Sam gelisah pagi itu, jam sembilan lebih dan Kala tak menampakkan batang hidungnya di kafe. Entah sejak kapan, kehadiran Kala seolah sebuah penyemangat tersendiri untuknya berangkat kerja. “Sam, jangan melamun!” Han berkacak pinggang dari tempatnya berdiri saat melihat Sam kepenuhan menuang s**u. Sam membereskan kekacauan yang dia buat dan mengangguk canggung ke arah Han. Sementara bosnya itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Sam kini bahkan berharap Kala hanya sedang terlambat bangun, laki-laki yang akan sarapan satu jam di kafe itu, akan datang dan pergi di jam yang selalu sama setiap hari, tanpa absen. Sementara Kala sedang melakukan perjalanannya, dia harus sampai di Bandung tepat waktu. Kedok untuk menghadiri seminar sebuah acara motivasi di sebuah hotel adalah tujuannya.

