Kala mengerang saat perawat mencabut peluru dari pahanya dan menjahitnya. “Pulangkan aku segera,” kata Kala membuat sopir yang mengantarnya tanggap. Kala ingin kembali secepatnya ke Jakarta. “Dia ingin segera pulang,” katanya di saluran telepon. “Bawa dia dengan helikopter,” kata Andika. Orang itu paham, dia menuju ruang administratis dan menunjukkan kartu yang bisa membuatnya mendapat akses bebas di rumah sakit itu. Setelah dia berbicara dengan beberapa orang, maka mereka paham siapa yang sedang berada di UGD mereka dengan luka tembak itu. Wana tiba di Malang dalam keadaan gelap. Situasi yang akan menguntungkannya. Dia menghentikan mobilnya di seberang rumah itu. Tak terlihat penjagaan yang ketat. “Kalian sudah mengusik adikku, maka matilah kalian,” geram Wana mempersiapkan senjat

