Part 7
Hari ini usai pulang dari kantor, aku segera menuju mall di mana Doni bekerja sebagai juru parkir liar.
Sahabatku itu memberitahu jika aku sudah boleh ikut bergabung bersama mereka menjadi juru parkir liar setelah mendapat izin dari penguasa lahan parkir setempat yang mengizinkan aku untuk ikut bekerja bersama mereka.
Mendapatkan izin tersebut, maka sore ini, sepulang dari kantor, aku pun memutuskan untuk langsung gabung bekerja.
Awalnya aku masih kesulitan mengatur kendaraan yang parkir karena ramainya pengunjung mall.
Namun, berkat bimbingan dan bantuan dari Doni, akhirnya aku pun mulai bisa mengikuti ritme pekerjaan tersebut dan mulai bisa enjoy bekerja meski masih kepikiran sikap anak anak yang berani memprotes perbuatanku menikah lagi kemarin.
Sampai saat ini aku masih merasa marah pada anak anak dan Anita yang aku anggap tak patuh dan tak menghargaiku.
Karena sebenarnya aku tak biasa kerja menggunakan tenaga seperti ini, tak.lama jadi juru parkir, rasa lelah dan letih pun mulai kurasakan. Banyaknya kendaraan yang masuk dan harus ditata agar lahan parkir cukup dan memadai, membuat tenagaku tercurah habis.
Pukul sepuluh malam, akhirnya kami baru selesai bekerja dan pulang setelah mall tutup. Aku mendapat upah pertama sebesar seratus lima puluh ribu rupiah yang menjadi penghasilan pertama ku sebagai juru parkir liar di mall ini.
Jumlah yang cukup besar bagiku untuk beberapa jam bekerja yang seharusnya cukup untuk biaya hidup Mia dua atau tiga hari ke depan.
Dengan hati sumringah, aku pun memacu roda dua ku menuju kediaman istri mudaku itu. Pada Anita aku sudah bilang jika mulai malam ini aku aku akan tinggal bersama Mia kecuali dia bisa mengkondisikan anak anak supaya tak lagi bersikap kurang ajar terhadapku.
Dan Anita diam saja, tak membantah, seolah olah istri pertama ku itu tak merasa masalah kalau aku tak pulang lagi ke rumah.
Hmm ... lihat saja kalau begitu. Walau pun Mia menuntut uang nafkah yang lebih besar dari pada dia, tapi kalau aku bisa memberikannya dari hasil bekerja sampingan seperti yang barusan aku lakukan, tentu istri mudaku itu akan bersikap baik dan rumah tangga kami pun akan akur dan damai damai saja.
Itu sebabnya, aku tak kecil hati saat Anita tak menahan ku atau meminta ku pulang ke rumah karena harusnya malam ini adalah jatah malamku bersama istri tuaku itu.
Tok. Tok. Tok !
Aku mengetuk pintu rumah istri mudaku itu saat sampai di depan kediaman Mia. Kuketuk beberapa kali, tetapi entah kenapa Mia tak juga segera membukakan pintu. Apa dia sudah tidur? Batinku bertanya tanya.
Aku memang tak sempat memberi tahu dia, jika akan pulang ke rumah ini setelah pulang dari kantor dan langsung menuju mall untuk ikut bergabung sebagai juru parkir. Itu sebabnya Mia mungkin tak tahu dan tak siap menerima kepulanganku.
Aku pun kembali mengetuk pintu dengan keras. Syukurlah, kali ini tak berapa lama, pintu rumah pun terbuka dan Mia muncul di baliknya dengan rambut kusut, peluh bercucuran di wajah dan dan muka yang terlihat memerah.
Namun, aku mencoba berpikir positif. Mungkin istri mudaku ini terpaksa bangun dari lelapnya tidur sehingga wajahnya keringatan dan memerah seperti ini.
Saat melihat kedatanganku, Mia pun terlihat kaget seolah tak menyangka jika aku akan datang ke rumahnya karena malam ini memang bukan jatah giliran ku tidur di rumah ini, tetapi karena aku juga tak mungkin pulang ke rumah Anita lagi karena kadung bilang kalau aku akan tinggal bersama Mia, maka tanpa memperdulikan kekagetan dan keheranan istri mudaku itu, dengan santai aku pun langsung saja masuk ke dalam rumahnya sembari mendekap bahunya dengan mesra.
Aku menghela langkah Mia menuju kamar tidur kami karena ingin mandi di kamar mandi yang berada di dalam kamar. Tapi sampai di kamar, sontak aku kaget dan terkejut saat mendapati sprei tempat tidur yang acak-acakan seperti bila biasanya habis kami pergunakan untuk main perang perangan di atas ranjang.
Aku pun menggeleng gelengkan kepala dengan takjub. Ah, kacau sekali Mia tidur sehingga kamar bisa berantakan seperti ini, batinku sekali lagi.
Tanpa firasat apa apa, aku kemudian mengambil handuk dan langsung masuk ke kamar mandi karena badanku yang sudah gerah dan bau.
Tapi aku begitu terkejut saat sedang berada di kamar mandi, tiba tiba mendengar pintu depan seperti dibanting dengan keras oleh seseorang yang sedang kesal.
Aku pun buru buru keluar dan menatap penuh tanya ke arah Mia yang tengah berjalan dari arah pintu masuk. Melihatnya, aku pun buru buru buka mulut.
"Siapa, Mi?" tanyaku ingin tahu pada istri mudaku itu saat pandangan kami bertemu.
Mia menggelengkan kepalanya lalu membuka suaranya.
"Bukan siapa-siapa, Mas! Cuma kucing! Lari nabrak pintu!" jawabnya sedikit ketus meski tetap berusaha memamerkan senyumnya.
Mendengar jawabannya itu, aku pun merasa lega. Syukurlah cuma kucing, aku pikir siapa tadi.
"Oh, ya udah kalau gitu. Mas pikir apa. Oh ya, habis ini pijitin Mas ya. Badan Mas pegel banget habis lembur buat cari duit untuk kamu soalnya, Sayang," ucapku sembari tersenyum.
Mia pun balas tersenyum kembali. Tapi jawabannya selanjutnya membuatku sukses menelan ludah karena kecewa.
"Tapi aku juga capek, Mas habis lembur juga," jawabnya singkat.
Aku membulatkan mataku dengan heran.
"Lembur juga? Lembur ngapain? Emang salon ada lembur nya juga?" tanyaku heran.
Mia menganggukkan kepalanya.
"Ya iyalah, Mas! Emang kantor aja yang ada lembur! Mana aku juga habis beres beres rumah tadi. Jadi kecapean! Besok aja kalau mau dipijitin! Lagian kalau kamu capek, kenapa nggak pulang ke rumah Mbak Anita saja sih, Mas? Jadi nggak ganggu aku lagi yang udah tidur!" jawabnya tiba tiba dengan nada ketus.
Aku pun lagi lagi menelan ludah karena keki.
Kenapa sih Mia jadi marah marah begini? Apa aku benar benar sudah mengganggu tidurnya? Terus katanya habis beres beres rumah? Yang benar saja? Kalau iya, kenapa rumah malah seperti kapal pecah begini? Tempat tidur pun berantakan seperti habis dipakai enak enakan?
Namun, aku hanya mampu mengerenyitkan kening dengan raut tak mengerti saat Mia berlalu menuju kamar, dengan acuh tak acuh meninggalkanku.