"Gimana? mau tetap menyuruhku minta maaf? sadar, Mas ini rumahku, jadi jangan seenaknya," ucapnya menantang sambil kembali duduk di kursi. Aku melirik ibu yang melengos meninggalkan kami, sudah pasti ia benci situasi ini, di mana sang menantu tak lagi menghargai dirinya, masih lebih baik Amira walau perempuan itu sering menantang, tapi ia tak pernah merendahkan suami dan mertuanya. Ah lagi-lagi Amira, ada perbedaan besar antara dirinya dan Tania, aku memang bodoh terpikat oleh perempuan yang cantik di luar, sedangkan hatinya lebih busuk dari seekor bangkai. "Aku ini suamimu, Tania, ga pantes kamu ngomong kaya gitu." Suaraku sedikit merendah. Sesakit inikah rasanya tak dihargai? padahal pernikahan kami belum genap berusia satu tahun, lalu bagaimana dengan Amira yang hampir sepuluh tahun

