Namun tanpa kuduga saat kubuka pintu ruangan ayah, Will tengah berdiri di sana dengan canggungnya. Aku tahu ia mungkin sudah mendengarkan semua hal keji yang keluar dari mulut ayah tentang istrinya. Meski bukan lagi hal aneh kalau ayah yang memang hobi sekali merutuki anaknya sendiri itu, namun rasanya itu tak tepat dengan kondisinya yang sudah di buat terkapar di rumah sakit saat ini. “Kau di sini?” “Jennie...” “Bagaimana keadaannya? Dia sudah sadar?” Tanyaku canggung kepadanya, ia hanya menggelengkan kepalanya dengan wajah yang di tekuknya. “Dokter berkata itu membutuhkan waktu lebih banyak sampai ia bisa bangun dan pulih kembali” “Aku benar-benar meminta maaf atas perlakuan ayah kepada istrimu Will” Ucapku kepadanya, “Bukan salahmu, itu salahnya telah berbuat tega kepada

