BAGIAN LIMA

1924 Words
"Weh Ya' mau nebeng gue ga?" Zia menoleh pada Aidar yang baru saja keluar dari gerbang sekolah dan sekarang berhenti tepat di hadapannya dengan motor matic hitamnya, Zia menampilkan cengirannya. "Idar mendingan anterin Rara pulang, Rara katanya mau mampir beli es serut di depan Sekolah SMP kita dulu." Naira yang merasa namanya dibawa-bawa lantas mendelik pada Zia, "Ehh apa-apaan bawa bawa nama gue?!" Zia menyikut lengan Naira, "Ih jangan pura-pura nolak Ra, kalau sama Idar kan kamu bisa makan es serut sambil ditemenin Idar, daripada sama abang ojol?" Naira melirik pada Aidar yang kini tengah menyugar rambutnya ke belakang sambil menatap wajahnya di cermin spion, Naira mendengus. 'Narsis banget gila.' "Gimana nih siapa yang mau gue tebengin?!" Tanya Aidar setelah puas melihat tatanan rambutnya dari spion motornya, Zia buru-buru mendorong bahu Naira, "Rara aja!" "Ehh eh eh-----"   Setelah memastikan Naira duduk dengan benar, Zia mengambil helm dari tangan Aidar kemudian memasangkannya di kepala Naira tanpa memperdulikan gerutuan kesal dari Naira.   "Heh kalau gue pulang duluan lo gimana?!" Pekik Naira ketika Aidar hendak menarik gas motornya, Aidar langsung menarik rem. "Eh iya, lo gimana Ya'? Si Adrian kan gak masuk hari ini?" "Zia udah bilang Ayah minta jemput kok tadi pagi." "Om Farel tau kalau hari jumat kita pulang jam 11?" Zia membuka mulutnya hendak menjawab, namun tak ada sepatah katapun yang keluar saat ia menyadari sesuatu. s**l. Ia lupa memberitahu ayahnya jam berapa ia pulang. Zia mengigit bibirnya, "Emm mungkin nanti Bunda yang ngasih tau Ayah," ucapnya tidak yakin. Naira turun dari motor Aidar membuat Aidar menoleh, "Tapi kan Bunda lo taunya kita pulang jam 2? Biasanya lo ikut ekstrakurikuler dulu, Kan?"   Zia semakin bungkam ketika mendengar penuturan dari Naira. "Ah, udah ngga papa, Zia tunggu aja Ayah jemput, Rara pulang sana, kasian Aidarnya juga mau Jumatan." "Lo mau sekalian gue anterin juga Ya'?" Naira melirik Aidar, "Pake apaan?" "Motorlah, lo yang nyetir, gue di tengah, Zia di belakang." Aidar cengar-cengir sambil menaik turunkan alisnya membuat Naira geram sedangkan Zia tertawa. "Itu mah maunya lo terong emang!" "Lahh gue kan ngasih solusi terbaik." "Terbaik mbahmu!" "Woiya Mbahnya gue emang yang terbaik, Mbah Elle sama Mbah Mich, pan kapan gue ajak lo ke Paris ketemu Mbah Gue, oke?"   Naira mendengus, semakin merasa jengah dengan tingkah Aidar. "Udah sana kalian pulang aja, Zia bisa nunggu disini, mungkin sekarang Ayah lagi di jalan." Aidar dan Naira kembali menatap Zia, "Yakin lo ngga papa kita tinggal?" "Ngga papa, Zia kan bukan anak SD." "Yaudah, yok buruan Ra, gue mau jumatan ini." Dengan ragu Naira kembali duduk di belakang Aidar, "Beneran ngga papa Ya'?" "Ngga papa Rara, ya ampun." Naira terkekeh melihat wajah kesal Zia, "Yaudah gue balik dulu, hati hati, ya?" Zia mengangguk tanpa melunturkan senyumannya. "Iyaa, kalian hati-hati ya? Dadaaa!"   Zia melambaikan tangannya pada Naira dan Aidar yang mulai menjauh. Setelah Aidar dan Naira menghilang dari penglihatannya, Zia menghembuskan nafasnya cemas, ini repotnya jika ia tidak memegang ponsel. Ponselnya masih dalam masa perbaikan sehingga ia tidak bisa menghubungi siapapun saat ini. "Zia." Zia menoleh dan seketika matanya berbinar melihat Bara yang berhenti tepat di depannya, meskipun wajah pemuda itu tertutup helm fullface nya, namun Zia masih ingat betul motor Bara. "Baraa!" ucapnya kegirangan, Zia berlarian kecil ke arah Bara. Terlihat Bara tertawa sambil melepas helmnya. "Kok belum pulang?" "Zia lupa bilang sama Ayah jam berapa Zia pulang." "Ngga ditelfon?" Zia mencebikkan bibirnya, "Handphone Zia kan masih dibetulin." "Yaudah kalau gitu gue anter pulang, Ya?" Zia menggigit bibirnya gugup, "Emm emangnya Bara engga takut telat jumatan?" Bara melirik jam tangannya, "Oh iya, nanti pas lewat masjid mampir dulu, lo keberatan ngga nungguin gue?" Zia tampak berfikir, kalau dia menolak, sama saja ia tidak tahu diri. Sudah untung Bara mau mengantarkannya pulang, masa untuk menunggu setengah jam Bara jumatan saja ia keberatan? Akhirnya Zia menggeleng. "Zia ngga papa kok." "Yaudah yuk naik." Kali ini Bara tidak menyerahkan helmnya pada Zia, karena helm yang ia bawa kali ini fullface dan sudah pasti kebesaran jika dipakai Zia. "Bara habis dari mana?" Tanya Zia basa basi. "Gue baru pulang ngampus." Zia mengangkat kedua alisnya, "Loh Bara udah kuliah ya?" Zia dapat merasakan bahu Bara bergetar tanda pemuda itu tertawa, "Iya." "Harusnya Zia manggil Bara Abang dong?" "Gausah! Bara aja ngga papa."   Zia mengangguk, menuruti perkataan Bara. Baru setengah perjalanan, Bara menghentikan motornya di pelataran Masjid yang tampak penuh dengan motor dan mobil yang parkir, Bara segera turun dan membiarkan Zia tetap duduk nyaman di atas motornya. "Tunggu ya?" Zia mengangguk-anggukkan kepalanya setuju, Bara merogoh jaketnya, mengeluarkan ponselnya lalu menyerahkan pada Zia. "Nih, gue punya game disitu, kalau lo bosen nungguin gue." Zia menerima ponsel Bara, Bara mengacak rambut Zia singkat lalu segera bergegas ke tempat wudhu pria.   Zia memperhatikan punggung Bara hingga menghilang dalam masjid lalu mengalihkan perhatiannya pada ponsel hitam di tangannya. Zia menekan tombol menu dan mulai memainkan game yang ada di sana. Baru saja Zia mulai terhanyut dengan game ularnya tiba-tiba bahunya ditepuk dari belakang. Zia terlonjak lalu mendesah kecewa ketika melihat tulisan Game Over dari layar ponsel itu, dengan malas ia menoleh ke belakang, "Kak Bella?!" "Hai, ngapain disini?" Tanya Bella yang ternyata menepuk pundak Zia tadi. "Nungguin Bara." "Bara siapa?" "Temen barunya Zia. Hehehe." Bella menyipitkan matanya menggoda, "Temen apa temen?" "Temen kokk!" kilah Zia melengkungkan bibirnya ke bawah. Bella tertawa melihat itu. "Terus Kak Bella ngapain di sini?" "Nungguin Abang kamu." "Oh Bang Zo jumatan di sini juga?" Bella mengangguk, kemudian kedua perempuan itu terlarut dalam obrolan sambil menunggu jumatan selesai. "Zia." "Zia!" Panggilan dua orang pria membuat Zia dan Bella menoleh, terlihat Kenzo dan Bara yang datang bersamaan dan sama-sama menyerukan nama Zia. Bara dan Kenzo sempat bertatapan sebelum akhirnya mereka berdua berjalan cepat ke arah Zia yang masih duduk di mmotor Bara dengan Bella yang berdiri di samping Zia. "Maaf ya lama." ucap Bara membuat Kenzo melirik tidak santai pada Bara.   Zia tersenyum manis, gadis itu menyodorkan ponselnya pada Bara, "Tadi ada telfon dari Mama, tapi Zia ngga berani angkat." "Oh tadinya angkat aja engga papa." "Bagus ya, gue telfon berkali-kali nomor lo ngga aktif taunya gak mau diganggu masih asik berduaan." Kenzo berkata sambil menarik Bella ke sampingnya. Bella menyikut perut Kenzo, memperingati Kenzo agar tidak berbicara se-judes itu pada Zia. "Ih Hp nya Z---" "Gausah alasan! Ayo pulang bareng gue!"   Kenzo memegang tangan Zia hendak menarik Zia dari atas motor namun Bara ikut menahan Zia dengan memegang bahu Zia. "Eh santai Zo, Zia balik sama gue kok." Kenzo melirik sinis pada Bara, "Halah gue gak percaya sama lo, gimana kalau lo cuma mau mainin adek gue?" Bara mengernyit, "Mainin apa sih, orang gue mau nganterin dia juga." "Kemarin juga lo bilang sama Shasa cuma mau anter pulang, nyatanya lo bawa ke Cafe!" Bara tersenyum mengejek, "Masalah lo apa? Lagian Shasa juga yang minta ke Cafe." "Pokoknya Zia pulang bareng gue!" Kenzo kembali menarik Zia namun Bara segera menepis tangannya. "Jangan maksa!"   Kenzo menggeram rendah, pemuda itu menatap tajam pada Zia, "Pulang sama gua!" Bentaknya tiba-tiba. "Abang malu diliatin bapak-bapak." gumam Zia lirih saat menatap sekelilingnya. "Yaudah ayok pulang!" Sentaknya kembali menarik Zia. Zia mulai kesal, "Gak mau! Abang kasar!" "Lo yang bikin gue jadi kasar! Ayo pulang!" Kenzo menarik Zia kasar tanpa aba-aba, membuat Zia hampir tersungkur karena ditarik dari atas motor besar Bara. Sedangkan Bara menahan motornya agar tidak ikut terguling dan menimpa tubuh kecil Zia. "Abang sakit!" rintih Zia saat pergelangan tangannya dicekal erat oleh Kenzo. "Kenzo kasian Zia!" Bella ikut mencengkram tangan Kenzo, mencoba melepaskan cekalan tangan Kenzo dari tangan Zia. Kenzo menepis tangan Bella, "Kamu gausah ikutan!" Setelah mengatakan itu Kenzo segera menyeret Zia ke mobilnya dengan Bella yang mengejar Kenzo, ia takut jika Kenzo benar-benar hilang kendali karena ia tidak pernah melihat Kenzo semarah itu. Bara menatap kepergian Kenzo dan Zia dengan cemas, tapi ia tidak bisa melakukan apapun, ia tidak punya hak melarang Kenzo membawa Zia. Karena setahu Bara, Kenzo adalah Kakak dari Zia.   BRAKK   Jantung Zia mencelos ketika Kenzo mendorongnya ke dalam mobil bagian belakang dan menutup pintunya kasar. Mata Zia berkaca-kaca dengan tangannya mengelus pergelangan tangannya yang memerah, belum sembuh luka di punggung tangannya kini Kenzo menambahkan memar di pergelangan tangan yang sama. Zia duduk sambil memandang keluar jendela, sama sekali tidak berani kabur dari mobil itu, tak lama Bella masuk dan duduk di samping Zia, gadis itu menarik Zia ke pelukannya, di situlah tangis Zia pecah. "Gausah cengeng!" Sentak Kenzo sambil mengeluarkan mobilnya dari parkiran. Zia masih terisak di pelukan Bella, Bella menatap tajam ke arah Kenzo. "Kamu kenapa sih? Gak usah kasar bisa gak? Zia adik kamu!" Kenzo tak menjawab, tapi Bella dapat mendengar jelas geraman Kenzo. Bella masih tetap memeluk Zia, menenangkan gadis itu. "Tangan Zia sakit," adunya pada Bella. Bella menarik pergelangan tangan Zia mengusapnya pelan, "Sampai di rumah dikompres air dingin ya?” Zia mengangguk lalu kembali memeluk Bella dengan sisa isakannya.   Tepat setelah Kenzo menghentikan mobilnya di depan pelataran rumah Zia, saat itu juga Zia langsung turun dan berlari menuju rumah tanpa mengatakan apapun pada Bella dan Kenzo. Begitu pintu terbuka Zia langsung menubruk dan memeluk tubuh Bundanya erat, "Pulang bukannya salam malah langsung peluk-peluk, kangen bunda ya?" Zia tidak menjawab, gadis itu hanya mengeratkan pelukannya hingga ia mendengar suara salam dari pintu depan, ia menoleh dan di sana ia melihat Kenzo dan Bella masuk membuntuti ayahnya yang masih memakai sarung lengkap dengan peci dan baju koko. Zia mencium tangan ayahnya, "Loh kok udah pulang aja? Bunda bilang Zia pulang jam 2?" "Pulang bareng abang." jawab Zia memaksakan senyumnya. "Tangan kamu kenapa?" Tanya Farel. Rena menarik tangan Zia, "Yaa Allah, kenapa lagi ini Zia?"   Zia menarik kembali tangannya, "Uhmm ini ngga sengaja kena pintu mobil, Bun." cicitnya pelan. Bella menatap Kenzo, pemuda itu hanya diam sambil memperhatikan tangan Zia yang sedang dielus Bundanya. "Kamu ini ya, yang ini kepentok meja, sekarang kena pintu mobil, besok besok mana lagi yang mau luka?" "Maaf Bun, Zia ceroboh." "Tante, sebenernya itu Kenzo ya---" "Abang kenzo nyuruh Zia cepetan masuk mobil, tapi Zia malah mainin pintu mobilnya abang, jadinya kena pintunya deh, hehehe." sela Zia memotong ucapan Kenzo.   Farel dan Rena mendesah kasar, "Lain kali kalau disuruh sama Abang nurut, jadi gini kan akhirnya, ayo Ayah bantu kompresin biar ngga bengkak." ucap Farel sambil menarik tangan Zia lembut menuju dapur. Kenzo menghembuskan nafasnya, ada apa dengan Zia itu? Kenapa harus berbohong seperti itu? Padahal ia sama sekali tidak masalah jika ia dimarahi Om Farel ataupun Tante Rena, karena itu memang salahnya. "Kenzo sama Bella mau makan siang di sini? Yuk?" "Ah, engga Tante, kita ada janji sama temen di Cafe, ke sini cuma mau antar Zia aja." "Oh yaudah kalau gitu, makasih ya." "Iya, kalau gitu kami pamit tante, Assalamualaikum." "Waalaikumsalam."   Kenzo dan Bella menyalimi Rena lalu mereka segera keluar dan kembali masuk ke mobil. Yang dikatakan Bella memang benar, mereka ada janji temu dengan teman-teman mereka untuk membahas tugas, termasuk Bara, teman satu fakultas mereka. "Aku gak nyangka ya kamu bisa sekasar itu sama Zia." Ucapan Bella memecah keheningan di dalam mobil. "Aku gak suka aja dia deket sama Bara." "Itu haknya dia Kenzo, bebas dong kalau Zia mau sama Bara, kenapa kamu harus semarah itu?" "Bara itu gak baik buat Zia!" Kenzo menjawab tanpa mengalihkan pandangannya pada jalanan di depannya. "Zo, kamu ngga bisa terlalu mengekang Zia, kamu bukan Kakak kandung Zia." Kenzo diam, namun Bella bisa melihat cengkraman Kenzo yang semakin mengerat pada stir mobil. "Atau jangan-jangan kamu suka sama Zia?" "Jangan ngaco kamu!" Ucapan ketus untuk pertama kalinya Kenzo lontarkan pada Bella membuat Bella terdiam. Mobil kembali hening, dan untuk yang pertama kalinya, mereka bertengkar dengan masalah Zia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD