Ternyata mencari pekerjaan tidak semudah yang Olivia pikirkan. Dia sudah mendatangi banyak tempat seharian ini tapi masih juga belum menemukan tempat kerja yang mau menerimanya. Padahal menjadi seorang pelayan disebuah kafe kecilpun dia mau. Olivia mendesah lelah selagi berjalan gontai menuju rumah sederhananya. Mungkin hari ini bukan hari keberuntanganku, batinku. Saat dia semakin mendekati rumahnya, sayup-sayup dia mendengar tawa seseorang yang dia kenali. Olivia melirik keteras rumahnya, dahinya mengernyit begitu saja saat melihat Jane dan Adam duduk berdua di kursi kayu, saling bercerita diselingi tawa. “Adam.” Panggil Olivia setelah kakinya semakin mendekati lelaki itu. “Hai Olivia.” Adam mengangkat gelas kopinya. “Kemarin kau janji kalau adikmu itu akan membuatkanku segelas kopi

