Ada banyak hal yang menggantung di benak Dasha saat tatapan mereka bertemu. Tentang bagaimana dia harus bersikap di hadapan pria yang membuatnya gelisah sejak pulang dari pantai. Tentang bagaimana dia harus menjelaskan pada Ellen bahwa pria yang dia ceritakan adalah Kent.
Dan yang paling membuatnya kesal pada diri sendiri, bagaimana semua pertahanan yang susah payah dia bangun sejak pagi runtuh begitu saja hanya karena kehadiran sosok itu, tiba-tiba berdiri di depan klinik.
“Bukankah …?” Ellen menyipitkan mata, menatap Kent dengan ragu, seperti sedang menarik paksa ingatannya. “Aku pernah melihatmu, ya?”
Kent menatap mereka satu per satu. Senyum singkat terbit di wajahnya sebelum pandangannya berhenti pada Ellen. “Kenneth Ruize,” katanya tenang. “Kau ingat, kan, Ellen?”
Mata Ellen melebar. Dia menepuk tangannya sendiri. “Oh! Benar! Ya, kau pria dari aplikasi kencan itu!”
Vincent mengerutkan dahi, jelas kebingungan, tapi memilih diam. Matanya bergantian mengamati Ellen dan Kent, mencoba menangkap konteksnya.
“Tapi tunggu,” Ellen menegakkan tubuhnya, ekspresinya berubah waspada. “Kenapa kau tiba-tiba ke sini?” Nada suaranya menegang. “Jangan-jangan kau datang untuk menagih permintaan maaf secara langsung?”
Kent tertawa kecil, lalu menggeleng pelan. Pandangannya beralih ke Dasha, yang berdiri kaku sambil mencengkeram tasnya.
“Aku ke sini bukan untuk itu,” ujarnya. “Aku ingin bicara dengan temanmu.”
Ellen langsung menoleh ke Dasha, kebingungan bercampur curiga. Refleks, dia menarik Dasha mendekat ke sisinya.
“Tidak,” katanya cepat. “Jangan salahkan Dasha. Itu murni kesalahanku. Kalau kau mau marah, marah saja padaku.”
Alis Kent terangkat, jelas terkejut oleh reaksi itu. “Bukan begitu maksudku,” katanya jujur. “Aku tak datang dengan niat seperti yang kau bayangkan.”
Sebelum situasi berubah makin ricuh, Dasha melepaskan genggaman Ellen dari lengannya. Napasnya masih berat, tapi suaranya terdengar tegas.
“Aku akan bicara dengan Kent.”
Ellen dan Vincent hanya bisa saling berpandangan ketika Dasha melangkah pergi bersama Kent. Tak satu pun dari mereka sempat berkata apa-apa.
Ellen menghela napas pelan. “Apa Dasha akan baik-baik saja?” gumamnya.
Tatapan Vincent masih tertahan pada punggung Dasha yang makin menjauh. Ada jeda sebelum dia akhirnya bersuara. “Siapa pria itu?”
Ellen menggigit ujung kukunya, alisnya berkerut saat menyusun jawaban. “Dia pria dari aplikasi kencan.”
Vincent menoleh cepat. “Aplikasi kencan?” Nada suaranya naik setingkat. “Sejak kapan Dasha memainkan hal seperti itu di ponselnya?” Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan tanpa sempat menyaring pikirannya sendiri. “Dia sedang mencari pasangan?”
Ellen meliriknya, membaca kegelisahan yang tak berusaha dia sembunyikan. “Ceritanya panjang."
Pandangan Vincent kembali ke arah mobil yang kini menjadi pusat perhatiannya, tempat Dasha berdiri berhadapan dengan Kent. Dan untuk kesekian kalinya, perasaan itu kembali menyusup tanpa izin—perasaan tertinggal.
Sementara itu, Kent berdiri di samping mobil, kedua tangannya dimasukkan ke saku jaket. Dasha berdiri berhadapan dengannya, jarak mereka cukup dekat untuk merasakan kehadiran satu sama lain, tapi cukup jauh untuk tetap menjaga batas.
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
Dasha menghela napas pelan, pandangannya beralih ke arah jalan di depan mereka. Lampu sore memantul di kaca mobil Kent, membuat bayangannya tampak samar.
“Jadi, kenapa kau datang kemari?” tanyanya. Nada suaranya terdengar tenang, meski jantungnya berdetak terlalu cepat untuk disebut santai.
Kent menangkap perubahan itu. Dingin yang tiba-tiba, jarak yang tak ada sebelumnya. Alisnya berkerut tipis. “Kau tak membaca pesanku?” tanyanya, lebih bingung daripada menuduh.
Dasha tersentak kecil. Pesan itu, yang sejak siang dia dorong ke sudut pikirannya, sengaja diabaikan sampai akhirnya benar-benar terlupakan.
“Ah … itu,” katanya pelan. “Klinik cukup sibuk hari ini. Aku tak menyadarinya.”
Kent menatapnya lebih lama dari sebelumnya. Kali ini tanpa senyum, tanpa kehangatan yang biasa menyertai sorot matanya. “Apa aku melakukan kesalahan?” ucapnya hati-hati.
Dasha tak segera menjawab. Dia menatap aspal di bawah kakinya, rahangnya mengeras sedikit. Dalam hati, dia menggerutu, bukan pada Kent sepenuhnya, tapi pada dirinya sendiri. Kesal karena ternyata hanya dia yang mondar-mandir dalam kecemasan, hanya dia yang menimbang kata, menahan harap, dan membiarkan pikirannya berlarian ke mana-mana tanpa kepastian.
“Aku menunggumu membaca pesan itu,” ujar Kent akhirnya. “Kupikir … itu penting.”
Kalimat itu menghantam lebih keras dari yang Dasha duga. Seketika muncul satu pikiran yang tak bisa dia singkirkan, apa Kent sedang memindahkan kesalahan padanya sekarang?
Bibir Dasha tertarik tipis, bukan senyum, lebih seperti reaksi refleks dari benaknya yang mendadak berputar liar. Semua kembali berkelebat dalam satu tarikan napas, pertemuan mereka yang tak disengaja, waktu singkat yang terasa begitu dekat, kata-kata di pantai, ciuman yang membuatnya yakin ada sesuatu yang nyata di antara mereka. Karena perasaan itulah dia melangkah lebih jauh, tanpa banyak berpikir.
Namun kini, di hadapannya, keyakinan itu mulai retak.
Mungkin dia salah menafsirkan segalanya. Mungkin kedekatan itu hanya terasa sepihak. Dan yang paling mengganggu, dia sadar betapa sedikitnya dia benar-benar mengenal Kent. Pikiran, sifat, batasan yang dimilikinya. Bukankah terlalu berisiko menggantungkan harapan pada seseorang yang bahkan belum sepenuhnya dia pahami?
Dasha mengangkat wajah, menatap Kent dengan konflik yang tak sempat dia sembunyikan. Ada ragu, ada kecewa, dan ada upaya keras untuk tetap berdiri tenang.
“Dasha,” panggil Kent pelan, refleks mengulurkan tangan untuk meraih lengannya.
Gerakan itu justru membuat Dasha tersentak. Dia mundur setengah langkah, menghindar tanpa sadar. Tangan Kent terhenti di udara. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Dasha benar-benar merasakan batas. Bukan karena jarak fisik, melainkan karena hatinya mulai memasang pertahanan.
Pergerakan kecil itu tak luput dari perhatian Vincent. Langkah kakinya terdengar mendekat, dan tanpa banyak basa-basi, dia berdiri di sisi Dasha. Tatapannya tertuju langsung pada tangan Kent yang masih terhenti di udara.
Dengan satu gerakan singkat, Vincent mendorong tangan Kent untuk menjauh dari Dasha.
“Maaf,” ucap Vincent datar. Nadanya terkendali, tapi dingin. “Aku tak bermaksud ikut campur. Tapi barusan kulihat Dasha terlihat tak nyaman saat kau hendak menyentuhnya.”
Kent terkejut. Alisnya mengernyit, tubuhnya sedikit menegang. Pandangannya beralih dari Vincent ke Dasha, mencoba membaca ekspresi wanita itu. Meski tersinggung dan bingung, dia menahan diri, menurunkan tangannya sepenuhnya.
Dasha terpaku sesaat. “Vincent,” ucapnya pelan, lebih terdengar seperti peringatan agar keadaan tak makin rumit.
Vincent tak mengalihkan pandangan dari Kent. “Aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja.”
Udara di sekitar mereka terasa menegang. Kent menarik napas dalam-dalam, rahangnya mengencang sebelum akhirnya dia mengangguk kecil. “Aku tak bermaksud melampaui batas,” katanya, kali ini lebih berhati-hati. “Aku hanya ingin bicara.”
Dasha menelan ludah. Dengan Vincent berdiri di sisinya dan Kent tepat di hadapannya, dia akhirnya menyadari bahwa situasi ini telah berubah arah. Dan apa pun yang terjadi setelah ini, takkan ada jalan kembali ke keadaan semula.