Klari menengok ke belakang, ia merasa ada seseorang yang mengikutinya. Namun ketika ia membalikkan badan untuk memeriksa, tidak ada satu pun orang di sana. Klari menggelengkan kepalanya, mungkin saja ia terlalu kelelahan sampai berhalusinasi ada orang yang mengikutinya.
Dering ponsel mengejutkan Klari. Perempuan itu tersentak lalu mengusap dadanya dan menarik napas panjang. Benar, Klari sedang tidak fokus rupanya. Hanya karena dering ponsel saja, ia sebegitu terkejutnya.
Ia melihat nama Ado di layar ponsel. Klari segera menggeser gambar berwarna hijau di layar. Sebelum ia menyapa laki-laki itu, Ado lebih dulu menyelanya.
"Aku kesiangan jemput kalian, maaf." Klari bisa mendengar Ado menghela napas.
Walaupun Ado tidak bisa melihatnya, Klari tetap menggelengkan kepala. "Nggak apa-apa, Do. Lagi pula sekolahnya Rey deket dari rumah. Jalan kaki juga bisa."
Lagi-lagi Ado menghela napas. Kali ini lebih panjang dan berat. "Tapi aku udah janji mau anter Rey tiap hari ke sekolah. Pasti dia ngambek, ya?"
Klari tertawa kecil mendengarnya. "Iya." Tebakan Ado benar. Rey sempat tidak mau berangkat karena ayahnya tidak datang menjemput.
"Maaf," cicitnya. "Semalem aku nonton pertandingan bola sampai subuh. Makanya bangunnya kesiangan," gumam Ado.
"Nggak apa-apa, Do. Nggak perlu minta maaf." Klari memindahkan ponselnya, melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.
Sementara di apartemen Ado, laki-laki itu baru saja turun dari ranjang dengan ponsel yang menempel di telinga kanannya. Ia berdiri di depan cermin, memerhatikan pantulan wajahnya sembari mengobrol bersama Klari di telepon.
"Hari ini kamu kerja?" tanyanya, merapikan rambut depannya yang berantakan.
"Aku libur," jawab Klari.
"Kamu sama Rey di rumah aja hari ini?"
"Aku mau pergi belanja bahan-bahan kue," gumamnya. "Besok Rey ulang tahun."
Ado terdiam sesaat. Rey ulang tahun? Tidak. Jelas yang dikatakan Klari bukan tanggal ulang tahun Rey. Ia ingat tanggal dan bulan anaknya lahir.
"Do? Halo?" tegur Klari dari seberang.
Ado tersadar. Bisa jadi besok adalah ulang tahun anak Klari sendiri. Karena ingatan Klari, Rey adalah anaknya yang telah meninggal. Ado menarik napas panjang tanpa kentara. Lagi-lagi ia harus mengalah akibat ingatan Klari yang bermasalah. Ado harus bertahan sedikit lagi sampai ia bisa mengatakan semuanya kepada perempuan itu.
***
"Hmm. Apaan?"
"Besok Rey ulang tahun."
"Terus? Gue harus ngapain? Lo bukan lagi minta gue jadi badut ulang tahunnya Rey, kan, Kla?" celetuk Divia, namun dibalas dengusan.
"Bukan, Vi." Klari bergumam di telepon. "Bisa minta tolong jemput Rey hari ini? Jagain juga sampai sore aja. Aku sama Ado berniat kasih Rey kejutan."
Divia yang sedang memotong rambut seorang pelanggan, itu pun mendengus sebal. Ia menunduk, meniup poninya berulangkali sebelum mengoceh kepada Klari yang sialnya, hari ini temannya itu sedang asyik berduaan dengan laki-laki tampan. Sedangkan ia harus menjaga anak berusia enam tahun di saat sedang bekerja. Beruntung bos pemilik salon orang yang baik, juga mengenal Klari dan Rey.
"Ya udah, ya udah." Divia mengiakan. "Asal jatah kue buat gue paling gede potongannya."
Di seberang, Klari malah tertawa.
Klari mengakhiri sambungan teleponnya bersama Divia. Ia berbalik, seketika Ado bertanya kepadanya apa temannya mau menemani Rey untuk hari ini saja? Klari menjawab dengan anggukkan kepala lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Mereka berjalan beriringan melewati rak mainan yang terpajang. Jujur saja Klari ingin protes kepada Ado karena terlalu sering membelikan Rey mainan. Sekali membelikan mainan saja, Ado sudah seperti akan memborong satu toko. Klari bukan tidak suka Ado membelikan anaknya mainan, hanya saja, Klari tidak mau Rey jadi terbiasa dimanjakan seperti ini. Bagaimana kalau suatu hari Ado pergi lagi, sementara Rey, mulai terbiasa dimanjakan dengan sesuatu yang mahal dan mewah?
"Do," cegah Klari memegangi tangan Ado yang akan mengambil sebuah mainan robot dari rak.
Ado menjauhkan tangannya dari mainan robot yang akan diambilnya. "Kenapa?" tanyanya, bingung.
Tatapan Klari tertuju ke troli mereka lantas menatap Ado. Perempuan itu seolah mengatakan untuk stop memasukkan mainan ke troli mereka karena sudah penuh.
"Rumah aku bisa berubah jadi toko mainan nanti," sindir Klari. "Ini udah lebih dari cukup, Do. Mainan yang kamu beliin kemaren aja masih ada yang belum dibuka."
Benarkah? Ado bergumam sendiri. Ia menunduk melihat trolinya sudah penuh dengan berbagai macam mainan. Ada banyak jenis mobil-mobilan, dari yang ukurannya kecil sampai besar. Dari yang harganya murah sampai mahal hingga membuat Klari mendesah melihat harganya.
"Aku yakin Rey malah bingung buat mainnya nanti," ujar Klari. "Karena saking banyaknya mainan yang kamu beli."
Klari mengambil alih troli dari tangan Ado. Tanpa mengatakan sepatah kata pun karena terlanjur kesal pada Ado, ia memutuskan untuk mengakhiri berbelanja mainan dan mendorong trolinya ke meja kasir.
Ado mengekori Klari dari belakang, ia mengusap tengkuknya serbasalah. Apa ia membuat Klari kesal sekarang? Memangnya ada yang salah kalau ia ingin membelikan anaknya banyak mainan? Toh, Ado cuma ingin membuat Rey bahagia. Tapi kenapa Klari malah menanggapi sebaliknya?
Ada tiga orang lagi di depan meja kasir. Itu artinya Klari harus mengantre lebih dulu sampai tiba gilirannya. Ia menengok ke belakang dan mendapati Ado sedang berdiri di depan rak aksesoris anak perempuan. Klari cuma diam, berfokus ke depan menunggu satu per satu orang yang antre selesai dengan belanjaannya.
"Klarissa," panggil Ado.
"Hmm." Klari cuma menanggapinya dengan bergumam.
Ado berdiri di sampingnya. Klari mendongak cepat saat laki-laki itu memasang sesuatu di rambutnya lalu tersenyum kecil.
"Ini apa?" tanya Klari sembari meraba rambutnya.
"Jepit rambut," jawab Ado. "Ganti jepit rambut kamu yang hilang."
Sepasang mata Klari mengerjap. Ado memang tipikal laki-laki yang tidak bisa ia tebak. Beberapa saat lalu membuatnya kesal, beberapa menit setelahnya membuatnya hangat.
"Cantik, Kla," gumam Ado, entah menyadari kata-katanya atau tidak.
Klari menarik jepit rambutnya. Ia tertegun mendapati sebuah jepitan kupu-kupu yang Ado pasangkan di rambutnya.
Ia mendorong troli maju ke depan, lantas menoleh ke Ado. "Kamu kira aku anak-anak pake jepitan model begini?" Klari memasang ekspresi sebal. "Balikin aja. Jangan aneh-aneh, Do."
Ado menahan tangan Klari yang akan mengembalikan jepitan tersebut. "Jangan. Ini cantik di rambut kamu. Beli aja nggak apa-apa."
"Do."
Terlambat. Begitu jepitan rambutnya berada di tangan Ado, laki-laki itu meletakkan di atas meja kasir. Klari tampak kesal. Ia tidak habis pikir kalau Ado sejahil itu padanya.
To be continue---