CH 5 : Mimpi Aneh

1095 Words
Stefan berjalan menghampiri Lily dan bertanya pada gadis itu, “Ada apa?” “Tadi ada yang memperhatikan kita, tapi aku tidak bisa lihat dengan jelas. Aku penasaran siapa dia?” jawab gadis itu. “Kamu tidak berharap tuan misterius itu yang memperhatikan kamu, ‘kan?” tanya Stefan menggoda Lily. “Tidak, Van. Aku masih sadar diri, mana ada itik buruk rupa menyukai angsa?” “Tapi yang dipilih oleh pangeran itu itik buruk rupa dan bukan angsa lainnya.” “Sudah, sudah jangan buat halusinasiku semakin tinggi, takut jatuhnya kecewa. By the way menurutmu Tuan Jay umur berapa?” Lily menempatkan jari telunjuknya di depan bibirnya tampak berpikir mencoba menerka umur pria tampan tersebut. “Kepala tiga mungkin, Ly. Lagipula anaknya saja sudah berumur enam tahun, bisa kamu bayangkan tidak dia menikah umur berapa?” “Iya, aku bisa bayangkan. Tapi fisiknya tidak terlihat tua, kamu dan dia sepertinya terlihat seumur.” “Hmm tentunya jauh lebih tua dia umurnya, masa tidak terlihat? Aku ganteng maksimal begini,” ucap Stefan sembari tersenyum simpul ke arah Lily. “Ganteng maksimal kalau dilihat dari tempat yang jauh.” Tawa Lily meledak saat melihat wajah Stefan yang sedikit merengut. “Sudah-sudah, mari kita jalan sebelum sore,” ajak Stefan sembari membuka pintu mobilnya. Lantas keduanya masuk ke dalam mobil dan Stefan pun melajukan mobilnya perlahan keluar dari area perumahan Pondok Indah. Kini, mereka berdua berencana untuk menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan di mall. Singkat cerita sesudah menikmati waktu senggang bersama teman-teman di mall, Lily pun diantar pulang oleh Stefan. Sesampainya di depan rumah, Lily pun mengucapkan terima kasih dan melambaikan tangan pada sahabatnya tersebut. “Terima kasih, Van. Hati-hati di jalan oke,” ucap Lily sambil memperhatikan mobil Stefan menjauh dan menghilang dari pandangannya. Lalu, gadis itu masuk ke dalam rumah dan mendapati kedua orang tuanya yang sedang terlibat pembicaraan serius. Lily berjalan perlahan mendekati ruang makan dan mendengarkan pembicaraan keduanya. “Pa, masa kamu hanya dapat pesangon segitu?” ucap Maya. “Ya mau gimana lagi, Ma? Papa juga terpaksa menerima, mana Papa tahu kalau ternyata jumlahnya hanya segitu,” jawab Papa Lily. “Atasan kamu keterlaluan, tidak menghargai jerih payahmu selama ini. Mama sungguh kecewa. Dengan uang segitu setengahnya saja sudah habis untuk bayar hutang. Lalu, untuk rencana buka usaha apa uang pesangon ini cukup?” “Kita cukupkan, Ma. Tidak perlu membuka usaha yang terlalu besar dan memakan biaya banyak, kita buka usaha kecil-kecilan saja dulu. Oh ya, Papa punya ide. Mama ‘kan pintar masak, gimana kalau Mama berjualan nasi dan sayur matang di depan rumah kita?” “Ya, Mama juga berpikir begitu. Oke, Mama coba.” “Lalu, Papa mau buka bengkel di samping rumah kita. Sejak dulu Papa memang memiliki niat untuk membuka bengkel motor. Gimana apakah Mama setuju?” “Iya, Pa. Ide Papa cukup bagus, setidaknya bisa untuk menyambung hidup terlebih dahulu.” “Kita berdoa saja Ma, biar rencana kita bisa berjalan lancar. Apa Lily belum pulang?” tanya Papa Lily penasaran. Lily yang mendengar pertanyaan sang papa, lantas keluar dari tempat persembunyiannya dan masuk ke dalam ruang makan, menyapa kedua orang tuanya. “Pa, Ma. Aku baru saja pulang, tadi sehabis wawancara, Stefan mengajakku ke mall,” ucap gadis itu. “Papa kira kamu belum pulang. Mandi dulu sana, lalu makan malam bareng Papa dan Mama,” jawab sang papa. “Oke, Pa. Lily mandi dulu ya.” Lily berjalan meninggalkan ruang makan menuju ke kamar tidurnya. Sesampainya di dalam kamar tidur. Lily menaruh tasnya ke kursi yang terletak di sebelah meja belajarnya, lalu ia masuk ke kamar mandi dan membiarkan dirinya berada di bawah guyuran air hangat dari shower. Ia memejamkan matanya seraya membayangkan sorot mata pria yang hendak mempekerjakannya tersebut, sungguh sorot mata yang tegas dan dingin, tetapi entah kenapa rasa penasaran akan sorot mata itu begitu membuatnya gusar. Lily merasa ingin tahu mengenai pria itu lebih jauh. Tetapi sekejap kemudian, ia merasa bukan urusannya untuk mencari tahu tentang pria itu, ataupun untuk merasa penasaran dengan dirinya. Yang terpenting bagi dirinya saat ini ialah mencari pekerjaan yang dapat menghasilkan uang untuk membantu keluarganya. Gadis itu menghela napas panjang dan memejamkan mata, dia terus berpikir apa yang harus ia lakukan agar dapat secepatnya mendapatkan pekerjaan. Wawancara tadi siang saja belum dapat dikatakan sukses jika ia belum menerima hasilnya. Selesai mandi, sambil mengeringkan tubuh dan rambutnya, Lily pasrah menerima apapun hasil dari wawancaranya tadi siang. Ia tidak ingin berharap terlalu tinggi, ia pasrah ke mana nasib akan membawanya. Lalu, gadis itu keluar dari kamarnya dan bergabung bersama dengan kedua orang tuanya di ruang makan. Di sela-sela acara makan, sang mama bertanya, “Ly, gimana hasil wawancara tadi pagi?” “Belum ada keputusan, Ma. Diminta menunggu dulu.” “Semoga kamu keterima, Sayang,” ucap sang mama seraya membelai lembut kepala Lily. “Iya, Ma. Semoga, doain saja.” Malamnya, Lily berbaring di tempat tidurnya yang tertata dan didesain imut dengan d******i warna merah muda, beberapa bantal yang berbentuk imut pun ikut menemaninya, seperti bantal berbentuk awan, bentuk binatang  dalam versi mini dan lain-lainnya. Matanya sudah terlampau lelah, dan akhirnya ia pun terlelap tidur dan masuk ke alam mimpi. Dalam mimpinya ia berada di rumah Tuan Jay tersebut dan kini ia berdiri tepat di hadapannya. Tinggi tubuh mereka yang tidak sama, mengharuskan dirinya menengadahkan kepala hanya untuk sekedar menatap wajah tampan pria itu. Tiba-tiba, pria itu menggenggam tangan Lily dan berkata, “Lily, sudah sejak lama aku menyukaimu, Sorot matamu membuatku tenang dan entah mengapa aku merasa bahagia saat kau berada di sisiku. Maukah kau menjadi kekasihku?” Dalam mimpi itu, Lily tidak mengeluarkan suara. Ia hanya menatap pria itu dan menganggukkan kepalanya. Tiba-tiba, bibirmya kini berdekatan dengan bibir seksi pria itu, bahkan jaraknya kurang dari lima sentimeter. Keduanya saling menatap bibir indah di hadapannya, lalu pria itu mencium lembut bibir mungil berwarna merah muda milik Lily. Gadis itu memejamkan matanya menikmati ciuman hangat yang diberikan oleh sang pria. Tangannya yang kekar melingkar di pinggang ramping Lily, lalu pria itu menarik tubuh gadis itu mendekat padanya dan mendekapnya erat seakan tidak ingin melepaskannya barang sekejap saja. Dalam mimpinya itu, keduanya terlihat sangat menikmati momen kebersamaan mereka. Tetapi, tiba-tiba saat sedang asyik bermimpi, Lily dikejutkan oleh suara alarm dari ponselnya yang berbunyi sangat kencang, cukup memekakkan telinga. Ia langsung membuka mata dan meraih ponselnya, lalu mematikan alarm. Tapi, saat hendak menaruh ponselnya kembali pada nakas, dilihatnya sebuah pesan masuk ke dalam Whatsappnya dan berasal dari nomor asing. Nomor yang tidak tersimpan pada kontaknya. Rasa penasaran memenuhi dirinya. Lalu, dibukanya pesan tersebut dan ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD