Hari ini adalah hari pertama aku ospek di kampus baruku. Aku baru saja sampai di gerbang kampus dan terlihat Serli datang bersama Kak Daniel. Dia langsung menyaPaku, dan Kak Daniel berlalu pergi meninggalkan kami berdua. Kami berjalan berdampingan sambil mengobrol menuju lapangan kampus dimana para peserta ospek berkumpul. Kami tidak menggunakan berbagai peralatan ospek seperti biasanya. Kami hanya memakai pakaian hitam putih dan papan nama yang bertengker di d**a kami. Saat sedang asyik mengobrol, Ratu datang menghampiri aku dan Serli. Dia terlihat ngos-ngosan karena habis berlari, dia sangat senang berlari padahal ini masih pagi.
Saat kami tengah asyik berbincang, aku melihat Chacha tengah mengobrol dengan seseorang yang aku kenal juga. Dia Amel, teman sekolahku hanya saja kami berbeda kelas. Ternyata Chacha dan Amel pun masuk ke Universitas ini.
“Itu Chacha sama Amel?” ucapku membuat kedua sahabatku menatap ke arah Amel.
“Iya bener, itu si Chacha sama Amel, kenapa mereka bersama? Bukankah mereka bermusuhan?” ujar Serli.
Aku dan ketiga sahabatku sudah lama bermusuhan dengan Amel, karena dia sering sekali mengganggu kami dan membuat masalah dengan kami. Tapi sekarang sungguh membuatku heran karena Chacha bersamanya dan terlihat cukup dekat.
"Hai Lita, Ser," sapa seorang gadis cantik dengan wajah riangnya, membuatku dan kedua sahabatku menoleh ke arah gadis itu.
"Halo Ren," saPaku. Ternyata itu adalah Irene..
"Lu masuk kampus ini juga?" tanya Serli.
"Yups, gue ambil jurusan yang sama kayak lu, Ser," ucap Irene.
"Wah asyik dong, gue jadi ada temen," ucap Serli senang.
"Kenalin ini Ratu temen gue," ucapku.
"Ratu," menyodorkan tangannya ke Irene.
"Irene," ucap Irene. "Wah gue jadi nambah banyak temen," kekeh Irene dengan riang.
"Lebih baik kan, daripada nambah musuh," ucapku membuat Irene mengangguk antusias.
“Hai Ladys, ternyata kalian di sini,” sapa seseorang membuat kami menengok dan Okta berdiri di sana dengan senyuman khasnya.
"Lu sengaja yah ngikutin gue masuk ke Universitas ini!" keluh Serli.
"Enak aja, gue memang udah niat masuk ke kampus ini," ucap Okta dan pandangannya kini langsung terarah ke arah Ratu. "Eh ada cewek manis," ucapnya tersenyum membuat Ratu mengernyitkan dahinya. Ratu terkenal sangat galak dan jutek dengan cowok.
"Ayo kita ke sana," ucap Ratu ketus beranjak pergi meninggalkan kami.
"Kok kabur sih, kenalan juga belum," keluh Okta.
"Mampus lu, Gator." Serli meleletkan lidahnya dan mengikuti Ratu. Membuatku dan Irene terkekeh.
Semua mahasiswa dan mahasiswi baru berkumpul di lapangan kampus yang luasnya hampir menyamai lapangan sePak bola. Semuanya berbaris rapi di bawah terik matahari pagi. Mereka semua tengah bercengkraman satu sama lain.
"Gue excited banget deh guys ngikutin kegiatan ini," ucap Irene semangat.
"Iya lah gak excited gimana, orang di sini ada cowok lu," ujar Okta.
"Itu juga salah satu alasannya," kekeh Irene.
"Daniel mana yah," gumam Serli.
"Lu niat mau kuliah atau cuma ngecengin cowok lu aja," ucap Ratu.
"Bener tuh kata si manis, fokus sama ospek," timpal Okta membuat Serli mencibir.
"Berhenti panggil gue manis! Gue bukan gula!" ujar Ratu dengan galak membuat kami semua terkekeh di buatnya.
Pandanganku terarah ke arah Chacha dan Amel yang sibuk berbincang. Kenapa jadi seperti ini sih Cha? Harusnya kita bareng-bareng kayak dulu. Kenapa lu gak mau percaya sama gue. Dan milih memutuskan tali silaturahmi persahabatan kita
Tak lama datanglah 6 orang senior dengan memakai jas alMamater yang sama, memasuki lapangan yang di pimpin oleh Kak Dhika, Daniel, Arseno dan Angga.
"Itu cowok gue," bisik Serli ke Ratu membuatku tersenyum melihat Serli yang excited. Pandanganku terarah ke arah kak Dhika yang ada di antara mereka dan terlihat begitu tampan.
"Honey gue ganteng banget deh Pake alMamater," ujar Irene.
“Ck, berisik lu semua. Kagak perlu lu perjelas itu cowok kalian, gue udah empet dengernya!” cibir Okta membuatku terkekeh.
“Dasar Gator s***p!” celetuk Irene.
Semua peserta yang sebelumnya heboh berbincang. Tiba-tiba saja langsung terdiam saat melihat kedatangan keempat lelaki berpostur tubuh jangkung dengan pesona khas blasteran mereka. Sedangkan para mahasiswa terbius oleh pesona Kak Dewi dan Kak Elza.
Kak Dhika mulai membuka acara dan memperkenalkan para panitia di sana. Ternyata Kak Dhika adalah senat di kampus, keren banget. Dia memang sangat cocok menjadi seorang pemimpin.
“Matanya biasa aja, entar loncat keluar lho,” bisik Serli membuatku terkekeh dan merasa malu karena kepergok tengah mengagumi kak Dhika.
Selesai sambutan, kamipun di bagi menjadi beberapa kelompok dan sayang sekali aku dan semua sahabatku kebagian kelompok satu bersama Chacha dan juga Amel. Selesai pembagian kelompok, pembina kelompok 1 yang tak lain adalah Kak Angga dan Kak Seno langsung mengabsen anggotanya.
"Adik-adik, sekarang kalian satu kelompok jadi kalian harus komPak dan saling bekerjasama. Akan ada banyak game dan kegiatan yang harus kalian ikutin. Jadi persiapkan diri kalian dan kekomPakan tim kalian," ujar Kak Angga dengan masih staycool.
"Kalau ada yang sakit atau merasa tidak enak badan, langsung bilang yah sama Kakak," ucap Kak Seno berjalan mendekati Irene.
"Kamu sehat kan, Honey?" bisik Seno membuat Irene mengangguk antusias.
"Kak Angga, kok Kak Seno cuma perhatiin Irene saja. Aku gak di tanyain sakit atau nggak?" ucap Okta dengan tampang polosnya membuatku terkikik geli melihatnya.
“Dasar Gator s***p!” Kak Seno mendengus dan Okta hanya memasang senyum menyebalkannya.
Kak Angga langsung menarik Kak Seno untuk menjauh dari Irene.
Acarapun di mulai. Isinya permainan, perkenalan kampus, touring keliling kampus, visi misi kampus, fasilitas dan system kampus.
Hingga tidak terasa acarapun sudah selesai. Sebelum pulang, aku pergi menuju toilet, aku menyempatkan diri untuk mencuci wajahku agar lebih segar. Saat tengah mengusap wajahku dengan tissue di depan wastapel, seseorang datang dan mencuci tangannya di samping wastapelku.
"Hai Thalita. Gimana kabar lu?" tanya seseorang itu dengan senyum meremehkannya.
"Seperti yang lu lihat," jawabku dengan nada ketus.
"Sepertinya tidak sebaik yang diperkirakan. Gue gak tau masalah lu apa, sampai Chacha bergabung dengan gue," ucapnya dengan seringai menyebalkannya. Aku tidak memperdulikannya dan bergegas pergi meninggalkannya.
"Oh iya, pertentangan kita belum selesai. Gue ingin tau sebesar apa kekuatan persahabatan kalian tanpa adanya Chacha," ucapnya dengan tenang.
"Kita lihat saja nanti," ucapku dan berlalu pergi.
Aku berjalan dengan cepat karena takut Amel mengikutiku. Hingga aku berpapasan dengan Kak Dhika
"Hai," sapanya dengan senyuman manisnya.
"H-hai Kak," jawabku sedikit grogi.
"Kamu mau pulang?" tanya kak Dhika membuatku mengangguk "Mau pulang bareng?" tanyanya membuatku bingung dan takut di lihat mahasiswa lain.
“Tidak Kak, aku bisa pulang sendiri.”
"Baiklah, kalau begitu berhati-hatilah," ucapnya dan aku berlalu pergi meninggalkan Dhika.
***
Acara OSMB sudah selesai, karena hanya di laksanakan selama tiga hari yang berisi perkenalan program dan system masing-masing fakultas, perkenalan club kampus, dan beberapa hiburan dan game asah otak. Kini tiba saatnya ke acara perkemahan.
Perkemahan di laksanakan di sebuah gunung yang masih belum terjamah oleh manusia, bahkan terdapat hutan liar di sana.
Sesampainya di tempat tujuan, kelompok 1 di instruksikan untuk membangun tenda mereka. Karena terlalu banyak jadi mereka membaginya menjadi 3 tenda.
Okta dan fajar hanya berdua saja, sedangkan Ratu dengan mengalah setenda dengan Chacha dan Amel. Serli, aku dan Irene satu tenda. Semuanya bertugas membuat tenda, di bantu oleh pembina kelompok. Kak Seno dengan semangat membantu Irene, aku dan juga Serli mendirikan tenda. Sedangkan Kak Angga merasa harus membantu Ratu, Chacha dan Amel untuk mendirikan tenda. Aku melihat Ratu yang sesekali menatap ke arah Kak Angga sambil tersenyum malu-malu. Aku baru pertama kali melihat Ratu seperti ini, sepertinya Ratu menyukai Kak Angga.
Saat itu Kak Dhika dan Kak Daniel datang untuk mengecek kegiatan kami. Dan Amel terlihat terus menerus mencari perhatian kak Dhika. Aku hanya melihatnya saja, aku tidak paham saat ada perasaan kesal dan tidak rela di dalam hati saat melihat Kak Dhika bersikap ramah meladeni Amel. Setelah mendirikan tenda, tidak ada kegiatan apapun.
Semuanya sibuk memasak untuk makan malam mereka. Amel selalu membuat gara-gara kepadaku, Serli bahkan Ratu tetapi kami tidak menggubrisnya. Hingga tengah malam, semua peserta berkumpul di tengah lapangan dengan api unggun yang besar dan indah.
Beberapa permainan dan atraksi di tampilkan di sana, hingga semua panitia bersorak dan menyuruh Dhika menyanyi. Dhikapun tidak menolaknya dan mengambil gitar lalu mulai memetik senar gitar itu. Semuanya terdiam dan terPaku ke arah Dhika yang akan menyanyi. Suara Dhika memang sangat merdu, lagu apapun yang dia bawakan pasti akan terdengar sangat indah. Hingga di bait terakhir yang terdengar sangat mendalam, pandangan kami beradu, bahkan Kak Dhika menampilkan senyuman terbaiknya padaku membuatku semakin berdebar tidak karuan. Kak Dhika selesai bernyanyi dan semua orang bertepuk tangan.
Selesai acara semuanya kembali ke dalam tenda, aku berjalan menuju tenda dan tiba-tiba saja seseorang memanggil namaku. Aku menoleh ke sumber suara dan terlihat sosok jangkung berjalan mendekatiku.
"Ternyata bener kamu Lita," ucap lelaki jangkung berparas manis itu. Ah ternyata kak Ricky.
"Kak Ricky, Kakak kuliah di sini juga?" Aku baru melihatnya.
"Iya, aku kuliah di sini Fakultas Ekonomi, udah semester 4. Aku seneng liat kamu di sini. Awalnya tadi aku ragu, apa benar kamu atau bukan," kekehnya.
"Aku juga kaget melihat kak Ricky."
"Baiklah, kalau begitu istirahatlah. Besok pagi akan banyak kegiatan," ucap kak Ricky membuatku mengangguk dan berpamitan masuk ke dalam tenda.
"Siapa Tha?" tanya Serli saat aku masuk ke dalam tenda.
"Itu kak Ricky," jawabku mengambil selimut di atas tas ranselku.
"Ricky langganan Tante lu? Yang suka chat lu dan begitu perhatian?" tanya Serli membuatku mengangguk. "Cie,, asyik dong satu kampus jadi bisa makin deket." goda Serli.
"Lu plin plan banget sih, Ser. Kalau berhubungan sama kak Dhika, lu dukung gue sama kak Dhika. Trus gue bilang kenal sama kak Angga, lu juga dukung gue sama dia. Dan sekarang kak Ricky, mana yang sebenarnya lu dukung sih? Isshhh." Dasar miss plin plan.
"Gue sih dukung siapa aja, yang penting bisa buat lu seneng, dan lu cinta sama dia," ucap Serli, ini namanya sahabatku.
"Aduh so sweetsnya sahabatku ini." Aku mencubit kedua pipi Serli.
"Sakit tau," cibirnya.
"Irene kemana?" Aku baru sadar kalau kami hanya berdua di dalam tenda.
"Paling lagi mojok sama cowoknya, udah ah gue mau bocan. Bye." Serli langsung merebahkan dirinya dan memunggungiku.
***
Pagi harinya kami melakukan kegiatan lari pagi bersama, Amel dengan sengaja menghalangi langkahku, membuatku terjatuh dan tersungkur ke tanah. Serli, Ratu, Irene dan Okta segera membantuku untuk berdiri.
“Heh Nesi, Nela. Kalian mau cari ribut di sini? Lu kagak tau malu yah,” ujar Okta terlihat kesal. Aku menepuk pakaianku yang kotor.
“Gue gak ada urusannya sama lu, Banci!” ujar Chacha kesal.
“Lu bilang apa Nela? Lu bilang gue Banci? Haha dasar Nenek lampir s***p. Lu gak lihat kegagahan dan ketampanan gue?” pekik Okta kesal.
“Berisik lu, nama gue itu Clarissa bukan Nela!” pekik Chacha kesal.
“Clarissa kebagusan buat lu, lu lebih cocok jadi Nela alias Nenek lampir!” ledek Okta menatap tajam
Chacha yang juga menatapnya dengan sengit.
“Udah udah, kenapa kalian malah jadi berantem. Udah Gator, cuekin saja,” ujar Irene menengahi.
“Awas lu Nenek lampir!” ujar Okta kesal membuat Chacha menatap tajam ke arahnya.
***
Saat penjelajahanpun, Amel terus mencari gara-gara bukan hanya kepadaku tetapi juga kepada Serli dan Ratu. Tetapi Serli dan Ratu langsung membalasnya balik, berbeda denganku yang lebih memilih tidak menghiraukannya.
Saat tengah berjalan melewati sungai yang curam dan jembatannya yang sudah goyang tanpa pegangan tangan. Amel dengan sengaja mendorongku berpura-pura kakinya tersandung karena kebetulan aku berada di depannya. Aku yang terdorong hampir saja akan terjatuh ke sungai curam itu kalau tidak ada sepasang tangan kekar yang memegangiku. Aku yang kaget langsung menatap ke arah seseorang yang baru saja menolongku, dan tatapan kami bertemu.
"K-ak Dhika?" gumamku.
"Kamu tidak apa-apa kan?" tanya kak Dhika dengan tatapan khawatirnya, aku menggelengkan kepalaku. Kenapa Kak Dhika bisa ada di sini?
"Apa ada yang terluka?" tanya Dhika lagi.
"Ti-tidak Kak," jawabku sedikit gugup karena Kak Dhika masih memegang lenganku dan satu tangannya lagi berada di pinggangku.
"Ya udah lah Kak, nggak usah di khawatirin juga. Lagian dia baik-baik saja kok. Cuma caper saja sama Kak Dhika," ucap Amel membuat Kak Dhika melepaskan rengkuhannya setelah dia membantuku berdiri tegak.
“Heh Nesi, yang caper itu lu, bukan si Lita! Ngapain lu Pake acara sok sinetron sinetronan segala, Pake adegan kesandung segala. Ngaku aja emang pengen jorokin si Lita pan!” ujar Okta dengan kesal.
“Gue beneran kesandung, Banci!” cibir Amel terlihat ngeles.
“Lagu lama lu, peran antagonis selalu carimuka gini nih sama sang pemeran utama,” ujar Okta asal.
“Crocodile, lu bisa diem gak sih. Lu itu ngaku cowok tapi mulut lu kayak bebek, berisik!” celetuk Chacha.
“Wah, ini nih. Nenek lampir ini belum kenal gue. Lu mau gue hanyutin di sungai ini biar nyampe ke rawa-rawa Sumatera?” ujar Okta kesal mendekati Chacha hingga jarak di antara mereka sangat dekat.
“Ngapain lu deket-deket gue?” ujar Chacha.
“Kenapa Nela? Lu takut? Lu bilang gue banci. Sekarang akan gue buktikan kalau gue ini cowok tullen!” ujar Okta terus mendekati Chacha dengan seringainya. Dasar Okta, dia selalu saja menggoda oranglain.
“Kyaaaaa!!!”
Chacha hampir saja terjatuh ke sungai kalau Okta tidak memegang pergelangan tangan Chacha dengan sigap. Okta terlihat menarik Chacha hingga kini tubuh Chacha menabrak d**a Okta. Mereka masih saling bertatapan.
"Ada apa ini?" tanya Kak Daniel yang baru saja datang menghampiri kami.
“Minggir lu, Crocodile bau!” Chacha mendorong tubuh Okta menjauh dan berlalu pergi terlebih dulu.
"Kalian teruskan jalan kalian dan hati-hati jembatannya licin," ujar Kak Dhika.
Semuanya kembali melakukan perjalanan kami meninggalkan Kak Dhika dan Kak Daniel.
***
Setiap kegiatan, Amel terus mencari gara-gara denganku. Hingga akhirnya aku mulai terpancing emosi, bukan hanya aku saja, tetapi Serli, Ratu dan Okta juga ikut andil termasuk Chacha juga. Mereka beradu mulut di hadapan semuanya, bahkan Amel sempat mendorong tubuhku, yang kemudian di balas oleh Ratu dan Serli. Perkelahian di antara Amel dan Ratupun tidak bisa di hindari lagi. Serli membantu Ratu karena gemas melihat Amel yang terus memancing emosinya. Sedangkan Chacha berkelahi denganku, Chacha terlihat mengeluarkan semua kekesalannya dengan menjambak rambutku. Aku tidak melawan dan membalas pukulan dan jambakan dari Chacha, aku hanya berusaha menahannya. Kenapa Chacha bisa mengamuk begini padaku.
Hingga Okta datang menolongku dengan memelintir tangan Chacha. Aku memegang kepalaku yang terasa pening, bahkan di pipiku terasa perih karena cakaran Chacha.
“Lepasin gue, Buaya!” pekik Chacha berontak tetapi Okta terlihat menempelkan tubuhnya dengan punggung Chacha.
“Dengar yah Nela, kalau mau ngamuk jangan di sini,” bisik Okta membuat Chacha semakin memberontak.
“Lepasin gue, Crocodile jelek!” pekik Chacha terlihat terus berontak.
“Kalau gue gak mau lepas, gimana dong Nel?” ujar Okta membuat Chacha geram.
“Gue buka Nela,, gue Clarissa. CLARISSA!” pekik Chacha terlihat sangat emosi.
“Gue kan udah bilang, Clarissa kebagusan buat lu. Udah terima saja nama pemberian gue ini. Harusnya lu bersyukur di kasih nama panggilan dari orang tertampan dan terunyu di jagat raya ini,” ujar Okta dengan percaya dirinya membuatku terkekeh mendengarnya.
Para panitia senat datang dan melerai kami semua.
"Ada apa ini?" teriak Kak Dhika di hadapan semuanya membuat mereka berhenti berkelahi dan merapihkan penampilan mereka yang acak-acakan. "Kalian sangat memalukan! Kalian berlima itu perempuan dan nggak pantes berbuat keributan seperti ini, dan lu Gator. Lepaskan tangannya!" bentak kak Dhika.
Ternyata Kak Dhika bisa marah juga.
“Ya elah Kakak senat, ganggu orang lagi bermesraan saja,” ujar Okta dengan santai membuat mahasiswa yang lain terkikik.
“Aku lepas nih Nela, jangan kumat lagi yah penyakit bar bar nya,” ujar Okta melepaskan pegangan tangannya membuat Chacha mencibir.
"Apa masalah kalian?" tanya Kak Elza dengan sinis dan tajam.
"Kak, Amel daritadi cari gara-gara terus ke Lita. Jadi Serli dan Ratu ikut ngamuk," jelas Irene sebagai saksi mata.
"Bukan saya Kak, tapi Lita saja yang daritadi nyari masalah sama aku, Kak." ucap Amel membela dirinya dengan menuduhkan segala kesalahan padaku. Benar-benar seekor rubah. Kini tatapan Kak Dhika menatap ke arahku.
"Aku tidak berbuat apa-apa, Kak," ucapku apa adanya.
"Seno, Angga! Gimana ini anak bimbingan kalian?" tanya Kak Dhika.
"Maafkan kami Dhik. Kami akan kasih mereka hukuman," ujar Seno.
"Jangan sampai di ulang lagi!" ucap Kak Dhika berlalu pergi di ikuti anggota senat yang lainnya.
Aku langsung terduduk di tanah karena kepalaku terasa sangat pening.
"Kalian sangat memalukan tim 1, kalian ber-6 akan Kakak hukum. Dan kamu Oktavio, kamu bukannya merelai perkelahian mereka. Kamu malah ikut berantem,” ujar Kak Angga dengan kesal.
“Ya gimana lagi Kak, Sayang banget kalau perkelahian itu aku lewatkan,” ucap Okta santai membuatku ingin tertawa melihat tingkah konyolnya.
“Dasar Gator.” cibir Kak Seno.
“Cepat rapihkan pakaian dan wajah kalian!" ujar Kak Angga terlihat kesal dan berlalu pergi.
Chacha dan Amel berlalu pergi meninggalkan semuanya.
“Pergi lu yang jauh, Nesi dan Nela!” teriak Okta.
“Berisik Crocodile!” pekik Chacha, sepertinya mereka sangat cocok.
***
Aku baru saja membersihkan wajahku di kamar mandi.
“Thalita...”
Aku menoleh ke sumber suara. “Kak Ricky?”
“Aku dengar tadi kamu berantem? Apa kamu baik-baik saja?” tanyanya.
“Aku baik-baik saja, Kak.”
“Lihat wajahmu terkena luka cakar, ini pasti perih. Harus di obati,” ucap kak Ricky menyentuh luka di pipiku.
Tatapanku menangkap sosok Kak Dhika yang berdiri tak jauh dari kami. Dia melihat ke arahku dan kak Ricky. Tatapannya... kenapa terlihat sangat kesal yah? Apa karena tadi aku berantem?
“Lita,”
“Eh? Kenapa Kak?” tatapanku beralih kembali ke arah Ricky.
“Ayo aku ajak kamu ke tenda kesehatan untuk di obati.” Kak Ricky menarik tanganku begitu saja menuju tenda kesehatan.
***