''Aromanya kembali membuatku lapar,'' ujar Sonya begitu mencium aroma pancake yang sedang dimasak oleh Gege saat ini. Ia sengaja datang pagi-pagi ke apartemen wanita itu bersama Tofu, kucing kesayangannya. Sonya berencana mendatangi salon kucing bersama Gege, sesuai janji mereka minggu lalu.
''Apa kau tahu, bahwa kau dan Nevan sekarang menjadi couple goals untuk para remaja?'' Gege mulai berjalan dengan kedua piring pada tangannya. Ia meletakkan salah satu piring tersebut di depan Sonya. Pancake dengan potongan buah yang segar serta sirup maple pada bagian atasnya.
Sonya bertopang dagu dengan wajah memelas. ''Pasti karena foto kami yang tersebar setelah Mas Nevan menjemputku di lokasi pembacaan naskah.''
''Mas Nevan?'' Gege terkejut dengan sebutan Sonya untuk memanggil kekasih palsu wanita itu. Ia kembali berjalan menuju pantry untuk mengambil teko berisi teh.
Sonya berdecak sebal. ''Aku pernah ditegur olehnya, karena hanya menyebut namanya. Terlebih lagi hanya ada Erlangga di sana.''
Gege tersenyum tipis, lalu mulai duduk di hadapan Sonya. ''Ternyata kau pacar yang penurut juga,'' ujarnya sambil menahan tawa.
Sonya semakin cemberut, tetapi mulai memotong pancake miliknya. Ia lalu menoleh sekilas memandang Tofu yang tampak tertidur di dalam tas khusus sebagai kandang berjalan kucing tersebut.
''Aku sudah tidak tahu lagi, bagaimana sandiwara ini akan berlanjut,'' balas Sonya memiliki rasa bersalah, karena membohongi publik tentang hubungannya dengan Nevan.
''Nikmati saja, siapatahu entar beneran jadian,'' kata Gege dengan santai.
Sonya mendengkus pelan. Namun ia kembali mengingat makam malamnya beberapa hari yang lalu bersama lelaki itu, saat Nevan menyatakan bahwa dirinya wanita yang diajaknya makan malam setelah enam tahun lamanya. Melalui hal tersebut, Sonya pun berpikir bahwa Nevan telah menjomblo selama itu.
Gege secara khusus menyetir menuju salon yang juga memiliki klinik hewan untuk memeriksakan binatang peliharaan. Kini di sebelahnya telah duduk Sonya sambil mengelus bulu lebat Tofu.
''Kau belum berencana mencarikan pasangan untuknya?''
''Siapa?'' tanya Sonya menoleh, lalu beralih menatap kucingnya. ''Maksudmu Tofu?''
''Ya, selama kau menjadi kekasih Nevan, maka waktumu bermain dengan Tofu akan berkurang.''
Suara kekehan langsung keluar dari bibir Sonya. ''Tidak akan. Aku masih akan meluangkan waktuku, meski minggu depan mulai aktif syuting film.''
''Kau bisa membawanya, lagipula ada Erlangga yang bisa menjaganya di sana ketika kau syuting scene,'' balas Gege memberi Sonya ide tentang bagaimana Tofu tidak kesepian.
Tofu bukanlah jenis kucing rewel dan sebagian besar harinya dihabiskan dengan tidur. Namun setiap kali Sonya mengerjakan proyek besar seperti film atau serial pendek, Tofu akan selalu dititipkan ke Farah atau Gege yang harus mengunjungi apartemen Sonya untuk memberi makan serta bermain sebentar dengan kucing tersebut.
''Erlangga? Jangan konyol, aku tidak akan mempercayakan Tofu dengan mudah ke sembarang orang.''
Gege hanya menggelengkan kepalanya melihat bagaimana kasih sayang Sonya kepada Tofu. Ia bahkan mengingat bahwa Sonya pernah bertengkar dengan kekasihnya yang seorang atlet sepak bola, karena lupa memberi makan Tofu. Gege hanya berharap suatu hari Sonya bisa menemukan lelaki yang dan mencintainya melebihi Tofu.
Setengah jam kemudian mereka sampai di salon dan klinik hewan tersebut, tetapi Gege tidak keluar dari mobil seperti Sonya.
''Aku lupa bahwa perlu membeli cat air, takut akan kehabisan lagi. Kau masuklah duluan,'' ujar Gege menurunkan kaca mobilnya.
Sonya menghela napas sejenak, tetapi kemudian memaklumi bagaimana struggle yang dirasakan Gege sebagai pelukis apabila bahan dan alatnya habis. ''Baiklah, lagipula pasti sudah antre di dalam.''
Akhirnya Sonya berjalan masuk sendirian dengan memakai topi. Ia sudah beberapa kali ke salon dan klinik hewan tersebut dan menurutnya tidak seheboh tempat sebelumnya jika bertemu seseorang yang mengenalinya.
Terlebih dahulu Sonya membawa Tofu ke salon untuk mencukur serta merapikan bulu kucing tersebut. Ia tidak perlu menunggu lama, karena datang cukup pagi dan belum banyak orang.
''Sepertinya Tofu sedikit stres, bulunya kelihatan rontok,'' ujar pegawai salon yang menangani Tofu yang bernama Reni.
Sonya langsung menunjukkan raut wajah sedihnya. ''Begitu ya Mbak Reni, apakah ini ... terkait dengan Tofu belum pernah bertemu lawan jenisnya?''
Reni tertawa pelan. ''Ya, sepertinya itu salah satunya. Harusnya Tofu juga ikut berbahagia seperti pemiliknya,'' ujarnya memberi tatapan penuh arti kepada Sonya.
Sonya mengerti bahwa Reni sedang membicarakan hubungannya dengan Nevan. Namun ia tidak berkata apapun sampai bulu dan buku Tofu selesai dibersihkan. Selanjutnya ia membawa kucing berwarna cokelat-orange itu menuju lantai atasnya dari tempatnya berada sekarang untuk memeriksakan kesehatan Tofu. Kali ini ia cukup mengantre, karena ternyata lebih banyak orang di klinik hewan tersebut daripada salon tadi.
Sonya senang mendengar bahwa dokter hewan mengatakan Tofu tidak memiliki masalah kesehatan apapun, tetapi kucing tampak tidak bersemangat dan mungkin kesepian. Lagi-lagi Sonya harus berurusan dengan bagaimana Tofu yang mungkin membutuhkan teman hidup.
''Beberapa kucing yang sudah mau berkembang biak biasanya dititipkan dis ini apabila pemiliknya sulit mendapat kucing dari pemilik lainnya,'' ujar sang dokter menjelaskan sekaligus memberikan sedikit solusi kepada Sonya tentang permasalahan Tofu.
Sonya hanya mengangguk singkat. Ia merasa belum rela menitipkan Tofu ke tempat yang cukup asing, apalagi Tofu cukup sulit dengan kucing lainnya, karea sebagian besar hidupnya dihabiskan di apartemen.
''Aku akan memikirkannya, jika tidak membaik akan kubawa ke sini saja,'' balas Sonya lalu pamit pergi. Ia yang tidak sengaja melihat toko yang menjual makanan serta pasir kucing, lalu berniat sekalian membelikannya untuk Tofu.
''Aw, aku mau pipis dulu,'' gumam Sonya memutuskan menaruh Tofu ke tempat penitipan kucing, di mana sebagian besar kucing akan bermain di sana tatkala menunggu giliran untuk masuk ke dalam klinik.
Hanya butuh sepuluh menit bagi Sonya untuk kembali ke tempat penitipan kucing. Wanita itu awalnya ingin langsung mengambil Tofu, tetapi dirinya melihat bagaimana kucing tersebut bermain dengan kucing lainnya dengan cukup akrab.
''Tofu ... ternyata kau benar-benar kesepian,'' ucap Sonya kini benar-benar menyadari situasi Tofu sekarang. Tidak ingin berlarut-larut memikirkannya, menjadikan Sonya segera mengendong Tofu kembali menuju ke toko yang menjual kebutuhan dasar bagi kucing.
Sonya tampak menemukan beberapa makanan yang berjenis baru dan berniat mencobakannya kepada Tofu. Namun karena terlalu fokus memilah-milih makanan dalam bentuk kemasan kotak dan kaleng menjadikan Tofu lepas dalam dekapan Sonya.
Sonya yang khawatir Tofu akan melompat ke sana-ke mari dan membuat kegaduhan, segera mengejar kucing tersebut. Ia akhirnya berhasil setelah melihat seseorang menangkap Tofu.
''Terima kasih banyak Pak. Kucing saya memang jarang keluar jadi agresif pas lepas dari pelukan saya,'' jelas Sonya melihat seorang pria paruh baya memakai topi pedora dan kacamata baca yang kini memeluk Tofu. Wajah ramah pria itu lalu membuatnya tersenyum spontan.
''Namanya siapa?'' tanya pria itu memandang Sonya secara saksama.
''Tofu Pak,'' jawab Sonya masih tersenyum. Namun wanita itu balik menatap pria itu dengan lekat dan merasa familier.
Semakin Sonya menatap, semakin pria itu tersenyum lebar. Seolah pria itu mampu membaca apa yang sedang dipikirkan oleh Sonya.
''Bapak Herlambang?'' panggil Sonya dengan suara kecil, namun masih bisa didengar wanita itu.
Pria itu tertawa pelan. ''Kamu pacarnya Nevan kan? Kebetulan sekali bisa bertemu di sini,'' ucap Herlambang mengulurkan tangannya.
Sonya dengan cepat menjabat tangan pria yang dikenalnya sebagai Menteri Perdagangan dan orang tua bagi Nevan dan Erlangga.
''Salam kenal Pak, saya Sonya ... pacarnya Nevan,'' tutur Sonya mengenalkan dirinya serta statusnya dengan anak menteri tersebut.
''Nevan.''
Hanya cukup satu kali panggilan, hingga memunculkan sosok Nevan di belakang Herlambang yang kini telah memandang terkejut ke arah Sonya.
Sonya masih tidak percaya bahwa dari semua tempat dan kemungkinannya, dirinya bisa bertemu dengan Nevan dan ayah pria itu di sebuah toko penjualan makanan kucing. Ia juga tidak pernah menyangka akan secepat ini mengunjungi kediaman Nevan.
Ya, saat ini Sonya berada satu mobil dengan Herlambang sebagai pejabat tinggi di Indonesia. Duduk bersebelahan dengan sang menteri dan Nevan yang duduk di depan bersebelahan dengan sopir. Mereka bertiga kini menuju rumah sekaligus kediaman Herlambang di salah satu komplek perumahan mewah.
Sonya secara khusus diajak Herlambang untuk makan siang bersama dan telah meminta seorang koki datang untuk memasak hidangan khas makanan Indonesia. Wnaita itu sangat paham bahwa tanpa menjadi pejabat, Herlambang juga bisa melakukan hal tersebut, melihat kapasitasnya sebagai pendiri sebuah perusahaan besra yang kini dikelola oleh Nevan.
Dalam perjalanan Sonya bahkan harus mengirim pesan kepada Gege dan menjelaskan secara singkat situasinya saat ini. Sonya benar-benar merasa tegang sesaat setelah mobil berhenti di sebuah area parkiran yang cukup luas.
''Ayo Sonya,'' ajak ramah Herlambang dan menjadi Sonya keluar dari mobil dengan masih mendekap Tofu.
Sonya belum pernah bertegur sapa dengan Nevan, karena keduanya masih dikejutkan dengan pertemuan tiba-tiba tersebut. Sonya perlahan hanya mengikuti langkah Herlambang untuk masuk ke dalam bangunan rumah, disusul oleh Nevan.
Namun mata Sonya terbelalak begitu melihat sebuah ruangan yang cukup besar yang dindingnya hanya berupa kaca transparan yang tebal. Ia bisa melihat sebuah tempat bermain kucing yang sangat lengkap serta seekor kucing berwarna putih yang memiliki jenis yang sama dengan Tofu.
''Namanya Milo, kucing jantan yang saya dan Nevan rawat,'' jelas Herlambang secara tidak langsung menjelaskan keberadaan pria itu bersama Nevan di toko tadi.
Sonya melongo untuk sesaat. ''Wah luas sekali,'' gumam Sonya masih terperangah tentang isi ruangan yang dapat dilihatnya dengan jelas. Mulai pepohonan buatan, hingga rumah-rumah kucing.
Herlambang tertawa. ''Ayo coba masukin Tofu, siapatahu biasa akrab dengan Milo,'' ajaknya membuat Sonya menuruti hal tersebut.
Grrrrr~ Nyangg~
Bukannya akrab, kini Tofu dan Milo sudah saling mengejar seolah akan bertengkar. Dengan berlari, Sonya berusaha mengejar kedua kucing tersebut.
''Tofu berhenti!'' teriak Sonya tanpa mengingat di mana dirinya sekarang
''Milo,'' seru lemah Herlambang melihat kucing yang selama ini dirawatnya kembali aktif, setelah telrihat malas beberapa hari terakhir.
Dug.
Tanpa sengaja Sonya malah terjatuh, karena terpeleset di lantai yang terbuat dari marmer tersebut. Melihat hal tersebut membuat Nevan akhirnya mendekati wanita itu dan berusaha membantunya.
''Nevan, bawa Sonya ke kamarmu. Aku akan memanggil Dr. Alvin,'' ujar Herlambang setelah melihat Sonya meringis kesakitan ketika akan berdiri.
''Eh, tidak perlu Pak,'' balas Sonya merasa enak.
''Sudah, kamu tidak usah khawatir. Cepat Van,'' tukas Herlambang menajdikan Nevan menghela napas isngkat sebelum menggendong Sonya menuju kamarnya.
Nevan meletakkan Sonya dia atas tempat tidurnya dan membuat wanita itu menjadi terkejut dalam posisi duduk. Sonya bisa melihat luasnya kamar Nevan serta bagaimana begitu rapi daripada kamarnya sendiri.
''Bagaimana kau bisa di sana?'' tanya Sonya langsung. Walau b****g dan pahanya terasa masih sakit, namun semua itu dikalahkan oleh rasa penasarannya.
''Membelikan makanan dan vitamin untuk Milo,'' sahut Nevan dengan wajah datar.
''Aku tidak menyangka kau dan ... ayahmu memelihara kucing,'' balas Sonya mengeluarkan isi pikirannya.
Nevan menarik napas dalam. ''Awalnya Milo dibawa oleh Erlangga, tetapi dia tidak bisa membawa Milo ke apartemennya, karena sempit. Jadi aku dan ayahku memutuskan merawat Milo.''
Jika pada awalnya Sonya menatap terkejut, kini wanita itu melihat Nevan begitu lucu apabila membayangkan lelaki itu menggendong Milo yang memiliki bulu seputih kapas.
''Sepertinya kita perlu lebih bekerja keras dengan sandiwara ini. Ayahku bahkan telah mengenalmu,'' ujar Nevan lalu menghela napas frustrasi.
Tepat pada saat itu Sonya kembali mengingat akan hubungan palsunya dengan Nevan. Ia bahkan sedikit heran , karena sempat melupakan hal tersebut.
''Bekerja keras seperti apa?'' tanya Sonya pelan.
''Ayahku mulai sekarang akan sering mengajakmu makan dan melihatmu memiliki kucing juga ... sepertinya akan sering mengajak kucingmu juga bermain ke sini.''
Mulut Sonya sedikit terbuka mendengar hal tersebut. Namun ketika dirinya mendengar pintu terbuka, tiba-tiba Nevan mengubah posisi dengan duduk di belakangnya, sehingga dapat deru napas lelaki itu menyentuh lehernya.
''Dokternya dalam perjalanan ke sini, tunggulah beberapa menit lagi dan Tofu dengan Milo sudah mulai bermain sekarang,'' ujar Herlambang muncul dari balik pintu, lalu kembali pergi.
Sonya lalu merasa dongkol bahwa keadaannya sekarang, disebabkan untuk menghentikan baku kejar antara Tofu dan Milo, sedangkan kedua kucing itu telah berdamai.
''Oh ya, minggu depan Ibuku akan datang. Kurasa bertemu dengan Ayahku hari ini tidak terlalu buruk.''
Pernyataan Nevan hanya bisa membuat Sonya terdiam dan melamun untuk beberapa saat. Tidak cukup bertemu satu saja, kini Sonya harus menghadapi ibu Nevan minggu depan.
***