Marco Bie mengusap rambut Cleo, “maafkan aku, ini tidak seperti yang orang lain pikirkan. Kami bahkan belum membicarakan apapun. Aku memang tidak ingin menikah denganmu karena sudah merasa seperti adik sendiri, bagaimana bisa aku melakukan hal bodoh dengan memisahkan persaudaraan kita karena pernikahan.”
Cleo terdiam, “kakak mudah sekali Move On, padahal hubungan yang kita jalani cukup lama. Aku sudah minta maaf berulang kali atas apa yang pernah terjadi, Affair yang aku buat sudah membuat hubungan kita kacau. Kakak selalu memaafkan aku, tapi entah kenapa hati ini tidak pernah puas.”
Marco Bie tidak bereaksi, “Karena kau merasa bersalah, Cleo. Hilangkanlah perasaan itu, aku yakin semuanya akan baik-baik saja walaupun kita tidak bersama.”
Saat mereka sedang sibuk berbincang, Bianca yang baru saja selesai mandi berdiri kaku karena bingung harus bagaimana. Dia tidak tahu ada orang lain di taman ini, terlebih itu Bos besar dengan seorang gadis cantilk. “Maaf, saya hanya ingin meyegarkan pikiran.” dia tersenyum, dan ingin pergi dari hadapan manusia yang menatap dirinya bingung. “Saya permisi.”
Bianca yang ingin melangkah pergi terkejut lagi saat namanya di panggil. “Kak, kenapa mau pergi? Aku belum memperkenalkan diri.”
Gadis ini langsung terpaku, dia kembali tersenyum dan berjalan ke arah Cleo. “Jangan panggil kakak karena kita terlihat seumuran. Perkenalkan nama saya Bianca, anda sendiri siapa?!”
Dia mengulurkan tangannya, Marco Bie tahu jika gadis ini sedang menyakiti dirinya sendiri. “Saya Cleo, saudara dekat Marco Bie. Kami sudah seperti saudara kandung! Kami sangat dekat, jadi apa yang Marco Bie lakukan saya selalu tahu, tapi entah kenapa kali ini sedikit berbeda.”
Alis Bianca menaiki kedua alisnya, “apa saya perlu mengetahui hal itu?! lagipula itu urusan pribadi Tuan Marco Bie, tak ada urusannya dengan saya! Terserah beliau ingin melakukan apa, saya tidak akan mencampuri.”
Marco Bie melipat bibirnya untuk menahan tawa, sedangkan wajah Cleo sudah memerah. Marco Bie yakin dia marah sekali. “Aku harus kembali ke perusahaan, sepertinya kita sampai di sini saja Cleo. Aku hanya menunggu Bianca selesai mandi, jadi kami pergi sekarang.”
“Kak, aku baru saja bertemu denganmu! Bisa-bisanya kau pergi begitu saja padahal kita belum pergi makan siang.”
Marco Bie tersenyum simpul, “Aku sangat sibuk Cleo, ini bukan alasan!” jawabnya pada gadis yang kini memerah.
“Kak, Please,”
Dia menghela karena tahu tidak akan menang, percuma mencari masalah dengan gadis satu ini. Bisa-bisa dia di telepon oleh pamannya karena sang anak ingin bunuh diri atau sedang kejang-kejang. Benar-benar sial hidup Marco Bie karenanya. “Hah, baiklah kalau begitu, kita akan pergi makan siang bersama Bianca, dan setelahnya kau harus pulang.”
“Baiklah kak, aku akan langsung pulang setelah kita makan siang. Nona Bianca terimakasih karena rela membagi Kak Marco Bie dengan saya!”
“Apa dia gila? Apa yang gadis ini bicarakan sebenarnya? Karena ulah Tuan Marco Bie semua keluarganya jadi mengira kalau aku adalah calon istrinya. Padahal ini semua bohong, aku tidak kenal dia lebih dari kata Bos. Entah kenapa aku bisa terjebak seperti ini, rasanya sangat menyebalkan.”
“Bianca, apa yang kau lamunkan? Aku melihat bibirmu bergerak seperti sedang mengumpat.”
Matanya langsung menyalang, dia tak tahu maksud perkataan Tuan Marco Bie tersebut. Apa dia sedang mengejak, atau menggoda dirinya. “Tuan sedang menggoda saya?”
Marco Bie terkekeh, “aku bertanya padamu, Bianca!”
Cleo yang melihat itu tidak tahan sama sekali karena untuk pertama kalinya dia melihat Marco Bie tertawa begitu mesra dengan seorang wanita. Mereka terlihat sangat dekat hingga bicara bercanda seperti itu. Hati Cleo rasanya remuk redam, dia akan menyingkirkan Bianca bagaimana pun caranya.
“Aku tidak akan membiarkan dia hidup dengan mudah, Marco Bie hanya milikku seorang. Entah bagaimana caranya sampai dia bisa sedekat itu dengan kakakku.”
“Cleo ayo turun, kita sudah sampai! Hari ini kita makan di tempat favorit Bianca, kau pasti akan menyukainya.”
Lagi-lagi Bianca tak percaya dengan apa yang dirinya dengar. Entah sejak kapan Tuan besarnya ini tahu makanan yang dirinya suka, dan tempat Favoritnya selama di Shanghai.
POV Marco Bie
Hari ini semua orang di perusahaan terlihat berbeda. Apalagi setelah aku menggumumkan peraturan baru hari ini, mereka semua terlihat terperangah. Mungkin mereka sangat kesal, tapi aku tidak peduli. Semua yang aku lakukan demi menjaga perasaan sendiri.
lagipula perusahaan ini milikku, bukan hak mereka untuk mengaturnya. Jika tidak senang silahkan keluar saja, bukankah begitu?!
Aku tidak berminat mencari sensasi. Seperti yang aku katakan tadi, ini adalah cara untuk menjaga perasaan dan hatiku. Karena setiap melihat Bianca dan teman satu ruangannya bicara, mendadak perasaan ini menjadi tidak nyaman.
Terserah jika ini menghambat hubungan mereka, aku tidak peduli. Pikiranku tidak tenang, jantungku berdebar lebih kencang. Bahkan aku sempat salah menandatangani berkas hingga Noni harus bekerja keras untuk memperbaiki segalanya.
"Bos, saya sudah meminta HRD untuk membuat pernyataan itu di layar kunci monitor masing-masing karyawan. Semua dilaksanakan sesuai perintah anda."
"Apa menurutmu aku sedikit berlebihan?! aku melihat wajah mereka bingung, ada juga yang kesal. Padahal aku bermaksud untuk meningkatkan profit perusahaan ini, dengan cara yang benar."
"Tidak Bos, saya rasa apa yang anda lakukan sudah benar! contoh buruknya saja, mereka berlama-lama di dalam kantin hanya untuk memadu kasih. Padahal sudah jelas pekerjaan menumpuk cukup banyak. Anda benar, ini tidak salah sama sekali jika di dasari oleh profesionalitas."
-
POV Cleo
Malam ini aku tidak bisa tidur karena memikirkan wajah Marco Bie yang terlihat sangat bahagia. Aku benci saat mengetahui jika dia telah jantuh cinta pada wanita lain, aku benci saat sadar cintaku bertepuk sebelah tangan.
Seharusnya dulu aku tak menyadarkannya bahwa kasih sayang yang dia berikan bukanlah cinta. Aku bodoh sekali, karena terlalu naif kala itu.
Sekarang Marco Bie bersama Bianca, gadis yang aku pikir masih jauh di bawah diriku. Persetan dengan perasaan yang tak ada habisnya ini, aku akan mengambil alih hati Marco Bie bagaimana pun caranya, aku mencintai Dia lebih dari mencintai diriku sendiri.
Apa aku termakan karma? Dulu aku selalu mengolok dirinya karena tak bisa lepas dariku, sekarang malah seperti ini.
Ayah bilang aku bisa mendapatkan apapun yang diinginkan, tapi kenyataannya itu salah. Saat aku berpikir tidak akan ada yang berani menolakku, di saat itu juga aku terjatuh.
Aku harus memiliki Marco Bie, mungkin lebih dari sebuah obsesi. Aku sudah menjalani dengan pria yang dicintai, tapi kenyataannya sangat menyakitkan.
Pria yang aku pikir tidak akan pernah menyakitiku, malah dia adalah lambang kehancuran hidup. Aku kembali mencari Marco Bie, tapi agaknya sudah terlambat.
Aku menatap foto-foto kami, tak satupun wajah murung terpampang disana. Aku bahagia, dan kebahagiaan itu hancur seketika karena diri sendiri.
-
POV Bianca
Hari ini dia membuat peraturan yang lucu, semua orang di perusahaan terkejut mendengarnya. Bagaimana bisa seorang presdir yang terkenal jarang bicara dan sangat berkarisma memusingkan masalah para karyawan khususnya tentang percintaan.
Tuan Marco Bie terkenal dengan sifatnya yang tidak peduli dengan hal-hal sepele, hari ini dia menggumumkan pernyataan yang mengejutkan. Bohong sekali jika tak ada yang patah hati, tidak terhitung jumlahnya karyawan yang sekarang memilih untuk putus dalam hubungan mereka.
Perusahaan ini tidak mudah untuk ditinggalkan. Selain gajinya yang luar biasa, pengertian pada karyawan besar. Jarang sekali karyawan yang hengkang dari perusahaan ini hanya karena masalah pribadi.
"Bianca, apa yang terjadi pada bos kita?!"
Aku hanya terdiam, bagaimana aku bisa menjawabnya saat pria itu sama sekali tidak berdiskusi padaku terlebih dahulu.
"Bianca," Jenifer yang sejak tadi kuyu mendekati diriku. "Bagaimana ini? Tak ada harapan untukmu."
Aku tentu saja menghela karena pemikiran teman satu ruangan ku ini benar-benar luar biasa. "Apa kau pikir aku berminat dengannya? Oh tidak Jenifer, jangan bodoh."
"Apa yang salah? Dia tampan dan kaya! Walaupun dia membuat peraturan baru yang cukup mencengangkan. Entah dengan dasar apa Presdir membuat kita semua tak boleh menjalani hubungan."
Aku memutar mata karena kesal, "hey, terlalu banyak karyawan yang menghabiskan waktu di ruang kantin karena mereka sedang memadu kasih. Di ruangan kita bahkan ada beberapa pasangan yang selalu datang terlambat setelah makan siang."
-
POV Alen
Hari ini aku melihatnya di perusahaan, perasaan kacau hilang seketika. Aku pikir dia akan menghilang bagaikan debu, aku pikir dia akan pergi tanpa berpamitan. Aku terus berpikir buruk karena dirinya tak bisa dihubungi sama sekali selama 2 hari ini.
Terserah jika ada seseorang yang mengatakan aku pengecut karena tidak bisa mengungkapkan perasaan. Sejujurnya aku hanya berusaha berhati-hati, kadang perasaan bisa membunuh kita.
Aku tahu banyak mata yang sedang memperhatikan, aku tidak ingin salah langkah dan memasukkan Bianca ke dalam permasalahan yang tidak ia ketahui. Aku sudah gila karena jatuh cinta padanya, dan parahnya lagi aku tak bisa memeriksa data apapun tentang wanita ini
Dia menyapaku, tapi hatiku yang masih kesal enggan membalasnya. Kadar asam yang berlebihan, membuat luka yang sudah sembuh masih bisa merasakan perih. Itu adalah istilah untuk orang yang sering patah hati, atau cintanya bertepuk sebelah tangan.
Jenifer bilang aku mengharap angin kosong. Walaupun aku mengerti dengan apa yang dia katakan, tetap saja perasaan ini tidak bisa dihentikan. Mungkin satu ruangan sudah mengetahui jika aku menyukai dirinya.
"Oh my God Alen, wajah murung itu kembali lagi! Cintamu ditolak mentah-mentah?! Ceritakan padaku apa yang terjadi."
Aku menggindik kedua bahu, "jangan menanyakan hal bodoh! Aku bahkan belum mengungkapkan apapun." Jenifer terkekeh mendengarnya.
***
Suasana di perusahaan masih kisruh, setiap Bianca lewat mereka menanyakan tindakan Presdir. Padahal menurut Bianca itu bukan urusan dirinya. Alen yang biasanya menyapa Bianca kini tak berkata apapun. Dia tidak menyapa sama sekali ketika mereka berpapasan.
"Alen, kenapa? Apa ada yang salah dariku? Bagaimana kalau kita pergi makan siang, maaf karena tak mengabarimu tentang obrolan kita kemarin. Aku sangat sibuk, dan lupa waktu."
Alen berbalik, "seharusnya kau mengabari aku, tiba-tiba menghilang begitu saja! Kau pergi dua hari Bianca, dan bisa-bisanya saat aku mencari tahu keberadaanmu malah tak ada yang mengetahui, apa konsep yang kau gunakan sebenarnya."
Bianca mengerutkan keningnya, "konsep apa maksudnya? Aku sudah bilang minta maaf, tapi kau malah melebar kesana kemari."
Alen menegakkan pinggang, "bagaimana aku tak sibuk dan kesal! Semua barang-barangmu aku yang mengurusnya. Apa kau lupa kemarin adalah jadwal untuk pindah rumah? Barangmu sudah pindah ke Apartemen sedangkan dirimu tidak tahu rimbanya di mana. Bukan sekali aku menghubungimu di ponsel, kau bisa mengecek panggilan!"
Bianca meraba sakunya, "hah... aku tidak mengetahui di mana keberadaan ponsel itu." Dia memegang kepalanya, "maafkan aku Alen," dengan langkah cepat Bianca mencari Marco Bie, dia setengah berlari karena penasaran. Entah dimana dia meletakkan ponsel tersebut, bahkan Bianca lupa kapan terakhir dia melihatnya. "Presdir!"
Suara Bianca sedikit lebih keras dari biasanya karena setengah berlari. Marco Bie yang ada di sana langsung mendongak. "Ada apa Bianca, kenapa napasmu tidak beraturan?!"
"Saya sedikit berlari untuk sampai kemari, ada yang ingin saya tanyakan!" Marco Bie yang sudah sensitif terlebih dahulu pura-pura tidak mendengar. "Presdir, saya bicara pada anda."
"Maaf Bianca, aku tak bisa menarik peraturan yang sudah di publikasikan. Lebih baik kerjakan saja pekerjaanmu dengan benar."
"Siapa yang tidak ingin bersama dengan dirinya?! Dia tampan, kaya, anak tunggal dan tak memiliki tekanan batin seperti kita. Jika aku berada dalam posisimu, aku akan mencoba mengambil kesempatan agar bisa mendekatinya. Selain itu selama ini Presdir tidak pernah terlihat dengan wanita lain. Dia sangat sibuk bekerja sampai melupakan urusan pribadinya."
Bianca mengangkat kedua alisnya saat mendengar celotehan dari Jenifer. "Apa kau tidak terlalu mengagungkannya?! Cobalah melihat dari sisi yang berbeda, Presdir tidak sebaik yang kau pikirkan. Hidupnya yang kesepian bisa saja berdampak buruk pada kesehatan mentalmu kelak."
"Ouw, begitu banyak pisikiater di dunia ini! Kenapa aku harus takut dengan kesehatan mental? Aku lebih hancur jika tidak memiliki uang dan pria tampan. Cobalah untuk berpikir realistis Bianca, jika seorang wanita tidak mungkin jatuh cinta pada pria yang istimewa seperti dirinya. Lalu pada siapa kau berharap cintamu akan berlabuh?!"
Bianca menahan senyum, dia tidak ingin bertengkar dengan sahabatnya lagi. Jenifer sangat paham dengan apa yang dia lakukan, walaupun lagaknya seperti w*************a. "Sepertinya kau sangat mengenal Presdir kita, jangan-jangan kau sudah menaruh hati padanya begitu dalam."
"Aku tidak ingin digoda saat ini, yang aku katakan tadi adalah benar, dan keluar dari pemikiranku. Hanya dirimu yang menggunakan sebuah kalimat dengan ragu!" Ucap Alen.