Menikmati waktu libur

1199 Words
Anima saat itu masih di jalan, saat Tama mengabarkan kalau Anggar Anggoro datang ke resort. Dia mengajaknya bertemu di sebuah cafe, dimana itu berada di pertengahan antara resort dan posisi Anima saat ini. Itu cukup adil, sehingga keduanya sama-sama menempuh jarak yang sama. Anggar melajukan mobilnya agak lebih cepat, dia sampai di cafe yang disebutkan Anima, hampir bersamaan dengan kedatangan Anima sendiri. Dia melihat sosok cantik nan anggun turun dari taksi, dengan penampilan yang lebih santai dari yang biasa dia lihat di berita. Karena hampir semua berita menayangkan sosok Anima yang anggun, tapi kali ini lebih terlihat fresh dan layaknya remaja. Sosok dingin dengan wajah datar menambah kesan menawan yang memikat. Saat dia tersenyum, itu mampu menyedot perhatian sekitarnya. Yang menarik perhatiannya, Anima tidak menggunakan high heels atau sepatu kets, tapi hanya mengenakan sandal rumahan. "Hai!" Anggar menghampiri Anima lebih dulu. "Kau pasti sudah susah payah meluangkan waktu, ayo kita minum kopi dan bersantai!" Anima dengan rambut yang diurai, celana pendek dan Hoodie oversize-nya. Sosoknya yang seperti ini jarang diperlihatkan pada publik. Karena sebenarnya hari-hari Anima hanya tentang bekerja. Hari bersantainya ini, karena ulah Kaelan Abisan. "Kau dari mana?" Anggar melihat kalau Anima tidak bekerja, pastilah ada sesuatu alasan. "Aku, mengunjungi kakekku!" Anima bersikap agak lebih baik, karena perkenalan pertamanya dengan Anggar tidak memiliki kesan buruk. "Oh, Tuan Lampauta pasti lebih baik saat melihat cucunya mengunjunginya!" Anggar sambil membukakan pintu untuk Anima. "Entahlah!" Anima menjawab pendek, mereka memilih kursi yang agak lebih privasi. Karena menghindari adanya kamera yang mungkin merekam pertemuan mereka. Keduanya tahu, mereka sedang menjadi fokus utama di berita minggu ini. Jika saja bisnis keluarga Lampauta bergerak di bidang selain pendidikan, mungkin itu akan meningkatkan nilai bisnis dari dua keluarga. Akan tetapi, keluarga Lampauta mengelola sekolah-sekolah milik mereka sendiri, yang tidak akan terpengaruh kecuali dari prestasi murid-muridnya. Dan patut diakui masyarakat, kalau Sekolah milik keluarga Lampauta cukup mumpuni di mata universitas terkenal dunia. Mempermudah jalan bagi anak-anak yang ingin melanjutkan studi di luar negeri. Meskipun tidak berpengaruh bagi keluarga Lampauta, tapi cukup berpengaruh bagi keluarga Anggoro. Nama besarnya semakin dikenal baik, karena kedekatan Anima dan Anggar. "Kau penyuka kopi?" tanya Anggar agak heran, biasanya wanita yang dia ajak kencan, akan melihat minuman manis atau bahkan jenis gelato untuk menemani obrolan mereka, tapi pilihan Anima jatuh pada secangkir kopi hitam kualitas terbaik. "Aku tidak begitu suka manis. Dan kopi adalah pilihan yang cukup baik!" Anima sebenarnya pencinta kopi, dia bisa menghabiskan satu atau dua cangkir kopi saat bekerja. "Kau memang menarik!" puji Anggar terkesima dengan caranya menatap, atau berbicara. "Jangan berlebihan. Jurus itu tidak mempan meluluhkan hatiku!" canda Anima, meskipun dengan nada datar. Anggar tertawa, ketampanannya meningkat saat dia merasa bahagia. Suasana hatinya terlihat dari ekspresi wajahnya yang rileks dan sering tersenyum. "Lalu, bagaimana caraku bisa meluluhkan hatimu?" tanya Anggar langsung menanggapi candaan Anima. "Kau harus berusaha!" jawab Anima angkuh, dan itu cukup menunjukkan jika itu adalah perkara sulit. Anima berbincang cukup lama, hingga mereka memutuskan untuk pulang. Anggar menawarkan dirinya mengantarkan Anima pulang. Tapi wanita itu menolak, karena akan repot jika Anggar nantinya mengetahui tempat tinggalnya. "Kapan aku bisa bertemu lagi denganmu?" Anggar sangat tertarik untuk mengenalnya lebih jauh. Meskipun respon yang diberikan Anima terhadapnya biasa saja, dia ingin mencoba. "Aku agak sibuk. Begitu juga dengan Anda, jadi mungkin itu akan sulit!" jawab Anima yang mulai menyuruh sopir taksinya melaju. Berdiri di tempatnya, Anggar cukup mengerti maksud dari jawaban Anima. Sedikit melukai perasaannya, dan dia jadi samakin penasaran saja. Dia jadi berpikir, mungkin saja Anima sudah memiliki seseorang dihatinya. Menilik penampilannya, dia termasuk laki-laki yang diinginkan para wanita, tapi sepertinya tidak dengan Anima. "Aku bukan orang yang akan mundur, tapi aku juga tidak akan memaksa seseorang!" gumamnya masih melihat ke arah dimana Anima baru saja pergi. Di dalam mobil, Anima memainkan ponselnya. Dia kemudian melihat ke arah langit. Itu sangat cerah, hingga berada diluar terlalu lama mungkin bisa merusak kulitnya. Anima menerima pesan diponselnya. Itu dari mamanya. Dan rahangnya hampir jatuh melihat gambar yang dikirimkan mamanya. Itu adalah fotonya bersama Anggar di cafe. Dia bahkan belum sampai di rumah. Dia jadi berpikir, mungkin seseorang sedang mengikutinya. Tapi dia tahu karakter mamanya. Meskipun dia ada putri tunggal dan keturunan satu-satunya keluarga Lampauta, mamanya adalah orang terpelajar yang tahu cara menghormati privasi orang. Lalu dari mana foto ini berasal? Kepalanya jadi pusing. Dia memilih untuk tidak langsung ke rumah, tapi berbelanja beberapa kebutuhan pokok. Biasanya dia berbelanja di minimarket dekat rumah, tapi sekarang dia memilih pergi ke mall yang tidak jauh dari posisinya saat ini, karena ada beberapa hal yang ingin dia lakukan. Sampai di pusat perbelanjaan tersebut, Anima meminta sopir taksi untuk menunggunya. Dia tidak mau kalau nanti harus memesan taksi lagi. Dia mengunjungi toko perhiasan di mall tersebut. Sebenarnya toko perhiasan itu memiliki bangunan toko sendiri yang lebih besar, dan yang Anima kunjungi itu adalah cabangnya. Anima sangat jarang membeli perhiasan. Tapi kali ini, dia datang khusus untuk mamanya. "Bisa tolong tunjukkan perhiasan yang unik, dan dibuat khusus dengan rancangan yang hanya dibuat satu dalam produksinya!" Anima melihat pegawai itu memanggil orang lain, alih-alih melayaninya. "Nona Anima, kebahagiaan bagi kami anda mau berkunjung ke sini. Karena barang yang anda minta tidak tersedia di sini. Bisakah kalau nanti kami mengirimkan seseorang untuk datang ke tempat anda secara pribadi?" ucap seorang pria paruh baya, kemungkinan dia yang bertanggung jawab atas toko ini. "Oke, bisa tolong bos-mu sendiri yang menghubungiku? Aku agak tidak nyaman memberitahukan informasi pribadi sembarang!" Anima tahu tidak mungkin untuk menemukan apa yang dia inginkan di toko ini, seharusnya dia datang ke toko pusatnya. Tapi ini bisa dilakukan juga. Agar pihak toko itu sendiri yang menghubunginya. "Sesuai keinginan anda. Anda hanya harus tinggalkan nomor telepon Anda. Bos kami akan menghubungi Anda secara pribadi!" Orang itu berbicara sangat sopan. Seakan satu kata saja dia melakukan kesalahan, maka hidupnya dalam bahaya. Menyetujui hal tersebut, Anima telah meninggalkan kartu namanya. Dia langsung pergi dari sana, untuk membeli kebutuhan pokok di lantai satu, tapi dia tertarik untuk membeli kebutuhan sandang yang berada di lantai dua. Dan saat ini, dia masih berada di lantai tiga. Perasaannya agak lebih baik dengan berbelanja. Dia membeli beberapa set pakaian untuknya. Dia benar-benar menikmati libur kerja dengan baik. Membeli baju dan sepatu, hanya itu saja. Hingga dia melihat kebagian pakaian pria. Pikirannya tertuju pada sosok Kaelan. Laki-laki yang menurutnya sangat sabar. Meskipun belum terlalu mengenalnya, dia cukup suka dengan karakternya. Seperti yang dia pikirkan sebelum memilihnya sebagai calon ayah dari anaknya. Dalam biodata lengkap yang diberikan Tama. Tidak menjelaskan apapun, selain riwayat pekerjaan dan pendidikannya. Tapi dia hanya menilai sekilas, orang yang berpendidikan tinggi, mau bekerja dibawah level yang seharusnya, dia jelas bukan orang yang angkuh. Terlebih, alasannya karena ibunya yang sedari sakit. Satu hal yang penting, dia tidak kaya. Itu memudahkan permasalahan di masa depan. "Mbak, tolong ambilkan itu satu, yang itu juga, tapi warnanya ambil navy saja. Tolong jaket juga dengan merk yang sama!" Anima tidak tahu apakah itu produk itu memang yang terbaik, karena ini pertama kalinya dia berbelanja pakaian pria. Dia hanya tahu, itu adalah merk terkenal. Menunggu agak lama, barang-barang yang dimintanya tiba. Anima puas, dengan jaket Hoodie warna putih tersebut. Jika laki-laki itu tidak mau menerima pemberiannya, maka dia tidak akan memberinya lagi lain waktu. Dia melakukan ini untuk pertama kalinya, dan tidak akan suka dengan penolakan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD