DUA PULUH SATU

1029 Words

Mimpi buruk itu semakin sering mengunjungi Baginda Liam. Adakalanya ia menjelma sosok-sosok usang yang menghantui malam-malamnya; mengutuk, meratap, serta melaknat segala hal yang dimiliki Baginda Liam. Baginda Liam bukanlah pemuda berumur 25 tahun, ia memiliki toleransi atas segala teror yang datang bersambang di kala gelap mewujud. Sebisa mungkin ia mengabaikan teror yang mengetuk pintu kewarasannya. Mimpi hanyalah mimpi—tidak ada yang perlu ditakutkan. Mimpi tak memiliki wujud solid, ia hanyalah sebentuk kegelisahan yang terpendam dalam benak manusia. Setidaknya itulah gambaran awal Baginda Liam mengenai mimpi. Akan tetapi, segala hal berubah. Mimpi tak lagi disandingkan dengan ketakutan anak kecil … mimpi buruk kini mulai menampakkan taringnya; siap menerkam, mencabik, dan menelan sega

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD