Aku dan mas Zaki pun makan dalam diam. Kami makan dengan lahap, karna bener bener perut kami sudah lapar banget. Masalahnya sudah lewat dari jam makan siang tapi aku dan mas Zaki belum juga mengisi perut kami, makanya perut sudah memberontak aja dari tadi. Selesai makan dan minum, aku membereskan piring makan kami begitu pun mas Zaki. Tapi mas Zaki melarang ku untuk mencuci piring bekas makan kami.
" Sudah Mel gak usah di cuci biarin aja. Nanti biar ibu aja yang cucinya. Kita ke depan aja sekarang, duduk di depan." kata mas Zaki melarang dan mengajak ku
" Gak apa apa kok mas. Lagian cuma sedikit juga mas, kan cuma piring makan kita berdua aja." kata ku sambil membereskan meja
" Sudah biarin aja Mel. Kita ke depan aja yuk." kata mas Zaki mengajak ke depan
" Mas Zaki ke depan aja duluan, aku beresin ini dulu. Sebentar lagi juga selesai kok mas." kata ku sambil mencuci piring gak mau kalah dari mas Zaki
Mas Zaki hanya bisa menghela nafas, karna aku tetap kekeh untuk mencuci piring. Kemudian dia duduk di dekat pintu dapur sambil menunggu ku selesai mencuci piring.
" Ya udah kalau gitu kamu lanjut aja cuci piringnya, mas tungguin kamu aja di sini. Nanti kita barengan aja ke depannya. Kamu ngeyel orangnya." kata mas Zaki sambil duduk di dekat pintu dapur
" Terserah mas aja deh. Lagian gak mungkin aku tinggal piring bekas aku makan mas untuk di cuci sama ibu. Ya gak enak lah aku mas. Sedangkan aku di sini abis makan. Masa abis makan langsung di tinggal gitu aja. Ya gak gitu juga mas." kata ku menjelaskan
" Iy mas tau, tapi kan ini mas yang kasih tau. Lagian ini di rumah ibu juga ya gak apa apa, biasanya juga kamu gak pernah cuci piring kalau abis makan main tinggal aja." kata mas Zaki
" Mana ada mas. Aku sekarang kalau abis makan langsung cuci piring, apalagi kalau abis masak ya langsung aku beresin. Kalau gak di beresin nanti yang ada mama malah marah." kata ku
" Eh sudah bisa masak ni ceritanya sekarang. Bisa lah ni masakin mas besok. Mas mau coba enak apa gak masakannya." kata mas Zaki
" Bisa lah sedikit. Kalau untuk masak yang banyak bumbunya belum begitu tau mas, paling bisanya cuma yang masih tumis menumis mas. Gak jago banget, tapi bisa lah. Karna masih belajar mas. Tiap hari minggu kan di suruh mama bantu masak, karna gak sekolah kan." kata ku
" Sejak kapan belajar masak? Setau mas kamu paling malas kalau di suruh mama bantu masak." tanya mas Zaki
" Sejak masuk SMA mas, tapi kalau bantu bantu mama sih sejak SMP kelas 3 mas. Karna kalau gak di bantu abis kena ceramah mama, apalagi kalau bangun siang. Beh di gedor gedor tu jendela kamar sama mama, kalau belum bangun juga papa yang turun tangan buat banguni aku. Sudah itu ya siap siap aja kena ceramah sepanjang hari." kata ku
" Ya kamu juga sih, bukannya bangun pagi malah bangun siang. Mama sudah sibuk di dapur kamu nya masih tidur. Ya mama marah lah." kata mas Zaki
" Ya gimana gak tidur sampe siang mas, kan hari libur mas. Kalau sekolah kan bangun nya pagi walaupun masuk siang. Mana bisa bangun siang. Jadi ya balas dendam pas hari libur. Ternyata dan ternyata malah gak di bolehin. Ya udah lah semenjak kena marah itu aku bangun pagi terus. Jadinya setiap minggu pagi aku ngerendam pakaian untuk di cuci, abis itu bersih bersih ruang tamu depan TV, nyapu ngepel. Semua aku kerjain, jadi mama papa gak ngomel ke aku lagi. Selesai itu aku bantu mama masak. Makanya aku bisa sedikit sedikit masak sekarang." kata ku menjelaskan
" Wah ternyata kamu sekarang sudah dewasa ya. Sudah berapa lama gak ketemu ternyata kamu sudah berubah makin dewasa pikirannya." kata mas Zaki
" Ya ialah harus dewasa pikirannya, sudah kelas 1 SMA juga. Masa harus berpikir masih seperti anak SD sih mas, ya gak patut dong, malu sama umur mas. Hehehehe.." kata ku sambil ketawa
Mas Zaki hanya geleng geleng kepala aja dengar apa yang aku bilang. Akhirnya cucian piring ku selesai juga. Aku dan mas Zaki malah asyik ngobrol di dapur dari pada ke depan.
" Berarti bisa lah besok masakin buat mas Mel." kata mas Zaki
" Bisa bisa aja mas. Tapi bukannya besok kita mau jalan jalan ke goa mas. Ya gak bisa dong mas, paling mama sudah siapin bekal untuk besok mas." kata ku
" Eh.. iya juga ya. Mas sampai lupa kalau besok kita mau jalan jalan bareng ke goa." kata mas Zaki
" Kapan kapan aja deh mas. Kalau masih ada waktu sebelum aku pulang aku masakin, tapi kalau gak ada ya kapan kapan aja ya." kata ku
" Iya deh. Pokoknya mas tunggu janji kamu buat masakin mas." kata mas Zaki
" Tenang aja mas. Kalau pun kapan kapan aku masakinnya, pasti aku sudah bisa masak macam macam, yang pastinya yang masakan pakai banyak bumbu pasti aku sudah bisa. Jadi mas Zaki bisa request mau aku masakin apa." kata ku
" Wah bener ni ya mas Zaki bisa request mau di masakin apa aja. Kamu harus bisa ya." kata mas Zaki menatap ku penuh binar
" Iya siap. Aku pasti bisa masakin apapun yang mas Zaki mau. Tapi jangan mendadak ya bilangnya." kata ku
" Kenapa gitu Mel?' tanya mas Zaki
" Ya ialah jangan mendadak. Takutnya nanti bahan bahan yang mau di masak gak ada, gak lengkap. Jadi harus persiapan dulu mas, di beli dulu bahan bahan nya mas. Gak bisa langsung ada kan bahan nya, apalagi mama sering masak, pasti cepat habis bahan bahan nya." kata ku
" Ok.. Kalau gitu sehari sebelumnya nanti mas kasih tau, kalau mas mau di masakin apa sama kamu Mel." kata mas Zaki
" Ok.. Sip.." kata ku
" Mas jadi gak sabar buat nyicipin rasa masakan kamu Mel. Enak apa gak nih masakan kamu Mel?" kata mas Zaki
" Ya gak tau enak apa gak, kan mas Zaki belum nyoba nya." kata ku
" Mas tunggu ya Mel. Ayo kita ke depan, malah asyik ngobrol di sini bukan di depan." kata mas Zaki
Aku pun mengangguk mengiyakan ajakan mas Zaki. Aku berdiri menuju ke depan mengikuti mas Zaki. Sampai di depan, ternyata tamu nya sudah pulang dari tadi. Aku pun duduk di kursi di dekat mas Zaki.