Bab, 5. Aji di tegur!

1096 Words
Aji menyelipkan setangkai bunga mawar merah yang sempat ia petik di jalan menuju ke desa. Ia menyelipkannya di telinga kiri Anjani lalu menatapnya lembut. Senyuman hangat kembali ia perlihatkan, dan hati Anjani kembali berdebar sangat kencang. "Jangan bicara begitu, dan aku akan kembali. Dik, aku senang bisa bertemu denganmu, dan mengenalmu. Aku akui, baru kali pertama aku melihat wanita secantik kamu. Dan aku harap, kedepannya kita bisa terus bertemu." ujar Aji. Ia lantas meninggalkan Anjani sembari terus menahan diri agar tak berbalik dan menatap wajah Anjani yang sangat cantik. Anjani yang mulai merasakan debaran itu akhirnya menyadari perasaannya, tapi ketika ingat Aji adalah anak dari Pak RT, niat hatinya membuat pria itu mencintainya tanpa ajian apapun akhirnya sirna sudah. "Kalau aku tak menggunakan ajian, dia pasti akan menghindar, dan bahkan akan takut padaku yang dianggap penyihir oleh orang-orang kampung." gumam Anjani. Matanya terus menatap ke arah Aji, dan bibirnya tampak merapalkan mantra Ajian Buluh Perindu yang akan membuat pria itu terikat padanya. Kali ini, Anjani tidak memakai Ajian Jaran Goyang atau Semar Mesem seperti yang biasanya ia pakai untuk mangsanya. Hal itu terjadi karena ia benar-benar ingin menjadikan Aji sebagai tambatan hatinya. "Aku harus mendapatkannya! Harus! Tak perduli apapun itu resikonya!" gumam Anjani. Awan tampak gelap pada pagi itu, suara petir menggelegar di setiap sudut Kampung Arum Mekar. Anjani menatap ke arah jalan menuju desa. Aji tak lagi menoleh ke belakang, tapi Anjani yakin, pria itu pasti berusaha mati-matian untuk mepertahankan akal sehatnya yang hampir saja tak bisa ia kendalikan. Bibir Anjani mulai tersenyum penuh arti, hujan deras turun mengguyur tubuhnya. Anjani mendongakkan kepalanya sembari memeluk tubuhnya sendiri, mencoba membayangkan pelukan itu adalah pelukan dari Aji, dan otaknya mulai membayangkan hal kotor. "Mas Aji, aku akan mendapatkan mu." gumam Anjani. Tubuhnya kini basah kuyup karena tersiram air hujan. Dan Anjani pulang di tengah terasnya hujan yang tampak mengguyur tubuhnya. *** Aji sampai ke rumahnya sebelum hujan mengguyur tubuhnya. Tapi, pikirannya seakan tertinggal di sana. Matanya menatap lekat ke arah dari mana ia kembali, hatinya seakan tertinggal. Dan, ada suatu hal aneh yang terasa membuatnya makin terikat pada sosok Anjani. Baru berpisah dengan wanita itu, ia merasa sudah begitu merindukannya. Ia bahkan sampai lupa, kalau Cecep pernah mengatakan bahwa di sana ada seorang penyihir yang entah seperti apa wujudnya. "Aji!" suara seseorang yang memanggil dengan suara yang terdengar berat tapi juga marah. Aji menoleh dan melihat Bapak Anton – bapak kandungnya tampak menatapnya dengan tatapan tajam. Aji terpaku sejenak, dan pada saat itu, ia mulai menatap wajah bapaknya yang tampaknya tegang dan juga penuh amarah. "Bapak, ada apa pak?" tanya Aji dengan dahi berkerut. "Ada apa kamu bilang?! Bukankah bapak tadi meminta Cecep untuk menjemput kamu, lantas kamu pergi ke mana?!" teriak Pak Anton. Aji menghela nafas panjang saat melihat kemarahan ayahnya. Ia sungguh tak menyangka kalau Bapaknya akan menyambutnya dengan amarah setelah bertahun-tahun lamanya tidak bertemu dengan dirinya. "Sudah, pak. Sudah, masuk dulu ke dalam, tidak enak di lihat tetangga. Biar ibu yang ngomong sama Aji. Masuk, pak." ujar Bu Inah – Ibu dari Aji Bagaskara. Pak Anton yang tampak wajahnya sudah memerah itu akhirnya masuk ke dalam rumah. Sedangkan Bu Inah sendiri menghampiri putranya. "Nak, sekarang bilang jujur sama ibu. Apa benar kamu pergi ke tempat wanita itu?" tanya Bu Inah dengan suara parau. Tangannya bahkan sudah menggenggam kedua tangan dari putranya lalu menatapnya dalam. Ada rasa sakit dan takut di dalam waktu bersamaan. Aji sendiri tampak bingung sembari menatap mata ibunya. "Maksud ibu siapa? Anjani?" ujar Aji. Kedua mata Bu Inah tampaknya membelalak lebar saat mendengar ucapan putranya. Airmata mengalir deras, dan tubuhnya bergetar karena takut. "Ke–kenapa kamu ke sana? Bukankah Cecep sudah bilang padamu?" gumam Bu Inah pada saat itu. Ia sungguh merasa takut saat mendengar ucapan putranya. "Bu, kenapa ibu berkata begitu? Kenapa kalian takut padanya? Bukankah dia orang yang baik? Aku baru saja bertemu dengannya, dia baik, semua orang yang ada di dalam rumahnya orang baik." ujar Aji. Ibunya tak kuasa mendengar ucapan putranya, ia menggelengkan kepalanya lalu membawa putranya bersamanya. "Semua hanya palsu! Kalau kamu tidak ingin lihat ibu mati mengakhiri hidup, mulai sekarang, ibu melarang kamu ke sana!" tekan Bu Inah saat itu. Aji tak bisa berbuat banyak pada saat itu, ia hanya mengikuti ibunya masuk ke dalam rumah. Saat Aji masuk, ia melihat Desi Sulistiawati, gadis berusia 26 tahun yang sering bertukar kabar dengannya. Parasnya memang cantik, Aji semula mengaguminya, namun setelah bertemu Anjani, rasa minatnya pada Desi Sulistiawati sirna begitu saja. Ia menatap tanpa minat, dan mendengus kesal saat melihat kedua orangtua gadis itu. "Aji, sekarang duduk. Desi sudah menunggu kamu sedari tadi, seharusnya kamu merasa bersalah karena tidak datang tepat waktu!" tekan Pak Anton. Aji menatap Desi yang mendongak dan menatapnya dengan tatapan berkaca-kaca menahan tangis. Sungguh pertemuan yang ia kira akan menjadikan jawaban tentang hubungan yang tertunda ternyata kini tak terjadi seperti keinginannya. "Bapak, aku ini capek. Baru pulang malah bukannya disambut dengan kasih sayang dan tutur sapa ramah, bapak malah menyalahkan aku! Lebih capek siapa sih? Yang menunggu, atau aku yang menghabiskan waktu puluhan jam di pesawat juga bus?!" Aji langsung menuju kamarnya dan enggan rasanya untuk bertemu dengan mereka. "Aji! Aji!" teriak Pak Anton. Tapi Aji tidak perduli, ia tetap masuk ke dalam kamar untuk mandi dan berganti pakaian. Suara ketukan pintu dan suara Bu Inah berulang kali terdengar setelahnya, namun Aji sama sekali tidak perduli. Ia terus saja mengatakan baik-baik saja dan juga menolak untuk keluar kamar dengan alasan ingin istirahat. *** Malam harinya... Suara ketukan pintu terdengar dari arah jendela, dan pada saat itu – Aji terbangun lalu menghampiri jendela. Saat ia membuka jendela karena penasaran, pada saat itu juga ia terkejut melihat siapa yang ada di luar jendela. "Anjani?" gumam Aji. "Apa aku boleh masuk?" tanya Anjani sembari menatap ke arah Aji dengan tatapan lembut. Entah itu nyata atau mimpi, dan entah bagaimana caranya Anjani bisa naik ke jendela, kini ia sudah duduk di jendela dan menghadap ke arah Aji, tangannya mengalung di leher Aji. "Kenapa kamu menatapku begitu?" tanya Anjani. "Apa ini nyata, Anjani?" Anjani terkekeh, "Nyata maupun tidak, sekarang katakan padaku..., apa yang akan kamu lakukan bila aku ada di sini bersamamu?" tanya Anjani dengan suara lembut. "Aku ingin mencium mu." gumam Aji, dan bibir mereka benar-benar bertemu, saling bersentuhan, menghangatkan, dan menuntaskan dahaga yang lama tersimpan. Aji tidak perduli itu nyata atau tidak, yang ia rasa..., sungguh sangat manis saat ia mulai menghisapnya, lembut, dan kenyal. Harum bunga kantil dan melati juga mulai ia rasakan, tapi setelahnya ia tak perduli, ia hanya ingin menikmati meskipun ia tidak tahu, yang ia hadapi kenyataan atau hanya mimpi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD