8

1005 Words
Saska melangkah masuk ke dalam rumahnya dengan senyum yang menghiasi wajah cantiknya, hari ini adalah hari anniversary-nya dengan Dafa yang ke-27 bulan, memang tidak ada dinner seperti biasa namun perlakuan Dafa tadi di kantin saat jam istirahat sudah dapat membuktikan bahwa lelaki itu benar-benar sangat mencintainya, Saska tak perlu takut akan merasakan pengkhianatan untuk kedua kalinya, karena dia dan Dafa sudah sepakat untuk menempuh pendidikan di oxford setelah lulus dari SMA, jadi pasti mereka tidak akan terpisah. Senyum Saska memudar saat melihat siapa yang sedang berada di ruang makan bersama keluarganya, di sana ada Arlan, Helena, Celia, dan juga Sergio, lelaki yang sangat tidak ingin ia temui. Saska tidak jadi ke ruang makan meskipun perutnya sudah meminta jatah, dia lebih memilih untuk ke kamarnya dan beristirahat. Saska merebahkan diri di atas kasur empuknya, dia memejamkan mata namun diurungkan karena ada yang mengetuk pintu kamarnya. Dan muncullah Celia, dia menutup kembali pintu kamar Saska dan berjalan mendekati Saska yang sudah duduk di atas tempat tidurnya. "Segitu bencinya lo sama Sergio? Sampai lo rela gak makan demi gak ketemu sama dia? Benar-benar kelewatan tau, Sas," ujar Celia. Saska menatap kakaknya dengan malas, Celia sangat gampang berucap seperti itu, karena dia tidak merasakan apa yang Saska rasakan. "Iya gue benci sama dia, gue jijik sama sifat dia yang gak tau malunya datang kembali ke sini." Saska berkata sambil menatap tajam kakaknya. "Setiap orang pasti punya kesalahan Sas, Sergio balik lagi ke sini dia mau minta maaf sama lo, dia mau lo tau kalau selama ini dia pergi untuk kebahagiaan lo juga Sas, Sergio pengen sukses supaya dia bisa bahagiain lo, coba lo lihat perjuangan Sergio selama ini, jangan terlalu egois dengan terus keras kepala menganggap dia yang selalu salah dan lo yang benar Sas, jahat tau gak!" Celia menekankan kalimat terakhirnya. "Terserah dia mau udah sukses demi kebahagiaan gue, gue gak peduli karena yang gue inginkan sekarang bukan dia. Sergio hanya kepingan dari masa lalu gue Cel, dia cuma cowok gak tau diri yang udah ninggalin gue sampai gue depresi, dan dengan tampang yang gak tau malunya dia datang lagi dengan alasan mau bahagiain gue di saat gue udah memiliki Dafa yang selalu ada? Benar-benar gak tau malu." Saska mengeluarkan semua keluh kesahnya. Celia terdiam ia tidak tau harus menjawab apa, memang yang dikatakan Saska tidak semuanya salah, Celia sudah melihat sendiri betapa tersiksa adiknya saat lelaki yang begitu dia cintai pergi meninggalkannya tanpa pamit. "Dia cowok gak tau diri Cel, kemana dia lima tahun yang lalu saat gue begitu sayang sama dia, kenapa selama dia pergi dia gak pernah kasih kabar ke gue, nanyain kabar gue, ucapin happy birthday saat gue ulang tahun, apa dengan perlakuan dia seperti itu dia masih bisa disebut sebagai lelaki baik? Hello! Dia itu jahat bahkan sangat jahat Cel, lo gak pernah tau rasanya ditinggalkan saat lo lagi sayang banget sama dia, saat hidup lo lagi tergantung sama dia, lo gak pernah rasain itu semua Cel, bahkan lo lihat sendiri pas Sergio pergi. Gue sampai gak tau lagi caranya untuk tersenyum, hingga pada suatu hari gue ketemu sama Dafa, dia yang menuntut gue untuk keluar dari keterpurukan itu, dia yang begitu sabar, dia yang selalu ada, seharusnya Sergio tau diri kalau gue gak akan mungkin cinta lagi sama dia, udah berapa kali gue bilang sama dia, masa depan gue itu Dafa bukan dia. Tapi dia terlalu bodoh untuk memahami itu semua." Tanpa Saska sadari air mata sudah membasahi pipinya. "Sas, jangan nangis. Gue keluar dulu ya. Tenangin diri lo." Celia mengusap bahu Saska lalu keluar dari kamar adiknya. Saska pasti butuh waktu untuk menenangkan dirinya. Celia terkejut saat mendapati Sergio berada di depan kamar Saska. "Lo dengar semuanya?" tanya Celia ragu-ragu sekaligus kaget dengan kehadiran Sergio. Sergio hanya menganggukkan kepalanya, lalu berjalan mendahului Celia dan meminta Celia untuk mengikutinya. Mereka berdua duduk di salah satu bangku taman yang berada tak jauh dari rumah Celia. "Gue pengen tau banyak hal Cel." Sergio membuka obrolan. "Lo mau tau apa aja?" tanya Celia. "Gue mau tau Saska ketemu Dafa dimana?" "Dulu, dua minggu setelah lo pergi Saska kembali masuk sekolah dan duduk di kelas 2 SMP, hari itu ada siswa baru pindahan dari Bali, karena Saska duduk sendiri jadi guru di kelas Saska menyuruh Dafa untuk duduk sebangku dengan Saska. Karena cuma itu bangku yang masih kosong, Dafa mencoba untuk berkenalan dengan Saska, namun Saska hanya menatap Dafa datar, sejak lo pergi dia gak pernah lagi senyum ke orang bahkan dia sering banget ngurung diri sama mogok makan. Dafa penasaran sama tingkah Saska yang gak mau berteman dia hanya menghabiskan waktu di perpustakaan dan gak pernah mau ke kantin saat Vio dan Rena ajakin dia, sampai pada suatu hari saat pulang sekolah dia lihat Saska nangis di belakang perpustakaan, Dafa menemani Saska menangis dan akhirnya Saska mengutarakan sesuatu. Flashback on "Kamu mau 'kan Jadi teman aku, menurut aku kamu baik, kamu orangnya sabar." Saska menatap Dafa yang berada di sampingnya. "Iya aku mau." "Setelah itu Saska banyak cerita sama Dafa, Dafa selalu ke rumah saat pulang sekolah, mereka sering belajar bareng dan saat Dafa hadir, Saska mulai bisa ceria lagi, mama sangat berterima kasih sama Dafa, kalau gak ada Dafa mama gak tau harus gimana lagi, dan pas hari kelulusan SMP Dafa nembak Saska dan akhirnya mereka pacaran sampai sekarang. Itu sih yang gue tau karena Saska orangnya agak tertutup semenjak lo pergi, dia jarang cerita kecuali sama Dafa." Celia bercerita panjang lebar. "Apa gue gak punya kesempatan sama sekali buat deketin Saska lagi, gue tau kalau Saska udah benci banget sama gue." Sergio tersenyum miris. "Gue gak tau harus jawab apa Gio, karena itu semua pilihan Saska. Mama dan papa juga gak mau jauhin Saska dari Dafa, karena kalau gak ada Dafa. Saska kayaknya udah masuk rumah sakit jiwa, gue harap lo terus berjuang kalau lo emang beneran cinta sama dia, gue pulang dulu ya! Takut di cariin." Celia berjalan meninggalkan Sergio yang masih berada di bangku taman. Harus dengan cara apa supaya kamu maafin aku Sas?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD