas ini. Tidak akan ada yang tahu betapa hancurnya sebenarnya moral mahasiswa-mahasiswa juga pekerja kampus di sini. Tapi jika aku tertangkap nanti?" Teressa tampak berpikir. "Tidak akan. Semua bukti ada di dalam ponselku. Aku sudah mereka semuanya. Setidaknya ponsel ini harus selamat. Aku harus menyembunyikan!" gumamnya sembari mengangguk-angguk. "Kemana gadis itu?!" Michael dan rombongannya telah sampai di halaman sana. Tepat tujuh langkah dari sana, terdapat Teressa yang tengah sembunyi di balik pot-pot besar tanaman kampus. "Cepat cari seluruh tempat ini!" perintah Valen pada yang lainnya. Teressa melotot kaget. "Mereka tidak boleh menemukanku. Jikapun aku tertangkap, mereka tidak boleh mendapatkan ponselku. Aku harus membuangnya!" Teressa menyongsong tas kecilnya. Kemudian, ia melepas tas berisi barang-barang dan ponselnya itu ke dalam lubang. Setelah itu, dia berpindah tempat. Mengendap-endap agar tidak tertangkap oleh penglihatan para pemburu itu. Jlep! "Ahh!" Teressa tak tahan untuk menjerit saat kakinya menancap duri yang cukup besar. "Jackie! Periksa di sana!" perintah Reyna begitu mendengar suara dari balik tanaman-tanaman. Jeckie segera bergerak. Memeriksa ke arah tanaman-tanaman hias yang tumbuh besar dalam setiap pot. Teressa membungkam mulutnya. Menahan pedih saat mencabut duri di kakinya. Kemudian ia melihat sebuah batu di depannya. Saat Jackie hampir sampai, ia mengambil batu itu dan melemparnya ke sembarang arah. Jackie mengehentikan langkahnya, dan beralih mengecek suara jatuhnya batu tadi. "Aku harus cepat pergi dari sini!" Teressa mencoba mendirikan tubuhnya. Berjalan pincang meninggalkan tempat itu. Namun, begitu sampai pada tanaman terakhir, mereka melihatnya. "Itu dia!" Rachel berteriak saat melihat bayangan Teressa. Mengetahui mereka melihatnya, Teressa mempercepat larinya. Walau telapak kakinya begitu sakit akibat tertancap duri, ia tetap melangkah. Walau perutnya pedih setelah tertusuk pisau, ia tetap bertahan. Teressa berlari tak mempedulikan keadaannya lagi. Kelima orang tadi pun mengejarnya. Jlep! Dari depan sana Teresaa disambut oleh pisau tajam yang langsung mencicip dagingnya lagi. Caira merah langsung keluar dari mulutnya bagai aliran sungai. Dari matanya yang sayu, ia melihat dua orang pria yang tersenyum puas padanya. Keduanya sama-sama membawa pisau. Jlep! Jlep! Jelp! Berkali-kali pisau itu ditusukkan bergantian ke lubang yang sama, lalu diputar membuat rasa sakit tak terelakkan lagi. "Aaahhh!" Teressa memuntah darah. Berdiri sempoyongan dengan beberapa luka cukup parah di tubuhnya. Meskipun begitu, gadis itu mencoba untuk tetap bertahan. Ia berlari menjauhi si pelaku. Dua pelaku itu tersenyum sinis. Mereka adalah dua bersaudara Evans dan Nevan. Pejabat kampus yang juga memburu Teressa. "Bagaimana gadis itu terluka sebelum kita melukainya tadi?" tanya Nevan pada kakaknya. "Sepertinya, ada orang yang melukainya terlebih dahulu," tebak Evans. "Ayo, kita kejar dia sebelum dia berteriak meminta tolong!" katanya lagi. Kemudian, mereka berdua berlari mengejar si gadis. Suasana saat itu sangat gelap, membuat Teressa kesusahan mencari jalan. Darah dari tubuhnya terus membanjir, terasa dingin saat diterpa angin kencang. Petir menyambar hebat di atas sana. Kemudian, rintik kecil mulai turun. Begitupun seterusnya hingga menciptakan hujan yang cukup deras disertai angin. "T...olongggg….!" Teressa berteriak di tengah lapang. Awan mendung bergulung, bagai ikut bersedih melihat gadis itu yang menderita. Derasnya air hujan, bagai air matanya yang menangis meratapi nasibnya. Sungguh malang nasib Teressa. Serasa tak sanggup menanggapi semua beban itu. Teressa berjalan sempoyongan, telapak kakinya yang tak beralas itu menapaki rerumputan. Darahnya mengalir ketika terbasuh air hujan. Ia mendongakkan kepalanya ke atas, mulutnya membuka bermaksud memasukkan air hujan ke dalam tenggorokannya yang cukup lama kering itu. Dia meneguknya. Tok! Sebalok kayu mendarat tepat di kepala Teressa. Begitu keras hingga membuat keningnya menangis darah. Ia berbalik, melihat seorang wanita yang basah kuyup dengan tongkat kayu cukup besar di tangannya. Gadis itu tersenyum sinis. "Bagaimana rasanya? Enak, bukan?" Teressa sempoyongan. Matanya menganalisa sosok gadis itu. Benar, dia adalah gadis yang sama yang ia pergoki saat sedang asyik membuat video pornografi. Carolyn! Teressa mengacungkan telunjuknya pada gadis itu. "Kau akan membayar semua ini. Polisi akan ke sini sebentar lagi. Polisi akan menangkapmu!" ucapnya dengan suara yang masih tersisa. Mendadak Carolyn menjadi takut. Dia takut kalau yang dikatakan Teressa benar adanya. "Tidak! Kau tidak bisa mengadukanku pada polisi!" elak Carolyn. "Dia akan menangkapmu!" Tubuh Teressa tiba-tiba merosot jatuh ke tanah berumput. Carolyn terkejut. "Apa kau sudah mati? Katakan apa kau sudah tiada?" tanya Carolyn yang tak masuk akal. "Aku rasa dia benar-benar sudah mati!" Carolyn berjalan pelan mendekati tubuh Teressa yang tengkurap diterpa hujan. Ia berjalan perlahan, meletakkan tongkat kayunya begitu saja. Kemudian ia mengecek tangan Teressa. Meraba pergelangan tangannya, dan terfokus pada matanya yang terpejam. Tiba-tiba … kantung mata Teresaa membuka keduanya. Tangan satunya meraih tongkat kayu di dekat Carolyn, kemudian melepas tangan satunya yang dipegangi. "Kau pikir aku sudah mati? Hah?!" Teressa mengayunkan tongkat kayu itu pada lengan Carolyn. Kemudian, ia mencoba membangunkan tubuhnya. "Aku tidak akan mati semudah itu!" Brug! Teressa memukuli Carolyn. Sedangkan gadis itu terus berusaha menangkis pukulannya. "Kau yang mati!!!" Teressa berteriak ke arah Carolyn dan menghadiahkan satu pukulan pada punggung Carolyn. Kemudian, ia berlari dari sana dengan tongkat kayu yang masih dipenganginya. Sayangnya, nasib gadis itu sangat malang. Bagai jatuh ditimpa tangga pula, kini dia yang seorang diri dihadang oleh Michael dan Valen. "Jangan mendekat!" Teressa mengarahkan tongkatnya itu pada mereka. Mereka berhenti lantaran tak membawa senjata apapun. Namun, dengan gesit Jackie tiba-tiba datang dari belakang Teressa dan merebut tongkat kayunya. Teressa terkesiap dengan kedatangan Jackie yang tiba-tiba dan mencoba merebut tongkat itu. Tetapi, lagi-lagi dia harus menderita. Jackie menendang tubuh Teressa hingga tersungkur ke tanah. "Sekarang … apa yang kau lakukan pada kami jika kami mendekat? Hah?" tanya Michael dengan beringas. "Biar aku kasih tahu, setelah ini … hidupmu akan tamat!" Valen mulai berjalan mendekati Teressa. "Mana tongkatnya, Jack!" Michael mengulurkan tangannya pada ke arah Jackie bermaksud meminta tongkat tersebut. Setelah Jackie memberikannya, pria itu kemudian berjalan mendekati Teressa dengan beringas. "Katakan, bagian tubuh mana yang harus aku pukul terlebih dahulu?" tanya Michael dengan memukul-mukulkan pelan tongkat itu di genggaman tangan satunya. "Tubuhnya itu sudah lemas, dan penuh luka-luka, kita hanya perlu menambahkannya saja!" ujar Jackie yang disambut gelak tawa Valen. "Ngomong-ngomong, dari mana dia mendapatkan luka itu?" tanya Valen. "Ah, persetan dengan semua itu. Yang terpenting, kita harus menghabisinya sekarang juga!" ujar Michael sembari memukul kaki Teressa. Teressa menjerit kesakitan di tengah badai petir yang menerpa kala itu. "Kalian akan dihukum!" teriaknya. "Siapa yang akan dihukum? Hah? Kau atau kami?!" Valen menarik tangan Teressa membuat gadis itu terbangun. Lalu ia lemparkan tubuh lemas itu ke arah Michael. Brak! Michael menangkisnya dengan pukulan keras tepat di kepalanya. Gadis itu menjadi pening. Pandangan menjadi samar-samar. Namun kembali jelas saat tangan kekar menonjok hidungnya. Jackie yang melakukan itu. Tiga orang di sana menyiksa Teressa tanpa ampun. Rasa kemanusiaan dan belas kasihan seolah sirna di hati mereka. Bagai iblis, mereka saling mengoper tubuh Teressa dan dipukuli. Lalu, datanglah Reyna dan Rachel. Mereka berdua sama-sama mengambil batu di sekitarnya. Kemudian digunakan untuk memukul Teressa begitu bergilir di hadapannya. Begitupun seterusnya sampai Teressa tak cukup lagi untuk melawan. "Sudah cukup. Biarkan dia pergi … biarkan … sampai mana dia akan melangkah!" Akhirnya Michael mendorong Teressa untuk menjauh. "Mic, kenapa kau malah melepaskannya?" tanya Reyna terheran. "Apa kau sudah gila, bagaimana kalau dia kabur nanti?" sahut Rachel. "Dia tidak akan ke mana-mana. Sekarang hujan deras, kakinya itu sudah patah, tubuhnya juga penuh luka-luka, lalu bagaimana dia bisa pergi jauh?" Michael tertawa menjelaskan pada mereka. "Michael, benar! Bukannya akan seru juga gadis itu mencoba lari lalu kita menangkapnya lagi?" Valen tersenyum beringas. "Lalu bagaimana jika nanti ada yang menolongnya?" Pertanyaan Jackie membuat mereka tertegun. "Tolong!" Teressa berteriak. Kemudian, ada empat orang di depan sana. Namun penampakan keempat orang itu sulit dikenali lantaran terhalang oleh derasnya air hujan. "Berengsek!" Michael mengumpat saat melihat empat orang di sana bergerak menghampiri Teressa. "Sudah kubilang, kau sangat bodoh, Michael!" caci Reyna. "Cepat kita tangkap gadis itu sebelum mereka menemukannya!" ujar Rachel pada semuanya kemudian bergerak mengejar Teressa. Yang lainnya pun ikut mengejar. Teressa terus bergerak maju, namun ia berhenti saat melihat empat orang itu merupakan komplotan Aryo. Mereka semua membawa benda tajam. Di bagian samping kanan juga ada dua orang pria, mereka Evans dan juga Nevan. Teressa melirik ke arah kiri. Di sana terlihat seorang gadis yang tengah berlari membawa sebuah sekop. Tidak salah, itu pasti Carolyn yang datang kembali. Teressa hanya pasrah di tengah-tengah. Dia menatap langit dan mengerjap, meloloskan air matanya yang langsung tersapu air hujan. Lalu, mereka datang berbarengan dan mengeroyok gadis yang seorang diri itu bersama-sama. Sesampainya mereka di dekat Teressa, tanpa aba-aba mereka langsung menyerbunya. Teressa merasa semuanya buram. Sekelilingnya menjadi berputar. Tawa puas nan sadis terdengar sumbang melalui gendang telinganya. Saat tubuhnya hendak roboh, sebuah peluru berhasil menyerempet pinggangnya. Dor! Dor! Dor! Tiga kali tembakan diluncurkan dan ketiganya mengenai tubuhnya. Brak! Tubuh lemas itu ditendang hingga jatuh terkapar. Mereka semua terkejut melihat datangnya suara tembakan itu. Semua mata mengarah pada seorang pria yang berjalan menerobos air hujan sembari menyongsong sebuah pistol. Sesampainya pria itu di sana, mereka terkejut menyadari kalau pria itu adalah seorang rektor universitas. "Pak Richard?" Mereka semua menatap pria paruh baya itu dengan heran sekaligus takut. Mereka takut tindak kejahatannya itu akan dilaporkan pada polisi. Richard mengamati mereka satu persatu. Lalu, ia melangkahkan kakinya ke tengah menghampiri Teressa yang tergeletak di tanah. Begitu sampai, ia membalikkan tubuh gadis itu yang begitu lemah. Lantas, Richard mendongak, menatap orang-orang yang berdiri mengelilinginya. "Apa yang kalian lakukan? Kalian ini benar-benar, menghabisi satu gadis saja tidak becus!" marahnya pada mereka. Mereka semua terkejut melihatnya. "Pak Richard? Kau?" Evans masih terheran melihat aksi rektornya itu. Begitupun semuanya. "Pak, kau melakukan itu pada gadis ini?" tanya Nevan tercengang. "Kalau aku tanya hal yang sama pada kalian, apa yang akan kalian jawab?!" Richard berjalan ke arah Aryo dengan memamerkan pistolnya. "Kenapa kenapa kalian memburu gadis ini bagai seekor tikus?" tanyanya sembari berjalan di depan mereka. "JAWAB?!" bentaknya dengan menembakkan peluru lagi ke arah tubuh Teressa, hingga membuat mereka gentar. "Karena dia tahu rahasia kami!" Michael akhirnya membuka suara. "Dia juga tahu rahasia kami!" sahut Aryo. Richard beralih menatap Evans dan Nevan, bermaksud meminta jawaban. "A-alasanku sama seperti mereka," katanya gugup. Richard tersenyum licik. Kemudian, beralih menatap tubuh Teressa yang tak lagi bergerak. "Kalau begitu, dia memang pantas untuk dilenyapkan!" Tembakan terakhir sebagai penutup diluncurkan tepat mengenai kening Teressa. Tidak bisa dipungkiri, dia adalah penembak jitu. "Sekarang cepat, bereskan mayat gadis ini!" perintah Richard pada mereka. Arjun, Aryo, Michael, dan Valen dan segera bergerak, mendekati tubuh Teressa yang mengenaskan. "Tapi, Pak. Apa yang akan kita lakukan selanjutnya dengan mayat gadis ini?" tanya Evans pada Richard. Richard menatap ke arah Carolyn yang memegangi sekop. Ia bergerak ke arah gadis itu membuat gadis itu gemetar dan meneguk ludah. Lalu, Richard merebut sekop itu dari gadis itu dan melemparnya pada Jackie. "Gali lubangnya!" perintahnya. Jackie pun segera menuruti perintah pemimpin universitas itu. Dia mulai menggali tanah di bawah sebuah pohon. Dengan cukup mudah pria itu menggali, lantaran tanahnya yang memang gambut seusai hujan. Setelah terbentuk sebuah lubang yang cukup dalam, Jackie menghentikan aksinya. "Cepat kubur dia!" perintah Richard pada mereka. Arjun, Aryo, Michael, dan Valen, mulai menggotong Teressa. Mereka membawanya ke lubang yang sudah disiapkan tadi. Kemudian, tubuh itu lempar di sebuah lubang dengan sadis. "Arrgghh!" Teressa tiba-tiba mengambil napas membuat mereka melotot terkejut. "K-kalian ... a-kan mem-ba-yar se-mua ini!" lirihnya terbata-bata. "Bagaimana dia masih hidup?" Evans berdecak keheranan. "Sudah cepat kubur dia!" ujar Richard memerintah. Lalu, mereka semua mulai menjatuhkan tanah bekas galian tadi untuk menimbun tubuh itu, hingga akhirnya tak terlihat lagi. Teressa telah dikubur hidup-hidup setelah mereka menyiksanya. Ketiga belas orang tersebut saling memandangi tempat penguburan Teressa. Kemudian tersenyum puas karena telah melenyapkan bukti rahasia terbesar mereka. "YOU KNOW THE SECRET, SO YOU MUST DIE!" *** TO BE CONTINUED
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD