Episode 6

3707 Words
Thalita Pov   Dan tragedi itu mulai terjadi, saat itu Chacha baru saja memiliki seorang kekasih yang bernama Gilang. "Hai semua." Chacha baru datang sambil senyum mesem-mesem. "Lu kenapa Cha senyum-senyum sendiri? lu sakit yah?" tanya Serli bingung. "Iya lu gak kayak biasanya Cha, lu lagi seneng karena berhasil ngerjain PR tanpa nyontek?" ujar Ratu asal. "Nggak kok, gue malah gak ingat kalau ada PR,,he he." kekeh Chacha. "Terus apa alesannya, lu senyum-senyum gitu?" tanyaku tak kalah penasaran. "Gue lagi seneng banget banget banget," ucap Chacha. "Why?" tanya Ratu. "Coba aja kalian tebak," Seru Chacha tersenyum misterius. "Yaelah ribet banget sih tinggal bilang aja, Cha." keluh Serli sudah sangat penasaran. "Apa lu menang arisan? Traktir dong," ucap Ratu. "Yaelah Tu, lu mikirinnya itu mulu deh," keluh Chacha. "Jadi gini lho guys, sekarang gue udah nyusul si Serli. Gue udah gak jomblo lagi," ucap Chacha senyum sumbringah. "Lu jadian sama cowok yang kemarin-kemarin lu certain?" aku sedikit kaget mendengarnya. "Iya Tha," ucap Chacha. "Lu tau gak, gue seneng banget bisa jadian sama cowok setampan Gilang," ucap Chacha. "Ati-ati lho Cha muka bisa menipu,” sebenarnya aku kurang setuju dengan pria pilihan Chacha ini, aku merasa dia bukan pria baik-baik. "Iya Cha, lagian kan lu bilang baru seminggu kenal dia. Lu belum tau dia itu orangnya seperti apa, lu juga belum mengenal dia lebih dalam lagi. Lu harus hati-hati Cha, sekarang banyak banget cowok yang ngegunain muktanya buat nipu cewek," jelas Ratu. "Ratu bener tuh Cha" timpal Serli. "Gak mungkin kali dia nipu gue, dia tuh orangnya baik banget. Kalian jangan coba-coba deh ngehasut gue. Kenapa sih lu bertiga? syirik yah sama gue karena gue baru punya pacar yang cakep banget?" ucap Chacha dengan banggtanya. "Bukan gitu maksud kita bertiga Cha, kita cuma ngingetin lu aja kok. Lagian kan kalau lu seneng, kita juga ikut seneng," jelasku supaya Chacha tidak merasa tersinggung lagi. Padahal niat kami baik. "Lagian kan kalian belum kenal Gilang, jadi jangan suka berpendapat seenaknya. Ah bête gue curhat sama kalian!" Chacha terlihat kesal dan berlalu pergi meninggalkan kami. "Yah, dia ngambek," gumam Ratu. "Eh Cha tunggu!" Aku hendak beranjak untuk mengejar Chacha, tetapi di tahan Serli. "Udah biarin aja, dia lagi di butain sama cinta. Entar juga balik lagi," jelas Serli membuatku mengangguk. *** Hari demi hari, hingga minggu ke minggupun berlalu. Semenjak Chacha mempunyai pacar, dia jarang sekali kumpul dengan sahabat-sahabatnya dan dia juga jarang sekali masuk sekolahh tanpa ada keterangan. Seperti hari ini, Chacha kembali bolos dari sekolahh. "Si Chacha gak masuk lagi?" tanya Ratu baru datang dan aku hanya menggelengkan kepala. "Kemana sih dia?" tanya Ratu dan kini giliran Serli yang menjawab dengan menggedikkan bahunya. "Dia gak ada kabarnya," ucapku. "Sejak pacaran sama si Gilang itu, dia benar-benar berubah. Waktu dia buat kita juga udah gak ada, kalau di sekolahh kerjaannya telponan terus kalau nggak video call," keluh Ratu. "Lu bener, mana dia berani bolos lagi," tambah Serli. "Kita harus ingetin dia, tadi gue telpon ke rumahnya. Pembantunya bilang kalau Chacha berangkat sekolahh tadi pagi," ucapku. "Berarti bener dia bolos lagi gak ada kabar. Pasti deh sama pacarnya itu," keluh Ratu. "Kita harus ingetin dia, mana sebentar lagi kita akan UN. Gue takut dia kehilangan banyak pelajaran." Aku sungguh mengkhawatirkannya. "Kalau masih gak bisa di bilangin gimana? Udah sering kali Tha, kita ingetin dia. Tapi dia gak pernah mau denger ucapan kita," keluh Serli. 'Benar juga kata Serli.'  Chacha begitu tergila-gila padanya, bahkan semua permintaan Gilang selalu ia turuti. Chacha sudah meluPakan kami sahabatnya sendiri. Ia sudah sering bolos sekolahh, padahal selama kami bersahabat kami tak pernah bolos. Bahkan Chacha lah yang sangat bersemangat untuk selalu bersekolahh. Kami bertiga sudah lelah mengingatkan Chacha, tetapi Chacha tak pernah menggubrisnya dan tetap pada pendiriannya. ***           Hingga malam itu, saat aku pergi ke Gramedia untuk membeli beberapa novel dan komik kesukaanku. Aku tidak sengaja bertemu dengan Chacha yang masih memakai Seragam sekolahhnya tengah berkeliaran di salah satu mall di kota ini. "Chacha..." Aku berlari mendekati Chacha yang kini menoleh ke arahku. "Lita?” "Lu kemana aja? Kenapa gak masuk sekolahh? Dan kenapa lu masih Pake Seragam sekolahh keluyuran malem-malem?"Aku tak sadar sudah mengajukan pertanyaan bertubi-tubi. "Yaelah Tha, lu ntanya atau mau introgasi gue sih? satu-satu aja kenapa sih. Gue abis nonton sama pacar gue," ucap Chacha dengan santai. "Terus kenapa tadi bolos lagi? Udah hampir 3 hari berturut-turut di minggu ini lu bolos Cha? Bentar lagi kita UN lho." "Aduhh Lita,,, jangan ceramah sekarang deh. Gue lagi gak mood belajar.” Dan saat kami sedang berbincang, seorang lelaki datang dan merangkul pundak Chacha begitu saja membuatku mengernyitkan dahiku melihat ke arahnya. Chacha mengenalkan lelaki itu sebagai kekasihnya yang bernama Gilang. “Oh iya kenalin ini Gilang cowok gue dan Gilang, ini Thalita sahabat aku," ucap Chacha. "Gilang." Gilang menyodorkan tangannya dengan senyum yang menawan ke arahku. "Thalita." Aku membalas jabatan tangan Gilang dengan tersenyum kecil. Saat hendak menarik kembali tanganku, Gilang mempererat pegangan tangannya , aku berusaha menarik tanganku tetapi sulit sekali. "Maaf," Aku sudah mulai kesal. "Sayang..." Chacha menarik tangan Gilang dengan sedikit emosi, hingga akhirnya Gilang melepaskan tanganku. "Ya udah gue balik duluan yah Cha, bye..." Aku bergegas pergi tanpa ingin menatap ke arah Gilang. Awal mula aku kenal dengan Gilang, lelaki yang merusak persahabatan kami. ***           Sore itu, setelah aku pulang dari sekolah, aku membantu Tante di tokonya karena Tante terlihat banyak sekali pesanan. “Tante kenapa banyak sekali pesanannya? Apa ada yang akan syukuran?” tanyaku. “Itu pesanan Nak Dewi, katanya sahabatnya sedang ada syukuran opening café. Dan mengundang banyak anak yatim piatu,” jelas Tanteku. Dewi adalah pelanggan setia Tante, dia masih muda dan sekarang tengah berkuliah di salah satu Universitas terkemuka di kota ini. Dia begitu ramah dan baik, bahkan kamipun sering sekali mengobrol dengan akrab. Tak lama terdengar salam, membuat kami menengok dan panjang umur juga, wanita cantik yang tengah di bicarakan kini berada di antara kami. Kak Dewi Zhaleka Fredelima Earnnal, putri seorang pengusaha di bidang fastfood di Surabaya. Itu yang aku tau tentang Kak Dewi. Kak Dewi datang untuk mengambil pesanannya yang kebetulan baru selesai setengahnya, dan dia memintaku datang ke acara syukuran sahabatnya sambil mengantarkan sisa pesanannya dan aku pun menyanggupinya. *** Sore itu aku pergi menuju tempat syukurannya sahabat Kak Dewi. Acartanya terlihat sudah di laksanakan karena pita di pintu sudah tergunting. Café yang terlihat mewah dan klasik. Aku memasuki café setelah memberi laporan ke satpam penjaga café di sana. Aku memasuki café yang terlihat luas dan mewah itu. Aku menyisir pandanganku mencari keberadaan Kak Dewi, tetapi seketika pandanganku terhenti pada sosok tampan yang tengah berdiri di dekat ballroom dan terlihat tengah berbicara dengan seseorang. Memang konyol, tetapi aku langsung terpikat padanya, lelaki jangkung dengan wajah blasterannya. Dia memiliki kulit yang putih dan bersih tanpa noda, alisnya yang tebal terpahat indah, matanya yang tajam dengan bulu mata lentiknya, hidungnya yang mancung dan bibirnya yang berwarna merah pucat. Sungguh dia begitu sempurna, dia seperti jelmaan Dewa Yunani yang begitu sempurna. Deg Mata coklatnya kini melihat ke arahku. Ya Tuhan, jantungku kenapa mendadak berdetak sekencang ini. Sorot matanya yang tajam seperti seekor elang itu mampu meluluh lantahkan pertahananku. Pandangannya kembali ke teman bicartanya, membuatku sedikit kecewa karena dia tak berniat menghampiriku. Oh,, ayolah Thalita. Memang siapa dirimu ini, kamu di sini sudah seperti upik abunya sang pangeran. Dan jangan mengkhayal terlalu tinggi. “Astagfirulloh...” Aku segera memalingkan pandanganku dari iblis tampan itu, oh tidak maksudku malaikat tanpa sayap itu. Aku kembali menyisir setiap sudut ruangan itu hingga pandanganku menemukan sosok yang sejak awal aku cari. Aku berjalan menghampiri Kak Dewi yang tengah berbincang dengan dua orang wanita seumurannya. "Assalamu'alaikum..." salamku. "Wa'alaikumsalam..." ucap Kak Dewi dan membuat ketiga wanita itu langsung menengok ke arahku. "Halo Lita, Kakak seneng kamu dating," ucap Kak Dewi mencium pipi kiri dan kananku. "Ini Kak sisa pesanan Kakak." Aku menyodorkan kantong kresek yang sejak tadi aku bawa. "Ah iya, terima kasih yah. Kamu jangan pulang dulu," ucap Kak Dewi dan akupun mengangguk setuju. Mungkin aku bisa lebih lama memandangi sang pangeran itu. Lita otakmu mulai koslet ternyata. "Oh iya Za, Ren. Kenalin dia Thalita keponakannya ibu Ratih," ucap Kak  Dewi kepada kedua wanita yang masih berdiri di sana. "Halo Lita,, kenalin gue Irene," ucap gadis yang terlihat lebih muda dari Kak Dewi. "Aku Elzabeth, panggil saja Elza," ucap wanita yang satu lagi dengan wajah datarnya. Judes banget sih ini Kakak, udah seperti Mama tirinya upik abu. Ya Tuhan Lita, otakmu semakin koslet. "Thalita,” ucapku tersenyum manis kepada mereka berdua. "Kamu duduk aja di sini yah, Kakak ke belakang dulu," ucap Kak Dewi berlalu pergi sambil membawa sisa snack yang aku bawa. Dan Kakak judes itupun mengekori Kak Dewi menuju ruangan lain di café ini. "Kamu jangan canggung di sini, santai aja," ucap wanita yang masih berdiri di sampingku, membuatku tersenyum. “Ayo duduk,” ajaknya mengajakku duduk di salah satu kursi yang ada di sana. Aku hanya menurutinya saja. Kami berbincang sedikit, ternyata Irene seumuran denganku. Dan dia juga masih duduk di kelas tiga SMA sama sepertiku dan ketiga sahabatku. Tak lama seorang lelaki tampan menghampiri kami. "Sayang, kamu di sini ternyata aku cariin," ucap seorang laki-laki yang baru saja datang dan mencium puncak kepala Irene. "Halo Sayang, iya tadi aku bantuin Kak Dewi sama ka Elza dulu," ucap Irene manja, laki-laki yang mengaku pacarnya itu duduk di samping Irene. "Sayang, kenalin ini Lita temennya Kak Dewi." "Halo, gue Arseno pacarnya Irene," ucapnya menyodorkan tangannya ke arahku. "Thalita," Aku menyambut uluran tangannya. Kami pun mulai berbincang, lebih tepatnya Irene dan kekasihnya itu karena aku hanya menjadi obat nyamuk yang sesekali ikut tersenyum mendengar celotehan Irene atau kekasihnya itu. Setelah lama, mereka berpamitan sebentar karena seorang laki-laki memanggil mereka. Dan kini aku sendirian dengan menatap ke arah ballroom yang terlihat akan segera memulai acartanya. Sang host mulai berbicara berbagai hal tentang café ini, mungkin perkenalan café. Hingga dia mengatakan kalau sang pemilik café akan memberi sambutannya. Aku penasaran sekali siapa sahabat Kak Dewi pemilik café ini. Dia pasti sangat kaya, karena terlihat dari dekorasi café yang begitu mewah dan elegant. Ternyata malaikat itu, ya Tuhan dia pemilik café ini. Siapa tadi namtanya, Pradhika Reynand Adinata. Wow,, benar-benar sebuah kejutan. Aku semakin tersingkirkan dari barisan calon pacarnya, dia terlalu sempurna untukku. Bukan hanya ketampanannya, dia juga sangat kaya.  “Lita...” Siapa seseorang yang mengganggu aktivitasku. Aku terPaksa harus mengalihkan pandanganku dari pangeranku ke seseorang yang menggangguku itu. "Serli?" Aku sangat kaget melihat Serli berada di sini. “Kenapa lu ada di sini?" "Ternyata benar lu,,” ucapnya seraya duduk di atas kursi yang berada di sampingku. “Gue di ajak sama cowok gue ke sini, ini kan acara sahabatnya.” Jelasnya. “Nah lu sendiri ngapain  di sini?"  tanya Serli. Aku pun menjelaskan kenapa aku ada di sini. "Lu kenal Kak Dewi?" Serli mengernyitkan dahinya "Iya, dia pelanggan setia di toko kue tante Ratih." "Oh gitu, daritadi gue perhatiin lu. cuma gue takut salah orang," kekehnya. "Gue kaget banget lu ada di sini," ucapku.."Terus cowok lu kemana?" Aku penasaran karena Serli sendirian. "Oh itu dia." tunjuk Serli ke seorang laki-laki yang duduk di depan tak jauh dari tempat kami duduk. "Oh itu." Aku melihat lelaki yang di tunjuk Serli. "Mereka itu bersahabat," ucap Serli tiba-tiba membuatku menengok kembali ke arahnya. "Nama gengnya itu Brotherhood." "Persaudaraan?" Serli menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Kata Daniel sih, mereka bukan sekedar sahabat melainkan mereka adalah keluarga dan saudara. Mereka berbeda umur, berbeda agama, berbeda sifat tetapi mereka sangat komPak dan menjadikan perbedaan mereka itu menjadi ke istimewaan dari geng Brotherhood." jelas Serli. Sungguh mengesankan... "Lu kenal dengan mereka semua?" tanyaku mulai tertarik dengan pembahasan Serli. "Iya, Daniel menceritakan semuanya sama gue. Lu liat laki-laki yang tadi memberi sambutan?" tanya Serli membuatku mengangguk antusias karena sejak tadi dialah fokusku. "Dia itu Pradhika Reynand Adinata, pewaris tunggal keluarga Adinata. Ayahnya adalah seorang Dokter sekaligus pemilik rumah sakit paling terkemuka di Jakarta," jelas Serli. "Tunggu,, maksud lu rumah sakit Adinata Medika Internasional atau biasa di sebut AMI Hospital?" tanyaku kaget. Karena itu adalah salah satu rumah sakit yang sangat terkemuka baik di kota Bandung yang meruPakan cabangnya. "Yup, lu bener banget. Dia mengambil study kedokterannya di sini, di Universitas yang lu inginkan," ucap Serli membuatku semakin bahagia mendengarnya. Kalau aku bisa sampai dapat beasiswa di Universitas itu, pasti aku akan sering bertemu dengannya. Apalagi kalau sampai satu fakultas. "Gue gak nyangka dia calon Dokter," ucapku tersenyum menatap sang Dewa yunani itu. "Lu naksir dia yah?" goda Serli. "Ih apaan sih, enggak kok." Aku terkekeh kecil karena merasa malu. Uh akhirnya ketahuan Serli mengagumi Dewa Yunani itu. "Dia itu leader dari Brotherhood, keren kan?" ucap Serli menggodaku. "Maybe." Aku menjulurkan lidahku ke arahnya membuat Serli terkekeh. Kenyataannya aku memang sudah menyukainya. "Yang gue liat sih selama ini, dia orangnya welcome sama siapa saja, ramah, dan murah senyum. Kata Daniel sih di antara yang lain, Kak Dhika lah yang paling jarang marah, pembawaannya selalu santai dan penyabar. Apapun selalu di pikirkan dengan kepala dingin dan penuh perhitungan," jelas Serli membuatku semakin jatuh cinta padanya. Sungguh Kak Dhika itu sosok lelaki idaman. "Dan itu yang memakai jas abu, yang duduk di samping Kak Dhika. Itu Daniel Cetta Orlando cowok gue, gak kalah ganteng kan sama Kak Dhika?" ucap Serli nyengir membuatku terkekeh. "Iya, lumayan lah," godaku. "Enak saja lumayan, orang ganteng gitu," cibirnya membuatku terkekeh. "Baiklah, dia tampan. Puas nona Serli?" ucapku membuat Serli mengangguk bangga. "Dia anak dari seorang pengusaha Batu bara di Kalimantan, dia asli orang sebrang. Tapi dia memilih kuliah di sini mengambil jurusan hukum semester 6 di Universitas yang sama dengan Kak Dhika," jelas Serli. "Ciee,, calon pengacara," godaku membuat Serli merona. "Lalu dia orangnya seperti apa?" tanyaku jadi ikut penasaran. "Dia itu sangat sangat romantis, baik hati, tidak sombong dan tampan," ujar Serli tersenyum menatap Daniel. "Hahaha,, yang lagi kasmaran niyeee…" godaku membuat Serli ikut tertawa dan wajahnya terlihat memerah. "Dan itu yang memakai jas biru, yang bola matanya hijau kayak hulk. Dia itu Erlangga Prasaja anak dari seorang notaris ternama di Jakarta. Dia kuliah di Universitas yang sama dengan Kak Dhika di fakultas kedokteran, dia juga udah semester 6," jelas Serli. "Tapi kayaknya wajah dia gak asing." Aku meneliti  wajah pria yang bernama Erlangga. "Lu kenal dia?" tanya Serli dan aku hanya mengedikkan bahuku. "Entahlah, tapi kayaknya kita pernah ketemu sebelumnya." "Dia itu seorang playboy, hati-hati aja," bisik Serli. "Lah apa hubungannya sama gue?" "Ya siapa tau lu naksir dia juga," kekehnya menyebalkan. "Isshhh..." “Lanjut lagi,” ucapku semakin tertarik. "Penasaran yah?" kekeh Serli membuatku mengedikkan bahuku acuh. "Dia orangnya sangat cuek dan tertutup. Gue  jarang banget di sapa sama dia kalau ikut Daniel kumpul sama teman-temannya." “Itu yang Pake jas garis-garis itu namtanya Arseno Basupati," ucap Serli. "Iya gue tau, tadi gue sempet kenalan dengannya, dia cowoknya Irene, kan?" "Iya dia pacarnya Irenne. Seno itu anak dari seorang direktur utama salah satu perusahaan yang bergerak di bidang periklanan. Dia mengambil jurusan Teknik Informatika semester 6. Dia seorang kristiani, dia juga sangat jahil dan emosional. Jangan suka cari masalah dengannya deh. Tetapi kata Daniel, dia akan menurut dan mengalah kalau sama Irene," jelas Serli. "Nah Irenne Zahra Arundati, Dia seorang pewaris perusahaan Proferty terbesar di Semarang. Tapi sebulan yang lalu Ayahnya baru saja meninggal." "Innalillahi..." gumamku. "Tapi dia terlihat ceria." Aku ingat sikap bersahabatnya tadi saat mengobrol.. "Iya, Irene memang orangnya sangat periang dan ramah. Dia orangnya mudah berteman dengan siapapun dan cerewet tentunya," kekeh Serli. "Sama aja kayak lu cerewet," ucapku membuat Serli mencibir lucu. "Lanjut," tambahku. "Dia masih seumuran sama kita, dia masih sma dan dia juga seorang kristiani," ucap Serli membuatku mengangguk karena tadi sempat melihat kalung berbentuk salib di leher Irenne. "Dan itu yang Pake jas hitam dengan tampilan so cool. Namtanya Oktavio Adelio Mahya alias Aligator si buaya darat paling nyebelin.” “Panjang banget namtanya,” aku terkekeh mendengar namtanya yang begitu lucu. “Dia itu musuh bebuyutan gue, tadi takdir seakan ngejebak gue, dia sepupunya Daniel.” Aku hanya bisa terkekeh mendengarnya. “Tapi walau nyebelin juga, dia tuh seorang yang tajir. Dia itu pewaris perusahaan Perhotelan. “Lucu nama panggilannya Aligator.” “Iya Gator alias buaya darat. Dia itu buaya yang udah ngalahin buaya darat di Negara ini. Pacarnya menumpuk di sana sini, udah kayak cucian baju,” ucap Serli membuatku terkekeh. “Dia juga orangnya sangat menyebalkan, dan rada sengklek otaknya, tetapi mungkin bisa di bilang baik sih," jelas Serli. "Sama calon sepupu sendiri nggak boleh musuhan," godaku. "Dia sangat menyebalkan Lita!" ucap Serli terlihat gemas karena geram. "Dia juga masih seumuran dengan kita." Aku kembali mengangguk paham. "Dan itu yang duduk di samping Kak Dewi, yang muktanya sangat judes. Namtanya Elzabeth Corinna Emery dari namtanya juga lu pasti tau kalau dia juga umat kristiani. Dia anak dari seorang model ternama Jennifer Emery, lu tau kan?" ucap Serli dan aku mengangguk karena model itu cukup terkenal di mastanya. "Dia satu jurusan dan satu kampus dengan Kak Dewi, dia orangnya sangat judes, sombong, dan dingin. Jarang banget senyum," jelas Serli. “Lu lihat saja muktanya Serem gitu," ucap Serli bergidik, aku terkekeh mendengar ucapan Serli yang selalu ceplas ceplos. Tetapi aku membenarkannya karena tadi saat berkenalanpun dia begitu dingin.. "Itulah mereka Brotherhood. Dhika, Daniel, Erlangga, Arseno, Elzabeth, Dewi, Irene dan Okta alias Gator," jelas Serli. "Tapi gue heran deh, mereka beda daerah, beda jurusan juga tapi kok bisa bersahabat?" tanyaku semakin penasaran. "Karena dulu saat kecil, mereka bertetangga dan menjadi sahabat saat itu juga," ucap Serli dan aku kembali mengangguk paham. "Ser, kenapa cuma duduk di sini? Aku cariin kamu daritadi." tanya seseorang yang aku tahu dia adalah Daniel kekasih Serli. "Ah iya Niel, aku lagi nemenin sahabat aku di sini," ucap Serli. “Oh iya kenalin ini Thalita, sahabat aku.” "Aku Daniel," ucap Daniel menyodorkan tangannya ke arahku dengan senyuman manisnya. "Aku Thalita, panggil saja Lita," ucapku menyambut uluran tangan Daniel. "Ayo ikut gabung dengan yang lain," ajak Daniel. "Aku di sini saja, lu aja yang ke sana, Ser" ucapku merasa tak nyaman. "Lah terus lu gimana?" tanya Serli. "Ini acartanya udah kelar, gue akan balik." "Belum selesai, sekarang kita makan malam bersama dulu. Ayo ikut gabung Tha," ucap Daniel begitu ramah, aku menatap Serli yang menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju. Akupun akhirnya menurut saja. Aku berjalan mengikuti Serli dan Daniel, menuju ke arah teman-teman Daniel. "Wah si Metromini datang," celetuk Oktavio saat melihat Serli. "Apa lu Gator s***p," jawab Serli. "Serli datang, mulai deh adu mulut antara Gator dan Metromini," kekeh Irene dan semuanya hanya menggelengkan kepala mereka. Aku hanya bisa mencuri pandang pada jelmaan Dewa Yunani itu yang duduk santai di antara mereka. "Eh Lita, maaf tadi Kakak ninggalin kamu," ucap Kak Dewi baru menyadari keberadaanku, membuat semuanya kini menatap ke arahku. "Siapa dia Wie?" tanya Oktavio. "Dia keponakannya Tante Ratih pemilik toko kue langganan gue," jelas Kak Dewi. "Eh kamu Thalita kan?" tanya Erlangga membuatku mengangguk kecil. "Ah iya, Kakak kenal aku?" Aku mencoba mengingat lagi wajah lelaki tampan di hadapanku ini. "Astaga Lita, kamu lupa sama aku? Kita suka bertemu di workshop saat ada bazaar novel," ucap Erlangga membuatku tertegun. Yah, aku ingat sekarang. "Astaga, maaf Kak Angga. Aku lupa," kekehku menggaruk tengkukku yang tidak gatal. "Maklum Kak, Lita ini punya penyakit pelupa," kekeh Serli. "Lu kenal sama Lita juga, Ser?" tanya Kak Dewi. "Iya Kak, Lita ini sahabat gue. Gue gak nyangka dia juga ada di sini," ujar Serli antusias. "Dunia memang sempit yah, sesempit jidatnya si Gator," kekeh Seno membuat semua terkekeh. "Dari pada lu, jidatnya lebar kayak lapangan sePak bola," keluh Okta membuat yang lain terkekeh. "Eh kenalin dulu, aku Oktavio. Laki-laki tertampan dan terunyu di jagat raya ini," ucap Okta mengulurkan tangannya kepadaku dengan bangga. "Terunyu badannya," sindir Serli membuat yang lain terkekeh. "Heh, berisik lu Metromini," timpal Okta. "Thalita." "Kita udah kenalan tadi yah," ucap Irene tersenyum membuatku mengangguk. “Hei, aku Pradhika. Panggil saja Dhika,” ucapnya mengulurkan tangannya ke hadapanku.  Ya Tuhan, aku meleleh karena senyumannya itu. Aku mohon, jangan menatapku dengan senyuman manis seperti itu. Aku di buat gugup seketika. “Lita..” Aku tersadar saat Serli menyenggol lenganku dan aku segera menyambut uluran tangan jelmaan Dewa Yunani itu yang terasa hangat. Jantungku berpacu semakin cepat saat kulit kami bersentuhan. Aku segera menarik kembali tanganku karena merasa ada sengatan aneh ke  Jantungku. "Lita, kamu jangan sungkan. santai saja," ujar Kak Dewi membuatku tersenyum. Kini semuanya kembali terlibat perbincangan yang di tokoh utamain oleh Serli, arseno, Irene dan Okta. Kak Daniel hanya bisa menghela nafas melihat cekcok sepupu dan pacarnya itu. *** Aku berjalan kaki menunggu taxi, tadi Serli sempat menawarinya untuk pulang bersama. Tapi aku menolaknya dengan alasan ada yang mau di beli. Setelah acara makan malam selesai, aku langsung pamitan pulang. Bilang saja tidak sopan, tapi aku sangat canggung dan tidak terbiasa. Aku menghentikan langkahku saat mataku menangkap sosok yang aku kenali di dalam cafe. Itu Chacha dengan pacarnya. "Merokok????" Aku sangat kaget melihat apa yang di lakukan Chacha. “Chacha merokok? ini tidak benar." Aku bergegas berjalan menghampiri Chacha dan Gilang. "Chacha!" "Lita?" Chacha terlihat mengernyitkan dahinya melihat ke arahku. "Hai Thalita," sapa Gilang dengan ramah tapi aku enggan menggubrisnya. "Cha, lu ngerokok? Cha ini salah." Aku langsung menegur sahabatku itu. "Ayo pulang." Aku menarik tangan Chacha tapi Chacha menepisnya. "Apaan sih Tha, lu aja yang pergi sendiri jangan ganggu gue!" ucap Chacha dengan sinis. Ada apa dengannya? "Cha ini udah malem, lu harus pulang.” "Nggak Lita, jangan suka ngatur gue deh! Lu aja yang pulang sana," ucap Chacha terlihat kesal. Gilang juga kenapa terus menatapku dengan tatapan yang menjijikan. "Santai dulu aja Tha, kita nongkrong aja dulu di sini." Kali ini Gilang yang berbicara seraya menyentuh tanganku, tapi buru-buru aku tepis. Chacha menarik tanganku dan membawa ku keluar cafe. "Ngapain sih lu ke sini, hah?" bentak Chacha membuatku tersentak kaget. "Cha, lu udah terlalu jauh melangkah. Bukan hanya lu bolos terus tapi lu juga sekarang berani merokok. Gilang bawa hal buruk buat lu." Aku tidak bisa menahan diriku lagi. "Jangan sok ngatur hidup gue Lita! Mending sekarang lu pergi. Pergi sana!" Chacha mendorong tubuhku hingga tersungkur ke tanah. "Jangan ganggu gue lagi, Tha!” Chacha meninggalkanku dan kembali masuk ke dalam cafe. "Astaga Chacha kenapa lu jadi kayak gini." Aku berdiri seraya membersihkan tubuhku yang kotor. Setelahnya akupun memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat itu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD