Sadam menatap jengah pada wanita yang begitu serius menatapnya, menunggu jawabannya.
"Apa itu penting?" tanya Sadam setelah lama diam.
Dan dengan lantang, wanita itu langsung menyahut, "Tentu saja! Kalau misalnya Mas enggak doyan perempuan, bisa-bisa malam pertama nanti malah jadi enggak berkesan. Saya enggak mau ya, kalau pas berhubungan sama saya, Mas malah bayangin cowok lain."
Sadam berdecak. Rasanya dia gemas sekali ingin memukul kepala wanita yang ada di depannya. Ternyata, wanita ini bernasib malang bukan tanpa alasan. Bodoh dan naif seolah sudah menjadi satu paket dalam dirinya.
"Daripada kamu mikirin itu, lebih baik kamu mikirin bagaimana nanti kita menikah. Kamu bilang, kamu masih punya Ayah, kan? Kalau begitu, mau enggak mau, kamu harus minta Ayah kamu jadi wali nikah, kan?"
Mata Sadam menatap malas wanita yang seolah baru saja menyadari apa yang penting dalam masalah mereka. Lihat saja wajahnya yang membelalak sampai menutupi mulutnya itu. Entah kenapa Sadam mulai takut bahwa gen lemot yang dimiliki wanita itu akan diwariskan pada anak mereka nanti.
"Kayaknya, kalaupun saya datang ke sana, Ayah saya enggak akan dengan mudah mau menyanggupi. Atau bisa saja, saya malah dituduh hamil duluan, makanya buru-buru menikah."
"Ya apa masalahnya? Toh jaman sekarang, banyak yang begitu. Lagian, enggak akan ada pengaruhnya kalaupun kamu digosipkan begitu, kan? Selama yang sebenarnya enggak begitu. Kamu pikir, apa alasan saya sampai repot-repot harus menjalani pernikahan dulu sama kamu? Karena yang saya pentingkan adalah nasab anak saya. Saya enggak peduli pandangan dan pendapat orang lain, tapi saya enggak mau seumur hidup, anak saya menanggung perbuatan buruk saya dan ibunya."
Sadam bukan pria yang taat agama, tapi dia tahu betul bahwa anak di luar nikah bahkan tidak bisa mewarisi semua harta yang dia punya dan tidak bisa menggunakan namanya sebagai binti itu sangat menyakitkan, karena kehidupan anaknya akan kesulitan baik di dunia maupun di akhirat.
Vicha mengangguk dengan wajah serius. "Kalau begitu, saya akan coba datang ke sana sendirian dulu. Karena kalau Mas datang sama saya ke rumah itu dan orang-orang itu tau latarbelakang Mas Sadam, saya yakin mereka enggak akan menyia-nyiakan waktu buat memanfaatkan Mas."
Sadam mendengus tawa. "Apa kamu pikir, saya orang yang akan iya-iya saja kalau dimanfaatkan?"
"Ya enggak lah!" balas Vicha cepat. "Cowok kayak Mas Sadam yang jutek dan sinisnya bukan main begini, memangnya siapa yang berani buat manfaatin?"
Mendengar ucapan menyebalkan wanita itu, Sadam sudah akan melempar Vicha dengan tumpukan kertas yang ada di depannya. Tapi wanita itu malah hanya tertawa geli seolah itu bukan apa-apa.
"Pokoknya, buat sekarang biar saya sendiri yang datang ke sana. Tapi alangkah baiknya kalau saya ke sana setelah kita benar-benar akan menikah."
Kening Sadam berkerut, "Maksudnya? Kita bahkan sudah tandatangan kontrak."
"Ya kan, saya belum dapat restu dari keluarga Mas Sadam. Gimana kalau ternyata keluarga Mas enggak setuju dan ngasih saya uang sebagai syarat saya ninggalin Mas? Tentu saja, saya akan terima dengan senang hati kalau begitu. Saya lebih milih dikasih uang buat putus sama Mas daripada harus--"
"Berhenti berkhayal!" Sadam tidak tahan dengan sikap blak-blakan Vicha. "Kamu belum tahu keluarga saya, kalau kamu mau tahu, pas saya bawa kamu ke hadapan mereka, bisa-bisa mereka akan minta kita langsung menikah hari itu juga."
Mata Vicha membulat kaget. "Serius?"
"Iya. Makanya enggak usah ngelantur dan kamu siap-siap aja buat minta ayah kamu jadi wali nikah kita."
Semakin keruh saja wajah wanita itu. Entah kenapa, semua perasaan dan apapun yang dipikirkan oleh wanita itu, langsung bisa terlihat di wajahnya.
"Saya udah selesai berurusan sama kamu hari ini, jadi kamu bisa pulang. Pekerjaan saya masih banyak, jadi kamu enggak boleh ganggu saya terlalu banyak."
Terdengar suara decihan pelan dari Vicha. "Enak banget jadi orang kaya! Bisa manggil orang lain seenaknya, terus nyuruh pulang juga seenaknya," gerutunya kemudian.
Walaupun Sadam mendengar dengan baik ucapan Vicha yang seolah berbisik itu, tapi dia memilih untuk tidak menanggapi. Sepertinya, sistem adaptasinya dengan tingkah laku wanita itu juga, dirasa lumayan cepat.
"Oh iya, Mas!"
Kepala Sadam kembali terangkat saat mendengar kembali suara Vicha yang sudah siap akan keluar ruangannya. Ia menaikan sebalah alisnya, menunggu Vicha berbicara.
"Saya minta tolong buat dikirimin persepuluh saja dari uang yang dijanjikan buat saya. Karena saya perlu melunasi hutang saya."
Sadam sempat terdiam. Sebenarnya bukan hal sulit untuk melakukannya, tapi entah kenapa dia sulit untuk langsung menerima permintaan itu dan membuat Vicha senang.
"Kamu bahkan belum hamil anak saya."
Tatapan mata Vicha berubah kesal. "Memangnya Mas mau, punya istri yang punya hutang puluhan juta? Kalau mau sih, ya saya juga enggak masalah."
Ada saja jawaban dari wanita itu. Sadam menghela napas berat, kemudian berujar, "Kirim nomer rekening kamu lewat chat. Nanti saya kirimin."
*
Rasanya, Anvicha benar-benar ingin menangis saat dia berhasil membayar lunas semua utang yang selama ini menggerogoti kewarasannya sedikit demi sedikit. Setiap hari dirinya merasa takut kalau-kalau akan ada debt collector yang datang ke rumah dan mencarinya, sedangkan para orang-orang yang ada di rumah, akan dengan senang hati menumbalkannya kembali dan melepas tangan mereka sepenuhnya.
Sekarang, dia bisa melepaskan ketakutan yang selalu dia rasakan. Tidak ada lagi teror telepon, tidak ada lagi spam chat dari penagih utang. Dan semua itu berkat Sadam.
Maka sebagai tanda terimakasih, dia berniat membuatkan sesuatu untuk lelaki itu.
Sebagai orang kaya, mungkin Sadam sudah mencicipi segala jenis makanan mahal di berbagai Negara. Tapi Anvicha berharap bahwa lelaki itu bisa menghargai kue buatannya nanti.
Dia berjalan sambil mendorong troli di kedua tangannya, mencari bahan-bahan yang dia butuhkan untuk membuat kue. Sudah lama sekali rasanya dia bisa berbelanja seperti ini, apalagi tanpa mengkhawatirkan harga dari barang-barang yang akan dirinya ambil. Uang yang dikirimkan oleh Sadam untuknya membayar utang, masih tersisa lumayan banyak dan akan Vicha gunakan untuk membiayai hidupnya sendiri.
"Loh? Kamu Vicha, kan? Anaknya Nina?"
Tubuh Vicha membeku saat mendengar sebuah suara yang tidak asing tapi juga tidak bisa langsung dirinya kenali. Dia menoleh, pada seorang wanita paruh baya yang berjalan bersama seorang pria muda di sebelahnya. Jika wanita ini menyebut nama Ibu tirinya dengan akrab, maka sudah pasti wanita ini adalah teman dari Ibu tirinya.
Vicha memasang senyum ramah sambil mengangguk sopan, "Iya, Tante," balasnya. Dia tidak mungkin langsung berkata bahwa dia memutuskan untuk memutus hubungannya dengan keluarganya, kan?
"Wah! Padahal Nina selalu bilang enggak tahu setiap aku tanya kabar kamu, tapi ternyata kamu baik-baik saja ya! Kamu mungkin enggak kenal saya, tapi aku pernah main ke rumah kamu beberapa kali. Aku Sandra, salah satu temannya Nina. Dan ini.." dia merangkul lelaki yang ada di sebelahnya. "Dia ini anak sulungku, namanya Radi!"
Mata Vicha melirik pada lelaki yang terang-terangan memasang wajah malas saat mengulurkan tangan untuk bersalaman dengannya.
"Saya Anvi--"
"Bun, aku udah bilang kalau aku enggak mau dijodoh-jodohin, kan? Lagian, dia bukan tipeku."
Anvicha terkejut. Dia bahkan belum sempat mengenalkan dirinya sendiri tapi sudah dikatai seperti itu. Rasanya, tali kesabaran dan keramahannya yang bahkan tidak seberapa itu, langsung putus. Berani-beraninya lelaki itu! Padahal wajahnya bahkan tidak ada satu persen pun dari wajah tampan Sadam.
"Maaf ya, Bro.." kata Vicha, yang membuat ibu dan anak itu terkejut menatapnya. "Saya bahkan cuma lewat pas Ibu kamu manggil saya. Kenapa seolah-olah saya yang minta dijodohkan sama kamu? Saya bukan tipe kamu? Kamu bahkan enggak akan cocok kalaupun cuma jadi temen saya. Karena saya enggak pernah punya temen lelaki yang mulutnya enggak bisa dijaga kayak kamu. Dan satu lagi, saya sudah punya calon suami. Lelaki yang bahkan kalau berdiri di samping kamu, bakalan bikin kamu langsung berubah jadi cumi."
*