Arissa terlongo saat melihat bangunan aula yang dulunya megah, kini sudah hampir hancur tak bersisa dengan berbagai puing-puing yang ada di sekitarnya. Bau asap dan debu mesiu tercium di mana-mana sementara api menyala di beberapa tempat. Tempat itu telah benar-benar berubah menjadi medan perang yang sesungguhnya. Teriakan panic terdengar di mana-mana dengan banyak orang yang berusaha untuk menyelamatkan diri. Mayat-mayat tentara berserakan secara acak dengan mata terbuka dan sebagian tubuh mereka hancur berantakan. Bau anyir darah dan daging gosong tercium jelas di udara. “I…. Ini…..” Arissa tak bisa berkata-kata. Pikirannya linglung dengan pemandangan yang sangat mengerikan di hadapannya. Sementara pria brewokan yang membawanya menepuk-nepuk punggungnya. Mencoba untuk menenangkan

