"Auuhh..." ringis Ana merasakan sakit. "Ada apa, Ana? Apa ada yang sakit?" Tanya Sean cemas setelah mendengar Ana meringis. "Tidak ada. Mereka menendangku dengan kuat," Jawab Ana. Sean pun berjongkok menyetarakan tinggi badannya dengan perut Ana yang sudah membesar. "Anak-anak papi, jangan nakal ya. Kasian nanti maminya kesakitan," Ucap Sean mengajak calon buah hatinya berbicara. "Kalian sabar dulu ya, sebentar lagi kalian akan melihat dunia ini. Kami semua di sini juga menanti kehadiranmu," Sambung Sean lalu mencium perut Ana. "Sepertinya, mereka akan menjadi seseorang yang kuat sepertimu, nanti," Ujar Ana. Sean mendongakkan wajahnya menatap wajah Ana yang tersenyum simpul. "Maaf jika papi tadi membuat mami sedih. Pasti kalian juga ikut merasa sedih di sana," Imbuh Sean dengan wajah

