BAB 3 MENJADI SEORANG ISTRI

1145 Words
Darlina melangkah perlahan mendekati Kalman dan meraih surat perjanjian yang disodorkan padanya. Perlahan gadis itu pun mulai membaca isi perjanjian yang telah ditulis tanpa persetujuannya. Dalam surat itu dijelaskan jika Kalman akan menganggap lunas hutang Darlina saat perawatan ibunya dulu, lelaki itu juga akan bertanggung jawab atas pengobatan ibu Darlina yang kini tengah dirawat di rumah sakit jiwa dan akan membiayai pendidikan adiknya. Darlina juga boleh tetap bekerja sebagai sekretaris Kalman sampai ada yang menggantikan posisinya. Darlina juga akan tinggal di rumah Kalman sebagai menantu, tapi Darlina tidak diperkenankan untuk mencampuri urusan pribadi Kalman selama kontrak nikah mereka berlangsung selama satu tahun. Setelah kontrak selesai, maka Darlina diperkenankan untuk menggugat cerai. Gadis itu bernapas lega karena sedikit pun dia tidak dirugikan dalam kontrak itu. "Apakah saya boleh melakukan aktivitas saya yang lain seperti biasa sebelum saya menikah dengan Anda?" tanya Darlina dengan hati-hati. "Ya, kamu tidak perlu meminta izinku. Di kantor kamu tetap melakukan tugasmu seperti biasa. Aku akan tetap memberimu gaji setiap bulan ditambah uang nafkah yang memang wajib kuberikan sebagai seorang suami." Darlina menghela napas panjang. Ada satu pertanyaan yang sangat mengganggunya, tapi dia memutuskan untuk tidak bertanya saja. "Baiklah kalau begitu saya akan menandatanganinya," jawab Darlina. Dengan cepat ia meraih pulpen dan menandatangani surat kontrak pernikahan mereka itu. "Sudah malam, saya mau tidur. Kamu tidur saja di atas tempat tidur, aku akan tidur di sofa." Mendengar itu ketakutannya yang tadi muncul seketika hilang. Namun, Darlina tidak enak dengan tawaran Kalman. "Saya saja yang di sofa, Pak. Anda bisa tidur di tempat tidur," sahut Darlina dengan cepat. Kalman terlihat mengerutkan dahi dan menatap Darlina dengan tajam. Gadis itu sudah hafal sekali dengan ekspresi wajah yang ditunjukan bosnya itu. Darlina pun hanya menatap Kalman takut-takut. "Saya tidak mau dipanggil bapak. Status saya sekarang adalah suamimu. Meski kita hanya menikah di atas perjanjian tapi, di mata hukum dan agama saya sah sebagai suami. Jadi panggil saya Mas atau apa saja asal jangan bapak!" tegas Kalman dingin. "Sayang boleh kalau begitu?" Darlina langsung memukul mulutnya sendiri, entah setan mana yang merasuki hingga ia berani berkata seperti itu. Kalman yang mendengar pertanyaan Darlina untuk sejenak terpaku, tapi ia pun segera menguasai diri dan langsung menyentil dahi Darlina dengan keras. "Aw ... sakit," keluh Darlina. "Makanya kalau ngomong jangan sembarangan. Tapi, kalau di depan orang aku mengizinkan. Di depan orang aku tidak mau kita seperti pasangan yang tidak saling mencintai, apalagi mereka tahu jika pernikahan kita hanya pernikahan kontrak, mengerti?" "Iya, saya mengerti." "Sudah tidur sana, sudah malam! Besok tidak ada cerita bangun kesiangan. Mama dan keluarga saya yang lain menginap juga di hotel ini. Besok kita sarapan pagi bersama mereka," kata Kalman sambil mengambil bantal. Lelaki itu pun langsung merebahkan diri di atas sofa dan membiarkan Darlina yang tidur di atas ranjang. "Setidaknya dia masih punya hati untuk tidak membiarkan aku tidur di sofa," bisik Darlina dalam hati. "Hah, malam pertama yang kubayangkan akan hangat penuh kemesraan, tapi kini malah dingin seperti berada di kutup utara yang penuh dengan es abadi." Gadis itu pun segera mengikuti Kalman untuk merebahkan diri di atas ranjang yang empuk itu dan hanya dalam hitungan beberapa menit saja, gadis itu sudah terlelap dalam mimpi. *** Kalman mengerjapkan matanya karena mendengar suara dengkuran. Selama beberapa saat ia seolah sedang mengumpulkan nyawanya. Barulah setelah itu dia menoleh ke asal suara yang sudah mengganggu tidurnya. Saat dia melihat ke ranjang, tawanya meledak seketika. Darlina tampak seperti kura-kura. Posisi gadis itu tengkurap lebih tepatnya sedikit menungging dan dia juga mengeluarkan dengkuran yang keras. Seumur-umur baru kali ini dia melihat gaya tidur seperti itu, Kalman pun mendekati Darlina. Saat melihat iler di sudut bibirnya yang terbuka Kalman semakin tertawa terpingkal-pingkal. Gadis yang sedang pulas itu pun terbangun karena tawa Kalman yang terdengar sangat keras dan nyaring. "Ya ampun, Anda membuat saya kaget," kata Darlina masih tak sadar dengan gaya tidurnya yang unlimited itu. Kalman yang sempat memotret Darlina langsung memperlihatkan hasil fotonya. "Kamu lihat gaya tidurmu ini," kata Kalman di sela tawanya. Melihat foto di ponsel Kalman, Darlina pun tersentak dan langsung duduk. Hilang sudah rasa kantuknya berganti dengan malu yang luar biasa, apalagi saat dia meraba pipinya yang basah oleh air liurnya sendiri. "Apa tidurmu selalu seperti itu?" tanya kalman masih terbahak. Darlina melongo melihat bosnya, selama dia bekerja belum pernah melihat lelaki itu tertawa. "Saya begini karena saya kedinginan, Pak, eh, Mas," jawabnya dongkol karena jadi bahan tertawaan. Kalman baru menyadari jika tadi dia tidur dengan menggunakan selimut. Ah, rupanya gadis itu yang menyelimutinya semalam. "Lalu, kenapa kamu tidak mengecilkan AC-nya saja? Kenapa malah menyelimutiku sementara kamu sendiri kedinginan sampai tidur seperti kura-kura begitu," tanya Kalman. Darlina menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan tersenyum kaku pada Kalman. "Saya takut Mas marah kalo saya kecilkan AC-nya, " jawab gadis itu polos. Kalman benar-benar tidak habis pikir dengan kepolosan Darlina. Selama ini, dia memang mengenal gadis itu sebagai sekretaris yang cekatan dan teliti, tapi hari ini, dia melihat sisi lain dari gadis itu. "Mandi, sana!" tegas Kalman sambil menahan tawa demi melihat wajah Darlina yang begitu memelas dan acak-acakan. Namun, baru saja dia akan melangkah terdengar bunyi yang sangat nyaring dan bau yang sedikit menyengat membuat hidungnya berkedut. "Kamu kentut, ya?!" Darlina yang masih duduk di atas ranjang hanya cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Maaf, Pak, eh Mas. Nggak sengaja. Abis nggak tahan lagi," ujarnya masih kesulitan dengan panggilan untuk Kalman. Kalman hanya menutup hidung, lalu melangkah menjauh dan membuka pintu balkon kamar lebar-lebar agar bau yang cukup membuatnya mual itu hilang. "Kamu itu benar-benar. Sana, mandi lalu kita sarapan pagi! Mama dan keluarga saya pasti akan menunggu kita." "Ba-baik, Mas. Sekali lagi maaf, ya." Darlina pun bergegas bangkit dan segera melangkah ke kamar mandi. Dia tidak berani menggunakan air dingin. Jadi, gadis itu memutuskan untuk mandi air hangat saja. Jangan sampai nanti dia sampai buang angin lagi ketika sarapan hanya karena kedinginan. "Ah, susah penyakit gadis kampung. Kena AC langsung kembung dan buang angin, memalukan!" kesal Darlina dalam hati. Setelah mandi, segera dia mengganti piyamanya dengan setelan kulot berwarna navy yang sudah disediakan oleh ibu mertuanya semalam. Ukurannya begitu pas di tubuhnya. Gadis itu pun segera bergegas keluar dari kamar mandi. Dia memang sengaja membawa pakaian ganti ke dalam kamar mandi karena tidak mau Kalman melihat tubuhnya. Sekalipun mereka sudah menikah dan sah, tapi pernikahan mereka hanya di atas selembar kertas yang berisi perjanjian kontrak. Saat keluar dari kamar mandi Darlina terpekik lalu menutup matanya karena melihat Kalman yang hanya mengenakan handuk. "Baru liat segini aja sudah berteriak, bagaimana kalau melihat semuanya?" Kalman menggelengkan kepala. Darlina berjalan dengan menutupi wajahnya agar tidak melihat tubuh kekar yang membuatnya menelan ludah. Sialnya, hal itu malah membuatnya menabrak Kalman yang sengaja menunggunya. "Akh!" pekik Darlina saat menyentuh kulit d**a yang keras, tapi halus. Gadis itu pun tercekat menahan napas saat menyusuri tubuh Kalman dengan tatapan kagum hingga pandangannya terhenti pada bibir lelaki itu yang perlahan-lahan mendekati wajahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD