Lembar 6: s**l, s**l, dan s**l

1126 Words
Lembar 6 Aku melihat wajah Bima masih merah karena amarah, kedua tangannya masih tetap mengepal keras walaupun lengannya sudah ditahan oleh kedua temannya. Matanya masih menatap tajam Alvin yang telah tersungkur di lantai dengan beberapa murid yang berdiri sama membekunya seperti aku. Tak berani membantu namun tak tega. Shit! Aku harus bagaimana?! Pikiranku seperti dipenuhi kabut tebal, aku tak bisa berpikir dan tak tahu aku harus berbuat apa sebagai hantu yang tak terlihat. Alvin dengan perlahan bangkit, lalu pergi dengan cepat walau langkahnya tertatih menembus murid-murid yang membentuk benteng setengah lingkaran. Aku tercekat, antara ingin mengikuti Alvin tapi di satu sisi aku tak mau meninggalkan Bima. Ingin rasanya aku memeluknya dan memberi tahunya bahwa aku masih di sini. Tapi aku tak bisa. Dengan cepat aku menembus beberapa murid, mengejar Alvin yang sudah cukup jauh dari pandangku. "Hey!" panggilku. Tak peduli jika ada hantu lain yang melirikku karena aku berteriak. "Hey! Aku tahu kamu bisa melihatku!" aku mengejarnya, terpikir saat ia sempat melirikku tajam sebelum ia melemparkan kata-kata yang menohok semua orang. Bahwa aku sudah mati. Hatiku terasa teriris saat mendengar kata-kata tersebut. "Alvin!" panggilku kembali saat sudah cukup dekat dengannya yang tak berhenti berjalan ke arah parkiran. "Terus kenapa?" ia tiba-tiba menoleh ke padaku, menatap aku dengan rasa tergganggu. Mataku melebar, terkejut dengan sikapnya yang tiba-tiba. Jadi dia bisa melihatku selama ini? "Terus kenapa? Hah?" ia mengulangi kembali pertanyaannya ke padaku. "Um- a..." aku terbata dengan pertanyaan tiba-tiba itu. "Kalau begitu, berhenti menggangguku." Katanya dengan ketus. Lalu pergi menuju motornya kemudian pergi meninggalkanku. "Tunggu! Alvin!" aku ingin mengejarnya kembali, namun aku memilih berhenti dan menatap saat ia hilang dari penglihatanku. Tanganku memegangi kepalaku yang tak kasat mata, sambil menerka ulang apa yang terjadi. Apa yang harus aku lakukan sekarang? *** Sial. Mungkin itu adalah satu kata yang menggambarkan hidupku sekarang ini. Eh, tapi aku kan sudah mati. Coret itu. s**l adalah satu kata yang menggambarkan kematianku ini. Sudah mati tapi terjebak di dua dunia ini, mengikuti seseorang tapi aku malah tertipu olehnya. Harus apa aku sekarang? Jika aku masih hidup, aku akan pergi ke Indomart lalu beli es krim Glico untuk menenangkan pikiran. Sayang, aku sudah mati. Hm, aku penasaran apa ada minimarket khusus hantu di dunia hantu ini. Mungkin tidak ada. Sinar matahari sangat terang namun aku tak bisa merasakan panasnya iblis itu. Tapi tetap tak mebuatku lega karena menyadarkanku bahwa aku adalah hantu. Berjalan di trotoar tanpa ada bayangan yang mengikutiku terkadang membuatku hampa. Rasanya hanya aku saja yang di dunia ini. Yah, beserta hantu-hantu lain aku rasa. Bicara tentang hantu lain, mereka terlihat jarang di luar sini. Hanya beberpa yang keluar pada siang hari ini. Aku tak tahu mengapa tapi merasa bersyukur ada matahari di luar sana. Aku berjalan menembus beberapa orang di depanku tanpa sadar, membuatku semakin merasa kesepian karena yang kutembus merupakan segerombolan anak SMP yang baru pulang. Ugh, rasanya aku ingin mati kedua kalinya karena rasa kesepian. Kukira aku setidaknya bisa berteman dengan salah satu hantu di kota ini tetapi mereka melirikku layaknya aku seekor ikan teri di tengah samudera. Pergaulan di dunia perhantuan lebih keras daripada pergaulan anak SMA, pikirku. Rasanya seperti mereka bisa mengirisku dengan tatapan tajam mereka. Memikirkan raut wajah mereka saya sudah membuatku merinding. Jalan aspal ini, membuat hatiku tertegun. Sekitar sini tak terlihat ada banyak pejalan kaki namun hanya ada beberapa penjual makanan yang melayani sisa-sisa anak SMP yang belum pulang. Salah satu SMP letaknya tak jauh dari posisiku berdiri. Di seberangku hanya ada gedung pengadilan yang entah mengapa selalu terlihat sepi. Tapi mataku hanya tertuju pada aspal di depanku. Tempat dimana aku meregang nyawa. Masih ada sisa kristal kaca yang bergelimang jika terkena sinar di sebagian aspal itu. Masih ada juga jejak seretan motorku yang membekas di sana. Sudah satu hari sejak kematianku ya? Wajah-wajah orang yang kutinggal saat menatap aspal itu terbesit di pikiran. Membuat dadaku terasa sakit walau seharusnya aku sudah mati rasa. Tapi aku berusaha menghilangkan perasaan itu. Untuk sekarang ini aku tak tahu harus berbuat apa. Aku ingin sekali keluar dari dunia di antara dua alam ini, namun aku juga tak rela meninggalkan orang-orang yang aku sayangi. Mungkin itu adalah sebab mengapa aku terjebak di antara dua alam ini? *** Sial lagi. Mengapa pada akhirnya aku kembai ke sini? Aku mengamati lorong apartemen dengan was-was. Di dalam hati mengutuk hantu yang berusaha mengejarku saat hampir petang tadi. Sampai aku berakhir di depan pintu apartemen milik Alvin. Aku semakin heran mengapa hantu-hantu berusaha mengejarku? Mungkin itu adalah cara mereka dalam membully hantu baru? Ugh, mungkin aku harus membentuk SAPSP. Serikat Anti Pembullyan Seluruh Perhantuan. Tiba-tiba rasa merinding ini kembali. Aku tahu rasa ini. Sontak aku melirik ujung koridor dimana hantu yang tadi mengejarku berdiri. Shit s**t s**t. Aku merasakan bulu kudukku berdiri dari atas sampai ke bawah. Refleks aku langsung menembus masuk ke apartemen Alvin. "Apa yang kamu lakuin di tempatku?" Nada Alvin memperingat. Ia dalam kaos hitam dengan celana basket biru sambil menatapku dari dapurnya. "Tolong aku Alvin, tadi ada hantu yang mengejarku. Dan dia sekarang di dekat sini." Ucapku memohon sambil ketakutan. "Apa?" ucap Alvin terkejut lalu bergegas menuju meja dekat TV Lednya dan mengambil sebuah amplop cokelat kemudian menempelkannya di pintu apartemennya dengan perekat. "Apa itu?" tanyaku bingung saat ia menempelkan amplop panjang itu ke pintu. "Ini jimat, supaya hantu jahat tidak bisa masuk." Terangnya. "Ohhh...." Aku ber-ohh panjang. Mungkin aku harus mengambil amplop itu satu sehingga hantu-hantu lain tidak bisa membully diriku. "Aku menyelamatkanmu hanya sekali ini. Terserah kamu mau ngelakuin apa, tapi besok kamu harus sudah pergi dari apartemenku." Kata Alvin. Lalu berjalan menuju dapur untuk melanjutkan kegiatan memasaknya. Aku terdiam beberapa saat sambil menatapnya memasak. "Kalau begitu, aku mau bertanya ke kamu. Mengapa kamu pura tidak melihatku selama ini?" tanyaku mengingat kejadian tadi di sekolah. Tunggu, jika ia berpura-pura tidak melihatku dari awal... jadi adegan saat aku tidur di kasurnya dia juga sudah menyadarinya? Shit, malu banget aku. Aku menutupi raut mukaku dengan tangan. Alvin menatap kelakuanku dengan bingung sebelum menjawab. "Lebih mudah jika mengabaikan hantu-hantu supaya mereka cepat pergi dariku. Aku tak ingin mendapatkan perhatian mereka karena hanya aku bisa melihat dan berkomunikasi dengan mereka." Katanya. "Terakhir aku berkomunikasi dengan hantu, aku hampir mati karenanya. Aku tak peduli kamu mau berbuat apa, tapi tolong lebih baik kamu menjauh dariku." Lanjutnya. Omegot, dia sangat dingin. Rasanya seperti hatiku disayat dengan pisau beku. "Tapi apa kamu tahu cara agar aku bisa keluar dari dunia ini? Tolong setidaknya bantu aku keluar dari dunia ini." Aku kembali memohon, tak tahu lagi aku harus meminta bantuan siapa. TRAK. Suara penggorengan yang ia hantamkan di kompor tiba-tiba membuatku terkejut. "Kalian hantu sama saja, hanya menginginkan pertolonganku. Hanya karena aku bisa melihat dan berkomunikasi dengan kalian. Bukankah aku sudah memberitahumu bahwa aku hampir mati saat terakhir kali aku menolong seorang hantu?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD