Pikiran Diandra sungguh kacau pada saat itu juga, apakah yang harus ia percayai? Matanya, hatinya atau perasaannya? Semua seakan tumpang tindih dan berusaha membela kalau mereka yang benar, meski semuanya hadir dalam satu tubuh. Tapi, pada akhirnya mereka tak memenangkan kepercayaan Diandra yang kini tiba-tiba terpaku dalam lamunannya. "Nak, kamu dengar ucapan ibu, 'kan?" tanya sang dokter yang mengetahui Diandra ternyata tidak menyimak segala ucapannya. Dengan ekspresi wajah bingung, Diandra akhirnya menoleh ke arah sang dokter, lalu setelahnya ia menatap ke arah mama mertuanya. "Eh, iya – Bu Dokter." jawab Diandra. Wanita yang ada di kursi dokter itu tampak hanya menghela nafas panjang. Ia lantas menoleh ke arah Mary. "Kamu paham, 'kan?" tanyanya dengan menatap serius ke arah M

