Andri duduk di hadapan Ivan yang tadi menyuruhnya datang. Dia waspada saat melihat Ivan menatapnya datar. Dia mengira Luan telah menghubungi Papanya perihal penarikan sahamnya di perusahaan Himawan. Dia sudah siap menerima kemurkaan Ivan atas keputusan yang dibuat dan konsekuensinya.
“Ada apa Papa memanggilku?” Meski pertanyaan yang dilontarkan Andri sangat hati-hati, tetapi nada bicaranya tetap tenang.
“Karena kamu telah menjadi anak pemberontak, sebagai orang tuamu, kami akan memberimu hukuman,” jawab Ivan langsung.
Andri mengerutkan kening. “Ini pasti salah satu rencana orang tuaku bersama Ruhan agar aku bisa berada di bawah kendali mereka, mengingat pertemuan ketiganya tadi pagi. Tidak semudah itu membuatku tunduk dan menjadi boneka kalian,” batin Andri menilai jawaban Papanya. “Apa pun hukuman yang Papa berikan, aku akan menerimanya dengan lapang d**a,” Andri menanggapinya dengan santai dan tenang.
Ivan tercengang mendengar tanggapan putranya. Sepertinya dia harus benar-benar memberikan putra kurang ajarnya ini pelajaran, karena semakin berani memperlihatkan pemberontakannya. Dia menyeringai sambil menatap laki-laki muda di hadapannya. “Karena kamu sudah siap menghadapi konsekuensinya, jadi mulai sekarang kamu bukan lagi bagian dari kantor ini,” ucapnya dengan datar.
Meski terkejut dengan ucapan sang papa, tapi Andri tetap memerlihatkan sikap tenangnya. “Kalau boleh tahu, apa alasan Papa memecatku?” tanyanya santai.
Ivan berdiri dari duduknya. “Karena kamu telah melakukan pemberontakan dengan menolak mentah-mentah keputusan Papa,” jawabnya.
“Bukankah wajar sebagai anak aku menolak mentah-mentah keputusan Papa yang kuanggap kolot, dan merugikan diriku sendiri? Lagi pula penolakanku itu tidak ada hubungannya dengan pekerjaanku di kantor ini, lalu kenapa hal tersebut malah dijadikan alasan untuk memecatku?” Andri membela diri.
“Bukankah tadi kamu mengatakan apa pun keputusanku, kamu akan menerimanya dengan lapang d**a? Jadi, kenapa ada pembelaan lagi? Alangkah baiknya jika kamu tepati omonganmu tadi itu,” Ivan berkilah.
Mendengar perkataan Papanya, Andri hanya mendengkus dan tertawa kosong. Meski kesal, dia tetap mengontrol emosinya agar tidak terpancing. “Baiklah, jika hal tersebut membuat Anda merasa lega dan bahagia, maka saya akan menerimanya. Kalau begitu saya permisi,” ucapnya sebelum berbalik dan keluar.
“Satu lagi, tinggalkan semua fasilitas dan barang yang berasal bukan dari jerih payahmu sendiri,” perintah Ivan dengan nada tegas.
Andri mengepalkan kedua tangannya. Darahnya semakin mendidih mendengar perintah tidak masuk akal dari laki-laki yang selama ini dipanggilnya Papa. Tanpa memberikan tanggapannya, dia bergegas meninggalkan ruang kerja Papanya.
***
Berulang kali Zelda menghela napas sebelum memasuki kediaman keluarga Himawan, yang kini juga merupakan rumahnya. Sebenarnya Zelda ingin menyambangi Andri di tempat kerja sang suami setelah menyelesaikan urusannya di kantor, tapi karena tubuhnya merasa lelah dan segera ingin berbaring, jadi dia memutuskan untuk langsung pulang saja. Dia berharap Zara tengah sibuk di luar rumah, jadi mereka tidak harus bertemu, apalagi setelah dirinya diberikan predikat wanita liar tadi pagi.
Setelah berada di dalam rumah, Zelda mendesah pelan ketika melihat wanita yang untuk saat ini sangat ingin dihindarinya. “Ternyata harapanku tidak terkabul,” gumamnya dalam hati.
“Sudah puas kamu menghancurkan hidup dan masa depan putraku, hah?!”
Sebuah pertanyaan menyentak gendang telinganya, membuat Zelda menghentikan langkah kakinya. Dia menghampiri Zara yang berdiri sambil bersidekap di dekat ruang keluarga. “Apa maksud Mama?” tanyanya tidak mengerti.
“Aku ingatkan ya, jangan pernah memanggilku dengan sebutan Mama! Aku tidak sudi dipanggil Mama oleh wanita liar sepertimu!” Zara memperingatkan dengan garang, tanpa menanggapi pertanyaan Zelda terlebih dulu.
Zelda hanya mengulas senyum tipis karena melihat ketidaksukaan sang ibu mertua. “Sayangnya, wanita liar yang saat ini berdiri di hadapan Anda telah menjadi istri anak Anda. Oleh karean itu, sudah sepatutnya saya memanggil Anda dengan sebutan Mama, meski Anda sangat tidak menyukainya,” balasnya dengan tenang.
“Meski kenyataannya kamu memang menantu di rumah ini, tapi aku tidak akan pernah menganggapnya demikian. Bagiku, kamu tetaplah wanita liar dan simpanan laki-laki hidung belang yang penuh nafsu serta haus belaian. Aku ragu jika janin di rahimmu itu berasal dari benih putraku, melainkan milik salah satu simpananmu di luar sana,” cemooh Zara sambil menatap perut Zelda dengan tatapan merendahkan.
Tanpa aba-aba, telapak tangan Zelda langsung melayang dan mendarat sempurna di atas permukaan pipi kanan Zara.
“Saya tidak akan meminta maaf karena telah memberi pelajaran pada mulut busuk Anda, Mama Mertua,” ucap Zelda setelah menampar mulut Zara dengan keras karena telah menghina anaknya. Jika hanya dirinya yang dihina dia tidak mempermasalahkannya, tapi beda urusannya kalau sudah menyangkut anaknya.
Zara yang tidak terima mendapat perlakuan kasar dari Zelda pun berniat membalas. Dia menatap nyalang wanita di depannya yang wajahnya menampilkan ekspresi datar. “Berani-beraninya kau menamparku, p*****r!” hardiknya penuh amarah sambil melayangkan tamparannya, tapi Zelda berhasil menahan tangannya dengan kuat.
Asisten rumah tangga di kediaman Himawan tidak ada yang berani melerai perseteruan antara Zara dan Zelda. Salah satu dari mereka langsung menuju tangga dan menaikinya dengan cepat, berharap segera sampai di depan kamar anak majikannya. Sambil mengontrol napasnya yang terengah-engah, sang asisten langsung mengetuk pintu kamar Andri dengan tidak sabar. Dia tidak ingin membuang waktu terlalu banyak, karena takut perseteruan Zara dan Zelda semakin menjadi-jadi di lantai satu.
“Ada apa?” Andri bertanya dengan kesal setelah membuka pintu, karena ada yang mengetuk pintu kamarnya layaknya orang kesurupan. Saat tadi mendengar ketukan pada pintu kamarnya, dia baru saja keluar dari kamar mandi. Makanya, saat ini rambutnya masih terlihat basah dan dia hanya menggunakan boxer.
“Tuan, sebaiknya Tuan cepat turun. Nyonya dan Mbak Zelda sedang berseteru,” beri tahu sang asisten dengan tergesa-gesa.
Belum jelas Andri mencerna pemberitahuan sang asisten, bola matanya seketika membesar saat telinganya mendengar teriakan penuh kemurkaan ibunya. Tanpa berpikir lagi, dia bergegas menuruni anak tangga dan menuju lantai satu–tempat istri serta ibunya berseteru.
“Lepaskan tanganku, Jalang Sialan!” teriak Zara sambil berusaha melepaskan tangannya yang dicengkeram kuat oleh Zelda.
“Zelda, apa yang kamu lakukan? Lepaskan tangan Mama,” perintah Andri setelah berdiri di antara ibu dan istrinya.
Melihat sang istri tidak merespons ucapannya, Andri mencoba melepaskan tangan ibunya dengan paksa dari cengkeraman Zelda. Kening Andri mengernyit karena ternyata Zelda tidak mau mengalah, malah semakin kuat mencengkeram tangan sang ibu. Kesabaran Andri perlahan menipis, apalagi saat mendengar ringisan sang ibu yang tangannya kian dicengkeram.
“Zelda, lepaskan!” Andri membentak Zelda. Tidak sampai di situ, dia juga menampar istrinya tersebut karena dinilai telah lancang sekaligus berani bertindak kurang ajar terhadap ibunya.
Rahang Zelda berdenyut nyeri setelah telapak tangan Andri berlabuh di pipinya. Biasanya telapak tangan tersebut membelai pipinya dengan penuh kelembutan, tapi kini sebaliknya.
Zara tersenyum sinis melihat wajah menantunya menunduk setelah ditampar oleh putranya. Tidak mau melewatkan kesempatan untuk membalas tindakan yang tadi didapatnya, secara kasar Zara mengangkat wajah Zelda. Tanpa perlu berlama-lama, secepatnya dia menampar kedua pipi menantunya tersebut dengan keras secara bergantian, sehingga membuat Andri terkejut.
“Hentikan, Ma!” hardik Andri dan mencoba menarik tubuh Zelda agar terhindar dari keanarkisan ibunya.
“Kamu lebih membela dan melindungi jalang ini? Wanita yang telah berani menampar dan berlaku kasar kepada ibu kandungmu sendiri?!” bentak Zara sambil menatap penuh kemarahan ke arah putra semata wayangnya.
“Ma, Zelda kini sudah menjadi istriku, jadi tolong hargailah dia sedikit,” pinta Andri sambil terus berusaha memeluk Zelda yang mulai memberontak dalam pelukannya.
“Untuk apa Mama harus menghargai dia, jika kamu sendiri berani menentang keputusan kami? Mama sangat menyayangkan keputusanmu yang lebih memilih sekaligus menikahi p*****r ini dibandingkan wanita pilihan kami. Andri, kamu masih mempunyai satu kesempatan dan Mama bisa membantumu mengembalikan posisimu seperti semula di kantor.” Zara menatap anaknya yang terlihat frustrasi.
“Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menuruti permintaan kolot kalian. Terlebih kini aku sudah resmi menikah dan menjadi seorang suami. Jadi, kuburlah dalam-dalam keinginan kalian tersebut. Jika kalian tetap menginginkan Ruhan menjadi anggota di keluarga ini, mengapa tidak Papa saja yang menikahinya? Dengan begitu Mama dan Ruhan tidak akan terpisahkan,” ucap Andri lancang.
“Andri!” hardik Zara yang semakin emosi karena perkataan lancang putranya.
“Ayo, Zel. Kita ke kamar,” Andri mengajak Zelda yang dari tadi hanya menjadi pendengar.
“Tunggu, An! Mama belum selesai berbicara!” interupsi Zara dengan nada geram. “Andri, kenapa kini kamu ikut menjadi anak kurang ajar? Bahkan, dengan ibumu sendiri! Ini semua karena kamu bergaul dengan wanita jalang itu,” sambungnya saat melihat Andri menghentikan langkahnya ketika mendengar interupsinya.
Daripada emosinya semakin tersulut dan tindakannya lebih kurang ajar lagi, Andri pun memilih untuk tidak menanggapi perkataan Zara. Dia sedikit memaksa Zelda agar mengikuti langkahnya menuju kamar mereka. Hari ini belum berakhir, tapi dirinya sudah merasa sangat lelah.
***
Setibanya di dalam kamar mereka, Zelda dengan kasar menjauhkan tangan Andri yang masih setia merangkul pinggangnya. Tanpa berniat menjelaskan penyebab perseteruannya dengan Zara kepada sang suami, Zelda memilih langsung menuju kamar mandi setelah melempar asal clutch-nya ke atas ranjang. Dia ingin mengguyur tubuh lelahnya di bawah pancuran air dingin agar lebih segar.
Melihat sikap Zelda membuat Andri hanya menghela napas sambil menyugar kasar rambutnya. Setelah punggung Zelda menghilang di balik pintu kamar mandi, Andri mengangkat tangannya yang tadi digunakan untuk menampar pipi sang istri. Kini hanya penyesalan yang mendera hatinya karena baru pertama kali dia bersikap kasar kepada Zelda. Membentak dan menampar. Tadi dirinya benar-benar tersulut emosi, sehingga membuatnya bertindak impulsif.
Semasih Zelda berada di dalam kamar mandi, Andri memutuskan keluar kamar. Dia ingin ke dapur dan membuat jus buah untuk Zelda. Dia berharap setelah kembali ke kamar, Zelda sudah selesai menyegarkan tubuhnya dan pikirannya jauh lebih jernih agar mereka bisa berbicara dua arah.
***
Andri mencium berulang kali pipi yang tadi terpaksa ditamparnya. Bukan hanya dicium, melainkan pipi tersebut juga diusap-usap dengan sangat lembut oleh tangannya. Tindakannya tersebut berhasil membuat Zelda terbangun dari tidur lelapnya. Tadi sekembalinya dari dapur, dia melihat Zelda telah berbaring menyamping di atas ranjang mereka. Melihat wajah damai Zelda membuat Andri tidak tega untuk membangunkannya. Daripada mubazir, jus buah yang pada awalnya Andri buat untuk Zelda, akhirnya dia minum sendiri.
Saat matanya terbuka, Zelda melihat wajah lelah Andri. Menggunakan tangannya dia menjauhkan wajah Andri agar dirinya bisa mengubah posisi berbaringnya. Setelah dia memosisikan tubuhnya menyandar, keningnya mengernyit saat melihat dua buah koper besar di dekat meja riasnya. Bukan hanya itu, meja riasnya pun sudah kosong.
“Basuh dulu wajahmu. Setelah kamu selesai, kita langsung pergi,” ucap Andri dengan lembut saat matanya beradu dengan Zelda. “Zel, aku minta maaf karena tadi telah membentak dan menamparmu,” pintanya sambil memegang tangan Zelda.
“Kita diusir? Kita akan pergi ke mana?” cecar Zelda dengan suara serak karena dia baru bangun tidur. Dia juga tidak menanggapi permintaan maaf suaminya.
Andri sangat memaklumi jika Zelda belum bersedia memberinya maaf atas tindakannya tadi. “Ke apartemen. Ayo basuh dulu wajahmu agar terasa lebih segar.” Dengan lembut dan hati-hati Andri menarik tangan Zelda agar mengikutinya menuruni ranjang.
“Apa gara-gara kejadian tadi kita pergi? Mamamu yang mengusir kita?” Zelda kembali bertanya sambil menatap Andri penuh keingintahuan.
Andri menggeleng. “Nanti setelah kita berada di apartemen, aku janji akan menjelaskan selengkapnya padamu. Jadi, untuk saat ini turuti saja dulu perintahku.” Andri mengecup puncak kepala Zelda sebelum memeriksa kembali barang-barangnya sambil menunggu istrinya selesai membasuh wajah.
Zelda tidak mau membebani pikirannya dengan mengingat insiden tadi, dia harus secepatnya membasuh wajah agar bisa segera keluar dari rumah yang membuatnya kepanasan. Sedikit pun Zelda tidak menyesal karena telah memberikan pelajaran kepada mulut ibu mertuanya yang kurang ajar itu. Namun, dirinya sangat merasa kecewa saat Andri membentak sekaligus ikut menamparnya, tanpa bertanya lebih dulu mengenai penyebab dia bertindak seperti itu kepada Zara.