Kembali Ke Jakarta

1064 Words
“Mulai sekarang kau bisa memanggil ku Jacob” “Selena” “Dan ini Oscar asisten dan juga orang kepercayaan ku, semua yang berhubungan dengan ku dia yang akan mengurusnya, dan mulai sekarang gerak gerik mu pun akan di awasi Oscar” “Kau jangan sungkan dengan ku, jika ada hal yang tidak kau ketahui” ucap Oscar dengan lembut sangat berbeda dengan pria gila oh bukan Jacob! Dia itu seperti pria yang berhati dingin di muka bumi ini. Setelah aku sudah menandatangani kontrak yang sudah kami sepakati satu dengan yang lain. Aku pun hendak keluar dan bertemu dengan si kembar, aku yakin mereka pasti akan khawatir dengan diriku sambil melirik jam. “Astaga aku harus kembali ke kamar teman – teman ku, harini kami balik ke Jakarta pesawat pukul 16.00 dan sekarang sudah hampir pukul 14.00” “Kau tak bisa kembali bersama mereka!” “Loh kenapa tidak bisa! Aku akan ketinggalan pesawat ku” pria gila ini mulai berulah, dengan gampang dia melarang ku untuk bertemu sahabat – sahabat ku belum lagi tiket pesawat yang sudah aku pesan, di dalam hati ingin sekali menjambak rambutnya yang saat ini hanya mampu menahan diri. “Kau sudah terkenal dalam 1 malam, kau tidak akan selamat jika di buru wartawan yang akan mencari kebenaran tentang .... Kau tak perlu ku kasih tau harusnya sudah bisa berpikir!” kenapa dia malah menyalahkan ku, seakan aku yang meminta ciuman itu. Aku langsung tersadar akan ciuman yang dia saja enggan menyebutnya. “Kau yang mencium ku! Dan itu bukan ciuman tapi pemaksaan sepihak!” “terserah! Bagi ku itu bukan hal yang serius, tapi yang aku tidak mau terjadi adalah saat kau tidak mampu menjawab pertanyaan mereka dan berakhir mempermalukanku sebagai tunangan terbodoh” tandasnya tanpa ekspresi dan sangat dingin, tentu saja aku tidak bisa menerima ucapan nya yang menganggap ciuman itu bukan masalah, tentu saja itu masalah besar bagi ku. Dengan berani aku mulai melawan dan meluapkan amarah ku. “Enak saja, kau pikir aku perempuan yang banyak bisa kau cium seenak jidat mu!” “Bukannya kau juga memanfaatkan keadaan ini untuk mendapatkan uang ku ! Jadi, tidak usah mempermasalahkan dan jangan berharap aku akan meninta maaf, karena aku sudah menebusnya dengan membayar mu!” seketika tubuh seakan tak bisa di gerakkan, d**a ku terasak sesak bukan aku mengingkari ucapan pria itu tapi seakan diri ku baru saja ku jual hanya untuk uang yang tidak bisa ku pungkirin semua ku lakukan hanya untuk mama. Tanpa sanggup membalas ucapannya aku hanya berjalan lemah mengikuti perintahnya untuk bergegas keluar dari hotel dan menuju bandara. ***** Sesaat setelah meninggalkan hotel. Aku sudah berada di dalam jet pribadi milik Jacob yang begitu mewah dan mempesona mata ku setiap melihat seisinya. “Kita naik ini?” Aku bertanya pada Oscar yang duduk bersebelahan dengan ku. “Iya, Jacob tak akan mau satu pesawat dengan penumpang lain yang ia tak kenal dan dirinya memilih untuk memiliki Jet pribadi” “Kita enggak perlu beli tiket? Kalau mau ke mana – mana tinggal naik?” tanya ku yang memang sedikit membuat ku takjub, bagaimana tidak, mau liburan saja aku harus menabung atau nebeng dari si kembar, tidakku sangka ucapan ku membuat Oscar tertawa selama bertemu mereka baru ini kulihat ada gelak tawa. “Apa ? Kenapa ketawa?” aku merasa aneh karena Oscar tak berhenti tertawa, dan membuat ku jadi bingung, tiba- tiba suara berat yang sedari tadi memilih diam membisu akhirnya mengeluarkan suara khasnya yang sinis dan kejam. “Dia ketawa karena pertanyaan bodoh mu!” “cihhh, sudah diam saja di situ aku juga enggak nanya situ, kok sewot!” “Kau sudah bodoh bawel lagi! Lebih baik kau diam dan duduk sampai kita sampai” aku melirik sinis tanpa menghiraukan lagi pria gila itu, Oscar yang masih menahan tawa yang membuat diri ku jengkel, aku merasa tak ada yang salah dengan pertanyaan ku, jika pun salah kenapa dia sewot banget jawabnya seperti aku tak punya perasaan dan hati. Selama satu jam di dalam pesawat aku hanya mendengarkan lagu hingga tertidur, hingga tak sadar jika diriku sudah sampai di bandara Soekarno – Hatta. Dengan lembut Oscar membangunkan ku dan sekejap aku langsung tersentak bangun. “Maaf Selena aku membangunkan mu tapi kita sudah sampai” “hmmm.. Oh sudah sampai ya, huaaam ...” Sambil menguap dan mengucek mata ku aku mencari kesadaran ku untuk segera bangun dan beranjak keluar. Diriku Oscar dan Jacob sudah berjalan menuju pintu keluar bandara, seakan sadar keadaan di luar Jacob yang tanpa memberikan tanda atau aba – aba langsung menggenggam erat tangan ku yang langsung membuat ku terkejut dan menatap tajam pada dirinya. Suara hiruk pikuk di luar pintu keluar yang sudah di hadang penjaga dan beberapa polisi yang sudah diminta untuk mengawal perjalanan kami dari bandara menuju rumah Jacob. Benar saja prediksi Jacob mengenai pertanyaan – pertanyaan yang membuat ku takut dan bingung. “Jacob.. Jacob lihat ke mari! Apa benar wanita ini kekasih Anda?” “Mr Jacob .. Apa kau benar akan menikah dengan wanita ini? Jacob tolong berikan klarifikasi Anda?” “Jacob. Apa benar wanita ini menjebak Anda dan wanita satu malam milik Anda yang ketahuan Anda bawa ke bali?” “Jacob apa benar dirimu dengan wanita ini hanya skandal untuk mengalihkan permasalahan yang sedang kau hadapi?” seakan di keroyok dengan banyak pertanyaan tetapi pria gila ini hanya tenang dan santai menghadapi para wartawan yang mengejar dan mempersulit ruang gerak diriku dan dirinya menuju mobil yang sudah menunggu. Hingga ada satu momen di saat tangan ku seperti ada yang menarik keras dan tak di sangka seketika Jacob langsung menarik tangan yang sebelumnya mencengkeram tangan ku. “Jangan berani memegang tunangan ku!” langsung di pelintirnya tangan seseorang yang ternyata Dini sahabat ku. “Jacob, dia sahabat ku! Lepaskan” saat Dini mengerang kesakitan Jacob hanya menatap dingin dan melepaskan dengan kasar. “Sebaiknya jika kau ingin mendekati Selena jangan dengan cara seperti tadi atau tangan kecilmu bisa patah ku buat!” Dini yang kaget mendengarkan ucapan kejam dari Jacob hanya mampu menganggukkan sambil memegang tangan nya yang masih terasa sakit. Oscar yang sedari tadi menghalau para wartawan yang hendak mengambil momen diriku dan Jacob memberi kode untuk diriku cepat melangkah menuju mobil yang sudah di siapkan, sambil menatap sahabat ku dan memberikan isyarat bahwa aku akan menghubungi mereka. Aku pun langsung menuju masuk ke dalam mobil.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD