Kabut tipis menyelimuti jalan tanah menuju Hutan Gelap Utraz. Empat kereta sihir menderu pelan, ditarik oleh binatang bertanduk pendek bernama grafulin. Suasana tampak biasa, bahkan membosankan bagi sebagian siswa.
Tapi Elias duduk diam di sudut kereta paling belakang. Tangan bersilang, mata separuh tertutup. Ia tidak tertidur, hanya… mendengarkan.
> Langkah-langkah di luar ritme roda. Nafas makhluk dari sisi hutan. Energi sihir samar yang tidak tercatat.
Ia tahu. Ini bukan perjalanan biasa.
Di depannya, beberapa siswa sibuk mengobrol.
"Eh, lo yakin ini cuma level C?" tanya Aryl, si pengguna elemen angin.
"Iya lah, kan jelas di pengumuman. Paling cuma monster kelas rendah," sahut Dion, yang selalu sok tahu.
Lena, satu-satunya gadis dalam tim, mengangkat alis. “Tapi kenapa si pelatih Ravien keliatan gugup waktu briefing?”
“Ah, dia kan emang gitu orangnya. Kebanyakan baca buku, jadi parnoan.”
Elias membuka matanya. Suaranya tenang tapi mengiris.
“Kau yakin itu cuma karena parno?”
Dion menatap Elias. “Lho, kamu bisa ngomong juga rupanya?”
Yang lain tertawa pelan, tapi Lena memperhatikan Elias lebih saksama.
“Aku cuma heran…” Elias melanjutkan, “...kenapa kita dikirim ke tempat di mana tiga desa terakhir yang patroli dihapus dari peta.”
Hening.
“Lo... denger dari mana?” tanya Aryl.
Elias tak menjawab. Hanya menatap kabut di luar. Diam-diam, Lena menelan ludah. Utraz... dulu memang dikenal sebagai zona netral. Tapi kabar terakhir, wilayah itu mulai didekati oleh makhluk dari bangsa lain—iblis, monster liar, bahkan bayangan dari celah dimensi.
Beberapa jam kemudian, kereta berhenti di pos kayu tua. Reruntuhan menara sihir berdiri setengah rubuh di belakang semak-semak berduri. Tidak ada suara burung. Tidak ada angin.
Kapten ekspedisi, lelaki tua bernama Baros, turun dari kereta dan memanggil semua siswa.
“Dengar! Kita akan menginap di sini malam ini. Besok, kita masuk ke hutan.”
Dion mengangkat tangan, “Pak, kalau ini cuma misi pengumpulan data, kenapa kita bawa s*****a tempur lengkap?”
Baros menggaruk kepala, terlihat tak nyaman.
“Yaa... soal itu... sepertinya ada kesalahan input di sistem misi. Ini… mungkin bukan zona C sepenuhnya.”
“HAH?!” teriak Aryl.
“Jadi kita dibohongin?” Lena nyaris berseru.
“Bukan dibohongin. Lebih ke... ‘salah ketik’, katanya. Harusnya ini Level Sektor B, bukan C.”
Semua siswa menatap satu sama lain.
Kecuali Elias. Ia tersenyum kecil.
> Jadi benar… mereka bahkan gak tahu tempat ini udah berubah jadi sarang kematian.
Malamnya.
Kabut semakin tebal. Lena berdiri di dekat api unggun sambil menggigil.
“Lo ngerasa gak sih, ada yang ngawasin dari hutan?”
“Bisa jadi hewan kecil,” sahut Dion sambil mencoba tetap santai, walau tangannya gemetar sedikit.
Aryl menambahkan, “Kenapa sih kamp akademi kita ngasih misi beginian? Kacau banget.”
Sementara itu, Elias duduk agak jauh, di bawah pohon lapuk. Tangannya menyentuh tanah.
Dan ia mendengarnya.
> Langkah berat. Bukan manusia. Lima pasang kaki. Nafas... pendek dan berlendir. Bau darah.
Ia membuka mata.
“Bersiap.”
“Apaan, lo ngomong sama siapa—”
Teriakan dari penjaga pos memecah malam.
“SERANGAN!! DARI UTARA!!”
Kilatan merah muncul di langit. Monster setinggi dua meter dengan gigi menyeringai berlari dari balik pepohonan.
Makhluk setengah iblis, setengah binatang. Mata merah, kulit seperti baja gelap.
> “APA-APAAN ITU?!”
Dion terjatuh. Aryl memanggil mantra angin dengan panik. Lena mencoba menembak, tapi tangannya gemetar.
Elias berdiri pelan, matanya tajam.
> Mereka tidak akan selamat kalau aku diam.
Makhluk itu menerjang ke arah Aryl. Dalam sekejap...
SHUUUKK!
Bayangan di tanah Elias menjulur seperti cambuk—dan menghantam makhluk itu dari bawah, membantingnya ke udara, lalu menghujamkan paku bayangan ke dadanya.
Monster itu bergetar. Lalu… hancur jadi kabut hitam.
Hening. Semua mata mengarah padanya.
Dion melongo. Lena menahan napas.
Aryl gemetar. “L-Lo… barusan… lo…”
Elias memalingkan wajah. “Kalian cuma kelelahan. Mungkin cuma ilusi.”
Lena mencoba bicara, tapi Elias sudah duduk lagi di tempatnya.
Seakan… tidak terjadi apa-apa.