"Len, Kamu yakin nggak apa - apa kita tinggal?" tanya Nadiya meyakinkanku lagi.
Ini adalah weekend dan semua teman teman ku yang berstatus perantauan akan pulang ke kampung halamannya.
Sementara aku? Mau mudik ke mana?
Paling jika hari raya saja aku memutuskan mudik. Karena aku malas jika harus pulang ke rumah.
Mamah dan papah ku sudah tidak ada, jadi untuk apa aku pulang. Lagipula Agung juga tidak di rumah.
"Yakin, Nad. Kamu udah berapa kali nanyain itu coba? Aku nggak apa-apa kok," kataku meyakinkan mereka.
"Ikut aku aja, Len. Pulang ke rumah ku. Rumahku banyak pohon buah loh, ada kebun durian juga. Nanti kita bisa hunting durian bareng," ajak Laras. Ajakannya memang menarik, tetapi entah mengapa aku enggan ke mana-mana weekend ini
"Enggak ah, aku mau di rumah aja. Kapan-kapan aja, ya, Ras. Kalian pulang gih. Aku baik-baik saja."
Akhirnya dengan perdebatan yang cukup sengit mereka merelakan ku di rumah sendirian. Walau mereka khawatir dengan kondisiku di rumah.
Tapi apa boleh buat, mereka juga harus pulang karena keluarga mereka juga pasti merindukan kehadiran mereka yang bagai Bang Toyib saja, alias jarang pulang.
Aku juga meyakinkan mereka bahwa aku akan baik baik saja di rumah. Walau sebenarnya aku sendiri tidak begitu yakin.
Suasana hening setelah mereka pergi. Aku masuk ke kamar ku.
Rasanya lebih baik aku membuat kopi saja sambil bermain game di laptop.
Selesai kopi dibuat, aku kemudian kembali ke kamar.
Saat ini sudah pukul 21.00, harusnya aku tidur saja. Tapi mataku yang belum mengantuk memaksaku untuk terjaga dan mungkin dengan bermain game aku bisa membuatku cepat mengantuk.
Praaangg!
Terdengar suara gelas jatuh dari dapur.
'Siapa ya? Ya Allah. Apakah itu ulah 'mereka' lagi?' batinku, cemas.
Aku mematikan laptop, lalu berjalan keluar kamar.
Astaga ... Kenapa berantakan sekali.
Banyak pecahan piring di lantai.
"Aw ...." Aku menginjak salah satu pecahan itu, kulihat telapak kaki ku agak berdarah karena aku tidak memakai alas kaki.
Srrriiingggg!!
Terdengar bunyi pisau yang saling bersentuhan. Perasaanku tidak enak, bulu kudukku meremang. Saat aku menatap dari arah dapur, sosok itu muncul lagi.
Sosok yang kulihat di rumah xxx.
Dia masih saja ada di sini rupanya.
Ya Tuhan. Apa yang harus kulakukan.
Aku masuk ke kamar ku lalu meraih ponsel ku. Segera aku menghubungi Arga. Entah kenapa aku berfikir Arga bisa membantu, padahal dia sedang ada di luar kota.
Namun, ponsel nya tidak aktif!
Braaak!!
Pintu kamar ku terbuka dengan kasar. Sosok itu ada di luar kamarku dan perlahan masuk ke kamar dengan pisau nya yang tajam, mampu membuat nyali ku ciut.
Aku mundur perlahan, badan ku gemetaran. Sekuat tenaga aku menahan sakit di kaki. Aku berjalan pincang menuju ranjang ku.
Tapi kaki ku lebih dahulu di raih nya. Aku terjatuh ke lantai, aku menoleh untuk mengetahui di mana keberadaannya, sedekat apa dia denganku.
Dia menyeringai lalu mengarahkan pisaunya kearah ku.
Aku berguling ke kanan untuk menghindarinya dan meronta ronta agar kaki ku dilepaskan.
Bukan nya terlepas, malah dia mengangkat ku tinggi tinggi lalu melemparku dengan entengnya ke dinding.
Buugg!!
Aku meringis kesakitan.
Aku juga menangis menahan sakit di sekujur tubuhku.
Aku berusaha berdiri dengan merangkak menuju meja di samping ranjang ku.
Tanpa sengaja aku menjatuhkan Al Quran milikku sehingga terbuka.
Sosok itu mundur agak menjauh.
Aku heran melihatnya seperti itu. Dengan sisa tenaga yang ku punya aku membawa Al Quran itu mendekat di d**a ku, lalu tertatih berjalan keluar kamar.
Saat aku keluar rumah, aku makin mempercepat lariku, walau dengan kaki yang luka. Aku pun tidak makai alas kaki karena panik, takut makhluk itu mengejar ku.
Aku masih menangis dengan memeluk Al Quran di tangan ku.
Tiba tiba seseorang mendekap ku dari belakang.
Aku menjerit dan meronta minta dilepaskan. Aku takut jika dia adalah makhluk tadi.
"Lena! Len! Hei... Ini aku, Len. Kamu kenapa?" Tanya orang itu, yang ternyata dia adalah Adit.
Kulihat mobil nya terparkir tak jauh dari rumah kos ku.
Setelah aku memastikan bahwa dia benar benar Adit, aku langsung berhamburan memeluknya sambil menangis.
Adit membelai kepalaku, "Udah. Kamu nggak apa -apa, kan? Aku ada di sini sekarang. Kamu jangan takut. Ada apa sih, Len? Sampai kamu gini, ada pencuri di rumah?" tanya Adit, heran. Aku menggeleng masih dengan tergugu.
"Terus kenapa? Kamu berantakan banget kayak gini. Kaki kamu juga berdarah!" Adit mulai cemas.
Aku masih saja menangis tidak sedikit pun menjawab pertanyaan Adit.
Dia melepaskan pelukan ku lalu menatap wajah ku yang luka luka. Terdapat lebam dan lecet di wajahku. Karena beberapa kali benturan itu kuingat, dan aku kini merasakan nyeri dan perih di sekujur tubuhku.
Tanpa izin dari ku, dia langsung membopong dan membawaku ke mobil nya.
"Kita ke Rumah Sakit, ya," katanya saat hendak menyalakan mesin mobil. Aku menahan tangannya.
Lalu menggeleng pelan.
"Kenapa?" tanyanya lembut.
"Aku nggak mau ke Rumah Sakit," ucap ku parau.
Aku masih menahan sesak dan trauma atas kejadian barusan.
"Ya udah. Kita ke Apartement ku aja gimana? Obatin luka kamu dulu," ucapnya lembut sambil membelai pipiku. Aku hanya mengangguk pelan.
Adit menjalankan mobil menuju Apartement nya. Dalam perjalanan aku tidak berkata sepatah katapun. Rasanya aku tidak ingin melakukan apa pun sekarang. Hanya menatap pemandangan di jendela samping ku, melihat kerlip sinar lampu jalan dan ramainya pengendara motor dan mobil. Aku ingin tidur, lelah ... Aku sangat lelah.
========
Aku terbangun karena sesuatu yang dingin menempel di pipiku.
"Aw ...," pekik ku kaget.
Ternyata Adit sedang mengompres lukaku dengan kain yang diisi es batu.
Baru aku sadari kalau kami sudah ada di Apartemen Adit. Dan aku sedang berbaring di ranjangnya yang super empuk.
Kulihat kaki ku sudah dibalut perban.
Dan ada bau obat merah di sekitar wajah ku.
"Maaf ya, Len. Kamu jadi bangun.
Ah iya, kamu makan dulu, ya. Aku udah panasin cream sup."
Adit berjalan ke luar kamarnya lalu tak lama kembali dengan membawa nampan yang terdapat makanan hangat dan s**u hangat.
Aku meraih s**u hangat dulu.
Rasanya haus sekali. Kuminum separuhnya, lalu Adit menyuapiku dengan cream sup buatan nya.
Aku yakin dia yang memasak sendri. Karena rasanya selalu enak. Dan sepertinya aku mulai terbiasa dengan masakan Adit.
"Enak?" tanyanya.
"Enak," jawabku singkat. "Eum ... Adit," panggilku ragu.
"Hm ..." Dia hanya menggumam sambil tetap menyuapiku.
"Kok kamu bisa ada di deket rumah kos ku?" tanyaku penasaran.
"Tadi temen kamu kasih tau aku, kalau kamu sendirian di rumah. Entah kenapa perasaanku nggak enak, jadi aku nungguin kamu di depan jalan, siapa tau kamu butuh bantuan ku. Terus aku lihat kamu keluar rumah dengan panik.
Kalau boleh tau, kamu kenapa, Len? Kenapa kamu bisa kayak gini? Siapa yang melakukan ini?" tanya Adit khawatir.
Aku menghembuskan nafas perlahan.
"Sosok itu. Dia selalu ngikutin aku terus."
"Sosok yang mana, Len? orang yang ditabrak Dani?"
"Bukan. Sosok yang ada di Rumah xxx, Dit," rengekku dengan menunjukkan reaksi ketakutan.
Aku lalu menceritakan tentang rekaman yang kami lihat di komputer Arga dan kejadian saat kami di sana.
Adit nampak berfikir keras.
"Kenapa dia terus teror kamu, ya, Len?" tanya Adit yang ikut penasaran.
"Aku juga nggak tau, Dit. Mungkin karena kami udah masuk ke Rumah itu terus dia marah," jawabku sekena nya.
"Ya udah, sekarang habisin dulu makanan kamu, ya. Biar kamu ada tenaga. Terus istirahat. Malam ini kamu tidur sini aja," perintah Adit.
Adit menyuapiku sampai semua makanan ku habis. Lalu menyelimutiku. Dia memperlakukan ku bagai anak-anak yang sedang sakit demam.
"Jangan takut ya, Len. Aku ada di sini," katanya saat aku mencoba terpejam.
Cup.
Sebuah ciuman mendarat di keningku.
Nyeeesss.
Hatiku berdesir tak karuan. Jantungku pun makin berdegup kencang.
"Good night." Lalu dia keluar kamar nya membawa bantal dan selimut cadangan yang diambil dari dalam lemari nya. Dia tidur di sofa depan.
Aku mencoba memejamkan mataku.
"Aah!" Aku berteriak kembali.
Adit masuk ke kamar dengan buru buru.
"Kenapa, Len?!" Dia menatap wajahku dengan panik.
"Ada kecoa," rengek ku manja.
Adit lemas lalu mengeluarkan nafas nya dengan berat.
"Kamu ngagetin aja. Kirain ada apa,"
"Itu kecoa, Dit. Masa di Apartement mahal kaya gini masih aja ada kecoa." Aku bersembunyi di balik bahu Adit.
Dia menatap kecoa yang sedang merayap di tembok. Lalu diambilnya sapu dan dipukulkan nya ke kecoa itu.
Setelah beres Adit membuang ke tong sampah lalu menutup pintu kamar.
Dan tiba tiba sudah berbaring di samping ku.
"Lho ... Kok kamu tidur di sini juga?Bukannya mau tidur di sofa?" tanyaku heran.
"Sini aja deh, jadi aku nggak kepikiran kalau kamu kenapa- napa lagi," katanya lalu menutupi tubuhnya dengan selimut.
Aku pasrah, mau ku usir, ini kan kamar dia? Nggak sopan banget, kan.
Jadi aku biarkan saja dia tidur di sampingku.
Aku memandanginya yang kini sedang memejamkan mata.
Kenapa aku bisa ada di sini bersama nya?
Kenapa kami jadi makin akrab?
Sesuatu yang bahkan tidak pernah terlintas di kepalaku selama aku bekerja di perusahaan nya.
"Jangan ngeliatin aku kaya gitu dong. Len ... Aku jadi grogi tau," kata Adit tanpa membuka matanya.
Bagaimana dia bisa tau kalau aku menatapnya, padahal dia masih memejamkan matanya sedari tadi.
Aku berbalik badan dan tidur memunggunginya.
Ranjang sedikit bergerak, mungkin Adit merubah lagi posisi tidurnya.
Srett
Tiba-tiba tangan kokoh nya melingkar di pinggangku bahkan sampai perut.
Dia memelukku dari belakang.
Deg!
"Dit ...." Aku hendak melepaskan tangannya dari tubuhku karena agak sungkan.
"Biar aja, Len. Tolong biarin kayak gini. Aku udah nyaman banget."
Tak lama terdengar suara nafas Adit menjadi berat.
Dia tertidur.
Sepertinya dia sangat lelah. Hingga dalam hitungan detik dia sudah tidur memelukku.
Dengan terpaksa aku membiarkan nya seperti itu. Sebenarnya aku pun nyaman dengan posisi ini. Aku merasa tenang dan aman Adit tidur di sampingku sekarang.