Gege menggeleng pelan memandang Sonya yang sedang memakan sereal dengan s**u sebagai sarapan dengan sedikit bermain-main, seperti mengambil sereal di kotaknya lalu melemparnya ke atas dengan mulut terbuka. Berharap sereal itu akan mendarat masuk sempurna ke mulut Sonya. Semalam Gege kedatangan wanita itu yang mengajaknya nonton film bersama, lalu pada akhirnya menginap.
Bersama dengan Gege, Sonya benar-benar keluar dari citra dirinya sebagai artis. Wanita itu melakukan tindakan konyol seperti tadi. Aku akan menggendong boneka beruang Gege di punggungnya sambil berkeliling di dalam studio milik Gege untuk melihat hasil karya sahabatnya itu.
''Tofu akan baik-baik saja?'' tanya Gege mengingatkan Sonya akan kucing peliharaan wanita itu.
Sonya mengangguk pelan. ''Aku telah mengirim pesan kepada Mbak Farah untuk melihat Tofu,'' balas Sonya, lalu mengunyah kembali serealnya. Menciptakan suara kretak setiap giginya memotong dan menghancurkan butiran sereal.
''Huh, aku mulai merindukan Tofu,'' ujar Gege mengingat kucing berjenis scottish fold dengan wajah bulat dan telinga terlipat tersebut. Ia sebenarnya memiliki keinginan untuk memelihara kucing juga, namun mengingat profesinya sebagai pelukis, maka cat serta peralatan lukis lainnya bisa kacau balau, apabila terdapat kucing yang bermain di apartemennya.
''Kau bisa menemaniku minggu depan, aku akan mencukur bulu Tofu yang mulai lebat dan tidak beraturan,'' ujar Sonya yang selalu memperhatikan Tofu layaknya anak yang diasuhnya.
Gege tersenyum senang. ''Lalu apa rencanamu hari ini? Kau tidak punya jadwal syuting, pemotretan dan acara bukan?''
Sonya mengangguk singkat. Ia telah memastikan hal tersebut ketika menghubungi manajernya tadi. ''Aku memiliki janji dengan Nevan.''
Alis Gege terangkat sejenak. ''Janji apa? Kau dan dia terdengar sudah benar-benar berkencan, pertemuan rutin dan ... oh, artikel yang dirilis kemarin. Potret di mana Nevan memberimu air minum dan kau tersenyum lebar seolah begitu bahagia menerima air tersebut,'' jelasnya mengingat artikel yang dibacanya lewat internet.
''Tapi bukankah Nevan benar-benar tampan?''
''Kau serius dengan ucapanmu?'' tanya Gege dengan tatapan terkejut.
Sonya tertawa pelan. ''Ayolah kita bicara tentang fisik seorang pria, tidak peduli dia siapa,'' jawabnya mengingatkan Gege. Mereka berdua senang membahas tentang seseorang dan sesuatu yang secara umumnya dapat diberikan pendapat.
''Well, Erlangga mungkin berwajah manis dan idaman perempuan usia remaja, tapi bicara Nevan, jelas wajahnya tampan seperti pria dewasa,'' balas Gege, lalu mulai menghabiskan serealnya.
Sonya tersenyum tipis bahwa pikirannya sebagai wanita selama tidaklah berlebihan jika beranggapan bahwa Nevan adalah pria yang tampan. Setelah pulang dari apartemen Gege, ia segera bersiap di apartemennya untuk selanjutnya menuju apartemen Erlangga.
Sonya dan Nevan telah sepakat untuk menggelar rapat kecil mereka di apartemen Erlangga setelah melalui beberapa pertimbangan. Pertama, tidak mungkin melakukannya di rumah Nevan yang tinggal bersama ayahnya yang seorang menteri. Kedua, kafe atau restoran berpotensi adanya wartawan, paparazi, atau masyarakat yang mendengar percakapan mereka dan ketiga, tetangga apartemen Sonya kebanyakan ibu-ibu sosialita yang kerap bergosip. Pasangan bersandiwara itu menganggap bahwa tempat kejadian perkara selalu menjadi tempat yang pas untuk didatangi oleh pelaku kembali.
''Apa ini tidak berlebihan?'' komentar Erlangga begitu melihat penampilan Sonya.
Wanita itu memakai blazer yang dipadupadankan dengan celana pendek dan sebuah topi baret, lengkap dengan sepatu boots yang hampir mencapai lutut untuk menutupi kaki jenjang milik Sonya.
''Kau terlihat cukup santai,'' balas Sonya melihat Erlangga hanya memakai kaus oblong putih dengan celana pendek abu-abu. Sedangkan matanya telah menangkap sosok Nevan yang mengenakan kemeja hitam yang dua kancing atasnya telah dibuka, lengan kemeja ditarik ke atas hingga siku dan celana panjang hitam.
Sonya tidak menampik bahwa penampilan Nevan yang rambutnya berantakan dengan pakaian seperti itu malah membuatnya berpikir bahwa laki-laki itu terlihat seksi.
''Kau hanya datang untuk berdiri mematung di sini?''
Sindiran halus Nevan yang melihat Sonya malah melamun, membuat wanita itu mendengus pelan, lalu duduk di sofa kecil sebelahnya.
Erlangga kemudian bergabung, dengan duduk di sebelah Nevan.
''Jadi apa yang akan menjadi pembahasan kita kali ini?'' tanya Sonya melipat kakinya.
''Awal pertemuan kita?'' usul Nevan secara cepat.
''Katakan saja, kita berkenalan melalui Erlangga,'' balas Sonya santai.
Erlangga mengangguk pelan. ''Benar, lagipula kita pernah sekali menjalani syuting iklan pada produk yang sama.''
Alis Sonya terangkat. ''Benarkah?''
''Produk minuman!'' timpal Erlangga mengingatkan. Nada suaranya seolah tidak terima bahwa hanya dirinya yang mengingat syuting iklan tersebut.
Sonya tertawa pelan. ''Oh ya ya, sekarang aku ingat. Lalu selanjutnya ... kapan kita berdua jatuh cinta?'' ujarnya lalu menatap lekat Nevan. Namun sebelum ada yang bersuara, ia mengangkat tangannya menahan. ''Lebih baik kau yang menjadi pihak yang jatuh cinta pertama kali.''
Telapak tangan Sonya terbuka dan mengarah kepada Nevan. ''Kenapa harus aku?'' tanya Nevan bingung.
''Aku seorang artis dan wanita. Bukankah kesan seperti itu akan membuat Ibumu berpikir bahwa ... anak laki-lakinya tergila-gila dengan seorang wanita dna tidak tega memaksakan sebuah perjodohan,'' ujar Sonya pelan dengan suara yang didramatisir berlebihan.
Nevan mendengus pelan. ''Tergila-gila?''
Sonya mengangguk secara cepat. ''Jika aku yang mengatakan duluan jatuh cinta kepadamu, maka Ibumu berpikir bahwa aku mengejarmu dan ... kau mungkin hanya kasian dengan menerima cintaku,'' balasnya menunjuk dirinya sendiri dengan raut wajah penuh kesedihan.
Erlangga tertawa pelan. ''Kak Nevan meski kedengarannya menjatuhkan harga diri, tetapi di hadapan Ibu, ini akan berhasil,'' selanya membuat Sonya menganggukkan kepala membenarkan.
Nevan berpikir sejenak. ''Baiklah. Lalu sampai kapan hubungan sandiwara ini akan berlangsung?''
Kali ini Sonya yang berpikir keras. ''Tiga bulan terlalu singkat. Aku bisa dicap sebagai playgirl atau wanita membosankan. Erlang menurutmu berapa lama bagusnya?''
Erlangga cukup terkejut mendengar Sonya menyerukan nama panggilannya. ''Enam bulan? Kak Nevan, bukankah lebih baik menghindari pemberitaan sebelum pemilihan umum?''
Erlangga menyorot tentang pemilihan umum yang akan diadakan empat bulan lagi, yang mana ayah mereka sebagai anggota kabinet akan sering muncul sebagai topik pembicaraan politik, termasuk keluarganya.
''Baiklah. Enam bulan bagaimana?'' usul Nevan menjadikan Sonya mengangguk pelan.
''Itu tidak masalah. Enam bulan aku hanya perlu menyibukkan diri untuk menahan gejolak dalam dadaku jika bertemu pria luar biasa di luar sana,'' ujar Sonya sambil memejamkan mata dengan tarikan napas panjang.
Nevan hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Sonya, sedangkan Erlangga terkekeh kecil.
''Kalau soal Kak Nevan, kau tidak perlu khawatir, akan kupastikan dia tidak akan terlibat hubungan dengan wanita lain,'' jelas Erlangga tawa pelan.
''Aku tahu kenapa.''
Pernyataan Sonya membuat baik Nevan maupun Erlangga menoleh penasaran ke arah wanita itu. Seolah apa yang mereka pikirkan terbaca oleh wanita itu.
''Terlihat jelas bukan, kakakmu ini seorang workholic?'' tebak Sonya bisa membayangkan gila kerjanya seorang Nevan Gentala Mahesa.
Nevan mendengus pelan. ''Aku juga suka bersantai Sonya.''
''Ups, sorry Nevan,'' timpal Sonya menutup bibir dengan sebelah telapak tangannya.
''Aku lebih tua empat tahun darimu Sonya.''
Mata Sonya menyalak sebentar. ''Maaf Mas Nevan.''
Kali ini Erlangga yang membulatkan matanya melihat raut wajah Sonya yang seolah tunduk akan ucapan Nevan barusan.
''Baiklah. Soal kebiasaan dan hobi, lebih baik kau kirim melalui pesan supaya kita bisa saling menghafalkannya,'' lanjut Nevan menjelaskan.
''Apakah Ibumu sedetail itu?'' tanya Sonya merasa cemas akan ketahuan.
''Jika kau bisa bersandiwara dengan baik, seolah sedang jatuh cinta denganku, maka kurasa bisa meyakinkan Ibuku,'' jawab Nevan terdengar santai.
''Memangnya Mas Nevan bisa melakukannya?''
''Kak Nevan ... sudah menyatakan perasaan cintanya kepadamu di hadapan Ibuku,'' jawab Erlangga kali ini dan itu membuat Sonya begitu terkejut.
''Kurasa Mas Nevan lebih ahli bersandiwara,'' ujar Sonya antara memuji kemampuan berdusta Nevan atau merasa bersalah kepada ibu pria itu.
''Sonya, bukankah besok kita akan melakukan pembacaan naskah untuk proyek film?'' tanya Erlangga teringat akan jadwal pekerjaannya besok.
Sonya menyeringai pelan. ''Kau pasti senang bahwa Kania menjadi lawan mainmu.'' Ia merujuk kepada artis pendatang baru Kania yang menjadi idola kaum muda-mudi saat ini dan menjadi kompetitornya dalam nominasi sebuah penghargaan.
''Tapi di naskah adegan kita juga cukup banyak,'' balas Erlangga yang merasa tidak terlalu tertarik akan sosok Kania.
Nevan bangkit berdiri. ''Jika kalian mau membahas tentang pekerjaan, maka aku bisa pulang sekarang.''
''Kak Nevan, bukankah lebih baik bahwa besok kau datang menjemput Sonya? Kurasa Ayah bisa saja menonton pemberitaan sekilas dan pasti dia akan membicarakannya dengan Ibu,'' ujar Erlangga mengungkapkan taktik lain.
Nevan yang menatap Sonya, hanya membuat bahu wanita itu mengendik samar.
''Aku tidak masalah, itu malah membuat citra diriku baik. Sonya yang begitu dicintai,'' balas Sonya sambil tersenyum semringah. Ia bahkan telah melafalkan judul artikel pada akhir kalimatnya.
Nevan menghela napas panjang, merasa hal tersebut terlalu merepotkan baginya yang memiliki banyak pekerjaan. ''Baiklah. Aku mengerti.''
Sonya tersenyum senang. ''Oke, jadi besok Mas Nevan bisa memegang tanganku sambil terus senyuman--''
''Sonya ... aku tahu caranya berkencan, kau tidak perlu menjelaskannya sedetail itu,'' sela Nevan, kemudian mulai melangkah melewati Erlangga. ''Aku pergi dulu.''
Wajah Sonya menjadi cemberut. ''Siapa bilang besok kita akan berkencan? Dasar laki-laki menyebalkan dan dingin.''
''Besok kita selesai pukul delapan malam. Kau bisa sekalian makan malam dan ... berkencan dengan Kak Nevan,'' timpal Erlangga pelan, lalu tertawa pelan.
Sonya bertambah kesal. Ia lalu meraih bantal sofa lalu melemparkannya kepada Erlangga. ''Ini semua karena ide gilamu!''
Erlangga terkekeh melihat wajah cemberut Sonya dan suara pintu tertutup apartemen baru tertutup. Menjadikan Sonya terkesiap, karena Nevan mungkin mendengar ucapannya yang mengatakan bahwa lelaki itu menyebalkan dan dingin.
Sedangkan Erlangga menatap tegang rak yang tertutupi oleh buku-buku yang menghalangi pandangan pintu dari tempatnya duduk, begitu pula Sonya.
***