Aksa menutup matanya sambil menikmati angin pantai yang menerpa tubuhnya. Langit yang gelap seharusnya bisa membuat penglihatannya terbatas, tapi tidak untuk sekarang. Entah kenapa ombak laut terlihat begitu jelas di matanya. Aksa mengeratkan pelukannya pada wanita di hadapannya dan mulai tersadar. Dia tidak tahu siapa wanita yang ia peluk saat ini. Aksa ingin melepaskan diri, tapi tidak bisa. Tangannya seolah menempel erat pada pinggang wanita itu.
"Makasih ya, Kak. Ini indah banget." Aksa mendengar suara wanita itu menggema.
Perlahan tubuh wanita itu berbalik dan membuat Aksa terkejut, "Era?" ucap Aksa tidak percaya.
Era tampak anggun dengan gaun putih yang dipakainya. Rambut panjang yang terurai tampak beterbangan ditiup angin. Di bawah cahaya bulan, Era terlihat cantik dan berbeda dari pandangannya selama ini. Dia tidak melihat Era yang ceroboh dan minim akhlak seperti biasanya. Aksa masih terpaku sampai perlahan wajah Era mulai mendekat. Dia ingin menghindar tapi tidak bisa. Kakinya mendadak kaku seperti tertimbun oleh pasir pantai. Saat bibir mereka mulai bersentuhan, Aksa memejamkan matanya erat. Perlahan sinar terang menerpa wajahnya yang membuatnya kembali membuka mata. Kali ini bukan pantai yang Aksa lihat, melainkan kamarnya yang masih gelap.
"Mimpi lagi," gumam Aksa mengusap wajahnya lelah, "Kenapa jadi Era gede yang muncul?"
Aksa berdecak dan masuk ke dalam kamar mandi. Dia butuh air dingin untuk menjernihkan kepalanya yang masih terbayang akan ciuman Era.
"Perasaan udah baca doa sebelum tidur, kok mimpinya tetep serem?" Aksa menatap pantulan wajahnya di depan cermin. Kali ini dia tidak lagi menangis di dalam mimpinya. Entah kenapa mimpi sedih yang ia dapat hampir seminggu ini berganti dengan mimpi bahagia.
Apa bisa Aksa menyebut mimpi itu sebagai mimpi bahagia?
Aksa keluar kamar dan menuju dapur. Dia membutuhkan air putih untuk membuatnya tenang. Duduk sendirian di ruang makan dalam keadaan gelap tidak membuatnya takut. Aksa masih berusaha untuk menghilangkan ingatan akan Era yang menghantui mimpinya. Sekarang Aksa sadar kenapa dia bisa bermimpi tentang gadis itu. Mimpi itu dimulai dari seminggu yang lalu, tepat di mana dia bertemu dengan Era di sekolah. Mungkin itu bisa jadi kemungkinan.
Era. Aksa mengenalnya sebagai anak kecil yang selalu memberinya es krim saat ia sedih dulu. Era dulu masih kecil, bahkan gigi ompong masih menghiasi wajahnya. Aksa tidak menyangka jika Era akan berubah menjadi gadis bar-bar seperti ini. Pertemuan Aksa dan Era kecil hanya berlangsung sebentar karena tak lama setelah itu Aksa harus ke luar negeri untuk melanjutkan sekolahnya. Sejak saat itu Aksa tidak pernah melihat Era lagi. Tepat satu minggu yang lalu, dia kembali bertemu dengan Era. Tidak lagi sebagai anak kecil, tapi sebagai gadis remaja yang suka membuat ulah.
Aksa terkekeh mengingat pertemuannya dengan Era yang tak pernah luput dari pertengkaran, "Kayanya dia nggak inget," gumamnya pelan.
***
Suasana sarapan berlangsung dengan riuh. Mendadak Bian tidak mau makan sendiri dan malah bermain pesawat terbang yang terbuat dari kertas lipat.
"Bian, Sayang. Ayo makan dulu, jangan lari-lari. Nenek capek." Bu Ratna tampak kelelahan dengan tingkah Bian yang aktif.
Bian berhenti dan membuka mulutnya untuk menerima suapan dari neneknya. Setelah itu dia kembali berlari dan bermain.
"Kalau makan itu duduk Bian." Kali ini Aksa yang berbicara. Dia cukup pusing melihat anaknya yang berlari mengelilingi meja makan.
"Bian dapet pesawat baru, Pa. Warnanya kuning. Kak Era yang buatin semalem." Bian tampak senang menunjukkan mainan barunya, "Nanti pulang sekolah Bian ke panti ya, Pa? Mau ngerjain PR sama Kak Era."
Aksa mengangguk dan membiarkan anaknya kembali bermain. Anak seusia Bian memang susah untuk dijinakkan. Anak itu sedang aktif-aktifnya bermain dan mengekspresikan diri.
"Nanti biar aku yang jemput Bian di panti," ucap Aksa pada ibunya.
"Bagus, Mama mau pijet. Badan Mama sakit semua."
"Bian keliatan akrab banget sama Era," ucap Aksa tiba-tiba.
Tanpa disangka Bu Ratna tertawa, "Mereka itu udah kayak partner in crime. Sukanya malakin Mama es krim."
"Aku baru tau kalau Era itu Era yang dulu." Aksa tersenyum saat mengatakan itu.
"Lah, Mama pikir kamu udah tau, Sa. Kalian dulu juga suka malakin Mama es krim. Sekarang Bian yang gantiin kamu."
"Aku lupa, Ma. Lagian Era udah berubah sekarang. Dulu dia masih kecil kayak Bian, giginya ompong. Sekarang dia udah berani ngelawan."
Bu Ratna tertawa, "Era emang agak-agak sekarang. Tapi dia baik, sering bantu Mama jagain Bian waktu kamu masih tinggal di luar kota."
"Kayanya Era nggak inget sama aku, Ma."
Alis Bu Ratna terangkat mendengar itu. "Masa? Tapi kalian kemarin keliatan akrab."
"Jangan ingetin Era ya, Ma. Jangan sampai dia tau kalau aku itu Kakak Es Krim-nya."
"Terserah kamu. Mama nggak tau." Bu Ratna berdiri untuk menyusul Bian yang berlari ke taman belakang, "Bian! Jangan jauh-jauh. Aduh punggungku! Nenek udah tua Bian, jangan lari-lari."
***
Dari dalam mobil, Aksa bisa melihat Bian dan Era yang berbaring di rerumputan halaman panti. Mereka berdua tampak serius dengan buku yang ada di depannya. Aksa bisa menebak jika Era baru saja pulang sekolah saat melihat seragam yang masih dipakainya. Aksa turun dari mobil dan mulai mendekat. Dia berjalan dengan pelan berusaha untuk tidak menimbulkan suara.
"Ini coba liat. Di sini sapinya ada tiga, terus di sini juga ada dua, kalo digabung jadi berapa?"
Aksa bisa mendengar Era tengah mengajari Bian. Gadis itu terlihat menuntun jari Bian untuk mulai berhitung.
"Jadi berapa totalnya?" tanya Era lagi.
"Lima!" ucap Bian semangat.
"Bagus, sekarang gambar sapinya lima. Di sebelah sini." Era kembali menuntun Bian.
Interaksi Bian dan Era membuat Aksa tersenyum di belakang mereka. Benar kata ibunya, meskipun Era aneh dan nakal tapi dia sangat baik. Aksa bisa melihat jika Era begitu tulus mengajari Bian.
"Ayo sekarang tinggal tugas mewarnai." Era mulai membuka buku gambar, "Bian udah tau belum kalo warna putih sama merah dicampur jadi apa?"
"Jadi apa, Kak?" tanya Bian bingung. Wajahnya terlihat lucu dengan bibir yang maju.
"Jadi warna merah muda, Bian." Aksa menyahut dan ikut duduk di samping anaknya.
"Papa!" teriak Bian senang.
"Kecut. Bian belum mandi ya?" tanya Aksa mencium pipi anaknya.
"Belum mandi, Pak. Tadi dimandiin Bu Asih nggak mau. Katanya mau mandi di rumah." Era menjawab.
"Makasih udah mau bantuin Bian ngerjain tugas sekolahnya," ucap Aksa.
Era tertawa dan mengibaskan tangannya pelan, "Nggak masalah, Pak. Bian pinter kok, cuma kalo masalah warna aja dia bingung."
Tak lama datang penjual es krim yang menjadi langganan anak-anak panti. Reflek Era dan Bian saling bertatapan. Era berdehem pelan sebelum menatap Aksa yang bingung.
"Pak Aksa," panggil Era lembut, "Pak Aksa nggak mau traktir saya es krim?"
"Aku juga, Pa!"
Mendengar itu, Aksa mendengkus pelan. Lagi-lagi Era bertingkah di luar dugaan. Tanpa membantah, Aksa berdiri dan mulai menghampiri penjual es krim.
"Yes!" Era dan Bian kompak ber-tos ria sebelum menyusul Aksa yang juga sudah memanggil anak-anak panti lainnya.
***
TBC