Kau Adalah Milikku [Bab 2]

1935 Words
Sebuah klakson mobil mengalihkan perhatian Akiko, gadis itu masih ada di jalan setelah membeli beberapa keperluan mendadak. Biasanya ada bus jam 9 malam tepat, tapi entah kenapa sampai saat ini belum ada tanda-tanda. Akiko pikir klakson mobil hitam itu hanya iseng saja, tapi beberapa saat kemudian seorang pria keluar dari mobil dan berjalan mendekatinya. "Mengabaikan aku, Nona Eloise?" Akiko mendongakkan kepalanya, menatap sosok pria yang kini berdiri tepat di depannya. "Who are you?" bingung Akiko sambil waspada karena tidak kenal dengan pria di hadapannya. Pria itu terkekeh pelan, kemudian berjalan mendekat seolah menantang rasa waspada Akiko. "Kau punya ingatan yang buruk, ya?" ujarnya sambil tersenyum menyeringai. "Kita sudah bertemu 2 kali, tapi kau malah melupakanku begitu saja. Aku Glen Xander Mckenzie, Pemilikmu yang baru. Mr. Eloise sudah memberikan semua hak atas dirimu kepadaku di atas kontrak, jadi kau akan tinggal bersamaku mulai sekarang.” Akiko terdiam sebentar berusaha mengingat siapakah Glen ini, hingga beberapa saat kemudian barulah Akiko ingat kalau Glen pasti orang yang akan membawanya pergi. Tentu Akiko sudah paham apa yang harus dia lakukan, semuanya sudah tertata baik seperti permintaan papanya. Namun, anjingnya yang bernama Kouma masih ada di apartemen dan tidak mungkin dia tinggalkan begitu saja. "Masuk," titah Glen sambil membuka pintu mobilnya. "Aku harus mengambil anjingku terlebih dahulu, perlengkapanku juga masih ada di apartemen," Akiko menolak perintah Glen. "Aku tidak suka penolakan jadi lebih baik kau ikuti saja apa yang aku minta, kau pikir aku mau main-main untuk menunggumu begini? Sudah beruntung aku menjemputmu secara baik-baik," tegas Glen. "Aku tau, aku akan ikut, tapi aku harus mengambil anjingku dulu," tolak Akiko lagi. "Kau keras kepala juga, ya?" geram Glen sambil melangkah mendekati Akiko yang memundurkan diri walaupun pria itu masih belum berhenti sampai punggung Akiko menabrak tembok pembatas. "Masukkan nomor teleponmu," pinta Glen sambil memberikan ponsel hitamnya sehingga Akiko langsung mengetik nomornya di sana. "Jangan pernah abaikan pesan atau telepon dariku.” Akiko mengangguk paham, lalu berniat untuk segera pergi. Namun, baja melangkah tiba-tiba Glen menarik tangannya erat kemudian mencium bibirnya singkat tanpa aba-aba dan berbisik. "Kau adalah milikku, ingatlah itu baik-baik." Glen segera masuk ke dalam mobil setelah membiarkan gadisnya pergi, ia mengusap bibirnya sendiri sambil bergumam bingung. “Kenapa aku menciumnya? Ah … Tidak heran, tatapan acuhnya membuatku lebih bersemangat.” “Datanglah ke alamat ini besok jam 8 malam, jangan sampai telat atau aku akan memberimu pelajaran,” pesan baru masuk dari nomor asing, Akiko tau pasti Glen yang mengirim pesan. Gadis itu menghela nafas gusar, entah bagaimana nasibnya nanti setelah menyaksikan sendiri sikap arogan dari Glen Xander Mckenzie. Saat ingin pergi, sebuah telepon masuk mengalihkan perhatiannya. “Halo, Akiko, bisa bertemu sekarang?” “Ada apa, Kak?” sahut Akiko. “Ada hal penting yang harus kita bicarakan. Di mana lokasimu sekarang? Akan aku jemput,” kata pria di sebelah telepon sana sehingga Akiko segera mengirimkan titik lokasinya. “Akiko, masuklah,” pria itu membukakan pintu, lalu membiarkan Akiko duduk terlebih dahulu. Pria itu bernama Vian, dokter berumur 25 tahun yang sudah menemani pengobatan Akiko selama beberapa bulan ini. “Aku sedang sibuk, Kak, bisa kita bicara di sini saja?” tanya Akiko. Dia khawatir Glen Xander masih ada di daerah itu untuk mengawasinya. “Tentu, kita bisa bicara di manapun kau mau. Maaf mengajakmu bertemu secara tiba-tiba, aku ingin membicarakan soal kelanjutan pengobatanmu. Ini, baca semua berkasnya baik-baik,” ujar Vian sambil memberikan berkas sehingga Akiko segera membacanya dengan seksama. “Apa ini akan sakit?” tanya Akiko sambil menunjukkan sebuah poin. “Iya, tapi rasa sakitnya akan berangsur hilang bersamaan dengan membaiknya kondisimu,” jelas Vian. “Oh iya, aku harus bertemu dengan orang tuamu untuk mendapatkan persetujuan karena umurmu masih di bawah 20 tahun. Tapi sepertinya kau tinggal sendirian, benarkah?” “Aku tidak punya keluarga, aku sendirian,” jawaban pasrah itu membuat Vian merasa sedih entah kenapa, wajah itu seolah menyembunyikan banyak masalah. Mungkin ada masalah keluarga yang tidak bisa Akiko ceritakan pada siapapun. “Tidak masalah, aku bisa menjadi wali untukmu kalau begitu,” kata Vian. “Benarkah?” tanya Akiko semangat. “Iya, aku sudah berusia 25 tahun. Walau umur kita tidak beda jauh, tapi menurut rumah sakit aku bisa saja menjadi wali untukmu,” sahut Vian. “Biar aku pikirkan lagi keputusan ini, aku akan menemui Kakak besok pagi di rumah sakit,” ucap Akiko. Akhirnya Vian hanya bisa pasrah karena semua keputusan pasti ada di tangan Akiko, sementara dia hanya jadi perantara. “Ayo, aku antarkan pulang,” ujar Vian. Sepanjang perjalanan keduanya hanya saling terdiam, Vian sangat khawatir tentang kesehatan Akiko yang sepertinya tidak peduli akan hal itu. Walaupun gadis itu hanya pasien biasa, tapi entah kenapa Vian sangat perhatian. Sesampainya di apartemen, Akiko segera mengemasi barang-barangnya karena besok pasti sudah tidak tinggal di apartemen ini. Glen Xander … Memikirkan namanya saja sudah membuat Akiko pusing. Pria itu sangat kasar dan arogan, jauh berbeda dengan Vian yang sifatnya sangat lembut. “Kouma, bisakah kita melewati semua ini bersama? Kau temanku satu-satunya, aku tidak ingin kita berpisah,” Akiko memeluk anjingnya erat. Mungkin jika dibandingkan dengan keluarganya, Kouma adalah sosok yang paling dekat dengannya selama 5 tahun ini. *** Pagi hari menyapa, Akiko berniat ingin menemui dokter di rumah sakit untuk membatalkan semua pengobatan. Setelah memikirkan nasibnya di tangan Glen Xander nantinya, Akiko tidak yakin bisa berbuat semaunya apalagi untuk berobat. Beruntung dia bertemu dengan Glen nanti jam 8 malam jadi pagi ini masih bisa mengurus beberapa hal. Namun, saat berada di sebuah toko untuk membeli sarapan tiba-tiba seorang gadis menarik wajahnya cepat. Saat itu juga tatapan keduanya terpaut, Akiko berdiri merasa tidak percaya dengan sosok yang dia lihat. “Kakak…,” lirih gadis berambut pendek itu dengan suara gemetaran. Sementara gadis di hadapannya langsung memeluk tanpa aba-aba dengan begitu erat. “Berapa lama … Berapa lama kau tidak mengubungi aku, hah?” suara itu terdengar sangat menyedihkan, tubuhnya yang gemetaran memeluk Akiko begitu erat. "Sorry," lirih Akiko. Keinara memeluk lumayan lama seolah melepaskan rasa rindu yang sudah tak terbendung, bahkan tanpa sadar Akiko juga membalas pelukan tersebut. Keinara mengusap lembut wajah gadis manis di depannya. Beruntung dia sering mencuri kesempatan untuk menyuruh pembantu rumah mengirim foto Akiko sehingga dia bisa mengenali adiknya setelah sekian lama tidak bertemu. “Kau sudah besar, ya?" air mata semakin menetes di pipi Keinara, tangannya yang gemetaran merapikan rambut pendek Akiko. Sementara gadis itu mengangkat pandangannya, lalu mengelap air mata Keinara. "Jangan menangis," pintanya. "Bagaimana bisa aku tidak menangis? Akhirnya aku bertemu denganmu, Adikku…," isaknya menatap Akiko dalam. Mendengar ucapan itu Akiko menghela nafas. "Seharusnya kita tidak perlu bertemu sampai kapan pun, Kak, papa akan marah jika tau hal ini." "Aku tau, aku tau dia pasti masih sama jahatnya seperti dulu. Kau pasti sangat tersiksa selama tinggal di rumah itu, iya, 'kan?" tanya Keinara. "Kenapa? Kenapa kau melakukannya? Kau bisa mati karena papa.” Keinara mengingat banyak hal yang Akiko lakukan demi melindunginya saat kecil. Walaupun saat ini dia tidak tahu bahwa adiknya itu akan menjadi tawanan demi melindunginya dan perusahaan. "Karena itu menyakitkan," jawab Akiko pelan. "Menyakitkan? Lalu kenapa tetap kau lakukan?" sahut Keinara. "Karena aku tidak mau Kakak juga merasakan rasa sakit yang sama, cukup aku saja yang merasakannya. Kakak adalah orang paling baik yang aku kenal sejak membuka mata. Aku tidak mau Papa memukulmu juga," penjelasan Akiko membuat air matanya semakin berderai. Keinara ingat persis bagaimana dulu tubuh kecil Akiko tersungkur di lantai yang dingin dengan penuh luka karena amarah papanya, padahal yang sudah merobek file penting itu adalah Keinara, tetapi dia terlalu takut untuk mengaku. Akhirnya, Akiko lah yang maju mengakui kesalahan kakaknya. Setelah kejadian itu, kakak beradik bermarga Eloise itu berpisah hingga 10 tahun lamanya. Keinara harus masuk ke asrama khusus karena dia adalah pewaris perusahaan keluarga walaupun dia sudah menolak karena tidak mau meninggalkan Adiknya. Namun, semua usaha penolakan Keinara justru hanya membuat sang papa semakin marah dan berkata bahwa bakat dan kepintaran Keinara akan terpengaruh buruk jika tinggal bersama Akiko. Sementara Akiko masih ada di tempat yang sama, di tempat yang penuh penderitaan. Dia bangun dari pingsan, lalu mengobati lukanya sendiri yang tidak kunjung sembuh karena terus bertambah hari demi hari. Hebatnya dia masih bertahan sampai saat ini walau sudah tidak punya semangat hidup. Pernahkah Akiko punya pikiran untuk bunuh diri? Tentu, tapi dia rasa bunuh diri bukanlah jalan kematiannya. Jadi Akiko hanya terus bertahan selama masih bisa bernafas. Sampai baru kali ini Keinara bertemu dengan adiknya kembali setelah sekian lama. Akhirnya, Keinara menghela nafas gusar. "Kau tau? sebenarnya kita bisa jadi lebih kuat jika mau mengikat satu sama lain, tapi … dulu aku sangat penakut, sedangkan kau selalu suka menyimpan segalanya sendiri. Padahal sebagai Kakak seharusnya aku berperan untuk menjagamu, bukan sebaliknya.” "Maaf … aku sudah menjadi Kakak yang buruk, aku bahkan tidak tahu makanan kesukaanmu sampai saat ini," lanjutnya. Melihat wajah sedih Keinara, Akiko menatap dalam. "Ice cream, aku suka ice cream," mendengar jawaban itu, Keinara tersenyum manis karena Akiko mau memberitahunya sedikit hal tentang dirinya. "Aku akan membelikan banyak ice cream untukmu," gurau Keinara membuat Akiko tersenyum tipis. Akhirnya, dia bisa melihat senyuman di wajah adiknya itu setelah sekian lama. Namun, di balik senyuman itu Akiko sedang menyembunyikan fakta bahwa dia sudah dijual oleh papanya demi perusahaan. Dia tidak ingin Kakaknya tau, dia ingin Kakaknya hidup dengan baik tanpa masalah apapun. Keinara memeluk erat tubuh kurus adiknya seolah menyalurkan kehangatan. Sejak kecil sampai sekarang, rasanya dia gagal melindungi Akiko. Tangisan kembali pecah apalagi saat melihat wajah menyedihkan Akiko yang menyimpan begitu banyak kesedihan. "Aku suka pelukan hangat Kakak," ucap Akiko pelan ketika mengingat dia hanya punya Keinara sebagai tempat ternyaman waktu kecil dulu, bahkan sampai sekarang Akiko ingin terus berada di pelukan itu. Namun, sayangnya dia tidak boleh membiarkan hal ini terjadi hanya demi keinginan sementara. “Aku akan terus memelukmu,” Keinara mencium puncak kepala Akiko, sementara gadis itu melepaskan pelukan untuk mengambil sesuatu di dalam tas yang ternyata sebuah gantungan kunci berbentuk kura-kura kecil. "Kura-kura?" bingung Keinara saat menerima barang tersebut. "Lucu, mirip denganmu." "Tidak, kura-kura tidak mirip denganku," sahut Akiko. "Kenapa?" tanya Keinara, tapi pertanyaan itu hanya dijawab dengan senyuman tipis. "Aku ingin pulang," kata Akiko. "Sekarang? Boleh aku ikut? Papa bilang kau sudah tinggal di apartemen sendiri," hardik Keinara semangat, tapi dia justru mendapat tolakan mentah-mentah dari Akiko. "Aku akan pindah, mungkin kita tidak akan pernah bertemu lagi," mata Keinara terbelalak kaget mendengar ucapan itu, wajahnya langsung berubah marah seolah tidak terima dengan keputusan yang Akiko buat. “Kita baru saja bertemu, Akiko, tidak inginkah kau menghabiskan waktu bersamaku?” Keinara berusaha meyakinkan adiknya untuk tidak pergi lagi, mereka bisa kabur bersama jika Akiko takut pada papanya. "Aku hanya ingin istirahat, aku lelah. Papa tidak akan pernah membiarkan kita tinggal bersama, Kak, jadi menyerahlah. Aku tidak ingin ada masalah apapun," Akiko melepaskan genggaman tangan Kakaknya. Akhirnya Keinara hanya bisa menghela nafas pasrah ketika mendengar jawaban itu, dia juga paham kalau Akiko pasti tidak mau lagi ikut campur urusan keluarga. Jika papanya sampai tau mereka bertemu secara diam-diam maka dia pasti akan marah besar. "Jaga dirimu baik-baik, okay? Aku yakin kita pasti bertemu lagi cepat atau lambat. Aku akan membuatmu aman jadi kita bisa hidup bersama nanti," Keinara mengusap rambut Akiko pelan, sedangkan gadis itu hanya mengangguk, lalu pergi begitu saja bersama anjingnya. Keinara yang bingung menatap gantungan kura-kura di tangannya sambil bertanya-tanya. "Kura-kura tidak mirip denganku," gumamnya mengikuti ucapan Akiko beberapa waktu lalu. Karena penasaran, ia segera mencari tahu makna dari kura-kura. Ingin tau saja apa maksud dari simbol kura-kura sampai Akiko bilang kura-kura tidak mirip dengannya. Namun, gadis berambut panjang itu langsung terdiam kaget membaca makna yang tertulis. "Simbol kura-kura adalah berumur panjang, artinya …," lirih Keinara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD