CH 3 : Terpana

1097 Words
Lalu, Lily dan Stefan masuk ke dalam mobil dan perlahan mobil pun melaju menjauh keluar dari komplek perumahan, tempat di mana Lily dan keluarganya tinggal. Sepanjang perjalanan, Lily terdiam dan pandangannya tertuju ke luar jendela, menatap lalu lalang mobil yang melintas di samping atau di depan mobil Stefan. Stefan yang melihat hal tersebut, merasa penasaran dengan yang dipikirkan oleh gadis itu. “Ly, sedari tadi kamu diam terus. Ada apa? Ada masalah apa?” tanya Stefan penasaran. Lily pun menoleh pada Stefan dan menjawab, “Masalah banyak, Van. Aku bingung gimana cara bantu kedua orang tuaku. Mereka harus bayar hutang, membiayai keperluan rumah dan lain sebagainya. Kalau aku sampai tidak diterima kerja, tidak tahu harus bagaimana lagi.” “Jangan patah semangat gitu, setiap orang pasti ada masa jatuh bangun dalam hidupnya. Dan kamu juga masih terhitung mahasiswi baru lulus, jadi wajar jika cari kerja masih susah, secara kamu belum ada pengalaman sama sekali,” jawab Stefan. “Ya, memang. Tapi, aku sedih dan rasanya tidak tega melihat keadaan orang tua. Mereka sekarang lagi putar otak mencari cara buat buka usaha kecil-kecilan gitu. Aku cuma punya satu harapan semoga aku bisa membuat mereka bahagia, kalau Tuhan berkenan mengabulkan doaku.” “Amin, Ly. Kamu tahu kan tidak ada yang mustahil kalau Tuhan sudah berkenan, yang harus kamu lakukan sekarang itu adalah kamu harus semangat dan tidak pantang menyerah. Aku yakin kamu pasti bisa bertahan di berbagai kondisi. Aku dan lainnya selalu ada untukmu.” “Makasih, Van. By the way masih jauhkah tempat tujuan kita? Aku jadi takut dan gugup,” ucap Lily seraya menyentuh bagian tengah dadanya, berusaha menenangkan perasaannya yang gelisah dan gugup. “Tidak perlu gugup, kalau gugup malah kamu tidak bisa konsen menjawab pertanyaan atasan. Bisa-bisa kamu nanti tidak diterima kerja,” jawab Stefan serius. “Oke, oke. aku paham. Aku tenangin diri dulu.” Lily menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, ia melakukan hal itu berulang kali. Sepuluh menit kemudian, mobil yang dikendarai oleh Stefan telah memasuki area Pondok Indah. Keduanya disajikan pemandangan yang sungguh memanjakan mata dan membuat hati iri. Di sisi kanan dan kiri berjejerlah rumah-rumah mewah nan megah dengan model yang beraneka macam pula. Selain mewah, semua rumah di daerah itu sangat luas dan besar. Lily terkagum dan matanya terbelalak melihat semua pemandangan tersebut. Tak henti-hentinya dia berdecak kagum dan melontarkan pujian untuk rumah-rumah tersebut. Stefan hanya bisa tersenyum simpul melihat segala tingkah Lily. “Van, astaga. Rumah-rumah di sini bagus sekali. Kapan aku punya rumah seperti ini?” ucap Lily sembari menikmati pemandangan yang terpampang di sisi kiri dan kanan mobil. “Secepatnya, itu doaku untuk kamu, Ly.” Lily menoleh pada sahabatnya tersebut dan mengucapkan, “Thank you, Van.” “Nomor berapa rumahnya, Ly?” tanya Stefan sambil mengemudikan mobilnya perlahan dan menengok ke kiri dan ke kanan mencari keberadaan rumah yang mereka tuju. Lily membuka tasnya dan meraih kertas catatan yang ia simpan di dalamnya. “Rumahnya nomor 18, Van.” “Sepertinya sebelah sana,” jawab Stefan. Setelah menyusuri sekitar enam rumah, akhirnya mereka menemukan rumah yang dimaksud. Baru saja Stefan memarkirkan mobilnya, pria itu terkejut tatkala mendengar seruan kagum yang dilontarkan oleh Lily. “Wah, Van. Luar biasa, rumah ini besar sekali. Sangat mewah, yang punya pasti konglomerat,” ucap Lily terkagum-kagum. “Pastinya, Ly. Bisa beli rumah di sini kalau bukan konglomerat terus apa? Orang tuaku saja belum tentu sanggup beli rumah di sini,” ujar Stefan sambil mematikan mesin mobilnya. “Ly, ayo turun. Jangan kelamaan, ‘kan kita mau nge-mall.” “Aku jadi semakin gugup, tunggu sebentar saja.” Lima menit kemudian, Lily sudah mulai tenang. Ia mengambil tote bagnya dan mengajak Stefan turun. Lantas, keduanya turun dan berjalan menuju ke pintu pagar yang besar dan luas serta bercat hitam dengan desain yang artistik. Decak kagum kembali dilontarkan oleh gadis itu, matanya menatap dan menelusuri setiap inci dari pintu pagar rumah tersebut. Seumur hidupnya, itulah kali pertama ia melihat pintu pagar semewah itu. Stefan kembali menjahilinya dengan berkata, “Ly, nanti di dalam kamu jangan malu-maluin. Kagum boleh, tapi jangan norak gitu.” “Norak gimana? Memang aku baru pertama kali lihat hal seperti ini,” jawab Lily lugu. “Ya, cukup kagum dalam hati saja, tatapan mata dijaga. Di dalam pasti lebih mewah lagi.” “Iya, iya. paham.” Lalu, keduanya berjalan  menyusuri teras yang sangat luas dan besar serta tampak asrii. Di bagian tengah teras terdapat taman mini yang dipenuhi oleh aneka macam bunga yang berwarna warni. Kemudian, di area sebelah kanan berjejer empat buah mobil mewah yang terparkir dengan rapi. Kini, keduanya sampai di pintu depan rumah tersebut. Sebuah pintu yang besar, tinggi dan berdesain minimalis. Rumah mewah ini berdesain minimalis modern yang ditambah sedikit kesan ala Victorian yang berfungsi hanya sebagai hiasan rumah saja. Stefan menekan bel yang terletak di kanan atas pintu. Dia menekan satu kali, suasana rumah saat itu sangat sepi dan hening. Tidak lama, terdengar suara pintu dibuka, tampaklah seorang wanita paruh baya yang mengenakan seragam khas asisten rumah tangga berwarna biru muda. Wanita itu tampak keheranan melihat Lily dan Stefan. “Maaf, mau cari siapa dan ada perlu apa?” tanya wanita bertubuh gempal itu. “Maaf, Bu. Kami belum menyapa. Kami diminta datang kemari karena yang empunya rumah mencari seorang guru les privat. Dan kebetulan teman saya ini adalah gurunya. Apakah pemilik rumah ada? Bolehkah kami masuk?” jawab Stefan lengkap. “Oh iya, tuan sudah titip pesan sama saya. Maaf saya lupa tadi,” jawab wanita itu. “Silahkan masuk. Silahkan duduk dulu di sini dan tunggu sebentar, saya akan panggilkan tuan.” Wanita itu mempersilahkan keduanya duduk di sofa ruang tamu yang besarnya sofa hampir sama dengan luasnya dua kamar di rumah Lily. Bentuk sofa yang melingkar membentuk huruf U, berwarna abu dengan desain minimalis. Lalu, sebuah meja berwarna hitam, berbentuk persegi dengan sedikit corak bagai coretan tak beraturan di atasnya, tetapi tampak indah dan berseni. Dua buah pendingin ruangan dinyalakan oleh wanita itu, seketika udara dingin menyelimuti seluruh ruangan. Pada dinding di sekitar ruang tamu, terpampang aneka lukisan berukuran besar, baik itu lukisan berteman pedesaan, maupun bertema seorang wanita zaman Victorian dengan pakaian khasnya. Di sudut dalam berdiri sebuah patung prajurit yang memakai pakaian khas prajurit di zaman Mesir Kuno yang didominasi warna emas dan hitam. Mata keduanya terbelalak hanya dengan melihat ruang tamunya saja. Mereka berdecak kagum berkali-kali dan tak henti-hentinya meneliti setiap sudut ruangan tersebut. Tidak lama, terdengar suara langkah kaki berjalan ke arah mereka dan melewati punggung keduanya, lalu duduk di hadapan keduanya sambil menumpangkan satu kakinya di atas kaki lainnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD