Sepasang kaki berjalan mendekat. Tenangkan diri. Aku sudah cukup berumur untuk menghadapi situasi paling abnormal. Ya, semuanya terkendali. Aku hanya perlu mengatur napas dan bersikap tidak acuh maka tidak ada yang akan mengganggu Senin siangku. Kaki-kaki kurus itu makin mendekat. Tiga langkah lagi ke arahku. Ayo, ketik sesuatu, Jo. Ingat pekerjaan. Oh, apa yang tadi sedang aku kerjakan? Aku lupa. Diagram apa ini? “Bu, CSR-nya gimana nih?” Seeeesssh... suara kepulan uap keluar melalui ubun-ubun kepalaku. Cukup, aku tidak bisa bersikap tidak acuh. Aku payah soal akting dan... dan... aku ingin melihatnya? Mengulum bibir, menghitung deretan gigi menggunakan lidah, aku menggunakan taktik bodoh demi meredam deru jantungku. Wajah bocah konyol keheranan. Alis tebalnya bertaut dan matanya... Y

