Soal Rekam Video

1275 Words
Bayu Samudra menguap dan tidak mau repot-repot menutup mulutnya saat ia mendorong pintu keluar dari ruangan yang ia gunakan untuk merekam video itu. Ia menggosok bagian belakang kepalanya yang gatal bukan main karena sejak kemarin belum mandi. Ayolah, ia tak sempat untuk melakukan rutinitas manusia pada umumnya itu. Masih lelah. Ah, sebenarnya hanya tidak mau mengakui saja jika dirinya terlalu malas untuk mandi. Lagian, parfum yang biasa ia pakai sangatlah wangi sampai radius 2 meter. "Haah, hari yang melelahkan. Aku masih sangat mengantuk, dan lagi, ini sungguh membosankan! Kenapa tidak besok saja rekam videonya, hah?" Bayu mengirim pandangan bertanya ke manajernya, ke Bosnya yang duduk di dekat komputer. Namun, tampaknya sang menejer asyik dengan apa pun yang ia kerjakan dan bahkan tidak memperhatikan Bayu yang mendekatinya. Manajer dengan santainya terlihat meraih sebungkus s**u kotak yang ia minum dan menyesapnya dengan menggunakan sedotan. Terlihat sangat haus. Di mejanya juga ada roti bungkus plastik bening. Rasa melon? Bosnya memang suka roti rasa melon. Itu tidak enak karena menurutnya yang enak adalah burger dan cola. "Ini orang masih sempat-sempatnya bersantai ketika sudah membuat mimpi indahku dengan 5 gadis sexy berbikini hancur karena aku harus melakukan rekam video." Batin Bayu yang masih kesal karena menurutnya Bosnya ini keterlaluan. Seketika, sebuah tangan dengan lembut menghantam meja kerjanya sang Bos. "Bos Shinta, kenapa?" Kata Bayu dengan kerasnya. "Bruaaahhh!" Kaget Sang Menejer yang bernama Shinta itu. Ia menyemprotkan s**u yang diminumnya ke mukanya Bayu tanpa sengaja. Bayu dengan enggan menyeka s**u yang disemprotkan ke wajahnya. Kesialan macam apa lagi ini? Mentang-mentang tadi belum cuci muka, lalu ini diminta untuk cuci muka dengan s**u? Wah, kulitnya pasti akan melembut setelah ini! Tch! "Bos sialan!" Bayu kesal dalam hati, sambil mengusap cairan mulai dari mukanya dan berlanjut ke pakaiannya dengan sapu tangan miliknya yang selalu ia bawa di kantongnya. Bayu juga hanya mengamati manajer Shinta yang mengatur nafasnya karena kaget dengan yang baru saja ia ganggu acara minum susunya. Tidak ada niat mengganggu, hanya momennya saja yang kurang pas. "Berhenti lakukan itu, dasar Angin Laut!" Shinta berteriak kesal, hampir menggunakan s**u yang sama untuk membalas menyiram pria itu. "Kau tidak lihat ya, bosmu ini sedang minum?!" Shinta berteriak lagi. Bayu: Angin dan Samudra: Laut. Bayu Samudra: Angin Laut. Shinta lantas memisahkan kertas-kertas yang telah terkena s**u yang ia semburkan tadi. Ia berharap tidak ada dokumen-dokumen itu yang benar-benar penting sehingga basah dan rusak pun tidak akan menimbulkan masalah untuknya. Jika ada dokumen penting yang rusak, ia berjanji akan menguliti Bayu dengan pisau tidak tajam! Biar rasanya semakin menyakitkan! "Bocah sialan!" Gerutu Shinta. "Maaf, Bos. Tidak sengaja." Cengir Bayu. Tapi percayalah, ia tulus meminta maaf. Bayu merasa bersalah, tapi mau bagaimana sudah terlanjur. Shinta menatap tajam Bayu dan bertanya dengan marah, "Apa yang kau inginkan dariku? Tugas rekaman videomu sudah selesai. Ada hal lain yang kurang jelas bagimu?" "Y-Yah, Bos, ada hal yang ingin aku tanyakan." Bayu dan Shinta, atau bahkan semua pegawai dalam satu gedung itu sering menggunakan bahasa tidak baku karena sudah sangat dekat satu dengan yang lainnya. Shinta sendiri yang memintanya untuk menggunakan bahasa yang informal. Menurutnya itu lebih friendly dan tidak kaku. "Tanya apa?" Tanya Shinta. "Aku masih bingung kenapa aku harus merekam hal-hal yang kulakukan tentang kasus ini... Maukah kau menjelaskan alasannya padaku?" Tanya Bayu. Biasanya ia hanya langsung menyelidiki kasus di lapangan tanpa harus membuat rekaman video dirinya sendiri seperti ini. "Apakah kau tidak mendengarkan apa yang telah aku katakan sebelumnya di apel tadi pagi?" Menejer alias Bos cantik ini benar-benar berdiri dari tempat duduknya dan menusukkan jari ke d**a Bayu, menusuk pria jangkung itu dengan intensitas yang sudah menyakiti detektif berambut hitam gelap itu. "Bos, sakit, kulitku ini sangat sensitif! Nanti kalau lecet belum tentu kau mau tanggung jawab!" Kata Bayu mengasuh kesakitan. Bosnya ini tidak tanggung-tanggung dalam mengerahkan seluruh kekuatannya. "Serius, Angin Laut..." Shinta mengambil kursinya kembali, menyilangkan tangan di depan dadanya dan menghela nafas panjang, sangat panjang. Bayu ini kadang bertindak jenius, tapi seringnya bodoh juga. "Aku juga sedang serius bertanya. Bos Galak malah menyakitiku." "Haissh!" Shinta menatap Bayu lekat-lekat. Di sinilah, berdiri di hadapannya, seorang pria yang suka memecahkan kejahatan dan bahkan tidak tahu pentingnya bagian lainnya. Serius, Shinta bisa menyebut Bayu sebagai 'Detektif Bodoh' karena ketidaktahuannya. Bayu ini hebat, tapi suka tidak mengerti prosedur dan alur umum seorang detektif yang baik itu bagaimana. "Pengumpulan informasi sangat penting dalam pekerjaan kita, dan ada banyak sumber yang harus kita cari." Shinta mulai menjelaskan. "Aku tahu itu," Bayu hanya menjawab sambil mengambil kursi kosong di depan area kerja manajernya. Ia duduk di sana, menghadap ke arah Shinta. "..." Shinta mendengarkan apa yang ingin diucapkan oleh salah satu detektif terbaiknya di Ayodya Detektif Swasta miliknya. "Apa yang aku tidak mengerti adalah mengapa kita harus memasukkan catatan tindakan kita sendiri. Seperti dengan merekamnya dalam bentuk video." Kata Bayu. Bayu memainkan dengan jari-jarinya gantungan kunci anjing kecil yang menghiasi meja sang menejer. Gantungan kunci itu sangat imut. Jadi ingin membelinya juga. "Maksudku, kita harus fokus pada orang-orang yang terlibat dalam kejahatan, bukan malah sibuk rekaman. Bukankah ini hanya mengurangi waktu penyeledikan saja? Para polisi itu kan meminta kita untuk cepat meyelesaikannya?" Lanjut Bayu tak sabar ingin mendengarkan penjelasan dari Shinta. "Ketika kita menerima tugas untuk menyelidiki kasus ini, kita telah dimasukkan di dalamnya. Itu artinya, kita terlibat secara langsung." Kata manajer cantik itu. "Aku percaya bahwa kau dan Isa telah mengunjungi TKP tak hanya sekali atau dua kali usai kedatanganmu ke Indonesia dua Minggu yang lalu. Isa sendiri bahkan sudah berkali-kali ke sana." Imbuh Shinta. Bayu menyempatkan diri ke TKP sehabis dari bandara. Ia ditemani oleh Isa yang merupakan rekan kerjanya, yang juga ditugaskan untuk menjemput dirinya di bandara usai kembali dari Jerman. Setelah itu, ia dipasang dengan Isa untuk mempelajari kasus ini. "Banyak tempat yang sudah kau kunjungi selain TKP." Kata Shinta. Shinta menyingkirkan s**u kotak yang tadi ia minum agar tak mengganggu obrolannya dengan Bayu. Ia lalu mengambil penanggalan duduk atau kalender duduk yang selalu ada di meja kerjanya. "Kau juga bahkan mengambil kesempatan untuk mengunjungi Next In." Shinta menunjuk, mengamati tanggal tertentu yang ditandai dengan pena merah. Lalu ia kembali menatap Bayu. "Kau punya banyak kesan setelah melakukan banyak penyelidikan, kan?" "Yah, ya..." Jawab Bayu. "Kami memiliki catatan tindakan dan pengamatanmu tentang kejahatan itu karena tim perlu mencari detail yang biasanya kami lewatkan. Sekecil apapun itu semua sangat berarti." Manajer Shinta menjelaskan kepada Bayu. Ia lalu mengobrak-abrik laci yang baru saja ia buka, sebuah kertas yang telah digoreskan dengan berbagai notasi, ditandai dengan potongan kecil keras warnai, terutama di sisi-sisinya. Ia meletakkannya di depan Bayu. "Menurutmu mengapa yang lain dan aku berusaha menganalisis catatan yang kau bawa sebagai hasil dari pengamatanmu selama ini?" Tanya Shinta. Bayu menatap kertas itu dengan keras. Berusaha mikir sok berat bahasa lainnya. Ia melihat itu adalah sebuah tabel sederhana dengan tiga kolom, tertulis di tiga kolom itu tentang satu detail tentang kejahatan yang mereka coba selesaikan. "?" Bayu tampak bingung pada awalnya, namun ia terus memperhatikannya dengan sabar. Setelah itu, ia menyadari bahwa tiga kolom itu sebenarnya menandakan tiga tanggal yang berbeda. Itu adalah nama senior Isa yang pertama kali menarik perhatiannya, yang diulang dua kali – tertulis di dua kolom pertama – sementara namanya juga muncul, di kolom ketiga. "Ini adalah inti dari rekaman tentang bagaimana pendapatmu tentang TKP. Tentang pendapat Isa juga soal TKP." Kata Shinta menjelaskan apa maksud dari tabel sederhana itu. "Tentu saja, kau dan Isa memiliki perspektif yang berbeda tentang berbagai hal. Opini kalian atau fakta-fakta yang kalian temukan juga berbeda." Sudah mengerahkan pikirannya yang pintar itu, ternyata kertas yang membuatnya penasaran hanyalah tabel yang gampangnya berisi hasil rekam video antara dirinya dan Isa. Bayu bisa menerimanya, tapi masih ingin mendengar secara rinci fungsi dari itu semua.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD