Bab, 5. Luka.

1028 Words
Luka itu tampak sudah menganga, dan Devan melihat ada kekecewaan yang cukup besar dihati Diandra. Seketika hatinya terasa di cubit. Sakit, memang sungguh sakit... Diandra berlari kecil untuk menjauh dari sumber lukanya... Devan sendiri kini tampak terpaku setelah kepergian Diandra, entah mengapa, rasa cintanya begitu mendalam, namun, sialnya ia malah tertarik dengan sosok lemah lembut dan manja yang ada dalam diri Lumina. "Ya Tuhan, sebenarnya apa yang seharusnya aku lakukan. Kenapa aku merasa, aku masih mencintai gadis tangguh itu?" gumamnya di ujung penyesalan di hatinya yang terdalam. Sia-sia... semua sia-sia. Diandra sudah dipuncaknya kekecewaan, dan kini ia hanya ingin melanjutkan hidupnya dan mungkin akan menunggu ke mana takdir membawanya. Setelah menemukan taksi, akhirnya ia diantarkan ke kantor. Hari-hari ia lalui seperti biasa, meski rasanya ia sungguh tak ingin makan apapun. Kepala Diandra juga sedikit pusing, dan pada jam makan siang, ia memutuskan untuk tidur saja di ruang kerjanya. "Diandra, kamu tidak makan?" tanya teman kerja Diandra. Diandra yang mendengar namanya di sebut akhirnya menoleh ke arah sumber suara. Ia menggeleng pelan saat itu. Rekan kerjanya tampak mengernyitkan dahinya heran di saat ia melihat reaksi Diandra. "Kenapa, kamu sakit? Kalau sakit, tidak makan tentu akan makin sakit." Diandra tersenyum kecil, "Tidak, aku hanya tidak nafsu makan. Hm, kamu mau ke kantin, 'kan?" tanya Diandra pada Susi, rekan kerjanya yang menanyainya tadi. "Aku titip belikan s**u kotak saja, kepalaku pusing." balas Diandra. "Pusing kok minum s**u kotak? Bukannya makan dan minum obat." celetuknya dengan suara yang terdengar terheran-heran. "Pusing karena habis minum, kamu tahu kan apa maksudku?" balas Diandra. "Oh, oke... Aku akan belikan." Susi menyambar uang lembaran kertas berwarna biru yang Diandra sodorkan padanya. "Terimakasih, Susi." ujar Diandra. "Nanti saja, kalau aku sudah kembali. Kalau begitu istirahat lagi saja." Diandra tersenyum kecil, setelah Susi pergi, ia kembali meletakan kepalanya ke meja dengan menggunakan kedua lengannya sebagai alas, agar kepalanya tidak sakit. Setelah beberapa saat kemudian, tampak seseorang masuk ke dalam dan meletakan bingkisan berisi beberapa s**u kotak dan juga roti. Diandra yang mencoba memejamkan matanya tampak sudah hampir tertidur dan bahkan tidak menyadari kehadiran orang itu. Beberapa saat berlalu... Diandra terbangun dari tidurnya dan segera menatap ke arah sekitar. Hal pertama kali yang ia lakukan adalah melihat jam berapakah pada saat itu. "Hmm, jam makan siang akan segera usai. Kenapa Susi belum kembali?" gumam Diandra. Namun setelah itu, ia melihat ada bingkisan dimejanya. Diandra akhirnya membukanya dan melihat ada beberapa s**u kotak, dan beberapa bungkus roti. "Astaga, dia menghabiskan uangku untuk membeli semua ini? Aku akan hemat beberapa hari kalau begini." gumam Diandra dengan begitu lesu. Ia memang harus berhemat, karena gajinya bisa dibilang tak seberapa. Selain bekerja di perusahaan itu, sebenarnya Diandra adalah penulis novel online di beberapa aplikasi, tapi, berhubung banyak sekali halangan seperti aplikasi eror, maka untuk beberapa bulan itu, mungkin ia tak akan mendapatkan gaji meski harus tetap menulis. Helaan nafas mulai terdengar berat, dan pada saat itu, Diandra mutuskan menikmati s**u dan juga roti yang ada di hadapannya. Diandra menikmati makanannya sembari melamun, hingga suatu suara membuat lamunannya pudar. "Diandra, kamu makan makanan dari mana?" tanya Susi. Betapa terkejutnya Diandra di saat ia menyadari Susi yang baru saja menegurnya. "Aku memakan makanan yang baru saja kamu belikan." Balas Diandra dengan ekspresi wajah bingung. "Diandra, aku baru saja kembali, dan ini makanan yang aku belikan untukmu. Satu s**u kotak ukuran sedang, dan satu bungkus roti. Ini kembaliannya, apa ada orang yang memberikan itu padamu?" tanya Susi dengan heran. Diandra tentu sampai melongo di saat mendengar penjelasan Susi. Akhirnya jam makan benar-benar usai, Susi kembali ke kursinya setelah menyadari Diandra tak akan menjawab pertanyaannya. "Ah, sudahlah..., Nanti kita bahas lagi. Sekarang mari bekerja lagi, simpan juga uang dan makananmu itu." balas Susi. Akhirnya saat itu, Diandra hanya bisa menurut. Ia melakukan segala hal yang dikatakan oleh Susi, dan setelah menghabiskan s**u yang sebelumnya ia akhirnya kembali bekerja. *** Sementara itu di tempat lain..., Seorang pria tampak tengah merebahkan tubuhnya di sofa. Kakinya jenjangnya tampak ia lipat di atas bagian pinggir sofa yang biasanya dijadikan penopang tangan. "Hey, enak sekali kau menyuruh-nyuruh ku, yah?! Bukannya kau berikan sendiri pada wanita itu, kau malah menyuruhku, CEO untuk membawakan s**u dan roti untuk seorang karyawan magang di kantor?" tanya pria yang baru saja memasuki ruangan pada seseorang yang tampak tengah santai di sofa ruang kerja itu. "Hm, aku kan salah satu Owner perusahaan. Bukankah tak ada salahnya aku menyuruhmu." balasnya sembari membuka matanya malas. "Astaga, Victor..., Bisa-bisanya kau membabukan aku? Dan lagi pula, siapa wanita itu? Coba kau bayangkan saja, Kalau ada orang yang melihat hal ini, kira-kira apa yang akan mereka pikirkan?" Candra mulai terlihat frustasi dengan apa yang temannya lakukan padanya. "Ck, hanya seperti itu saja kau permasalahkan Bro." balas Victor santai. "Apa kau bilang? Kau kira apa yang kau suruh padaku itu hal wajar?" tanya Candra dengan ekspresi wajah yang begitu syok. "Ya, karena aku yang menyuruhmu, maka itu wajar. Sudah, ya..., Aku mau pulang." Victor tampak berdiri dari duduknya dan meninggalkan sofa. "Victor, kau belum menjawab pertanyaanku, siapa wanita itu? Atau jangan-jangan, dia wanita yang menghabiskan malam panas denganmu tadi malam?" tanya Candra. Candra memang tidak ada di sana tadi malam, ia mendengar kabar tersebut dari teman-temannya yang kebetulan ikut party di Club Malam, malam tadi. Victor hanya menoleh ke arah Candra, ia tak menjawab apapun, namun, hal itu akhirnya menjadi jawaban untuk Candra. "Awasi dia, itu tugas tambahan yang aku berikan. Aku pergi." balas Victor sembari benar-benar meninggalkan tempat itu. Candra terpaku setelah mendengar ucapan Victor. "Si anjir, dia menambah pekerjaanku?! Apa dia menyukai wanita itu? Aku sering melihatnya, memang wajahnya terlihat cantik. Tapi..., Astaga! Merepotkan aku saja!" gerutunya sembari menggaruk kepalanya dengan sangat kasar. Ya... Victor bukan benar-benar pria sederhana yang Diandra lihat, dan bukan pria miskin yang sering jadi bahan olokan oleh Damian, tapi, Victor selalu santai menanggapi, hingga kini – ia akhirnya mendapatkan suatu hal yang bahkan tak ia bayangkan sebelumnya. Dari mengagumi dari kejauhan, ia akhirnya berhasil menikmati setiap inci dari Diandra, dan malam panas berlalu diantara mereka. Lalu, apakah yang akan Victor lakukan? Apa ia akan menikahi Diandra? Atau melupakan insiden malam itu? Sikap dingin dan diamnya sungguh tak bisa diterka-terka. Ia akan selalu diam, namun bergerak tanpa aba-aba.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD