Paijem Tenan!

940 Words
Erika dengan telaten menyimak cerita yang Jo paparkan. Dia juga sigap mencatat semua yang Jo uraikan dalam buku notes tebal bersampul batik andalannya. Dia tidak banyak bertanya karena untuk menulis sebuah kisah nyata harus banyak-banyak mendengarkan. Karena jika tidak maka cerita akan melenceng jauh dari yang semestinya. "Apa kamu mau ketemu sama Caca secara langsung?" tanya Jo mengakhiri ceritanya. Itu baru cerita awal. Perjalanan masih jauh. "Kalau aku ketemu Mbak Caca nanti jadi ndak surprise dong, Mas," jawab Erika kemudian menyruput Dalgona Coffe yang ada di hadapannya. "Smart bener kamu ya, Rik," seru Johan dengan lantang sambil menjentikkan kedua jarinya hingga menimbulkan suara. "Ya pastilah, Mas. Kalau ndak pinter ya ndak jadi penulis," sahut Erika dengan bangganya. "Kamu yang b*go, Jo! Orang mau bikin kejutan kok malah Erika mau kamu temuin sama Caca. Payah tenan! (benar!)" sambung Aldin sambil geleng-geleng kepala. "Tapi aku penasaran dech sama kamu, Rik." Johan mendekatkan wajahnya pada Erika yang duduk di sampingnya. Erika dengan otomatis memundurkan wajahnya karena takut terjadi adegan kissing romantis seperti novel fiktif yang kerap dia ciptakan. "Opo to, Mas?" tanya Erika kemudian menutup matanya dengan kedua telapak tangan. Johan menepis tangan Erika, "Kenapa ditutup matanya? Emang aku serem kayak .... " Jo berpikir sejenak. "Kayak opo, Al?" Akhirnya memutuskan bertanya karena kata yang dia cari tak juga dia temukan. "Demit," jawab Al dengan cepat. Jo kembali menjentikkan jarinya. "Nah itu! Demit. Memang aku kayak demit, Rik?" Demit itu setan ya. "Haha.... " Erika tertawa terpingkal. Dia menyingkirkan tangannya dari depan mata. "Mas Al kalau ngajarin suka yang aneh-aneh. Ono demit dibawa-bawa, Mas." "Jo memang suka yang aneh, Rik," sahut Aldin santai. "Terus kenapa tadi matanya ditutupin?" Jo mengulang pertanyaannya. "Takut jatuh cinta, Mas. Mas Jo ternyata tambah ganteng kalau dari dekat. Hehehe .... " Sungguh polos Erika ini. Jo tersipu malu dengan pujian Erika. "Jangan macam-macam, Rik! Mas telponin Sofyan mau?" ancam Aldin sambil mengangkat ponselnya. "Eits, jangan Mas!" Erika panik takut Masnya benar-benar nekad menghubungi Sofyan . "Siapa itu Sofyan?" Jo mulai kepo. Dia menjadi banyak bertanya hal yang tidak penting padahal sejak tadi dia sudah uring-uringan pingin cepat pulang. "Pacar aku, Mas," jawab Erika malu-malu. Jo manggut-manggut. "O... udah punya pacar to?" "Iya, Mas." "Oke, balik ke pertanyaan yang mau aku tanyakan tadi. Aku pingin tahu salah satu karya kamu. Apa judulnya?" tanya Jo menyelidik. "Waduuh ... ojo lah, Mas! Malu aku." Erika merasa kurang percaya diri untuk menunjukkan hasil kehaluannya. "Gimana sich? Mau aku baca dulu. Biar aku bisa menilai seberapa hebat imajinasimu dalam membuat sebuah karya. Siapa tahu bisa aku bukuin juga itu novel kamu yang di aplikasi. Kenapa malah malu? Paijem tenan!" umpat Jo kocak. Itu kata-kata pamungkas Aldin kalau lagi kesal, tapi Jo suka latah dan ikut-ikutan ngomong seperti itu juga. "Hahahaha ...." Erika kembali tertawa. Ada juga CEO antik model begini ya? Ndak ada serem-seremnya sama sekali kayak di novel-novel. Pikir Erika. "Kalau yang baca orang yang ndak aku kenal ndak apa-apa, Mas. Kalau kenal aku kok malu yo." Erika nyengir. "Adikmu lucu, Al. Ada penulis malu karyanya dibaca. Aturannya kudu seneng bukan malu." Jo mengadu pada Aldin. "Kenapa sich, Dek?" tanya Aldin yang ikut merasa heran dengan tingkah Erika. Johan merogoh ponsel dari saku jasnya. Jarinya menari dengan lincah di atas gadged pintarnya yang berharga belasan juta rupiah. Erika terkesima melihat handphone yang ada di tangan Johan. Handphone-nya ya bukan terkesima sama orangnya. Larang (mahal) banget itu pasti hpnya. Dibeliin hp kayak punyaku dapat banyak. gumam Erika dalam batin sambil melirik gadgeg-nya sendiri yang kastanya jauh, jauh, jauh lebih rendah dari punya bos kakaknya. "Kok aku cari-cari nama kamu nggak ada? Nich!" Jo menunjukkan layar ponselnya pada Erika. "Pencarian tidak ada," lanjutnya membaca tulisan yang di screen. Ternyata Jo sudah mengunduh aplikasi novel online di mana Erika menjadi penulis jauh-jauh hari. "Dek, kamu beneran nulis di aplikasi itu kan? Ojo ngisin-ngisini lho! (Jangan malu-maluin lho!) Mas Jo bakal bayar kamu gede, bukan recehan seperak dua perak." Aldin menegur adiknya. "Tenan (benar) kok, Mas," jawab Erika dengan menunduk. "Terus kenapa nggak ada?" tanya Jo kepo maksimal. Lagi-lagi dia memajukan wajahnya mendekati wajah wanita itu. Refleks Erika mendorong d**a Jo agar menjauh. Tapi Jo bukannya mundur malah membiarkan tangan Erika nemplok di dadanya yang berbalut kemeja putih dengan jas hitam di luarnya. "Al, adik lu gr*pe-gr*pe gue nich." Jo mengadu tentang hal yang tidak perlu dia adukan. Kan Al udah lihat sendiri kalau Jo yang dekatin adiknya duluan. "Maaf, Mas. Lha Mas Jo maju-maju terus dari tadi." Erika merasa tidak enak hati padahal Jo cuma bercanda. Jo kembali duduk dengan normal. Dia membenarkan jasnya yang sedikit berantakan dengan satu kibasan, kemudian dia menekuk satu kakinya dan di topangkan pada kaki yang satu lagi. Telapak kakinya yang tertutup sepatu vantovel hitam mengkilat dia gerak-gerakkan. "Ojo (Jangan) genit sama adikku!" tegur Aldin. "Aku ora (nggak) genit, Al. Paijem tenan!" Jo kembali menggunakan umpatan favorit Aldin membuat Erika tak bisa menahan tawanya. Wajah manis Erika selalu terpancar saat dia tersenyum ataupun tertawa. Sejenak Jo dapat menikmati wajah wanita pribumi yang lugu dan mempesona. Biasanya dia selalu menatap wajah bule Yoevanca dengan rambut pirang dan mata coklatnya. Mungkin ini yang dinamakan menikmati varian baru. "Jangan ketawa, Rik!" tegur Jo. Jo mau mendekat ke Erika lagi tapi buru-buru lengannya ditarik oleh Aldin. Aldin mengepalkan tangannya dan dia arahkan pada Jo, "Berani dekat-dekat lagi tak sunati meneh (lagi) adekmu!" ancam Al dengan kocak. "Jangan to, Al! Entek (habis). Nanti Caca dapat apa? Cuma keri-keri (geli-geli) tok," sahut Jo tak kalah kocak. Semakin lama dia semakin banyak mengoleksi kata-kata dalam Bahasa Jawa. Meski pengucapannya masih lucu kalau didengar oleh orang Jawa asli. Makanya Erika selalu tertawa saat Jo mulai ikut-ikutan logat kakaknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD