Kenzo mengacak rambutnya gusar, ia membanting kertas-kertas di tangannya ke arah laptopnya lalu mengubah posisi tidurnya yang tadinya telungkup menjadi telentang. Ia menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih bersih. Menghembuskan nafas panjang lalu menoleh ke arah jam dinding. Jam sudah menunjukan pukul 20.35 dan dia belum juga selesai mengerjakan tugasnya. Itu berarti sudah empat jam setengah dia berkutat dengan tugasnya. Kenzo menghela nafas panjang, lalu memejamkan matanya.
TOK TOK TOK
Kenzo membuka matanya dengan kesal, baru saja ia ingin tidur sudah ada yang mengganggu saja. Ck, menyebalkan. Dengan langkah malas, Kenzo berjalan menuju pintu lalu membuka pintu kamarnya, matanya melebar melihat siapa yang datang dengan membawa sepiring salad buah dan segelas s**u di atas nampan itu.
BRAKK
Kenzo kembali menutup pintu kamarnya dengan kasar sama sekali tidak berniat menyuruh gadis di luar sana masuk. Tidak, gadis itu tidak boleh masuk ke kamarnya. Sampai kapanpun.
"Abaangg ihh Zia pegel pegangin nampan! Bunda Rahma bilang Abang belum makan dari sore."
"Abaaangg!!"
"Bangg Zoo!!"
“Yuhhuuu!!”
"Abangg ihhh,"
TOKK TOKK TOKK
"Abaaanngg,"
TOK TOK TOK
Kenzo mengerang kesal ia kembali bangkit dari kasur lalu membuka pintu kamarnya. Terlihat Zia yang masih setia memegang nampan dengan mata yang kini sudah berkaca-kaca. Kenzo mengambil dengan kasar nampan yang dipegang Zia mengabaikan s**u nya yang tumpah setengah lalu berbalik dan masuk begitu saja meninggalkan Zia yang masih berdiri di depan pintu kamarnya yang terbuka.
Zia melongokkan kepalanya ke dalam, matanya berputar mengamati setiap sudut kamar Kenzo yang berantakan. Ia melangkah masuk lalu duduk di ujung ranjang milik Kenzo. Dan dari sini ia merasa semakin puas mencium aroma parfum yang biasa Kenzo pakai. Segar.
Kenzo menoleh lalu menatap ke arah gadis kecil itu yang tengah duduk manis di ranjangnya, matanya terpejam sambil hidung kecilnya mengendus sekitar, Kenzo berdecak, pemuda itu melangkah lebar ke arah Zia lalu menarik kerah belakang baju Zia dan menariknya ke atas.
"Gak ada yang nyuruh lo masuk!" Omelnya sambil menggiring tubuh kecil Zia tanpa melepaskan kerah belakangnya membuat Zia terlihat seperti anak kucing yang hendak dibuang.
"Aaaaa Zia pengen dikamar abang bentar, baunya wangi." Rengek Zia.
Kenzo mendengus, "Kamar lo bau apa emangnya? Bau bangkai? Makanya, kalau makan bangkai tu cepet-cepet diabisin, jangan disisain." Zia mempoutkan bibirnya saat Kenzo melepaskan kerah belakangnya, tepat di depan kamar pemuda itu. "Abang pikir Zia bakteri apa makan bangkai segala."
"Iya."
BRAKKK
Kenzo kembali membanting pintunya tanpa memikirkan Zia yang ada di luar sana, biarlah Zia pergi sendiri, waktunya terlalu berharga jika dilewatkan hanya untuk mengurusi bocah kecil itu. Meskipun ia penasaran kenapa anak itu ada di rumahnya malam-malam begini. Tumben sekali.
"Abaangg Zia pengen masuk."
Kenzo yang tadinya hendak menyuapkan salad ke mulutnya langsung diurungkan setelah mendengar suara Zia. Ia pikir anak itu sudah pergi dari kamarnya. Kenzo menggidikan bahu tak acuh kemudian mulai menikmati salad yang dibawakan oleh Zia tadi. Setelah habis Kenzo segera meneguk s**u yang tinggal setengah karena tumpah tadi, Kenzo mengernyit.
"Kok rasanya beda?" Herannya sambil mencecap sisa sisa rasa di lidahnya.
"Abangg ihh buka pintunya, Zia mau minum susunya Zia," Sontak Kenzo menoleh ke arah pintu setelah mendengar suara Zia. Dengan segera ia membuka pintu lalu menunjukan gelas kosong digenggamannya.
"Ini maksud lo?"
"Ihhh kenapa susunya Zia diabisin! Zia juga kan mau."
Kenzo menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal, "Kalau s**u ini punya lo terus kenapa dikasihin ke Gue?" Ucapnya membela diri.
"Yang buat abang itu saladnya aja, susunya punya Zia. Bunda Rahma bilang Zia sekalian minum susunya di kamar abang, sambil nemenin abang makan salad, sekarang malah susunya abang abisin! Trus Zia minum apa?"
Perut Kenzo terasa tergelitik melihat Zia yang mengomel, pipi merahnya yang menggembung, alisnya yang berkerut, matanya yang menyipit, bibirnya yang mengerucut. Persis seperti ikan fugu. Menggemaskan!
Tanpa berkata apapun Kenzo menarik tangan Zia ke dapur sambil sebelah tangannya dengan masih menggenggam gelas kosong. Zia hanya mengikuti tanpa memperotes, lagipula ia suka saat besar Kenzo menggenggam tangannya, rasanya nyaman. Tanpa sadar ia tersenyum-senyum sumringah dan balas menggenggam tangan Kenzo.
"Ngapain lo mesem-mesem? Mikirin yang jorok pasti."
Zia menghentikan senyumannya lalu menatap Kenzo yang kini tengah meliriknya, ia baru sadar kalau kini mereka sudah ada di dapur. "Emangnya gak boleh?"
"Nggak!"
Zia kembali mencebik, selalu saja, Kenzo ini berhasil membuat moodnya down, tapi entah kenapa rasanya ia tidak ingin jauh-jauh dari Kenzo.
"Lepas ah! Mau nyebrang apa pegang-pegang segala." Kenzo menghempas tangan kecil Zia hingga membentur sudut meja membuat Zia mengaduh lalu mengusap punggung tangannya.
"Sakit Abang!"
Kenzo acuh kemudian tampak sibuk melakukan sesuatu, mengabaikan Zia yang memilih duduk di kursi meja makan sambil mengelus punggung tangannya yang nyeri. Memang cukup keras saat terbentur ujung meja tadi. Zia menahan air mata di pelupuknya saat melihat Kenzo berbalik ke arahnya sambil membawa segelas s**u.
"Nih minum." ucapnya sambil menaruh gelas susunya kasar hingga tumpah sedikit.
Tanpa merasa bersalah pemuda itu pergi menuju kamarnya, meninggalkan Zia yang masih terdiam memandangi dirinya. Air mata yang tadi ditahannya lolos. Gadis itu tersenyum manis lalu tatapannya beralih pada segelas s**u di hadapannya. Tangannya memang masih terasa sakit, sangat malah. Tapi rasa bahagianya karena Kenzo membuatkannya s**u lebih besar dari rasa sakit di tangannya.
Gadis itu mengusap air matanya dengan punggung tangannya membuat rasa perih menjalar, ia melirik ke arah tangannya lalu terkejut saat melihat sedikit demi sedikit ada darah yang merembes keluar. Dengan cepat diraihnya tissue lalu menempelkannya begitu saja, membiarkan darahnya merembes ke tissue, meninggalkan rasa perih yang mulai berdenyut. Huh, semoga saja tidak bengkak.
Zia meraih gelas s**u di hadapannya, meminumnya sedikit demi sedikit menikmati s**u buatan Kenzo. Meskipun rasanya berbeda dari s**u yang biasa ia minum, tapi rasanya s**u ini lebih enak dari s**u manapun.
"Ziaa ayo pulang nak."
Zia menoleh cepat ke arah dinding penyekat ruang dapur dengan ruang tengah, dengan segera ia meneguk susunya habis kemudian beranjak dari kursi dapur.
"Loh, tangan kamu kenapa?"
Zia meringis, padahal ia sudah mencoba menutupi tissuenya tadi, ternyata Bundanya tidak bisa dibohongi. "Gak sengaja kebentur meja tadi Bun." lirihnya.
Rena menarik tangan kiri Zia lalu melepaskan tissuenya, membuatnya dapat melihat dengan jelas punggung tangannya yang memerah dengan beberapa bercak darah.
"Diobatin dulu yuk sama Bunda?" Tawar Rahma yang juga melihat luka Zia.
Zia menyembunyikan tangannya di belakang tubuhnya, "Engga mau, nanti sakit." ucapnya. Rena menghela nafas, "Udah ngga papa Ma, nanti biar aku aja yang obatin di rumah,"
"Oh iya yaudah ngga papa, makasih loh ya martabaknya."
Rena tertawa, "Iya ngga papa kali santai, yaudah kita pulang dulu ya, salam buat Mas Reza sama Kenzo."
"Iya nanti aku sampaikan."
Rahma mengantar Rena dan Zia sampai di depan pintu keluar, Rena masuk ke dalam mobil dengan Zia lalu perlahan mobil itu melaju keluar dari gerbang.
***
"Pagi Yah, Bun."
"Pagi."
"Pagi sayang."
Kenzo berjalan dengan semringah ke arah meja makan di mana sudah ada ayah dan bundanya di sana. Menarik sebuah kursi, Kenzo duduk dengan tenang sambil menaruh tasnya di kursi sampingnya yang kosong.
"Ayah gak sengaja lihat tissue ada bercak darahnya tadi di tempat sampah, siapa yang luka, Bun?"
"Oh, itu tadi malem Zia tangannya luka, katanya kepentok ujung meja, hiperaktif memang anaknya."
"UHUKK.,"
Sontak Reza dan Rahma menoleh pada Kenzo yang sekarang wajahnya memerah karena tersedak, cepat-cepat Rahma menyodorkan segelas air pada putranya itu.
"Pelan pelan dong makanya." tegur Reza menggelengkan kepalanya melihat tingkah putra satu-satunya itu.
Kenzo menetralkan nafasnya yang memburu lalu menoleh ke arah Bundanya yang nampak tenang melanjutkan kegiatan makannya. "Zia luka kenapa Bun?"
"Kepentok meja katanya, kenapa?"
"Ah en-engga ngga papa."
Kenzo berpura-pura kembali makan dengan tenang, padahal dalam hatinya ia merasa was-was jika tangan Zia luka karena dirinya.
"Kenzo berangkat dulu Yah, Bun."
"Lho sarapannya engga dihabisin??"
"Udah kenyang bun, udah ya assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Reza dan Rahma bersamaan saat Kenzo dengan terburu-buru menyalimi mereka dan keluar dari rumah dengan berlari kecil. "Kenapa sih dia?"
Rahma menggelengkan kepalanya, "Udah telat kali."
Reza mengangguk lalu kembali fokus menghabiskan sarapannya.
***
Kenzo mengetuk-ngetuk jarinya dengan tidak sabaran di kursi kemudi, ia masih berada di pinggir jalan menunggu Bella melaksanakan ibadahnya. Berkali-ali Kenzo menatap jam tangannya hingga akhirnya ia melihat gadisnya muncul di antara kerumunan yang keluar dari gereja di sebrang sana. Senyuman Kenzo terbit namun kali ini senyumnya berbeda kala mengingat kembali bahwa Ia dan Bella memiliki keyakinan yang berbeda. Bahkan Bundanya sempat tidak merestui hubungannya dengan Bella, namun Kenzo tetap bersikukuh hingga akhirnya Rahma luluh dan mengizinkan juga.
Padahal Kenzo pernah berangan-angan menyebut nama Bella saat ijab qobul, memegang ubun-ubunnya seraya membaca doa seperti Nabi Muhammad SAW dulu saat menikahi istri-istrinya, menjadi imam sholat dengan Bella yang berada satu shaf di belakangnya, mencium kening Bella setelah sholat berjamaah dan masih banyak lagi yang ingin ia lakukan dengan gadis itu. Bahkan Kenzo tidak yakin jika Bella mau meninggalkan Tuhannya demi menikah dengannya, ia tahu betul bahwa di dalam keluarga besar Bella sama sekali tidak ada yang se-Iman dengannya, semuanya bahkan sejak kakek buyut Bella memiliki kakek, semuanya memegang teguh kepercayaan Nasrani.
"Sayang? Kenzo!"
"Eh hah iya apa?"
Kenzo terlonjak saat mendengar seruan Bella, entah sejak kapan gadis itu sudah duduk di sampingnya bahkan sudah memakai seatbeltnya. Bella mengerucutkan bibirnya, "Kamu ngelamunin apa sih sampe ngga sadar aku udah disini?"
"Engga ada, ehehehe, eh mampir ke rumah Zia dulu ya?"
"Hng? Ngapain?"
"Jemput dia, biasa disuruh bunda." Alibinya, padahal niat sebenarnya karena ia ingin melihat seberapa parah luka di tangan Zia karena dirinya tadi malam?
Bella hanya mengangguk-anggukan kepalanya mengerti, dua tahun sudah ia berpacaran dengan Kenzo, dan ia sudah cukup hafal tentang kedekatan Kenzo dan Zia. Zia yang ceria dan polos, gadis yang suka sekali menempel dengan Kenzo, dan Kenzo yang selalu mengerjai bahkan tak segan melakukan hal kejam supaya Zia tidak menempel padanya terus.
Awalnya Bella memang cemburu, namun lama kelamaan tahulah ia bahwa Kenzo tidak akan mungkin jatuh cinta pada Zia sedangkan pemuda itu selalu saja mencoba mengenyahkan Zia dari kehidupannya. s***s memang.
"Yang, ayo malah gantian kamu yang ngelamun."
Bella menampilkan cengirannya lalu ikut turun dari mobil setelah tahu mereka telah sampai di depan rumah Zia.
"Assalamualaikum Tante." salam Kenzo ketika melihat Rena yang tengah menyiram bunga di depan rumah.
"Waalaikumsalam, eh Kenzo tumben kesini pagi-pagi."
"Iya hehe, Zianya ada?"
"Ada tuh di kamarnya, samperin aja. Eh ini Bella ya?"
"Iya, selamat pagi Tante."
"Pagi cantik, yuk yuk masuk dulu."
Rena menggiring Bella untuk duduk di sofa, dan kedua perempuan berbeda generasi itu larut dalam obrolan membuat Kenzo tersenyum, ah seandainya Bundanya bisa setoleran Tante Rena.
Kenzo memilih naik ke lantai atas, menuju kamar Zia.
Pemuda itu mengetuk pintu kamar Zia namun tak ada jawaban, cukup lama dan akhirnya ia memilih membuka kamar itu.
Sepi, Kenzo pikir Zia tidak ada dikamar, namun suara kecipak air di dalam kamar mandi yang terbuka mengalihkan perhatiannya.
Pemuda itu masuk, tanpa menutup pintu kamar Zia, ia menghampiri pintu kamar mandi yang terbuka lebar. "Zia---"
"AAAAAAaaaaaaaaa!!!!"