Radit mengikuti saran Anjani untuk pulang ke apartemen Anjani dan benar kata Anjani bahwa Anjani tidak ada di apartemennya. Selama seminggu Radit berada di apartemen itu, selama itu pula tidak ada seorang pun yang ke sana. Radit sedikit heran apakah tidak ada pembantu yang membersihkan apartement itu namun Ia tidak mempedulikannya. Radit tidak terlalu tertarik dengan kehidupan Anjani. Dia hanya makan dan tidur di apartemen itu sesuai perintah Anjani walau sebenarnya Ia juga merasa senang karena sangat nyaman tinggal di apartemen mewah Anjani itu. Ia pun tinggal memanaskan makanan jika ingin makan. Radit merasa Ia nampak tidak tahu diri menerima semua itu sedangkan Ia bersikap sangat kasar pada Anjani. Tapi lagi-lagi Radit tidak mau peduli selama Anjani tidak protes.
Pagi ini seperti biasa Radit bangun pagi untuk mandi, sarapan lalu berangkat bekerja sebagai pelayan restaurant. Namun pagi ini Radit dikejutkan dengan kehadiran seorang wanita yang sedang membersihkan apartement ini.
"Siapa kau?...." tanya Radit membuat wanita yang sedang menggerutu itu terkejut.
"Astaga.... Kau mengejutkanku..." teriak wanita itu kesal. Radit sedikit mengerutkan keningnya melihat reaksi wanita itu yang berani berteriak padanya. Bukankah wanita ini sedang bertugas membersihkan apartement ini yang berarti Ia pelayan walau tanpa mengenakan pakaian pelayan, dan seharusnya Ia sedikit bersikap hormat pada Radit.
"Siapa Kau?..." tanya Radit lagi dengan sedikit menunjukkan wajah dinginnya.
"Aku yang akan membersihkan apartemen ini selama Anjani tidak di sini.... tapi tidak setiap hari karena Aku sibuk.... jadi selama Kau disini tolong sesekali membersihkan apartemen ini setidaknya jangan meninggalkan sampah..." ucap wanita itu menyindir Radit yang sempat meninggalkan kulit kacang di ruang TV.
"Siapa kau?..."tanya Radit lagi karena merasa pertanyaannya belum terjawab.
"Aku Tria.... orang yang dipercaya wanita menyebalkan itu (Anjani) untuk memperhatikan apartementnya..." ucap Tria ketus menunjukkan ketidaksukaannya pada Radit.
"Jangan banyak bertanya.... Masih banyak yang harus Aku kerjakan...."ujar Tria kesal saat Radit ingin mengajukan pertanyaan lagi padanya. Radit pun hanya bisa menghela nafas dan tidak bisa protes karena merasa sepertinya wanita ini punya hubungan dekat dengan Anjani sehingga berani bersikap seenaknya. Radit pun akhirnya memilih pergi dan sarapan di luar saja.
Sebulan pun berlalu dan kini Anjani sudah kembali bersama Ayyash adik angkatnya yang menjadi asisten pribadinya. Selama Anjani pergi melakukan perjalanan bisnisnya perusahaan Anjani diurus oleh Hengky sebagai wakilnya dan Rani sekretarisnya.
"Bagaimana??...." tanya Tria langsung pada Anjani ketika Anjani baru memasuki apartementnya. Anjani hanya tersenyum tipis dengan gaya angkuhnya menatap orang-orang yang berada di apartementnya yaitu Tria, Hengky dan Radit. Hengky dan Tria memang sengaja menunggu Anjani sedangkan Radit hari ini tidak bekerja karena hari minggu.
"Tentu saja berjalan lancar.... Perusahaanku akan semakin maju...." ucap Anjani yakin sembari melangkahkan kakinya menghampiri Radit lalu memeluk Radit yang sedang berdiri di dekat pembatas ruang tamu dan dapur. Seperti biasa Radit hanya diam walau Ia merasa ada yang berbeda dari pelukan Anjani. Radit merasa Anjani mencengkram pinggangnya erat.
Tria yang tahu Anjani menghindar dari pertanyaan yang Tria maksud segera menatap Ayyash yang menggendikkan bahu dan menghela nafas pasrah. Tria kemudian kembali melihat Anjani yang masih memeluk erat Radit, Tria tahu Anjani sedang menahan sesuatu saat melihat Anjani mencengkram kaus dibagian pinggang Radit. Radit kembali mengerutkan keningnya heran ketika melihat mata Tria berkaca-kaca kesal dan sedih sedangkan Hengky hanya bisa mengelus punggung Tria menenangkan.
"Dasar bodoh...."gerutu Tria kemudian pergi dari apartement Anjani diikuti Hengky.
"Kak..... Aku pergi dulu... Aku mau menemui Dewi...." ucap Ayyash pamit.
"Oke.... berhati-hatilah...." ucap Anjani masih memeluk Radit. Ayyash pun langsung pergi setelah mendapat izin Anjani. Perlahan Anjani melepaskan pelukannya dan mengalungkan tangannya ke leher Radit lalu menempelkan bibirnya pada bibir Radit cukup lama tanpa balasan atau penolakan dari Radit.
"Kau merindukanku?.... "tanya Anjani setelah melepaskan ciumannya.
"Tidak..." jawab Radit yakin dengan wajah datarnya yang disambut senyum angkuh Anjani.
"Bagus.... jangan pernah merindukanku.... " ucap Anjani kemudian menarik Radit untuk mengikutinya.
"Aku ingin menemui Yuli...." ucap Radit menahan Anjani.
"Tidak.... kau harus bersamaku malam ini...."
"Tapi...."
"Kau berani melawanku?... Apa selama ini Aku bersikap terlalu baik padamu sehingga Kau berani menolakku?!.... Apa perlu Aku membuat Yuli mati agar kau mengingat perjanjian kita..." ucap Anjani menatap Radit geram dengan penolakan Radit. Radit terdiam terkejut menyadari kesalahannya kemudian mulai mengikuti Anjani saat Anjani kembali berjalan menuju kamarnya.
"Apa kau ingin kita melakukannya?..." tanya Radit setelah masuk kamar Anjani dan mendapati Anjani sudah berbaring di ranjang.
"Kau mau?..." tanya Anjani yang mengerti maksud Radit.
"Tidak..." ucap Radit tegas.
"Kalau begitu tidak mungkin Aku memperkosa pria yang jelas lebih besar dariku bukan?!..."
"......"
"Kemarilah.... Aku hanya ingin memelukmu.. Aku merindukanmu....Kau boleh pergi jika Aku sudah tertidur pulas......"ucap Anjani angkuh sembari menepuk ranjang di sebelahnya. Radit pun mengikuti keinginan Anjani untuk berbaring di sebelah Anjani. Sesuai yang Anjani katakan, Anjani hanya memeluk Radit sampai akhirnya tertidur. Anjani sebenarnya lelah namun karena tidak tenang dan memikirkan sesuatu Ia menjadi selalu sulit tidur. Ia biasanya hanya bisa tertidur dengan cara meminum obat tidur. Namun sepertinya kini Anjani menemukan cara baru untuk tidur, yaitu memeluk Radit.
~oO0Oo~
Pagi hari Anjani terbangun dan merasa sangat segar karena bisa tidur nyenyak dan cukup lama malam tadi. Saat terbangun Ia cukup terkejut melihat Radit yang masih tertidur di ranjangnya karena ini memang masih sangat pagi yaitu pukul 4 dini hari. Anjani memang terbiasa bangun pagi untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah. Ia tersenyum melihat wajah polos Radit kemudian mengecup sekilas bibir Radit sebelum beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Anjani mulai merapikan kamarnya sendiri kemudian semua ruangan di apartementnya dengan menyapu, mengepel dan mengubah perabot rumahnya jika Ia rasa bosan dengan posisi sebelumnya. Setelah merasa cukup bersih dan rapi, Anjani mulai menyiapkan bahan masakan untuk membuat sarapan.
"Apa yang Kau lakukan?..." tanya Radit datar menutupi keterkejutannya melihat Anjani memasak. Walau Radit baru melihat punggungnya namun Radit yakin kalau wanita yang sedang memasak itu adalah Anjani melihat dari postur tubuh dan gerakannya. Entahlah bagaimana Radit bisa mengenalinya, mungkin karena sudah terbiasa melihat bahkan berdekatan dengan Anjani.
"Membuat sarapan..... Duduklah..." jawab Anjani singkat tanpa menoleh. Radit segera duduk acuh tak acuh terhadap Anjani.
"Aku hanya memasak Nasi Goreng Kampung...." ujar Anjani sembari meletakkan sebuah piring berisi nasi goreng di depan Radit lengkap dengan telur ceplok dan irisan timun. Rasit melirik sedikit ke arah Anjani lalu langsung melahap nasi goreng itu begitu juga Anjani. Baru 3 suap Radit menghentikan makannya seolah baru menyadari sesuatu kemudian menatap Anjani terkejut. Cukup lama Radit menatap Anjani tak berkedip hingga Anjani menyadarinya.
"Apa yang kau lihat?... " tanya Anjani dengan gaya dingin dan angkuhnya.
"Tidak ada.... Kau hanya terlihat berbeda... tanpa make up..."ujar Radit jujur dengan wajah datar walau masih menunjukkan kalau Ia cukup terpesona dengan wajah alami Anjani yang Ia kira jelek karena sering menggunakan make up tebal.
"Kau mulai terpesona padaku...."simpul Anjani dengan senyum miringnya.
"Tidak...." tegas Kim Bum.
"Semakin Kau membantah.... semakin terlihat kau mengakuinya...."
"Tidak... Kuakui kau cukup.... manis.... tanpa make up.....Tapi percuma ....karena kurasa hatimu tidak semanis wajahmu...." ucap Radit yakin namun mengucap kata 'manis' dengan cukup pelan karena ragu untuk memuji Anjani dengan kata itu.
"Begitukah? .... Apa Yuli-mu itu manis di wajah dan hatinya?..."tanya Anjani berusaha mengacuhkan kata 'manis' dari Radit yang membuatnya sedikit merona namun tetap menunjukkan sikap angkuhnya.
"Iya...."
"Baguslah.... dengan begitu Kau tidak mungkin mencintaiku kan?...."
"Tidak akan.... Sampai Kapanpun.... Bagiku Kau tetap wanita....menjijikan..."
"Hmm...."
"Aku sudah selasai...Aku pergi...."ucap Radit ingin beranjak untuk berangkat kerja.
"Kita pergi bersama..... Aku akan mengantarmu untuk mengundurkan diri dari pekerjaanmu....setelah itu Kau mulai bekerja di kantorku...."
"Aku tidak....."
"Apa Aku harus selalu mengingatkanmu dengan perjanjian itu Tuan Raditya?!..."ujar Anjani kesal selalu dibantah namun tetap bersikap santai dengan senyum angkuhnya. Radit pun tidak bisa melakukan apapun kecuali mengikuti perintah Anjani.
Setelah mengundurkan diri sebagai pelayan restaurant, Radit ikut Anjani untuk bekerja di perusahaannya. Anjani menyuruh Radit untuk bekerja sebagai asisten Hengky.
"Aku tidak bisa..... Aku belum pernah bekerja di perusahaan dan aku hanya Lulusan SMA...."ujar Radit saat mengetahui pekerjaannya.
"Kau tidak perlu menjelaskannya karena Aku sudah menetahui semua tentangmu....kau hanya perlu mengikuti perintah Jengky....jika kau tidak bisa, Hengky akan membantumu.." ucap Anjani yang mulai sibuk di kursi kebesarannya dan memeriksa berbagai berkas yang baru saja Sunny bawa.
"Iya.... Kau tentu tau bagaimana Anjani.... Kau bisa memilih, menjadi asistenku atau Anjani?.... Kurasa Ayyash akan dengan senang hati bertukar posisi..."ucap Hengky santai dengan senyum yang bersahabat. Mendengar pilihan dari Hengky, tentu saja Radit lebih memilih bekerja sebagai asisten Hengky karena Ia sudah cukup muak melihat wajah Anjani di apartement dan Ia tidak mungkin mau melihatnya seharian jika bekerja sebagai asisten Anjani. Radit pun mengikuti Hengky menuju ruangan wakil direktur.
Sesampainya di ruangan Hengky, Radit bertemu dengan Rani sekretari Hengky. Rani menyerahkan beberapa map yang berisi data keuangan perusahaan FORTO pada Radit dan meminta untuk memeriksanya. Rani memang sudah diberitahukan sebelumnya bahwa Hengky akan mendapat asisten baru untuk membantu pekerjaannya. Hengky juga meminta Rani untuk membantu Radit jika Radit merasa kesulitan mempelajari berkas-berkas perusahaan.
Selama dua minggu Radit bekerja sebagai asisten Hengky dengan serius. Ia bahkan mulai jarang untuk mengunjungi Yuli.
"Sekarang sudah larut sebaiknya kau beristirahat...."ujar Anjani dengan gaya angkuhnya memasuki kamar Radit yang sedikit terbuka sehingga memperlihatkan Radit yang masih sibuk di meja kerjanya.
"Tidak... Aku masih harus mempelajarinya..." ujar Radit datar dan cenderung malas meladeni Anjani, tetap menatap berkas di tangannya dengan dahi berkerut bingung. Selama dua minggu bekerja membuat Radit sibuk namun bisa bernafas lega karena Ia bisa menghindari bertemu Anjani dengan alasan bekerja, walau memang itu benar.
"Katakan mana yang tidak Kau mengerti...?" tanya Anjani duduk di pangkuan Radit tanpa izin kemudian mulai membawa berkas yang berada di tangan Radit. Walau Radit merasa geram dan kesal dengan sikap Anjani yang semaunya, namun Radit sudah mulai sadar siapa dirinya hanya bisa diam dan menerima sikap Anjani.
"Walau kau tidak pernah menganggapku... tapi sebaiknya Kau mendengarku kali ini dengan serius...."ujar Anjani kemudian menjelaskan mengenai berkas keuangan yang Radit pelajari dari tadi. Radit yang memang merasa tertarik karena tidak mengerti mengenai berkas itu pun mendengarkan penjelasan Anjani dengan serius dan tanpa sadar memperhatikan wajah Anjani yang polos tanpa make up karena sudah bersiap untuk tidur. Radit yang mulai merasa nyaman bersama Anjani pun mulai menanggapi penjelasan Anjani dan bertanya. Anjani merasa Radit merupakan orang yang sangat teliti dalam mempelajari sesuatu bahkan karena ketelitian Radit pula Anjani bisa menemukan bukti penyelewengan dana dari salah seorang managernya.
"Kau sudah mengerti bukan?....sebaiknya sekarang kita tidur...." ucap Anjani mulai menghadapkan wajahnya ke wajah Radit dan mengusap wajah Radit.
"Tidak.... Aku masih harus mengerjakan sesuatu...."ujar Radit dan mulai mengambil berkas baru untuk mempelajarinya.
"Baiklah.... kalau begitu Aku akan tidur di sini....."ucap Anjani lalu memeluk pinggang Radit dan merebahkan kepalanya di lekukan pundak dan leher Radit kemudian mencium leher Radit cukup lama sebelum memejamkan matanya.
"Kau menjijikan...."desis Radit namun Anjani justru mengulas senyum dan mengeratkan pelukannya seolah menunjukan Ia tidak peduli dengan hinaan Radit.
Radit kemudian tetap melanjutkan pekerjaannya tanpa peduli dengan keberadaan Anjani di pangkuannya bahkan memeluknya erat. Setelah 30 menit Radit mulai menguap dan menyadari pelukan Anjani sudah melonggar serta dengkuran halusnya menandakan Anjanu sudah tertidur. Radit pun kembali mendesis kesal melihat wanita yang menurutnya menjijikan bisa dengan mudahnya tidur di pangkuannya tanpa peduli bahwa Radit mengabaikannya. Melihat wajah pulas Anjani yang tertidur, Radit pun mau tidak mau menggendong Anjani dan membaringkan Anjani di ranjangnya setelah itu Radit langsung menuju ke kamarnya karena Ia juga mulai mengantuk.
~oO0Oo~
Sebulan sudah Radit bekerja bersama Hengky dengan hasil yang memuaskan sehingga kini Hengky bisa sedikit bersantai.
"Sepertinya kau benar-benar memanfaatkan tugasmu untuk mengajari Radit...." Sindir Anjani terhadap Hengky dengan gaya angkuhnya.
"Semakin banyak pengalaman maka Ia akan semakin cepat menguasai pekerjaannya..." jawab Hengky santai. Hengky merupakan sahabat Anjani selain Tria sehingga Ia sudah terbiasa dengan sikap angkuh dan sinis Anjani.
"Ku akui dia sangat cepat belajar...."
"Kau sudah ke rumah sakit?...."
"Tidak perlu...."
"Kau gila Kim So Eun...." kesal Hengky.
"Aku tidak ada pilihan...."kekeh Anjani.
"Ada.... sejak awal sudah ada.... Kau saja yang bodoh...." Anjani hanya tersenyum miring menanggapinya.
"Kau yakin Radit akan menerimanya?...." tanya Hengky berusaha meredam kekesalannya pada Anjani.
"Mau tidak mau....Aku akan membuat dia menerimanya..."ujar Anjani yakin tetap dengan gaya angkuhnya sembari tetap terus melanjutkan pekerjaannya.
"Dengan memanfaatkan keadaan Yuli?...." Anjani hanya diam mendengar perkataan Hengky.
"Aku sudah melakukan semua perintahmu... kurasa sekarang Yuli sudah,..." perkataan Hengky terhenti seketika saat Radit membuka kasar pintu kantor Anjani lalu berjalan cepat kearah Anjani. Anjani dan Hengky sama-sama terkejut namun hanya bisa terdiam menunggu apa yang akan Radit lakukan dengan wajah marahnya tersebut.
"uhuk....uhuk...." Anjani langsung terbatuk saat Radit dengan tatapan tajam dan wajah marahnya mencekik Anjani kuat.
"Apa yang kau lakukan Radit??? ..." Tanya Hengky panik berusaha melepaskan cekikan Radit pada Anjani.
"APA YANG KAU LAKUKAN ANJANI?.... APA KAU YANG MELAKUKANNYA HINGGA TADI YULI KRITIS?...KAU BERUSAHA MEMBUNUHNYA HAAH???...."Teriak Radit tetap mencekik Anjani yang kini mulai melemah. Hengky semakin panik melihat Anjani melemah sementara Ia belum juga berhasil melepas cekikian Radit yang semakin kuat.
Bugghhh
Dengan sekuat tenaga Henky meninju wajah Radit sehingga cekikan Radit pada Anjani terlepas. Radit mengeluarkan darah segar dari bibir dan hidung akibat tinjuan kuat dari Hengky sementara Anjani sedang berusaha bernafas debgan terengah seperti sesak nafas lalu perlahan tak sadarkan diri.
"ANJANI....."Teriak Hengky panik saat Anjani sudah tak sadarkan diri. Radit meringis saat menyeka darah di bibirnya dan tidak peduli dengan kepanikan Hengky melihat Anjani tak sadarkan diri.
"Anjani..... sadarlah.... kumohon.... ini terlalu cepat.... belum saatnya Kau mati..... Kau belum menepati janjimu.... berjuanglah... Kumohon kau harus bertahan....hikz...."isak Hengky sembari menekan d**a Anjani berulang kali sebagai pertolongan pertama. Radit terdiam mendengar kata 'mati' yang keluar dari mulut Hengky lalu matanya beralih melihat Hengky yang masih berusaha menyelamatkan Anjani.
"Aku.....pembunuh?!!...." lirih Radit pada dirinya sendiri.
To Be Continue